INGATLAH HARI INI - diary di awal tahun 2016
Opening
Terima kasih kepada Allah SWT atas semua perwujudan segalah hal,
terima kasih atas Rahmad dan KaruniaMu dalam setiap waktu dan harinya. Terima
kasih juga kepada keluarga tercinta ayah dan ibu. Keluarga kecil yang
bahagiadan selalu menjadi tempat pulang ketika suka maupun duka. Teman-teman
sekampus dari berbagai daerah yang telah membantu dalam berbagai hal dan ikut
menyumbang cerita dalam buku ini.
Buku ini adalah buku pengalamanku pribadi jadi isinya disini
bukanlah karanganku atau imajinasiku, pengalaman yang aku tulis setelah
bertahun-tahun aku simpan sendiri. Hanya saja dalam buku ini aku fokuskan
tentang ceritaku setelah masuk perguruan tinggi. Ingatlah hari ini adalah
judul buku yang sedang aku tulis, aku memilih judul ini karena aku gak mau melupakan
hari-hari yang telah aku lalui, apalagi di hari-hari itu banyak cerita unik
yang ikut di dalamnya.
Buku ini sebenarnya aku tujukan untuk seseorang yang pernah hadir
dalam hidupku tapi tidak menutup kemungkinan untuk umum. Buku ini aku tulis
selama 6 bulan lebih lamanya karena disini aku harus meview ulang ingatanku
agar menjadi cerita yang fakta tanpa ada bumbu kebohongan di dalamnya. Jadi
jika ada kata yang salah atau kurang enak di dengar saya pribadi meminta maaf.
Juga untuk nama karakter yang sudah aku samarkan didalam buku ini, karena pada
dasarnya buku ini gak ada niatan untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekan salah
satu pihak akan tetapi ini hanya pengalamanku semata. Jika disini ada pembaca
yang memiliki kesamaan dengan karakter di buku ini itu hanya factor
ketidaksengajaan, sekali lagi saya meminta maaf.
Buku ini adalah buku pertamaku yang akan aku cetak. Aku sangat
terinspirasi oleh penulis comedy Indonesia, alhasil aku juga ingin berkarya
dengan karyaku sendiri. Semoga dengan niatan yang bagus untuk buku ini, aku
dapat berkarya dan membukukan pengalam-pengalamanku sebelumnya.
Ingatlah hari
ini merupakan kata yang terucap dari seorang laki-laki sederhana untuk seorang
perempuan istimewah, karena tidak semua
orang benar-benar berani melepaskan meski sudah di bunuh paksa hatinya.
Tertanda,
Rizky
Muharomsyah.
Tuhan
Aku berjalan
menyusuri malam
Setelah patah
hatiku
Aku berdoa
semoga saja
Ini terbaik
untuknya
Dia bilang
Kau harus bias
seperti aku
Yang sudah
biarlah sudah
Mudah saja
bagimu
Mudah saja
untukmu
Andai saja…
cintamu seperti cintaku
-SO7-
Hay Aku Rizky, Rizky Muharomsyah lebih tepatnya. meskipun ada yang
kurang dengan namaku di bagian depannya. Aku seorang Mahasiswa laki-laki dari
salah satu kampus di Kota Malang, Kota yang di mana memiliki suhu dingin dan
udara yang sangat sejuk. Kota Malang sendiri memiliki julukan yang banyak salah
tiganya adalah Kota Pendidikan, Kota Bunga, Paris for East Java. Tak heran jika
semua orang se-Indonesia raya kenal akan kota ini.
Konon katanya orang Malang itu ngangenin
atau sering bikin kangen tapi nyatanya emang iya. Kalau kalian gak percaya
coba saja deketin orang Malang atau pacaran sama orang Malang. Disini dan di
Kota inilah aku di lahirkan dari Rahim seorang perempuan yang sampai sekarang
masih tetap menemaniku dan katanya itu adalah Ibuku.
Aku lahir tanggal 7 Mei 1997 sehingga aku memiliki zodiak Taurus
padahal aku pengennya berzodiak landak mini karena lucu tapi sayangnya zodiak
itu gak ada.. ah sudahlah. Sekarang aku tinggal di Desa kecil di perbatasan
Kota. Hidup damai tanpa ada kebisingan kendaraan yang lalulalang dan juga bebas
dari asap kendaraan yang mencemari udara, itulah usahaku untuk memperpanjang
umurku.
Aku dan keluargaku bisa di katakan sebagai manusia nomaden atau
mirip sama manusia purba zaman dahulu, tapi bedanya aku sekarang sudah tau cara
berpakaian yang baik dan benar. Aku lahir di Jalan Gadang, Sukun kemudian aku
bermigrasi ke Jalan Muharto, Kedungkandang karena tidak cocok dengan habitat
disana akhirnya aku dan keluarga bermigrasi lagi ke luar Kota Malang yaitu ke
Kabupaten Malang tepatnya di Desa Karangduren, Pakisaji. Hingga akhirnya aku
menetap disini untuk waktu yang sangat lama.
Aku di besarkan di keluarga kecil ini, aku tidak mempunyai seorang
kakak ataupun adik. Jadi akulah satu-satunya produk dari keluargaku, bagiku
mempunyai kakak dan adik hanya akan menggangguku dan mengurangi jatah
bulananku. Aku sudah biasa menjalani
aktivitas sendiri setiap hari, makan
sendiri, tidur sendiri bahkan ketika aku mandi pun tetap sendiri.
Malam ini, minggu 11 februari 2018, 19:03 Malang. Aku lagi di
kamarku, seperti biasa aku lagi duduk sendirian di depan laptop sambil di
temani secangkir kopi Goodday. Menurutku itu bukan kopi melainkan sejenis
coklat yang berklamufase menjadi kopi persis sama perempuan yang sering
berklamufase.
Alhamdulillah aku sudah menjalankan ibadah wajibku yaitu sholat
isya yang memiliki jumlah raka’at 4, aku juga sudah tamatin film animeku yang
berjudul Evil or Live yang bercerita tentang
sekelompok pelajar di negeri Sakura yang kecanduan internet dan media social,
kemudian ditindak lanjutkan dengan memasukan sekelompok pelajar tersebut ke
sekolah militer untuk membentuk fisik mereka yang lembek. Kalau kalian suka
anime recomendasi deh buat anime yang satu ini.
Ibuku lagi duduk di ruang tamu menunggu suaminya yang akan datang
dari tempat kerjanya, katanya suaminya ibuku itu adalah ayahku dan aku juga
meyakini itu karena aku gak mau durhaka dan di kutuk menjadi siput yang lupa
cangkangnya.
Diluar rumah sedang di guyur hujan yang lumayan deras dan angin
yang sangat dingin sehingga suasananya sangat sepi. Sheila on 7 dengan lagunya
menemaniku di malam yang dingin ini, salah satu lagu yang aku suka dari band
ini adalah anugerah terindah yang pernah ku miliki, karena lagu ini
mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku istimewahkan. Ya benar dialah
orangnya…
Beginning
Remember of Today
Mei 2016, Malang. Tahun ini aku telah
menyelesaikan jenjang pendidikan SMAku dan aku mulai masuk di Perguruan tinggi.
Awalnya aku memilih Perguruan tinggi yang favorit di Malang, sebut saja
Universitas Negeri Malang (UM). Dari
SMA aku sudah mentargetkan untuk masuk di kampus ini dan akhirnya hari
kelulusanku tiba.
Aku beruntung dapat nilai yang memuaskan dan di fonis untuk pergi
dari SMAku itu. Semua senang dan merayakannya dengan corat coret seragam
sekolah kecuali aku. Entah kenapa karena menurutku itu gak ada gunanya sama
sekali. Setelah kelulusan aku mendaftarkan diri untuk ikut tes masuk Perguruan
tinggi di UM.
Jujur karena awalnya belum pernah masuk keperguruan tinggi atau
tepatnya masuk wilayah UM, aku hampir tersesat di dalamnya dikarenakan halaman
yang luas dan banyaknya gedung-gedung tinggi. Pagi itu tes di lakukan pagi hari,
karena jarak rumahku dengan UM itu kurang lebih 9 km aku berangkat dari rumah
jam 06.00 dan sampai di sana jam 06.45. aku datang seorang diri tanpa ada teman
dan sialnya lagi aku mendapat ruangan tes di lantai 7.
Semua yang ikut tes disana naik ke lantai atas mengunakan lift.
Karena aku belum pernah naik lift dan tidak tau cara menggunakan lift, akhirnya
aku dengan sekuat tenaga dan niat yang bulat berusaha mencoba naik ke lantai
berikutnya mengunakan anak tangga yang telah di sediakan. Hitung-hitung sekalian
buat olaraga dan pemanasan sebelum masuk ruangan tes.
Sesampainya aku di lantai 7. Banyak sekali pelajar dari berbagai
warna kulit sudah menunggu di depan ruangnya masing-masing. Aku pun juga jalan
mendekat ke depan pintu ruanganku dan berdiri disana dengan waktu yang agak
lama. Aku melihat sekelilingku, melihat wajah, pakaian, gaya berbicara
orang-orang disana dan aku menyimpulkan “mati aku, sainganku kok ngene kabeh reek,
arek pinter-pinter iki”. Semua pada membaca buku, berpakaian layaknya kutu buku
dan cupunya anak-anak sekolah, sedangkan aku hanya datang membawah pensil,
penghapus dan ponsel jadulku
Pengawas sudah memasuki ruangan dan satu persatu orang sudah
mencari tempat duduknya masing-masing sesuai nomer yang telah disediakan.
Mungkin karena beruntungnya aku, aku duduk di kursi paling depan. Waktu pun di
mulai, aku mulai mengerjakan yang aku bisa dan sesekali aku melihat
sekelilingku. Dari 100 soal aku hanya bisa menjawab sekitar 60 soal saja karena
bagian yang sulit adalah matematika dan Bahasa inggris.
Aku ngerasa semuanya bisa ngerjakan dengan santai sebab ketika aku
melihat sekelilingku, semua hanya duduk menunduk dan menghitung aku pun juga
ikutan menunduk dan bingung mau ngapain.
“sial terus aku harus gimana?”
Tak terasa waktu mengerjakan sudah habis semua disuruh
mengumpulkan hasil tesnya, kertas tesku pun aku isi semua meskipun aku gak tau
jawabannya hanya saja aku melihat mana jawaban yang paling bersinar itulah
menurutku jawaban yang paling benar. Aku
berjalan keluar ruangan dan duduk di sebelah tangga sendirian, salah satu
mengusir kebosananku dengan cara main game di ponselku, game yang aku install
waktu itu adalah tsunami zombie.
Ponselku berdering ternyata ada yang lagi menghubungiku lewat
chat, ternyata dia adalah pacarku. Iya aku dulu sudah punyak pacar dan dia
waktu itu mau menemaniku tes di UM akan tapi aku menolaknya karena aku ingin
pergi sendiri. Dia menanyakan berbagai hal dan aku jawab sebisanya.
Suara bel berdering dan itu tandanya bahwa tes ke-2 akan segera di
mulai, aku bergegas berjalan ke ruangan dan duduk dikursiku. Seperti biasa aku
mengerjakan seorang diri tanpa di bantu siapa-siapa karena waktu itu tidak
boleh contek mencontek. Tes ke-2 pun sama seperti tes ke-1 soal yang tidak bisa
aku kerjakan aku isi dengan jawaban yang paling bersinar, hingga akhirnya tes
pun berakhir dan aku turun dari lantai 7 menuju motorku yang setia menungguku,
aku mulai beranjak dari di kampus itu menuju luar kota.
Di sepanjang jalan aku menikmati udara yang segar dengan cuaca
yang mendung habis hujan. Aku melupakan tes-tes tadi entah nantinya aku di
terima atau tidak yang penting aku pulang dan cepat-cepat makan di rumah.
Sesampainya di rumah dan makan, aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa
layaknya manusia normal pada umumnya sambil menunggu pengumuman aku di terima
atau tidak di kampus itu.
Hari pengumuman tes pun akhirnya tiba dan aku bergegas melihat
hasil tesku di internet karena serempak se-Indonesia raya pengumuman masuk
perguruan tinggi via online. Aku mengambil ponselku dan aku mulai mengetik di
google kemudian muncul nama-nama peserta yang di terima atau tidak.
Alhamdulilah aku tidak di terima disana aku gagal dalam tes, perasaan kecewa
pun mulai muncul karena tidak bisa masuk di Perguruan tinggi yang selama ini
aku inginkan.
Akan tetapi ada satu jalan lagi yang bisa buat aku masuk disana
yaitu dengan jalan mandiri. Langsung saja aku bilang ibuku untuk coba masuk
disana melalui jalan mandiri, beberapa hari kemudian aku langsung bergegas ke
kampus itu bersama dengan perempuan yang sudah aku anggap ibuku sendiri dan
langsung menanyakan bagaimana prosedur masuk Perguruan tinggi ini melalui jalur
mandiri.
Ternyata melalui jalur mandiri harus membutuhkan biaya yang sangat
besar, aku terkejut mendengar biaya tersebut dan akhirnya ibuku mengajak aku
pulang untuk di bicarakan di rumah bersma-sama. Aku pun langsung meninggalkan
kampus itu dan pulang, di sepanjang perjalan aku masih memikirkan “sepertinya aku gak akan bisa masuk disana,
kalau gak bisa masuk disana aku harus kuliah di mana lagi? Masak keluar kota
(keluar kota disini bukan lagi kabupaten loh) kalau keluar kota aku pasti bakal
jauh sama keluargaku, jauh sama pacar, dan jauh sama temen-temenku” sesampainya
di rumah, hal ini pun di bicarakan bersama.
Kesepekatan bersama pun telah bulat, aku gagal kuliah disana
karena biayanya yang sangat mahal dan keluargaku tidak punyak uang untuk
membiayainya. Sepakat aku pun mencari Perguruan tinggi yang lain, yang sudah
pasti Perguruan tinggi luar negeri yaitu swasta. Ibuku merekomendasikan ada
salah satu Perguruan tinggi yang tak jauh dari rumah, tidak terlalu besar dan
bangunannya berwarna oranye tapi bukan cabang dari resto Nelongso ataupun
Kantor Pos.
Akhirnya aku daftar disana di damping sama ibuku, kaget sih emang
iya soalnya disana banyak spesies baru yang aku jumpai. Aku langsung bergegas
masuk ke depan ruangan daftar dan menunggu giliran di panggil untuk mengisi
identitas yang telah disediakan, tiba giliranku aku pun mengisi identitas dan
aku mengambil jurusan pendidikan geografi. Entah kenapa mungkin aku ingin
mempelajari ciptaan tuhan lebih jauh karena geografi itu sendiri ilmu tentang
bumi dan alam semesta.
Aku kira masuk perguruan tinggi itu di tes terlebih dahulu tapi
ternyata aku tidak. Tiba-tiba pengurus pendaftaran disana bilang “mas ini langsung di terima tanpa
menjalankan tes terlebih dahulu terima kasih” kok aneh pikirku, aku sambil
senyum dan berjabat tangan. Akhirnya aku dapat kampus, ya.. mungkin disini aku
harus sedikit beradaptasi dengan lingkungan kampus dan manusia-manusia di
dalamnya.
Cerita
di mulai disini…
Remember of today #1
September 2016, Malang adalah bulan dimana aku memasuki hari
pertama kuliah. Dengan pakaian kemeja rapi, celana jeans dan sepatu bersih aku
berangkat dari rumah menuju kampus. Oh iya kampus baru ku ini namnya adalah
Universitas Kanjuruhan Malang, namanya sangat tidak asing karena namanya yang
di ambil dari kerajaan Kanjuruhan pada masa lalu dan sekarang pun namanya juga
di gunakan sebagai nama stadion sepak bola kebanggaan orang Malang.
Aku berangkat dari rumah sedikit lebih pagi, tau sendirikan kalau
murid baru pasti harus berangkat pagi-pagi entah kenapa, kayakya ini sudah
turun-temurun sejak nenek moyang pertama kali masuk SD dulu. Sesampainya aku
disana aku bergegas masuk ruanganku, tetapi aku gak tau ruanganku sebelah mana.
Aku mondar-mandir, pura-pura telepon sambil nunggu temenku.
Tapi jam sudah menunjukan hampir pukul 07.00 jadi aku memberanikan
diri untuk bertanya ke salah satu orang disana alhasil aku di beritau lokasinya
dan aku langsung jalan menuju kesana hingga sampai di depan ruangan kemudian
aku masuk kedalam. Di dalam ruangan kebanyak mahasiswa yang datang dari luar
jawa, karena aku gak mengenalnya akhirnya aku mencari mahasiswa yang sama
spesienya denganku. Beruntungnya aku, aku bertemu dengen spesies ku yang
berjumlah 4 orang jantan di tambah lagi 2 orang betina.
Dosen sudah memasuki ruangan, aku ingat sekali dulu dosen yang
pertama kali masuk ruanganku adalah dosen rofi’ul huda, dosen yang super kece
dan super-super lainnya nanti akan aku bahas. Aku sengaja duduk di sebelah
temen-temen baruku yang satu spesies dan mulai berkenalan, tanpa aku duga
ternyata ada temenku yang berasal dari SMA yang sama denganku. Selama SMA aku
juga jarang atau bahkan bisa dibilang tidak pernah berbicara kepada mereka, ehh
gak taunya ternyata sekarang jadi temen.
Teman temanku ini juga berasal dari berbagai daerah di penjuru
dunia. Ada Boby, Hewin dan veno mereka ini adalah spesies jantan yang baru aku
kenal, dua bidadari betina yang baru aku kenal ada vilda dan bunga. Vilda
adalah bidadari yang merantau jauh dari negerinya, negeri yang sangat putih
seputih garam yang ada cap badaknya dan bunga adalah teman SMA ku dulu sama
seperti veno, bunga ini orangnya pendiam banget, gak banyak omong juga gak
banyak gerak. “Banyak gerak dan omong
hanya akan membuang energy sia-sia” katanya. Ini salah satu tipe idaman banget bagi spesies jantan.
Summer has come
and passed
The innocent
can never last
Wake me up
when September ends
Like my
father’s come to pass
Seven years
has gone so fast
Wake me up
when September ends
Here comes the
rain again
Falling from
the stars
Drenched in my
pain again
Becoming who we
are
As my memory
rests
But never
forget what I lost
Wake me up
when September ends
-Greenday-
Beberapa minggu setelah masuk kuliah semua masih biasa-biasa saja,
tiba dimana aku memasuki mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Diamana disini
semua yang beragama islam dari berbagai kelas angkatan 2016 akan menjadi satu
dalam satu ruangan. Jadi aku akan bertemu temen-temen jawa yang lain, meskipun
ada juga yang bukan dari jawa.
Ketika awal masuk dalam kelas kita masih membentuk dalam berbagai
geng, mungkin karena masih canggung, kelasku duduk berkelompok dan kelas lain
juga begitu. Karena Agama Islam sangat sedikit jumlah mahasiswanya jadi aku
mudah mengingat wajah mereka yang berbeda kelas denganku. Kuliah Agama hari
hanya perkenalan dan berbincang-bincang sedikit karena baru pertama kali masuk
kuliah jadi ya hanya seperti perkenalan saja.
Minggu selanjutnya di mata kuliah yang sama tiba-tiba aku melihat
orang asing yang ada di kelasku, aku enggak tau dia berasal dari kelas mana
atau mungkin dia kakak tingkatku yang ikut dalam kuliah ini. Aku waktu itu
hanya penasaran saja siapa perempuan ini kok dia gak duduk di sebelah perempuan
yang lain kok malah duduk di sebelah gengku.
Minggu ini aku mendapat tugas di mata kuliah Agama yaitu soal yang
harus di jawab di kertas folio bergaris dan itupun juga pekerjaan rumah jadi
gak perlu kawatir gak bisa menjawab soalnya bisa browsing di ponsel. Aku dan
kelompoku sepakat untuk membagi tugas untuk menjawab karena kita udah mempunyai
grup whatsapp jadi gak perlu kebingungan dalam berkomunikasi. Akhirnya mata
kuliah ini di sudahi dan aku pun langsung pulang.
Minggu berikutnya masih sama, aku duduk dengan kelompoku begitu
juga dengan yang lain. Dosen agama sudah masuk tapi aku tidak melihat perempuan
itu ada di dalam kelas, jadi dugaanku benar mungkin dia kakak tingkat yang lagi
mengulang mata kuliah. Dosen menyuruh untuk mengumpulkan tugas minggu lalu yang
di kerjakan di rumah, tiba-tiba ada suara orang lagi mengetuk pintu ruangan.
“Tok tok tok,
permisi pak” pintu ruangan terbuka pelan.
Munculah
sesosok kepala perempuan berkerudung kuning tanpa badan. Dia mengintip ke arah dosen memastikan bahwa
dosen tidak sedang menerangkan pelajaran.
Aku kaget ternyata perempuan ini masih hidup dan masuk ke dalam
kelas, tanpa banyak bicara dia langsung duduk di sebelahku, bukan sebelahku
banget sih tapi dua kursi dari aku. Dia hanya menunduk dan mengambil kertas
tugasnya kemudian mengumpulkan ke dosen agama yang berada di depan. Dosen sudah
menilai jawaban dari tugas yang di berikan dan jawaban yang kurang lengkap di
kembalikan untuk di revisi ulang.
Aku beruntung tidak mendapat revisi dan teman-temanku juga. Ketika
kertas milik perempuan itu di bagikan, aku tanpa sengaja melihat tulisannya
yang bisa di bilang tidak rapi dan jawabannya sangat sedikit sekali. Pikirku “ini perempuan kok gak niat banget se”
tanpa aku sadar aku mulai memperhatikan dia dari kaki hingga kepala. Aku sangat
ingat sekali kalau dulu perempuan itu memakai baju panjang berwarna putih dan
merah muda persis sama seperti pakaian tidur.
Entah gak ada hujan, angin, gempa ataupun tsunami aku ngerasa
tertarik sama perempuan ini, tertarik disini hanya ingin mengetahui siapa
perempuan itu. Perempuan itu hanya melihat kertasnya yang ada tulisan besar Revisi di pojok kanan atas sambil di
lingkari kayak telur mata sapi yang biasanya ibu masakan buat ayah. Karena aku
penasaran banget aku memberanikan diri untuk bertanya kepada perempuan itu.
“mbak boleh
lihat kertasnya, dapet berapa?” tanyaku sambil menyodorkan tangan
kananku.
Tanpa satu huruf pun terucap, dia langsung memberikan kertasnya
dan juga tanpa melihat wajahku. Aku mulai melihat kertasnya dan di dalam hati
aku berkata “sombong banget nih anak”
terus aku coba bertanya lagi.
“ini kamu
revisi ya?” aku ini gila, tolol, kan udah ada tulisan revisi gede banget di
lingkari pula, kok malah tanyak gini ke dia.
“iya revisi” jawabnya
singkat dengan kecepatan 0,0001 detik/cm, dan tidak menatapku sama
sekali
Kemudian aku kembalikan kertas itu dan aku mulai membicarakannya
kepada salah satu temanku. Aku ngerasa tertantang untuk mengenal dia, saat itu
aku belum mengenal namanya, nama ayah dan ibunya, kakaknya bahkan tetanganya
pun aku belum mengenalnya.
“Jadi bisa
atau tidak bisa aku harus kenal dia” ucapku.
Minggu berikutnya di pelajaran yang sama mulai di bentuk
kelompok-kelompok presentasi. Setiap kelompok beranggotakan dua orang dan aku
berpasangan sama azmin anak yang jauh-jauh merantau ke malang, asalnya dari
pulau buton di daerah Sulawesi. Katanya sih disana itu tempat produksi aspal jalan.
Presentasi pun berlangsung dalam satu minggu presentasi di adakan satu kali.
Tiba giliranku presentasi, aku mendapatkan materi tentang alam semsesta beruntungnya aku karena
aku paham akan alam semesta. Aku dan azmin mulai presentasi dan menjawab pertanyaan
dari setiap penanya. Tanpa aku duga perempuan itu mengacungkan tangan kecilnya
untuk bertanya kepada kelompoku. Dalam hati aku punya niatan untuk menjawab
pertanyaanya dengan secepat mungkin karena ini aku anggap sebagai balasanku
ketika waktu itu dia menjawab pertanyaanku dengan singkat.
“kapan dajjal
muncul?” tanyanya sambil melihat ke arahku.
“maksutnya
tanda-tandanya?” tanyakuku balik.
“bukan,
maksutnya waktunya” jawab dia.
“mati aku!!
Kapan dajjal muncul aku ya gak tau lah, malaikat aja gak tau kapan muncul!!” omongku di
dalam hati.
Sial, ternyata aku kesulitan menjawab pertanyaannya yang
sebenernya itu sepele. Akhirnya aku memutuskan azmin untuk menjawabnya. Azmin
pun menjawab dengan sepengetahuannya dan sebisanya, sebenarnya azmin hanya
menjawab tanda-tanda kemunculan dajjal bukan waktu munculnya dajjal.
Dengan jawaban azmin yang singkat dia mulai kebingungan, aku tau
dia tidak faham, sangat kelihatan dari raut wajahnya yang lucu-lucu gimana
gitu. Oops!! Bukan lucu tapi aneh aja dilihatnya. Akhirnya pertanyaan itu di
jawab oleh dosen agama karena semua gak ada satupun yang bisa menjawab
pertanyaan dari perempuan ini. Akhirnya presentasipun usai dan aku kembali
duduk di kursiku yang tak jauh dari perempuan itu.
Beberapa minggu kemudian tiba dimana perempuan itu presentasi
dengan materi yang aku kurang faham. Selama dia presentasi aku hanya melihat
dia dari kursi yang aku duduki. Aku mulai berpikiran kalau aku tertarik sama
dia “sial ngapain aku mikir itu”
padahal aku berusaha mecari pertanyaan buat dia agar dia kesusahan dalam
menjawab.
Tapi hasilnya aku tidak bertanya ke dia hingga dia selesai, dia
dan kelompoknya lancar menjawab pertanyaan dari penanya. Sudahlah mungkin lain
kali. Kuliah pun disudahi aku dan yang lain mulai berjalan keluar kelas.
Sengaja aku berjalan di belakang perempuan itu hingga akhirnya berpisah karena
dia akan pulang dan aku pun juga akan pulang.
Aku menuju ke tempat parkir dan menaiki motorku untuk pulang ke
rumah, di perjalanan aku mulai seperti anak gila yang senyum-senyum sendiri
keingat perempuan itu, aneh padahal kenal juga enggak kok malah mikirin dia,
dia aja kayak acuh ke aku. Mungkin lain kali aku bisa kenal sama perempuan itu.
Aku pun langsung menarik tuas gas motorku sedikit kencang agar aku bisa sampai
di rumah lebih cepat untuk makan.
Hari demi hari telah berlalu, aku menjalani kuliah seperti
biasanya datang pagi-pagi, bertemu temen-temen, mengikuti pelajaran dan
sesekali bertemu dengan perempuan itu di mata kuliah agama. Setiap kali bertemu
dengan perempuan itu aku selalu mengamatinya entah kenapa aku makin hari makin
tertarik sama perempuan ini, kadang tanpa sebab aku mulai sering memikirkan dia
“sial mungkin aku suka sama dia”
Mendekati akhir tahun, program studiku mengadakan acara yang bisa
aku bilang unik. Acara itu katanya hanya untuk mengakrabkan angkatanku, bener
juga sih sejauh ini angkatanku terdiri dari tiga kelas dan itu masih gitu-gitu
aja belum akrab sama sekali padahal pernah sekelas bareng.
Acara ini harus di ikuti semua mahasiswa se-angkatanku tanpa
terkecuali. Sebenarnya aku males banget mengikuti acara kayak ginian tapi mau
gimana lagi namanya juga wajib maka harus di jalani. Hari keberangkatan itu pun
telah tiba, aku sudah menyiapkan baju, celana dan perlengkapan yang di butuhkan
sesuai yang di sarankan oleh panitia pelaksana.
Pukul 06.00 aku langsung berangkat ke kampus dengan motorku. Udara
dingin di luar kota selalu menemaniku hingga sampai di Kota Malang, aku tidak
langsung menuju ke kampus akan tetapi aku lewat jalan memutar yaitu jalan Gadang,
lebih tepatnya di gang 4. Aku sudah punya janji dengan Boby dan Hewin yang akan
menungguku di depan gang 4 sana. Karena acara ini harus menginap disana, jadi
motorku sama motornya temenku ini harus aku titipkan di rumahnya bibiku.
Beruntung aku memiliki bibi yang rumahnya gak jauh dari kampus jadi aku bisa
menitipkan barang atau sering mampir kesana buat istirahat.
Jam 06.30 aku
baru sampai di depan gang dan ternyata mereka sudah ada disana menungguku, “suwe ne aku mulai subuh maeng dek kene”
ucap boby sambil menyalakan motorya. Akhirnya kita langsung menuju ke rumah
bibiku yang tak jauh dari depan gang dan menitipkan motor kita kepadanya.
Aku dan temen-temen berjalan kaki menuju kampus, karena jalannya
belok-belok jadi kurang lebih sejauh 1km yang harus kita tempuh. Di perjalanan
pun kita bercanda, cerita-cerita dan gak terasa sudah tiba di samping kampus
yang sudah di penuhi oleh temen-teman yang lain. Kita langsung duduk di dalam
gerombolan yang lain sambil menunggu intruksi dari ketua pelaksana.
Tiba-tiba terdengan suara kenalpot kendaraan yang keras dari arah
kejauhan, karena panasaran aku menengok ke belakangku melihat ke arah jalan dan
ternyata sekumpulan angkutan umum berwana biru datang dan masuk ke dalam
halaman kampus. Asap tebal dari kendaraan tersebut hampir menutupi atmosfer
kampus dan mulai turunlah preman-preman yang bertato yang berbadan besar
membawah senjata api lalu menembaki mahasiswa yang ada disana dengan brutalnya.
Dengan keadaan yang sangat mencekam tersebut semua mahasiswa lari
ke berbagai arah, aku pun panik dan berusaha mencarai perempuan itu untuk
memastikan dia tidak apa-apa. enggak ini hanya imajinasiku aja, sekumpulan
angkutan umum itu hanya memasuki halaman kampus dan parkir di sana karena
ternyata dengan kendaraan inilah nantinya aku dan temen-temen semua akan di
antar menuju lokasinya.
Ketua panitia pelaksaan pun datang dan mulai memberi sambutan
serta tahapan-tahapan kegiatan yang akan di laksanakan di lokasi. Semua sangat
antusias mendengarkannya dan aku pun juga, sesekali aku melihat perempuan yang
menarik perhatianku. Oh iya perempuan itu ternyata satu angkatan sama aku dan
dia berada di kelas sebelah, ternyata dugaanku kalau dia kakak tingkat itu
ternyata salah.
Sambutan dari ketua pelaksana pun selesai dan kami mulai memasuki
angkutan umum yang telah di sewakan oleh pihak panitia. Jauh hari sebelum
keberangkatan acara ini, kita semua telah di bagi kelompok yang berbeda dan
setiap kelompok diwajibkan memiliki lagu atau gerakan yel-yel sendiri-sendiri.
Malam sebelum keberangkatan aku dan teman kelompoku berlatih akan
gerakan yel-yel itu hingga larut malam “ngapain
juga harus pakai ginian kayak anak kecil aja, kita kan udah mahasiswa, iya
kalau masih SMP atau SMA gitu gak papa” pikirku sambil ikut menari, ah
sudahlah ikuti aja.
Aku berada di dalam angkutan umum bersmaa kelompoku dan aku masih
belum mengenal anggota kelompoku semua, alhasil aku banyak diemnya selama
perjalanan ke lokasi. Angkutan umum pun berjalan meninggalkan kampus, di
sepanjang jalan aku hanya melihat jendela sebelahku yang transparan. Dengan
jalan yang menanjak aku sudah punyak gambaran kalau kita bakal ke lereng gunung
atau bukit dan aku yakin lokasinya pasti disana.
Kurang lebih 45 menit kami menempuh perjalanan dan akhirnya
sampai. Aku turun dan melihat sekelilingku, hanya ada tumbuhan tebu dan jalan
menuju lokasi. Lokasinya seperti perumahan tapi gak ada rumahnya jadi hanya
jalan dan ada beberapa bangunan saja. Aku dan yang lain pun langsung turun dan
berjalan menuju lokasinya. Lagi-lagi aku mencari keberadaan perempuan itu dan
ternyata dia berada agak jauh di depanku.
Sesampainya di lokasi ternyata hanya tempat semacam bumi
perkemahan dengan beberapa bangunan seperti aula dan tempat penginapan. Kita
semua langsung memasuki aula untuk mendengar sambutan dari panita. Aku gak
menyangka ternyata dia si perempuan itu berada di dekatku, kelompok dia
bersebelahan dengan kelompokku dan anehnya aku tiba-tiba merasa senang karena
dia berada di dekatku.
Setelah sambutan dari pelaksana selesai kita semua di wajibkan
menampilkan gerakan yel-yel yang telah di siapkan jauh-jauh hari. Aku memang
waktu itu sangat gak suka berdiri di depan umum. Jadi ya gitu hasilnya kamu
bisa menyimpulkan sendiri.
Acara di aula yang sangat panjang telah usai, aku dan yang lain
mulai beranjak dari aula dan menuju tenda yang telah disediakan. Tendanya di
bagi menjadi dua yaitu tenda perempuan dan tenda laki-laki tempatnya pun juga
bersebrangan, aku memilih tenda yang paling ujung dan aku memilih tempat yang
paling ujung pula yaitu di depan pintu tenda.
Setelah aku meletakan perlengkapanku dan menata barang-barangku
aku gak sengaja melihat ke arah tenda perempuan dan dia si perempuan itu lagi
duduk sendiri di belakang tenda yang arah tatapannya ke tenda laki-laki. Salah
satu temanku perempuan mendekati sih dia dan memanggilku dari kejauhan, aku pun
merespon panggilan temanku itu dan si perempuan itu melihat ke arahku sambil
senyum. “loh-loh dia lihat aku kan, ya
Allah grogi aku” ucapku dalam hati sambil senyum merespon temenku yang
memanggil.
Akhirnya dia si perempuan itu beranjak dari tempat duduknya dan
mulai masuk ke dalam tendanya. Aku pun juga masuk kedalam tenda, karena
lokasiku sangat lurus dengan tenda dia, aku berharap dia bakal melihat tendaku
bukan maksutnya melihat aku dari kejauhan. Hari itu sudah sore dan teman-teman
yang lain pun sudah mulai pergi untuk mandi, aku pun menunggu giliran untuk
mandi. Karena kamar mandinya sangat terbatas jadi ada yang mandi berduaan,
kalau aku sih no males aja masak mau pedang-pedangan di dalam sana huh… .
Selama sore itu aku tidak melihat perempuan itu lagi, entah dia kemana biarkan
saja tapi aku sudah memutuskan kalau sore itu aku suka sama dia.
Senja semakin hilang dan berganti lagit malam yang di hiasi
bintang-bintang. Setelah selesai mandi aku duduk-duduk bersama teman yang lain
untuk menunggu intruksi dari panitia pelaksana tentang acara selanjutnya. Dari
kejauhan terdengar suara sirine yang menandakan semua mahasiswa untuk kumpul di
aula.
Malam itu di adakan sebuah acara pentas dengan tujuan hanya untuk
meramaikan kegiatan. Aku mulai duduk di bawah yang beralaskan karpet tebal
tanpa ada kursi, aku mulai memandangi sekelilingku berharap ada perempuan itu
tapi hasilnya nihil aku tidak melihat dia sama sekali.
Tiba-tiba dari arah belakang melintas bayangan hitam kecil manis,
ternyata dia baru datang dan langsung duduk di barisan kelompoknya. Aku sangat
beruntung karena kelompokku sama dia bersebelahan, dia duduk di depanku agak ke
barat. Konsentasiku akan acara malam itu sedikit terganggu karena aku lebih
sering memandangi perempuan itu, meskipun memandanginya hanya dari belakang
setidaknya aku bisa melihat punggungnya dari pada melihat jempol kakinya.
Semakin malam acara tersebut semakin meriah, semua pada ketawa
ketika acara memasuki tema stand up comedi yang di bawakan oleh salah satu
temanku dari timur. Aku ketawa karena perempuan itu juga ketawa, dia begitu
terhibur dengan acara ini begitu pula dengan yang lain. Sedikit keinginan untuk
bisa bicara sama dia tapi keberanianku masih belum cukup untuk hal itu.
Mendekati penghujung acara, dia malah berpindah ke posisi paling
depan entah kenapa mungkin karena bau ketekku yang sudah menyengat, padahal
malam itu aku sudah memakai diadoran yang cukup banyak dan aku pun mulai
mencium ketekku ternyata baunya masih tetap sama, wangi bunga bangkai.
“dia kok
menjauh” setidaknya itulah kalimat yang aku ucapkan pada waktu itu. Sedikit
rasa kecewa pun muncul dan aku mulai menekukan kakiku ke depan dada kemudian
aku pegang erat-erat serta dagu yang aku landaskan di lututku. Jauh dari
belakang aku melihat dia yang sangat terhibur dengan acara ini.
Tiba-tiba di berdiri dan maju kedepan panggung yang telah
disediakan. Aku kaget dan mulai menegakkan badanku “kok maju ada apa?” aku bertanya pada diriku sendiri dan diriku
sendiri tidak bisa menjawabnya. Dia berjalan dengan di temani oleh teman
perempuannya dan satu teman laki-lakinya yang membawa gitar akustik klasik. Aku
mulai berargumen “mungkin dia mau nyanyi,
eist bukan, tapi kenapa sama laki-laki itu juga?” laki laki yang membawah gitar itu dari pagi
sudah mendekati si perempuan itu begitu juga ketika duduk di aula, laki-laki
itu memang satu kelompok sama dia dan anehnya ketika duduk, laki-laki itu
selalu nempel sama si perempuan itu kayak parasit yang kenak lem raja wali.
Aku berfikir mungkin laki-laki itu pacar dari si perempuan itu,
tapi aku 100% tidak percaya dengan pendapatku sendiri. “masa iya perempuan itukan islam, sedangkan yang laki-laki itu pasti
Kristen, kayaknya gak mungkin deh kalau mereka pacaran? Tapi kok deket terus
ya? Terus aku ngapain mikirin ini? Kok aku malah makin aneh ya?” aku bicara
pada diriku sendiri sambil agak bengong. Kemudian perempuan itu berdiri dan dan
music mulai dimainkan. Dengan tubuh kecil imut, muka polos kayak udah di
ampelas di tambah baju kotak-kotak bewarna biru yang agak kegedean kemudian
diika,t dia mulai menyanyikan lagu yang hits pada masa itu.
Wajahnya sangat jelas dan aku juga bisa melihat dengan sangat lama
ketika dia menyanyi di depan. Teman perempuannya mulai menyanyikan lagu itu
terlebih dahulu dengan pedenya, tampak di wajah dia si perempuan itu yang
menahan malu karena sesekali dia menunduk dan melihat ke belakang, ke laki-laki
yang bermain gitar. Dengan sangat antusias aku semangat melihat dia bernyanyi,
aku mulai sedikit maju ke barisan paling depan hanya karena ingin melihat dia
lebih dekat.
Tiba giliran dia menyanyi, suara kecil dan lirihnya mulai
terdengar. Aku bisa menilainya kalau suaranya 7 dari 10 nilai yang aku berikan,
aku menikmati sambil menatap wajahnya dan berharap dia bisa melihatku disini.
Aku ngerasa lagu itu buat aku, sedikit mengkhayal emang, tapi bodoamatlah
namanya juga suka mau gimana lagi, aku senyum-senyum sendiri kayak orang gak
waras gitu. Malam itu tepatnya di aula itu aku merasa sangat hangat karena di
temani dengan lagu dari orang yang aku suka meskipun aku masih bimbang kalau
dia sudah memiliki pacar atau belum.
Acara di aula pun selesai dan sekarang tiba dimana acara api
unggun sebagai acara penutup malam itu, kita semua hanya berjalan melingkari
api unggun itu sambil menyanyikan lagu, entah aku lupa lagu apa waktu itu, asal
bukan lagunya bon jovi.
Di api unggun yang mulai di bakar dan udara hangat yang muncul aku
berusaha mendekati perempuan itu lagi, setidaknya aku ingin berjalan memutari
api unggun di belakang dia meskipun tidak satu kata terucap. Begitulah aku, aku
hanya berani berimajinasi dan berkeinginan tinggi akan tetapi tidak berani
mewujudkannya. Jarak jalan ku dengan dia cukup jauh hampir 180o di
sebrangku. Sangat mustahil juga aku berpindah posisi untuk mendekatinya sebab
banyak panitia yang mengawasi akan jalannya acara api unggun itu.
Tepat jam 10.00 malam, panitia menyudahi acara itu, kami di beri
kebebasan istirahat dan tidur, aku dan teman-temanku yang lain mulai menuju tenda
masing-masing. Ketika kami di bubarkan aku sesekali mencari dia dan memastikan
kalau dia juga berjalan ke tendanya akan tetapi dia menghilang gitu saja di
tengah gelapnya malam.
Aku punya pikiran kalau perempuan itu memiliki sifat yang
misterius juga pribadi yang tertutup dan pemalu, dia mungkin sulit
bersosialisasi dengan teman yang lain karena selama aku melihat dia, dia sangat
jarang mengobrol bahkan dengan teman yang berada di sebelahnya. Entah kenapa
aku sangat tertarik dengan perempuan seperti ini dan berusaha mengenal dia
lebih dalam.
Malam itu di dalam tendaku sangat berisik, semua pada belum tidur.
Ada yang bercanda, bercerita, bahkan memutar music dengan genre dangdut agar
suasana makin heboh di dalam tenda. Aku yang gak suka keramaian hanya bisa diam
dan memandang ponselku dan mulai memutar laguku sendiri. Aku sangat beruntung
berada di posisi paling pinggir setidaknya aku bisa sedikit damai ketimbang di
posisi paling tengah.
Beberapa menit kemudian suara sedikit menghilang karena sebagian
manusia sudah tidur dan juga masih ada beberapa manusia yang masih aktif, entah
kenapa jam segini dia belum tidur mungkin dia salah satu spesies nocturnal,
spesies yang tidurnya siang dan malamnya bangun. Aku mulai mematikan laguku dan
mulai mengambil posisi tidur yang nyaman.
Akan tetapi aku sangat kesulitan tidur jadi aku hanya diam sambil
menutup mata dan mendengar pembicaraan spesies nocturnal itu dan di tambah lagi
bau kaos kaki yang menyengat dari sepatu-sepatu yang di bariskan seperti
tentara mau perang tepat di sebelahku karena posisiku yang paling pinggir di
dalam tenda.
Bau dari kaos kaki yang masih hangat itu seolah-olah menemaniku di
tengah malam “udah jagan tidur, aku
temani kok” aku pun membalas dengan sedikit memiringkan badan ke arah
barisan sepatu.
“kamu punya
siapa sih kok bau banget, majikan kamu gak pernah nyuci ya?” tanyaku.
“aku baru dua
hari gak mandi, tapi tenang aku gak bau-bau amat kok” jawabnya
sambil mengeluarkan bau badanya dari lubang sepatu.
“gak bau dari
mananya, ini baunya ngalahin bau komodo libanon mati ketabrak becak yang bawak
orang-orang cina tau, punyak siapa sih lu?” jawabku sambil menutup hidung.
“mau punya
siapa lagi, ya pasti punya kamu lah kan ini sepatunya dekat kamu” krik…krik…
Aku terdiam, suasana hening pun tercipta seolah-olah waktu pada
saat itu bergerak sangat lambat. Aku mulai menikmati malam itu dan di temani
oleh kaos kakiku yang sudah mulai diam tanpa mengajak bicara lagi, mungkin dia
sudah tidur.
Angin malam di pegunungan itu sangat terasa hingga menusuk tulang-tulang
ekorku, karena aku tidak membawah selimut jadi aku hanya bisa menggulungkan
badanku seperti kaki seribu. Aku melihat semua teman-teman di tendaku sudah
beralih alam, semua sudah berada di dunianya masing-masing dan tinggal aku yang
masih di bumi waktu itu. Dari arah yang sangat jauh terdengar suara jaran kepang salah satu tarian atau
pertunjukan seni orang jawa.
Aku mulai berusaha memejamkan mataku yang sulit untuk tidur, aku
berusaha menggunakan jurus jitu untuk bisa tidur yaitu dengan menghitung jumlah
mantan, nggak.., aku menghitung dari satu sampai seratus. Hasilnya pun sangat
nyata aku tetap gak bisa tidur dan aku hanya seperti orang bodoh yang menghafal
angka satu sampai seratus.
Ke’esokan paginya aku bangun lebih awal karena alarm di ponsel
samsungku bunyi yang aku on kan pukul 04.30. aku sadar pagi itu aku bangun
sendiri karena aku masih bisa mendengar suara-suara kodok dari lubang mulut
teman-temanku, aku coba untuk duduk dan melihat sekelilingku dan benar semua
masih berpose sendiri-sendiri. Ada yang berpose terlentang dan sedikit
telanjang di bagian perut serta mulutnya kebuka buat jalan keluar masuknya
udara, ada juga yang berpose seperti foto prewedding gitu, satunya diem
terlentang sambil gaya cool dan yang satunya memeluk dari samping, romantis.
Karena suasana masih hening dan dingin, aku memutuskan untuk
tidur-tiduran kembali dan dengerin suara-suara hewan kecil disana. Tiba-tiba
terdengar langkah kaki yang menginjak rumput, pikirku “siapa pagi-pagi gini udah bangun, keliling juga, gak tau dingin ya”
langkah itu datang mengarah menuju tendaku, aku terdiam dan pura-pura mati aku
menahan napas kurang lebih 5 detik.
Pintu tenda terbuka, karena posisiku yang berada di sebelah pintu
jadi aku yang kaget duluan. Karena kaget ada sosok bayangan besar yang masuk
tenda secara otomatis tubuhku bergetar 1,3 skala richter, untung teman-temanku
yang lain tidak merasakan getaran itu bisa gawat kalau mereka semua
merasakannya, pasti ada yang teriak “gempa-gempa,
cepat lari nanti kalian keruntuhan puing-puing tenda” kemudian ada yang
lari sambil ngesot dan loncat-loncat.
Bayangan hitam besar itu kemudian berhenti di tengah tendah dan
akhirnya muncul suara “bangun-bangun ayok
semua bangun” semua pada kaget karena suara itu sangat keras menggunakan
alat semacam buat demo. Bayangan hitam itu mulai memutari isi tenda sambil
teriak-teriak tak lupa juga menyalakan sirine yang biasa digunakan satpol pp
untuk menangkap bencong-bencong di pinggir jalan.
Dengan nyawa yang masih belum masuk seutuhnya, teman-temanku yang
lain masih linglung sambil duduk dan ada juga yang masih tertidur pulas. Aku
langsung ambil posisi duduk dan ngelihat ekspresi lucu dari teman-teman.
Ternyata bayangan hitam itu adalah petugas yang disuruh membangunkan semua
mahasiswa. Untung aku sudah bangun kalau gak pasti kasian separuh nyawaku masih
terjebak di alam mimpi sana.
Aku mulai keluar tenda dan menghirup udara segar di perbukitan,
disana memang masih sangat alami sedikit bangunan dan banyak perpohonan yang
cukup besar. Kabut di pagi hari masih sangat tebal sehingga dinginnya masih
menyelimuti kulitku. Aku bergegas mengambil perlengkapan mandi dan mulai mandi
lebih awal dari yang lain, aku gak mau mandi menunggu yang lain soalnya disana
kamar mandinya sangat terbatas jadi lebih baik selesai duluan dari pada nanti
harus antri atau mandi berdua. Aku berjalan menuju kamar mandi yang masih
kosong dan aku mulai membuka baju celana dan yang lain, aku coba menyentuh air
dengan tangan kananku yang hangat ternyata gak sesuai dugaanku sebelumnya, air
di pegunngan ternyata beda dengan air di rumah, disini lebih mirip mandi sama
air es.
Selesai mandi aku, aku mulai berjalan ke depan tenda dan mulai
sedikit merias penampilan. Aku duduk di atas kayu yang sudah tumbang tepat di
depan tenda, aku mulai memandangi tenda sih perempuan itu berharap dia juga
duduk di depan tendanya. Dengan celana parasit olaraga panjang tubuhku sudah
mulai hangat, teman-teman yang lain pun juga sudah selesai mandi dan mulai
mencari sinar matahari yang masih malu-malu untuk menghangatkan badan mereka.
Pagi itu kami di ajak untuk sarapan pagi oleh panitia, aku dan
yang lain mulai makan nasi bungkus yang sudah disediakan. Ketika makan pagi aku
melihat perempuan itu makan di tempat duduk yang lain, jauh dari tempat
dudukku. Setelah makan kami pun di ajak untuk senam pagi, katanya untuk
menghangatkan tubuh, jadi aku dan yang lain pun mengikutinya. Aku dan
teman-teman di suruh baris dan mengambil jarak dengan yang samping maupun yang
depan.
Aku kaget ketika aku menengok ke arah kanan, ternyata di arah
kananku ini adalah perempuan yang aku sukai itu. Karena kaget dan takut salah
tingkah aku langsung memalingkan pandanganku ke sisi kiri dan mulai cari
kesibukan sendiri tapi nyatanya aku gak nemuin kesibukan dan akhirnya aku
nyerah kembali ke posisi semula.
Aku curi-curi pandang ke perempuan itu, aku melihat dia dari dasar
hingga atas entah aku gak tau alasannya tiba-tiba aja langsung scan otomatis ke
perempuan ini. Dengan memakai celana olaraga salah satu SMK di malang, dia
hanya berdiri dengan tatapan ke depan tanpa memperhatikanku yang ada di samping
kirinya, aku pengen mengajak ngobrol akan tetapi sisi lain diriku bilang malu
jadi aku hanya bisa diam melihat perempuan itu. Setidaknya aku beruntung bisa
bersebelahan dengan perempuan yang aku sukai meskipun saling diam-diaman.
Senam pun di mulai dan kami semua sangat antusias untuk
mengikutinya, apalagi aku pasti antusias pake plus-plus-plus, bukan lebay sih
tapi yang begitulah sikap aku waktu itu, kamu bisa menilainya sendiri atau
mungkin kamu juga akan seperti itu jika berada di posisiku saat itu. Kurang
lebih 20 menit kami melakukan senam dan kemudian istirahat sebelum melakukan
jelajah pagi, tiba-tiba para panitia mengecek ulang telur yang harus di
lindunginya selama acara.
Telur ini berupa telur puyu kecil, berisikan 3 buah telur yang di
masukan kedalam plastic dan kemudian di ikat, telur ini gak boleh pecah selama
kegiatan, jika ada yang pecah atau membuangnya maka akan kenak hukuman dari si
panitia itu entah apa hukumanya katanya hukuman akan di berikan sesuka hati
dari panitia itu sendiri.
Untung aja waktu pengecekan telurku masih bulat sempurna tanpa ada
keretakan sedikitpun soalnya dari kemaren malem telur ini aku gantung di tenda
jadi gak akan kenak injak atau tekanan yang berlebih. Perempuan itu tiba-tiba
maju lagi, aku bingung ngapain dia maju apa dia mau nyanyi lagi, ternyata telur
miliknya pecah atau tepatnya pecah kemudian di buang. “pantesan pecah belum pengalaman mungkin kalau bawak telur, buktinya
aku yang udah pengalaman aman kan telurku” ucapku dalam hati. Perempuan itu
pun dan tiga orang lainnya mendapat hukuman untuk jogged di depan mahasiswa
semuanya dengan lagu dangdut kekinian. Aku ngerasa kasian waktu itu tapi aku
gak berani nunjukin rasa kasianku, toh aku waktu itu masih bukan siapa-siapanya
jadi aku memaksa untuk terlihat terhibur melihat dia jogged di depan.
Setelah itu kami berkumpul dengan anggota kelompok masing-masing
untuk menyiapkan pasukan jelajah, aku dan teman kelompoku berdiskusi tentang
rintangan yang akan di berikan karena kita semua takut akan hukuman yang di
beri jika kita tidak bisa menyelesaikan rintangan itu. Tiba waktu dimana
jelajah di mulai, satu persatu kelompok berjalan selang beberapa menit kemudian
kelompok berikutnya. Aku beruntung mendapat urutan ke tiga jadi aku bisa
nyelesaiin lebih awal.
Aku berjalan membentuk satu barisan yang lurus ke belakang sambil
teriak yelyel, mungkin terdengar aneh di tempat yang sepi kita teriak-teriak
gak jelas menyaingi suara hewan di sana, untung aja disana hewan-hewan gak
membentuk paduan suara, pasti aku akan kalah sama suara mereka nantinya. Tiba
di rintangan pertama yaitu rintangan yang harus melindungi lilin dari lemparan
bola air, aku dan teman kelompok pun bisa melindungi lilin itu dengan selamat
meskipun harus rela di hujani bola air yang membasai tubuhku mulai dari baju,
celana hingga dalemanku.
Tiba di tantangan kedua, tantangan yang kita disuruh menyebutkan
nama anggota kelompok kita. Jujur aku waktu itu tidak hafal dengan nama anggota
kelompoku jadi jauh-jauh sebelum jelajah di mulai aku dan teman kelompoku
berdiskusi tentang tantangan ke dua ini “kita
kan tidak hafal nama anggota kelompok kita, nanti jika ada yang suruh nyebutin,
sebutin aja nama yang kamu tau entah itu nama ibu kantin, mantan atau gebetan
atau juga polisi yang pernah nilang kamu di jalan” ujar salah satu temanku atau bisa di sebut
ketuanya kelompoku. Kemudian ketua kelompoku melaporkan kepada pembimbing
kelompok kami dan akhirnya beres, untung aja pembimbing kelompokku bisa di ajak
kerja sama kalau gak, mati sudah.
Kelompokku disuruh untuk baris lurus ke belakang dan panitia mulai
menunjuk salah satu anggota untuk menyebutkan nama anggotanya, dia pun maju dan
mulai menyebutnya satu persatu dan panitia bertanya ke pembimbingnya “apa nama-nama itu benar?” dengan
perasaan yang gak menentu kami pun berharap pembimbing menjabab iya benar, “iya benar” ucap pembimbingku sambil
mengedipkan satu mata ke arah kelompokku, kita pun legah dan tersenyum.
Kami pun
melanjutkan ke tantangan ke tiga, di mana tantangan ini mandi tepung karena
kita harus estafet tepung dengan kepala nunduk alhasil kepalaku seperti adonan
kue yang siap di makan. Akhirnya aku tiba di tantangan terakhir, dimana
tantangan ini aku harus rela menyatu dengan alam yaitu masuk kubangan lumpur.
Dengan rasa jijik ketika menginjakan kaki di lumpur aku dan
teman-teman kelompoku disuruh merangkang di dalam lumpu dan kepala kami pun
harus menyelam di dalam lumpur yang berwarna coklat yang sesekali
mengingatkanku kepada kopi goodday dirumah yang aku minum waktu dingin malam
mulai menyelimutiku. Tanah kotor pun mulai memasuki baju dan jelanaku untung
aja disini tidak di kasik cacing besar Alaska seperti di serial Spongebob
Squarepants.
Rintangan yang terakhir ini menjadi rintangan yang menarik karena
pada akhirnya semua menjadi kotor dan basah, semua pada terhibur di rintangan
ini. Selama jelajah dimulai aku tak melihat hidung si perempuan itu, aku gak
tau dia bakal masuk kubangan lumpur yang berwarna coklat dan bercampur air liur
itu apa enggak, setidaknya harapanku jangan masuk sana.
Setelah rintangan terselesaikan aku bergegas mandi untuk
membersikan lumpu di tubuhku ini, aku menuju tas dan mulai mengeluarkan pakaian
gantiku. Tiba-tiba aku terkejut melihat isi dalam tasku dan mulai membuat aku
mulai panik “loh dimana celana dalamku?” aku
menggeledah seluruh isi tasku ternyata tetap tidak ada, aku diam sejenak dan
mulai mereview ulang ketika aku menyaiapkan perlengkapanku di rumah. Alhasil
aku ternyata lupa tidak membawanya “sial
terus aku gak pakek celana dalam gitu? Atau celana dalamku yang ini aku cuci
terus aku keringkan sedikit dan aku pakai? Nggak mungin lah, nanti tembus
dicelanaku kelihatan basah, terus gimana ?” akhirnya aku berjalan ke kamar
mandi dan mulai mandi, aku membersikan tubuhku dari rambut hingga kaki.
Setelah mandi aku merias penampilanku dengan mensisir rambutku dan
memakai parfum, setidaknya aku terlihat keren dan bersih meskipun tidak memakai
celana dalam. Aku kembali ke depan tenda dan masih melihat temen-temen dari kelompok
lain mandi lumpur, sepertinya mereka mulai menikmatinya karena ada juga yang
menggunakan gaya katak dan gaya suster ngesot, sekali lagi aku tidak melihat
perempuan itu di lokasi tantangan terakhir ini.
Aku dan teman-teman yang lain pun mulai berfoto-foto setidaknya
untuk mengabadikan kenangan di tempat ini, aku memasuki aula dan tidur-tiduran
disana sambil bercanda, ternyata tujuan dari kegiatan ini memang benar mengakrabkan kita semua, aku dan kelas
lain pun menjadi akrab, padahal yang awalnya masuk di mata kuliah agama kelasku
dan kelas sebelah tidak sapa satu sama yang lain alias diem-diem kepompong.
Tiba di penghujung acara, panitia menyuruh semua untuk berkumpul
di dalam aula dan mendenngarkan acara penutup. Aku duduk tetapi tidak dengan
kelompok karena semua anggota kelompoku sudah berpencar. Aku melihat perempuan
itu duduk di paling depan, sekali lagi jauh dari tempat dudukku. Setelah
penutupan selesai aku dan yang lain berjalan naik yang lumayan jauh soalnya
jalan rayanya berada jauh di atas.
Sesampainya di atas aku dan teman-teman menunggu angkot yang
menjemput, karena tidak ada kursi atau tempat duduk, aku dan teman-teman
memutuskan duduk di aspal yang lumayan hangat. Aku pun duduk, sial ternyata
panas sekali aku ingat kalau aku tidak menggunakan celana dalam akan tetapi aku
tetap bertahan, aku paksa untuk duduk karena semua juga pada duduk. Para kaum
hawa masih belum terlihat naik, jadi di atas pun hanya ada kaum adam. Aku dan
yang lain seperti mulai akrab bercerita satu sama lain hingga kaum hawa pun
sampai di atas dan angkot juga sudah tiba, kami mulai menaiki angkot sesuai
kelompok. Setelah semuanya sudah naik angkotnya masing-masing, angkot pun mulai
berjalan meninggalkan tempat itu, aku yang duduk di belakang hanya bisa melihat
dari jendela angkot tempat itu yang perlahan mulai menjauh.
Bila cinta
menggugah rasa
Begitu indah
mengukir hatiku
Menyentuh
jiwaku
Hapuskan semua
gelisah
Duhai cintaku
duhai pujaanku
Datang padaku
tetap di sampingku
Kuingin
hidupku
Selalu dalam
peluknya
Terang saja
aku menantinya
Terang saja
aku mendambanya
Terang saja
aku merindunya
Karena dia
karena dia
begitu indah
-padi-
Beberapa hari setelah acara itu, aku menjalani kuliah seperti
biasa bersama teman-teman satu spesies di kelasku, aku hanya bertemu sekali
dengan perempuan itu tetap di mata kuliah agama, aku juga lebih sering bertemu
dengan spesies kelas sebelah tepatnya spesies laki-laki.
Aku dan gengku berdiskusi tentang bergabung dengan spesies dari
kelas lain, jadi kelasku khususnya gengku akan bergabung di kelas sebelah
sehingga spesies kita gak akan pisah-pisah. Kesepakatan ini pun sangat bulat
dan kita semua setuju untuk bergabung ke kelas sebelah di semester depan.
Kemudian kami membicarakan ini dengan spisies sebelah juga dan akhirnya setuju.
Karena disisi lain aku juga senang bisa satu kelas sama perempuan itu jadi akan
ada banyak kesempatan untuk aku bisa mendekatinya.
Semester satu pun mulai mendekati akhir, tinggal beberapa hari
lagi aku menjalani UAS dan aku akan naik satu level yaitu semester dua,
semester yang bakal aku tunggu dan juga
yang bakal menentukan aku bisa kenal dia atau malah sebaliknya, aku gak bakal
mengenal dia sama sekali.
Hari dimana UAS tiba, aku datang ke kampus seperti biasanya tetapi
ada yang berbeda sedikit disini yaitu pakaian. Sebelumnya aku paling suka
menggunakan pakaian kemeja atau kaos polo dan celana jean akan tetapi berbeda
dengan saat ini, saat ini aku menggunakan pakaian yang bisa di biang rapi, ya
kamu tau sendiri mahasiswa harus mengenakan pakaian rapi ketika akan mengikuti
ujian akhir. Warna putih hitam sudah melekat di tubuhku di tambah almamater
dari kampusku yang berwarna orange kecoklatan dan tak lupa sepatu pantofel
hitam juga dasi hitam panjang.
Ujian akhir semester di kampus sangat berbeda dengan di sekolah
menengah atas (SMA), bisa di bilang
ujian disini lebih santai dan tak perlu tegang. Aku jadi teringat ujian waktu
SMA, dengan jarak yang agak jauh antara meja satu dengan meja yang lain di
tambah lagi suasana kelas yang sangat hening kayak di planet mars juga tak lupa
guru yang selalu patrol membawah spidol hitam mengelilingi ruangan kelas.
Jadi bisa di bilang ujian waktu itu memang melatih pikiran dan
pengetahuan secara murni, ketika kita mau mencontek teman kita, kita harus
pura-pura batuk, jatuhin bulpen, kertas soal, bahkan sampai jatuhin harga diri
‘nggak.
Ada cerita menarik waktu aku mengikuti ujian nasional di SMA,
sekolahku waktu itu mendapat bocoran jawaban dari atasan, katanya sih gitu dan
info ini sangat menyebar luas di kalangan telinga temen-temenku ada yang bilang
“tuhan emang baik, sampai-sampai ada
bocoran” tetapi ada juga yang bilang “jangan
ketipu, biasanya ini akal-akalan atasan aja” karena berita ini masih
simpang siur jadi banyak siswa yang masih gak terlalu peduli akan bocoran
jawaban UN itu.
Beberapa hari menjelang UN, ternyata jawaban akan bocoran itu
ternyata makin nyata, ketua kelasku memiliki strategi untuk menyebarkan jawaban
UN. Dulu aku masih menggunakan lima kode yang berbeda jadi dalam satu kelas
masih ada soal yang sama. Aku di dalam kelas di pandang sebagai siswa yang
pinter IT, karena hampir semua meyakini itu aku akhirnya mendapat tugas yang
sangat berat. Tugasku adalah men`scan barcode yang tertera di lembar soal.
Karena tugasku berat, aku dan teman-teman yang lain memutuskan untuk berlatih
terlebih dahulu, kira-kira ada waktu satu minggu untuk berlatih sebelum hari UN
tiba.
Hari dimana UN pun tiba, aku duduk nomer tiga dari depan jadi
posisiku sangat aman dari para pengawas, sehingga aku bisa leluasa untuk
men`scan code dari masing-masing lembar soal temanku. Beberapa hari aku lancar
melakukan hal ini sampai tiba dimana hal memalukan terjadi, aku meletakan
ponselku di dalam baju seragam putih karena jika aku masukan kantong celana
akan sangat kelihatan dan pastinya akan di sita oleh pengawasnya, jadi aku
memutuskan untuk meletakan di balik bajuku tepat di depan perutku.
Waktu itu lembar soal sudah di jawab semua dan waktu juga mulai
habis, aku dan yang lain di suruh meninggalkan kelas secepatnya oleh pengawas.
Ketika aku berjalan kedepan atau tepat didepan pengawas, salah satu temanku
berteriak pelan sambil sedikit menunundukan wajahnya “ky ponselmu nyala” karena aku nggak dengar aku pun tetap berjalan
hingga salah satu temanku menepuk punggungku
“ky itu kamu di panggil” aku
menengok kan kepalaku ke arah yang di tuju. Ternyata temanku ngasik tau kalau
ponselku menyala, aku pun bergegas menundukan kepalaku dan melihat ke arah
perutku.
Ketika tatapan mataku ke arah perut, aku melihat cahaya berbentuk
persegi panjang terang di area perutku. Karena reflek aku langsung memutar
badanku dan memencet tombol off di ponselku, aku panik akan tetapi
teman-temanku tertawa kecil sambil pura-pura tidak tau. Aku pun kembali
memutarkan badanku dan berjalan melewati pengawas, aku melihat ke arah pengawas
yang senyum dan berbicara tipis dengan pengawas sebelahnya. Seakan para
pengawas tau kalau aku menyembunyikan ponsel di balik seragamku.
Sesampainya di depan kelas, udara segar pun menerpaku seketika
keringat panas dingin pun hilang. Teman-temanku menertawaiku dan memarahiku
karena takut akan di laporkan kalau salah satu peserta ujian membawa ponsel.
Setidaknya itu yang aku rasa waktu SMA dan itu sangat berbeda dengan
ujian-ujian di Perguruan Tinggi
Jujur, aku sempat agak bingung sekaligus senang ketika baru
pertama kali merasakan ujian di kampus. Semua duduk di kursi kayu kecilnya
masing-masing dengan pakaian rapi yang sudah di tentukan, dosen pun juga sudah
datang dan membagikan kertas folio bergaris yang kosong masih belum ada
jawabannya. Semua tampak tegang karena masih kebawak suasa waktu di SMA, dosen
pun memberikan soal yang telah disediakan dan ketika semua soal sudah di
berikan dosen pun bilang “itu semua di
kerjakan, dua hari lagi di kumpulkan” semua hening, jam analog ku seketika
berhenti dan waktu sesaat berhenti beberapa detik, semua kebingungan
“iya itu di
kerjakan di rumah, dua hari lagi di kumpulkan ke saya, dan kuliah hari ini saya
akhiri” tiba-tiba semua teriak horeeeee!!!.
Ini UAS macam apa kok seperti ini, dan ternyata aku baru tau kalau UAS di
kampus lebih mudah ketimbang di SMA. Setidaknya jangan “open book atau nyontek waktu UAS take home”. Itu sangat mustahil…
Liburan semester satu ini terbilang sangat singkat, karena dulu
waktu aku lulus SMA dan mau masuk Perguruan Tinggi aku libur kurang lebih lima
bulan, tapi libur kali ini hanya dua minggu, libur yang singkat ini aku
habiskan dengan bermain game atau pergi ke Telkom untuk download anime.
Di semester dua nantinya aku akan sehabitat dengan spesiesku, jadi
untuk menyusun jadwal kuliahnya, spesiesku dan spesies tetangga memutuskan
untuk menyusun bersama-sama. Waktu dan lokasi sudah di sepakati, kami
mengerjakan di wifi Telkom yang berada di jalan gadang, tempat yang sering aku
datangi untuk update animeku. Aku datang lebih awal karena aku harus piket dan
nyiapin kopi buat penjaganya`nggak, aku datang lebih awal hanya karena ingin
mendownload terlebih dahulu.
Satu per satu temanku sudah datang dan mulai membeli voucer wifi
untuk login. Aku mulai membuka siakad kampus begitu juga dengan yang lain,
karena waktu itu sangat rame sekali jadi speednya lelet, bahkan jika di
bandingkan dengan kecepatan siput, masih cepatan semut. Dengan sabar aku dan
yang lain menunggu, lagi-lagi kita gagal login bahkan salah satu temanku sempat
membukanya lewat ponselnya padahal koutanya sudah mendekati ajalnya. Tiba-tiba
salah satu temanku berhasil login, dari delapan laptop hanya satu yang bisa
login. Mungkin karena amal ibadah dan isi laptopnya yang bersih dari film-film
jahat.
Akhirnya temanku yang bisa login menyusun jadwal kuliah terlebih
dahulu dan yang lain menunggu, selang beberapa menit satu persatu mulai bisa
login dan terakhir tinggal punyaku yang gak bisa login. Ketika semua menyusun
jadwal aku berniat meminjam laptopnya siapa tau di laptop temanku aku bisa
login. Akhirnya aku coba membuka di laptop temanku dan ternyata bisa yess!!! Aku mulai memilih jadwal sesuai
dengan teman-temanku yang lain kemudian aku save.
Sialnya, save ku selalu gagal. Aku Tanya ke temen-temen gimana cara
save nya karena mungkin aku tadi salah untuk save nya, salah satu temanku mulai
menyusunkan jadwal kuliahku dan aku berharap bisa karena tinggal aku aja yang
belum selesai sedangkan kuota kelas tinggal tujuh orang, aku takut gak kebagian
dan memupuskan harapanku sekelas sama perempuan itu.
Aku berada disana kurang lebih sekitar tiga jam karena semua
kebingungan dengan punyaku yang gak bisa save. Teman-temanku yang lain mulai
memanas-manasin aku yang katanya aku kurang sholat, kurang beramalan dan kurang
belaian. Keringatku mulai mengair dari kepala dan wajahku pun tegang aku
berusaha sebisa mungkin karena takut gak bisa kebagian kelas. “udah banyak-banyak istighfar” ucap
temanku untuk menenangkanku.
Karena hanya tinggal punyaku dan waktu sudah mulai sore, aku
memutuskan untuk menyudahi, karena disana aku juga melihat wajah teman-temanku
yang sudah mulai lelah menungguku yang selalu gagal terus.
“terus kamu
menyusunnya gimana?” Tanya temanku.
“nanti aja aku coba di rumah, kalau tetep gak
bisa aku hubungi dosen aja” jawabku dengan rasa putus asa.
Kita pun mulai memasukan laptop ke dalam tas dan mengenakan jaket.
Sore itu sangat cerah dan sedikit panas, aku berpisah dengan teman-teman di
depan Telkom. Aku mengambil motor yang kemudian aku kendarai menuju jalan
pulang.
Di jalan aku masih kepikiran kalau aku gak bisa sekelas sama
mereka. “kenapa kok punyaku coba yang
eror kok gak yang lain aja” sepanjang perjalanan aku berbicara sendiri,
pengen marah tapi ke siapa. Aku mulai menaikan kecepatan agar sampai di rumah.
Sesampainya di rumah aku langsung buka ponselku dan coba mengakses
lewat ponselku, tapi alhasil tetap saja aku gak bisa menyusun jadwalku. Aku
mulai panik di tambah lagi kuota makin menipis hanya tinggal lima kursi saja.
Karena gak ada jalan lain, akhirnya aku menghubungi salah satu dosenku dan
langsung bertanya masalah siakadku.
“Assalamualaikum,
saya Rizky mau Tanya kenapa siakad saya gak bisa save jadwal kuliah ya pak,
padahal yang lain bisa. Itu untuk membetulkan saya harus gimana pak? Terima kasih” tanyaku
melalui whatsapp.
Dosenku tidak merespon pesan dariku, padahal waktu itu baru online
beberapa menit yang lalu. Entah kenapa dosen selalu seperti ini, setiap kali
mahasiswanya butuh dan mencoba meng- hubunginya selalu saja cuek dan slow
respon. Aku menunggu balasan dengan berbaring di kamarku sesekali ponselku
bunyi yang aku kira balasan dari dosen tapi ternyata pesan dari kekasihku yang
selalu perhatian “selamat nomor kamu
mendapat hadia 90 juta buruan ambil…” ya kamu bisa tau sendiri, betapa baiknya
kekasihku waktu itu. Hari itu pun aku jadi malas melakukan kegiatan yang lain,
pikiranku masih kacau gara-gara jadwal kuliah, jadi aku hanya berbaring di
kamar sambil memeluk guling dan tiba-tiba seketika pandanganku gelap gulita,
aku gak bisa melihat sekelilingku tubuhku juga gak bisa aku gerakin, ternyata
aku sudah mulai tidur.
Tiba-tiba suara ibuku mulai terdengar samar-samar, mungkin ini
mimpi tapi ternyata ibu beneran memanggilku untuk bangun karena sudah hampir
menjelang magrib. Aku pun terbangun dengan sebagian nyawaku belum terkumpul
entah mungkin masih tersesat di alam mimpi, aku linglung dan sejenak aku duduk
kembali di atas Kasur sambil memejamkan mata.
Sambil ngumpulin nyawa yang masih terjebak di alam mimpi, seketika
aku ingat pesan yang aku kirim ke dosenku dan aku pun mulai mencari ponselku.
Ponselku entah hilang kemana dan aku juga lupa menaruhnya, aku cari di setiap
sudut tempat tidurku ternyata tetep gak ketemu. Aku mencari seisi bantal juga
guling, alhasil ketemu dan bergegas melihat whatsapp berharap dosen membalas
pesanku, sialnya ternyata dosen masih belum membalasnya.
Aku kecewa seketika moodku masih belum kembali membaik, aku pun
langsung menuju kamar mandi. Ibu dan ayah sedang berada di ruang tamu, seperti
biasa mereka bisa di bilang adalah pasangan yang sangat romantis menurutku.
Mereka bercanda sampai ketawa terbahak-bahak, suara itu pun sangat terdengar
jelas dari dalam kamar mandi tempat aku berdiri dan aku pun mulai mengguyur
kepalaku dengan air dingin agar aku kembali fresh dan gak linglung lagi.
Setelah selesai mandi aku langsung menuju dapur yang tak jauh dari kamar mandi,
aku mulai mengambil makanan dan langsung memakannya. Beruntung sekali hari ini
ibu membelikanku makanan favoritku yaitu lalapan ayam di tempat biasanya
keluargaku makan.
Ibu dan ayah masih bercanda dengan candaan klasik mereka, mereka
bercerita tentang masa mudanya dulu, aku tau ibu sangat sayang ke ayah begitu
juga sebaliknya. Aku hanya melihat sambil menelan makananku karena aku gak mau
mengganggu mereka berdua. Dalam hati aku mempunyai keinginan yang besar “aku pengen dapet pasangan seperti ibuku,
ibuku yang selalu menyayangi ayahku”
Ketika aku selesai makan dan berjalan menuju ke dapur, tiba-tiba
ponselku berbunyi tampak bahwa ada pesan masuk. Aku bergegas lari menuju
ponselku dan membukanya berharap itu adalah pesan dari dosenku.
“kamu langsung
saja ke kampus dan ke ruang Badan atministrasi akademik” jawabnya
melalui pesan
Aku senang sekali membaca pesan dari dosen itu, aku langsung
berfikir bahwa aku masih ada harapan bisa sekelas sama teman-temanku yang lain
juga sekelas sama perempuan itu.
“siap pak
terima kasih” balasku cepat
Esok paginya aku langsung bangun pagi-pagi buta, aku hari ini
bersemangat sekali untuk cepat-cepat pergi ke kampus dan menyelesaikan
masalahku secepatnya agar bisa menyusun jadwal dan berharap masih ke bagian
kuota kursi. Seperti pada umumnya manusia di bumi, aku bangun dan kemudian
mandi air dingin. Suhu di pagi hari waktu itu hampir sama dengan suhu di negara
Swiss, negara yang di daulatkan sebagai negara terbersih di dunia.
Selesai mandi aku langsung bergegas memakai pakaianku juga
menyiapkan perlengkapanku. Aku adalah orang dengan tipe gak mau sarapan pagi,
entah kenapa soalnya aku pernah sarapan pagi dan waktu berangkat perutku sakit
dan akhirnya sesampai di sekolah aku langsung menuju kamar mandi, bukan kelas.
Semua sudah siap aku pun mulai berangkat menuju kampus.
Sesampainya di kampus, aku langsung berjalan menuju ruangan yang
telah di beritahukan oleh dosen kemarin. Ternyata disana sudah banyak mahasiswa
yang mengantri, entah itu mau antri apa mungkin kampus lagi bagi-bagi sembako
jadi banyak yang antri.
“mas ini ada
apa yak ok banyak yang antri?” tanyaku kepada salah satu pengantri
sembako.
“ini antri bagi mahasiswa yang siakadnya
mengalami gangguan” jawabnya cepat sambil melirik ke arahku karena takut barisannya
aku serobot.
Alhamdulillah, ternyata bukan aku saja yang dapat masalah kayak
gini. Akhirnya aku masuk ke barisan dan ikut-ikutan antri sembako yang kataku
tadi, aku pun sedikit memaksa masuk lebih cepat dengan cara menserobot barisan
orang, bukanya aku gak disiplin dan gak mau antri tapi aku takut gak kebagian
kuota kelas.
Aku berdiri dan antri cukup lama, hingga tiba giliranku dan aku
mulai memasuki ruangan lalu menemui stafnya. Aku menceritakan semua problemku
dengan dia, dia siakad maksutnya. Kemudian aku di suruh mengisih formulir yang
di sediakan, setelah aku isi semua syaratnya, aku pun di suruh meninggalkan
ruangan untuk mengecek siakadku sudah bisa atau nggak.
Setelah aku keluar, aku masih melihat banyaknya mahasiswa yang
mengantri disana “kasian” ucapku
sambil jalan. Aku langsung bergegas membuka ponselku dan membuka siakad melalui
ponsel kemudian aku duduk sejenak di depan ruangan itu. Entah kenapa aku masih
belum bisa membuka siakadku, aku curiga kalau kuota internetanku habis. Aku pun
langsung cek kuota internetku ternyata emang benar sudah habis “mesti onok ae” ucapku.
Aku langsung berjalan cepat ke arah depan kampus, disana ada
konter kecil yang menjual pulsa. Sesampainya di konter aku langsung membeli
pulsa dan kemudian aku paketkan ke paket internet, sambil jalan kembali ke
parkiran kampus aku membuka siakadku. Ternyata siakadku sudah bisa dan aku
melihat kuota kelas tinggal tiga ekor. Aku langsung berhenti dan mencari tempat
duduk, aku buru-buru ceklis dan memilih kelas sesuai teman-temanku ambil
kemaren. Setelah aku ceklis semuanya aku langsung save dan loading pun berputar
searah jarum jam. Disini perasaan gak enak mulai muncul, biasanya loading gini
akan berujung gagal sama seperti waktu di Telkom dulu. Tiba-tiba sukses dan
jadwalku sudah terbentuk, alhamdulilah aku langsung tersenyum sendiri untung
aja waktu itu gak ada orang yang ngelihatku atau mungkin ada yang ngelihat dan
akunya aja yang tidak tau.
Aku pun langsung berjalan ke arah motorku lalu memakai helm dan
mulai mengendarai motorku meninggalkan kampus. Sepanjang perjalanan aku senyum
dan memikirkan hal-hal nantinya yang bakal terjadi kalau spesiesku jadi satu
kelas akan tetapi di sisi lain aku juga grogi karena bakal sekelas sama
perempuan yang aku suka, hmm rumit…
Middle
Remember of Today
Bulan januari adalah bulan
dimana aku memasuki kuliah tepatnya kuliah semester dua, kali ini ada yang
sedikit berbeda di perkuliahanku. Ya benar, aku bergabung dengan kelas sebelah
akan tetapi aku bergabung hanya dengan dua mata kuliah saja. Jauh-jauh hari aku
dan spesies kelasku sudah memikirkan hal ini, jika aku bergabung dengan kelas
sebelah di seluruh mata kuliah maka aku dan spesiesku bakal kesulitan
mendapatkan nilai yang sempurna jadi kita memutuskan hanya bergabung di dua
mata kuliah.
Bahasa inggris dan jati diri
kampus itulah yang membuat aku bergabung dengan kelas sebelah. Entah kenapa aku
dan yang lain memilih dua mata kuliah itu untuk gabung dengan kelas lain,
mungkin karena minimnya pengetahuan tentang Bahasa inggris, aku dan yang lain
emang tidak tau betul ucapan Bahasa inggris.
Awal masuk kuliah aku dan
spesiesku tetap seperti biasa, masuk duduk di depan dan dengerin dosen lalu
pulang. Tibalah dihari dimana aku harus masuk kelas sebelah, aku bergabung di
kelas sebelah pada hari selasa dan kamis. Awal masuk kelas sebelah aku sangat
canggung karena melihat orang-orang baru dan aku langsung duduk di bangku
paling belakang bersama teman-temanku. Hari itu pelajaran Bahasa inggris, aku
berharap dengan masuknya aku di kelas ini aku bisa atau sedikit paham akan
pelajaran Bahasa inggris, semua tampak diam memperhatikan dosen. Dosen waktu
itu masih muda dan berkelamin laki-laki dan tidak suka makan udang, karena aku
duduk di bagian belakang, aku pun memuncukan niatku selain ikut pelajaran
Bahasa inggris yaitu melihat perempuan yang aku suka tempo hari. Dia duduk di
barisan nomor tiga dari depan bersebrangan dengan tempat dudukku, dia focus ke
depan bersama dua teman ceweknya yang bisa di bilang itu mungkin gengnya karena
aku sering kali melihat mereka jalan bertiga.
Selama pelajaran aku hanya
sesekali melihat dia, anehnya kenapa dia bisa ngerusak konsentrasiku dalam
kelas padahal kenal juga enggak dan aku tau kalau dia gak peduli sama aku yang
selalu curi-curi pandang ke dia dan hari itu juga aku mengetahui nama
lengkapnya dari salah satu temanku. Pelajaran pun selesai dan dosen
meninggalkan kelas, temen-temen yang lain masih di dalam kelas bercanda
ngomongin hal-hal yang gak penting, karena aku di situasi seperti ini aku pun
ikut bercanda dengan yang lain meskipun aku hanya sebagai pendengar.
Aku punya keinginan di
sela-sela seperti ini mengajak ngomong perempuan itu meskipun hanya omongan
basa-basi. Tapi dia selalu bersama teman-temannya dan hal itu lah yang ngebuat
aku mengurungkan niatku untuk bicara dengan dia. Setelah itu kami pun keluar
meninggalkan kelas, aku dan kelas sebelah berpisah, aku menuju kantin dan kelas
sebelah masuk lagi katanya ada pelajaran berikutnya. Seperti biasa aku di
kantin ngobrol bareng gengku dan pesan makanan serta minuman tak sesekali
kadang aku pergi ke tempat rental plastation untuk main game sambil menunggu
jam masuk kuliah lagi.
Hari pertama aku sekelas dengan
dia emang bikin grogi sekaligus senang, kadang hanya melihat saja seolah-olah
aku sudah terhibur. Aku gak tau kenapa aku tertarik kepada perempuan ini kenapa
aku bisa yakin kalau aku suka sama perempuan ini.
Sehari kemudian datanglah
dimana aku sekelas lagi sama dia akan tetapi dimata pelajaran yang berbeda, aku
pun tetap menjalankan aksiku hanya sebagai pengamat jarak jauh tanpa berani
mendekatinya. Keberanianku mungkin kurang, kadang aku juga berfikir aku ini
siapa kok berani suka sama dia mungkin aja dia sudah punyak pacar, aku sempat
minder tentang hal yang aku lakuin ini.
Salah satu temanku berniat
membuat grup whatsapp yang beranggotakan spesiesku dan spesies sebelah, kita
pun setuju-setuju aja. Awalnya sangat sulit untuk mengumpulkan nomer dari
masing-masing individu dan setelah sekian hari anggota grupnya pun lengkap.
Waktu itu aku sangat enggan buka grup whatsapp karena yang di bahas masih
formal jadi aku hanya melihat notifikasinya kemudian aku hapus.
Ketika aku dan salah dua
temanku pulang dari kampus, kita berjalan menuju parkiran dan temanku yang satu
ini melihat anggota di grup dan penasaran dengan satu foto yang tampak asing di
mata temanku. Aku cuek aja dan tetap berjalan.
“heh rekk iki sopo loh?” Tanya
hewin.
“opo se?” boby berhenti, menunggu hewin
yang datang menghampirinya.
“iki sopo se, emange onok dek kelas e awak dewe?” Tanya hewin.
“iyo yo sopo yo?” jawab boby
yang juga bingung.
Karena aku penasaran dengan apa
yang di bicarakan oleh mereka berdua, aku pun berniat untuk kembali nyamperin
mereka berdua yang masih berdiri sambil melihat ponsel milik hewin.“endi se rekk delok aku?” jawabku sambil
berjalan, hewin pun menunjukan foto profil whatsapp itu kepadaku. Aku pun baru
kali ini melihat wajah perempuan di foto itu, perempuan yang berfoto tidak
memakai kerudung. Tanpa sengaja aku melihat nama di bagian bawah foto itu, Nine tertulislah nama itu.
Aku bingung dan bertanya ke
kedua temanku ini tentang nama nine itu siapa, kemudian hewin menjawab kalau
nine itu adalah nama perempuan yang aku suka akan tetapi nine itu adalah nama
panggilannya. Karena aku kaget dan gak percaya aku langsung mengambil ponsel
milik hewin dan melihatnya lagi, aku baca namanya yang tertulis NINE kemudian aku lihat fotonya yang
sangat berbeda dengan wujud aslinya di dunia nyata, aku sempat gak mengira
kalau dia punya wajah seperti ini karena selama bertemu aku gak berani melihat
secara detail wajahnya. Ucapan pertama kali dari mulutku waktu itu dan sampai
sekarang yang aku masih ingat adalah dia
cantik banget seketika ke dua temenku kaget dan bilang loh!!!.
Akhirnya aku dan kedua temanku
memutuskan untuk pulang. Kami pun berpisah di depan gerbang kampus, selama
perjalanan aku kepikiran tentang nine yang sempat aku lihat di whatsapp tadi
dan serius aku bilang dia cantik, aku senyum-senyum sendiri di perjalanan
hingga sampai di rumah.
Hari demi hari aku lewati
seperti biasa, bertemu teman-temanku untuk menghabisin waktu bersama dan
sesekali bertemu dengan nine. Beberapa minggu yang akan datang, angkatanku akan
menjalankan kegiatan kerja lapang dimana kerja lapang ini aku harus keluar kota
dan mengobservasi kenampakan alam di suatu tempat. Sialnya satu bulan sebelum
keberangkatan aku menderita sakit cacar air.
Selama aku sakit, aku off dari
perkuliahan bisa di bilang aku off selama satu bulan lamanya karena sakit yang
aku derita. Aku hanya bisa berbaring di rumah tanpa memegang ponsel, bisa di
katakan aku dalam satu hari jam tidurku mencapai 20 jam bahkan kucing aja kalah
karena kucing hanya memiliki waktu tidur 18 jam. Aku gak enak makan, pesan yang
masuk ke ponsel pun aku abaikan sampai-sampai ponselku kehabisan baterai.
Awal mula aku sakit ini setelah
aku jalan-jalan sama mantanku, dan setelah itu beberapa hari kemudian muncullah
bentol-bentol berisi air yang bisa di sebut itu adalah cacar air. Selama aku
tidak masuk kuliah aku menitipkan pesan keteman-temanku, bukan pesan mau mati
tapi pesan kalau ada tugas atau pengumuman tolong aku di kabarkan. Akhrinya
temanku pun si hewin dan boby datang kerumah dengan niatan menjenguk, beberapa
hari sebelumnya hewin datang sendiri tapi sekarang dia datang berdua dengan
boby.
Mereka masuk kamarku dan
menemuiku, akhirnya aku pun berbincang-bincang dengan mereka berdua. Aku gak
tau mereka emang betah atau di betah-betahin, waktu itu aku nggak mandi selama
1 mingguan karena cacar air tidak boleh kenak air akhirnya mau bagaimana lagi
aku pun nggak mandi, tapi tenang bauku tetap sama kok, sama seperti komodo
albino.
Aku ingin menanyakan masalah
nine ke mereka berdua, tapi sayang aku malu karena aku gak mau di katain kalau
aku itu suka sama dia disisi lain salah satu temanku ini tau kalau aku masih
ada hubungan dengan mantanku, padahal aku sudah lama putus. Jadi aku
mengurungkan niatku untuk bertanya kepadanya. Selama aku sakit aku memang
jarang buka ponselku bahkan sampai kehabisan baterai, akan tetapi aku pernah
membuka foto profil nine diem-diem, aku gak tau kenapa aku membuka fotonya
mungkin aku rindu karena aku sudah lama gak masuk kuliah. Aneh emang rindu
dengan orang yang orang itu gak tau aku ini siapa.
Beberapa hari kemudian aku
dapat info dari hewin kalau kerja lapang sudah di bagi menjadi beberapa
kelompok, dan aku satu kelompok sama hewin, veno, bunga dan vilda. Boby
mendapat kelompok yang terpisah, sekali lagi aku ingin bertanya ke pada hewin
kalau nine satu kelompok sama siapa akan tetapi keberanianku masih belum cukup.
Perasaan anehku pun muncul, aku
tiba-tiba takut kalau nine suka sama orang lain. Dia suka dengan teman satu
kelompoknya, dan anehnya lagi padahal aku belum tau apa-apa soal nine. Aku gak
tau nine itu seperti apa dan dia sudah punya pacar apa belum.
Sakitku makin parah, cacar air
ini menyerang seluruh tubuhku bahkan ke bagian muka ku. Ketika aku mengaca aku
kaget melihat mukaku, mukaku persis sama seperti karakter di fantastic four
yang tubuhnya di penuhi dengan batu berwarna orange. Kemudian aku tidur
kembali, aku pasrah aku bisa sembuh apa enggak, enggak bukan itu, kalau aku
seperti ini aku pasti gak bisa deketi nine. Benar nine pasti gak akan suka sama
aku yang seperti ini.
Akhirnya aku berusaha buat
sembuh dari cacar air ini, aku mencoba obat tradisioal setelah beberapa hari
aku tetap gak bisa sembuh. Kemudian ibuku membawaku ke dokter umum yang berada
di desaku, disana aku dapat 9 obat yang harus di minum tiap harinya agar bisa
sembuh, aku pun semangat untuk meminumnya. Beberapa hari kemudian aku kembali
ke dokter yang sama untuk membeli obat yang sama juga akan tetapi setelah itu
sakitku belum sembuh juga. Aku mulai frustasi dengan sakit ini, aku enggak sabar
buat sembuh aku gak tau harus gimana di tambah lagi beberapa minggu kedepan aku
harus mengikuti kegiatan kerja lapang.
Akhirnya aku memberi kabar
kepada neneku yang ada di negara HongKong. Aku mengirimkan fotoku sambil di
beri caption lagi sakit pengen di sayang,
nggak. Aku bilang kalau aku lagi sakit cacar air tapi udah berminggu-minggu
enggak sembuh dan nenekku pun meresponku cepat dengan mentelvon ibuku untuk
menanyakan keadaanku dengan pasti.
Akhirnya neneku pun memberi
uang untuk berobat dan menyuruhku untuk berobat di salah satu rumah sakit di
Malang kemudian aku di suruh periksa ke spesialis kulit. Mungkin nenekku sangat
khawatir sehingga aku di suruh menemui dokter spesialis kulit, ibuku pun
langsung pergi ke kantor pos untuk mengambil uang yang dikirim oleh nenek,
karena dulu masih belum punya kartu ATM jadi untuk mengambil uang kiriman,
keluargaku selalu pergi ke kantor pos terdekat.
Sehari kemudian aku dan ibu
berangkat menuju rumah sakit dan langsung mengantri untuk menemui dokter
spesialis kulit. Selama masuk rumah sakit aku memakai celana panjang, memakai
jaket dan masker, karena aku malu dengan wajahku yang banyak di tumbuhi cacar
air dan aku berjalan sambil menunduk agar orang di sekelilingku tidak
melihatku.
Ketika aku duduk di depan ruang
dokter disana tertera tulisan spesialis
kulit dan kelamin aku sedikit berfikir aneh kenapa kulit dan kelamin hanya
satu dokter, aku melihat kanan kiriku ternyata kosong hanya aku yang duduk di
depan ruangan spesialis ini. Ada beberapa orang yang juga antri akan tetapi di
ruang spesialis lain. Aku mulai berfikir pasti orang-orang lain melihatku kalau
aku ini lagi sakit kelamin atau jangan-jangan aku mau sunat disini. Ibuku pun
menegurku “jangan ngelamun”
Beberapa menit kemudian muncul
sesosok perempuan berbaju putih dari dalam ruangan spesiais Saudara Rizky Muharomsyah ucapnya sambil
memegang gagang kaca mata yang di kenakan. Aku pun berdiri dan berjalan menuju
kedalam ruangan, di tengah sela-sela jalanku aku punya gambaran kalau dokternya
pasti tua, ya ungkin kalau gak tua pasti perempuan yang umurnya sudah 40
tahunan.
Ketika aku sudah memasuki
ruangan ternyata dokternya masih muda dan dia laki-laki. Aku mulai duduk di
kursi yang telah di sediakan dan mulai berbincang-bincang tentang sakit yang
aku alami. Aku pun kemudian di periksa dan di beri obat. Aku sempat kaget
karena melihat biaya pengobatanku mencapai 1 jutaan, padahal adik keponakanku
pernah sakit cacar air dan itu menggunakan obat alami secamam madu dan biayanya
sangat murah sekali, entah kenapa kok aku mahal banget, 1 juta kalau di belikan
bakso, kuahnya pasti bisa buat renang bareng-bareng sekampung. Setelah selesai
berobat aku dan ibuku langsung meluncur pulang.
Sesampainya di rumah aku
cepat-cepat makan dan meminum obat kemudian tidur untuk mengistirahatkan
tubuhku. Beberapa hari berikutnya aku tetap di atas kasurku akan tetapi ada
sedikit perubahan pada cacar air ku yaitu mulai mengering dan hilang, aku
senang karena sudah mulai ada titik sembuh. Kemudian aku mendapat informasi
dari vilda kalau mahasiswa yang mengikuti kerja lapang harus hadir untuk
mengambil perlengkapan jika tidak bisa hadir maka tidak boleh mengikuti
kegiatan.
Kedengaran aneh memang, aku
sudah bayar masak gak boleh mengikuti kegiatan. Karena aku takut info itu
beneran, aku pun meminta ijin ke ibu untuk pergi ke kampus. “kamu iku sek sakit, wajahmu sek belum
sembuh entar malah nakut-nakuti orang di sana” ucap ibu. Aku pun menuruti
kata ibu dan tidak pergi kesana, disisi lain vilda menakut-nakuti aku karena
aku tau kondisiku yang seperti ini aku sudah pasrah meskipun memang tidak di
perbolehkan ikut kegiatan kerja lapang.
Aku kemudian tidur kembali dan
melihat grup di whatsappku, disana aku melihat keseruan temen-temenku yang lagi
makan di kantin dan berbincang-bincang. Aku iri karena aku gak bisa ikut
bergabung disana, pasti disana nine juga bahagia dan dia gak akan tau kalau aku
tidak masuk.
Beberapa hari kemudian sakit
cacar airku mulai agak mendingan, benjolannya sudah mulai hilang hanya tinggal
bekasnya saja dan kulitku masih memerah. Aku pun bilang kepada ibu untuk segera
masuk kuliah soalnya gak masuk lama-lama juga gak enak bosen di rumah hanya
tidur terus sepanjang hari. Karena ibu mengijinkan aku pun esok pagi akan
kuliah.
Esoknya aku berangkat pagi-pagi
buta, jujur waktu itu aku tidak percaya dengan penampilanku karena cacar air
yang menyerang tubuhku sangat banyak terutama di bagia wajah. Aku juga gak
mungkin pakai masker tiap waktu, ketika aku sudah sampai di kampus, aku
menunggu teman-temanku di tempat parkir. Satu bulan nggak masuk kuliah itu
sangat aneh serasa aku ini mahasiswa baru disana, beberapa menit kemudian
temanku datang dan kaget karena ada aku disana. “loh awakmu wes waras ta? Kok enyang?” Tanya temenku kepadaku, aku
pun menjawab dengan senyuman. Tampak temanku melihat wajahku yang sangat aneh
tetapi dia hanya diam saja, mungkin takut menyinggung aku.
Aku dan temanku berjalan menuju
kelas, tampak di depan kelas teman-temanku dari spesies lain lagi duduk di
depan kelas karena menunggu dosen. Mereka semua melihatku aneh tapi sudahlah
mau gimana lagi toh emang ini kenyataanya, ketika yang lain melihatku dengan
seperti itu aku gak berkecil hati dan pergi melainkan aku malah bercanda dan
ikut mengejek diriku sendiri. Teman spesiesku dari kelas sebelah juga bertemu
aku dan menanyakan kabar akan tetapi aku belum melihat nine sama sekali waktu
itu.
Beberapa hari kemudian
keberangkatan untuk kerja lapang pun tiba. Malam sebelum keberangkatan Boby,
Hewin dan Veno menginap di rumahku seperti biasa mereka menginap dengan tujuan
untuk berangkat bersama dan menitipkan motor di rumah bibiku yang berada di
Gadang gang 4. Malam itu kamarku sangat penuh orang karena sebelumnya kamarku
hanya aku tinggali sendiri, akan tetapi sekarang ada empat orang, kami pun
mengusir kejenuhan dengan bermain plastation 2 hingga pukul 24.00.
Aku mengajak semua untuk tidur
karena besok pagi aku harus berangat jam 4 subuh, memang sih kalau lagi kumpul
itu untuk tidur sangat sulit. Lampu sudah di matikan, tv juga sudah di matikan
akan tetapi ada aja yang masih ketawa sendiri. Salah satu temanku tiba-tiba
mencurahkan hatinya, dia bilang kalau dia menyukai salah satu dosen yang ada di
kampus, memang sih dosen itu setauku masih single dan belum menikah jadi
logikanya mungkin temanku ini masih ada harapan lah untuk deket sama dosen itu
meski pun kesempatannya hanya 0,1/2% untuk berhasil.
Malam makin larut dan kami pun
mulai tertidur. Beberapa jam kemudian alarmku bunyi dan aku langsung bangun,
dari sekian teman-temanku memang aku yang paling peka terhadap bunyi karena
saat itu alarm ponsel boby, hewin dan veno juga berbunyi akan tetapi pemiliknya
tidak dengar dan aku yang mematikannya. Aku perlahan mulai membangunkan satu
persatu manusia disana, setelah bangun semuanya kita pun mandi bergantian.
Setelah mandi kita menyiapkan perlengkapan yang harus di bawak, ibuku juga
sangat perhatian karena ibu bangun lebih awal dari kita semua dan menyiapkan
mie goreng untuk sarapan subuh. Aku dan temanku langsung menyantap makanan yang
masih hangat itu kemudian bersia untuk berangkat ke kampus.
Langit masih sangat gelap dan
bintang-bintang masih menghiasi langit waktu itu padahal jam sudah menunjukan
pukul 4 pagi. Aku dan temanku menembus dinginnya udara Kota Malang, jalan masih
sepi hanya motor kita berdua yang ada di jalan. Aku langsung menuju ke gang 4
untuk menitipkan motor dan kemudian berjalan menuju kampus. Sesampainya di
kampus aku langsung duduk di tepi jalan raya untuk menunggu spesies dari kelas
sebelah, akhirnya tak lama kemudian mereka pun muncul dengan gengnya.
Kita berbincang-bincang sampai
jam 6 pagi, tampak semua sudah siap untuk naik bus. Oh iya waktu itu spesiesku
dan spesies sebelah satu bis, sangat beruntung memang kita semua bisa satu bis
aku juga senang bisa satu bis dengan nine ya meskipun dudukku sangat jauh dari
dia. Dosen memanggil mahasiswa semua dan menyuruh untuk berbaris sesuai dengan
bis masing-masing yang kemudian duduk sesuai nama yang telah di bagi.
Aku duduk sangat jauh dari
nine, kurang lebih berjalak 4 kursi di depanku. Setidaknya aku beruntung duduk
jauh di belakang dia sehingga aku bisa melihat dia, dari pada aku duduk di
depan dia yang nantinya aku harus menengok kebelakang untuk melihat dia.
Sepanjang perjalanan aku hanya menikmati pemandangan dari balik kaca dan
mendengarkan lagu hingga sampai di lokasi awal kerja lapang yaitu di Pacitan.
Ketika sampai di lokasi awal aku memasuki ruangan yang hampir mirip seperti
sebuah museum batu-batuan entah kenapa dan apa motifnya sehingga batu harus di
museumkan. Lagi dan lagi aku mencuri kesempatan dalam kesempitan ketika semua
sudah masuk kedalam museum aku melihat nine sedang mengamati fosil, aku pun
berusaha mendekati dia dan ketika aku berada di dekatnya aku hanya diam dan
kemudian aku pergi, sial entah kenapa dengan aku waktu itu.
Setelah aku melihat-lihat isi
dalam museum spesiesku mengajak untuk berfoto bersama dan aku pun ikut
berpatisipasi, aku mengambil posisi di bagian tengah dan di bagian depanku
adalah spesies betina, aku gak menyangkah tiba-tiba nine berada di depanku
padahal awalnya dia berada jauh di sebelah kanan. Karena dia berada di depanku
aku merasa senang dan aku berusaha tersenyum kepada kamera sebagus mungkin
karena di depanku ada perempuan yang aku suka. Akhirnya kita meninggalkan
lokasi pertama untuk menuju di lokasi kedua.
Setelah tiba di lokasi kedua
aku langsung berjalan dengan para spesiesku, jalannya sangat jauh aku melihat
nine berjalan di depanku dan aku berusaha berjalan cepat agar bisa berjalan
tepat di belakangnya. Lokasi kedua ku adalah Goa Gong, di depan Goa Gong kita
berhenti dan antri untuk memasukinya. Aku melihat nine yang lagi asik bercanda
dengan teman-temannya, tiba-tiba terdengar suara (@#*~!!) atau kata-kata yang sangat sulit untuk di mengerti
telingaku. Suara itu berasal dari mulut nine, kalau pengen tau kata-kata apa
yang di ucapkan nine waktu itu kalian bisa Tanya sendiri ke dia.
Suara yang sangat keras membuat
semua terdiam hening dan tatapannya pun kerah nine semua. Aku tau dia malu
sehingga dia membuang muka dan mulai menunduk. “kok dia ngucapin kata-kata gitu ya?” ucapku yang sedikit kecewa,
karena selama ini aku menganggap dia itu perempuan yang lemah lembut, aku
berharap dia gak ngucapin kata-kata itu lagi.
Akhirnya kita pun memasuki Goa
itu, di dalam Goa kita semua terpisah. Aku berjalan dengan teman perempuanku
karena spesies jantan lagi asik foto semua, gak lama berselang aku melihat nine
yang melihat-lihat isi Goa itu sendiri dan kali ini aku berusaha mendekatinya.
Alhasil aku pun berjalan dengan dia, bukan dia aja sih tapi juga temanku yang
lain “ayok jalan, disini panas” itu
lah ucapanku ke dia waktu itu, dengan wajah yang sangat capek aku tersenyum
mungkin ini kesempatanku. Aku berjalan sama nine hingga di mulut Goa dan kita
pun akhirnya berpisah karena nine berjalan mendekati teman-temannya, aku
berfikir itu tadi adalah awalanku untuk mendekati dia, ya aku tau ini masih
awalan, sabar aja.
Lokasi ke dua sudah selesai dan
kita menuju lokasi ke tiga yaitu pantai Teleng Ria, disana aku melakukan
observasi spesiesku pun juga terpecah waktu itu. Aku lebih focus untuk
observasi dari pada deketi nine entah kenapa mungkin karena dari awal turun
dari mobil sudah terpisah. Aku berjalan ke warung yang ada di pinggiran pantai
dan mulai observasi dan wawancara kepada penjual, tak lama berselang teman-temanku
yang lain gabung dan kita bercanda disana. Kemudian kita bersama-sama
jalan-jalan di sepanjang pantai sambil berfoto-foto, nine berada di depanku
berjalan bersama teman perempuannya, dengan pakaian warna pink yang bisa di
bilang kecil dia sangat lucu sekali waktu itu hampir mirip sama anak SMP kelas
2 .
Kita pun kemudian meninggalkan
pantai itu dan menuju penginapan yang tak jauh dari pantai. Pacitan menurutku
sangat panas sekali entah itu pagi siang sore ataupun malam. Ketika sampai di
penginapan aku dan spesiesku memutuskan untuk satu kamar akan tetapi di bagi
menjadi dua kelompok alhasil aku satu kamar juga dengan spesies sebelah. Aku
mendapat kamar dengan nomor 502, ya memang nomor yang tidak asing. Aku bertanya
pada veno “502? Gak asing yo nomore dek
endi ngunu loh?”. Veno juga bingung. Aku gerasa nomor ini ada ceritanya
tersendiri, ketika aku tiba di depan kamar salah satu temanku kemudian membuka
pintu kamar yang misterius itu.
Suasana disana sangat gelap
bahkan benda yang ada di dalam tidak kelihatan sama sekali, veno berusaha
menyalakan lampu akan tetapi tidak bisa. Kita semua mulai kebingungan akhirnya
aku ke kamar sebelah dan melihat keadaan disana, disana sangat berbeda sekali,
suasaanya enak dan lampunya bisa menyala semua. Akhirnya salah satu temanku
pergi ke staf penginapan dan menanyakan masalah ini, kamarku pun di tinggal
dengan keadaan gelap gulita serta pintu yang terbuka, semuanya pindah ke kamar
sebelah. Tak lama berselang aku mengajak yang lain untuk mengcek kamarku dan
terkejutnya aku ketika melihat kamarku sudah tertutup dan lampu menyala di
dalamnya. Aku dan yang lain terdiam, saling pandang dan saling bertanya “loh kok morop? Pintune nutup pisan, mosok
wes di benakno?” veno pun langsung lari ke arah pintu dan membukanya,
kemudian kita semua pun masuk.
Di dalam tercium bau bunga yang
aku gak tau namanya, sangat aneh emang ketika awal masuk tadi gelap gulita dan
baunya tidak ada kemudian sekarang muncul bau bunga serta kamar yang tertutup
dengan lampu yang menyala semuanya. Aku pun menghilangkan pikiran-pikiran
negative, kemudia temanku yang memanggil staf penginapan pun datang dan dia
terkejut karena lampunya sudah menyala.
“loh wes murup ta? Tiwas aku nyeluk staf e rekk” ucapnya dengan sedikit kecewa.
“murup-murup dewe iki maeng, lawang e yo nutup padahal genok arek
dek kene maeng, delok en saiki malah ambune kembang” ujarnya sambil muka penasaran.
Mungkin karena sfatnya
mendengar pembicaraan kita, kita pun kemudian disuruh keluar kamar dulu yang
katanya mau benerin kabel biar gak eror dan kemudian padam lagi. Staf pun
berjalan menuju kamar mandi yang ada di belakang, karena penasaran beberapa
temanku ikutan masuk dan gak sengaja melihat staf itu lagi berdiri tanpa
melakukan apa-apa melihat ke arah tembok yang membelakangi pintu. Karena
sedikit takut teman-temanku ini langsung keluar dan lari ke kamar sebelah.
Disana aku dan teman-temanku yang lain di beri cerita masalah ini, semuanya
mulai ketakutan.
“pokok engkok sampek onok
seng aneh-aneh deal turu dek teras yo? Ojok sampek turu dek jeruh soale onok
seng nggak beres” ucap salah satu temanku untuk
meyakinkan semuanya dan semuanya pun men-iya kan. Kemudian aku dan teman-teman
yang lain menuju kamarku yang sudah mulai normal, aku mulai berganti pakaian,
temanku yang menuju kamar mandi kaget karena pintu kamar mandi yang sudah rusak
atau jebol sehingga gak bisa di tutup. Akhirnya semua spesiesku main kartu di
depan kamar sebelah karena dengan alasan gak bisa tidur, aku yang gak suka
keramaian langsung menuju kamarku menyalakan tv dan ac, aku menutup kamar mandi
sebisaku kemudian aku berbaring di Kasur sambil memegang ponsel.
Aku masih penasaran dengan
nomor kamarku, aku langsung mengetik di Google `kamar 502` alhasil yang muncul
adalah misteri kamar 502, hantu kamar 502 dan di Indonesia di percaya betapa
seramnya kamar 502. Aku penasaran dan mulai membacaya, lama kelamaan aku mulai
sedikit takut masak iya kamarku ini berhantu mungkin aja ini semua kebetulan.
Tiba-tiba pintu depan terbuka pelan dan angin mulai masuk, munculah jari-jari tangan
aku kaget karena tiba-tiba muncul jari yang ternyata itu adalah temanku yang
mau masuk kamar. Akhirnya di kamar aku tidak sendiri melainkan berdua dengan
temanku.
Karena ada temanku suasana
menjadi tidak mencekam lagi dan aku pun mulai ketiduran. Aku membuka mataku
suasana sangat gelap gak ada satu lampu pun yang menyala saat itu, aku berusaha
duduk dan melihat sekelilingku ternyata semua sudah tidur, aku bangun pukul 4
pagi di karenakan dingin yang di sebebkan oleh ac, aku pun kembali tidur hingga
matahari terbit.
Esok paginya setelah sarapan,
kita menuju ke pantai seruling di Pacitan, untuk kesana aku dan teman-teman
harus menaiki mobil kecil atau mirip seperti angkutan umum. Pantainya menurutku
biasa dengan ombak yang sangat besar, dari kejauhan terdapat batu karang yang
mirip dengan Spinx yang berada di Mesir.
Semua sudah turun dari mobil,
kita diberi waktu satu jam untuk observasi di pantai. Karena pantai ini
terkenal dengan seruling samudera, teman-teman yang lain pun banyak berburu
foto disana dan mengabaikan observasi. Aku dan sebagian spesiesku memilih untuk
observasi dahulu ke warung yang berada di pinggir pantai, saat itu aku tak
melihat nine di sekitarku mungkin dia lagi foto di seruling samudera bersama
temannya.
Tiba-tiba dari arah kejauhan sosok
nine pun muncul dan berjalan ke arah warung yang dimana aku ada di sana. Dia
sampai di warung dan kemudian duduk di kursi kayu panjang yang ada disana
bersama salah satu tema laki-lakiku, karena melihat dia yang berada di luar
warung aku pun reflek langsung berdiri dan berjalan menuju depan warung tempat
nine berada.
Aku berdiri di depan nine dan
mulai mendengarkan pembicaraan teman-temanku yang lain. Tiba-tiba tempat duduk
kayu yang di duduki nine hampir terbalik karena teman laki-lakiku yang duduk sama
nine beranjak berdiri. Karena hampir terbalik nine pun hampir jatuh dan
disitulah tubuhku secara alamiah bergerak sendiri ke arah nine, nine pun jatuh
ke arahku tapi beruntung nggak sampai jatuh ke bawah karena aku menahannya.
Kalau kalian jadi aku, ya pasti taulah gimana rasanya. Mungkin kalau lebaynya
itu bisa di bilang aku ini penyelamatnya nine yang hampir terjatuh tersungkur
ke pasir.
Karena banyak yang lihat, aku
pun langsung menegakkan nine. “heh ngawot
iki, untung ae gak tibo” ucapku kepada temanku yang tiba-tiba beranjang
berdiri tadi. Aku melihat nine nggak papa dan dia kemudian senyum kearahku dan
akhirnya pergi. Hari itu sangat melelahan akan tetapi disisi lain hari itu aku
juga sangat senang karena aku bisa sedikit dekat dengan nine meskipun hanya
tatapannya seolah-olah dia sudah bisa bahagiain aku.
Karena hari sudah siang, dosen
pun memutuskan untuk kembali ke mobil untuk menuju bis yang kemudian akan
menuju ke objek selanjutnya. Setelah sampai di bis kita pun langsung berangkat
ke lokasi Goa Tabuhan yang memakan waktu agak lama. Hingga sore pun tiba dan
kita juga tiba di lokasi terakhir ini, di lokasi ini aku turun dan berjalan
dengan temanku karena semuanya terpisah hanya tinggal aku, vilda dan veno yang
ada. Kita pun akhirnya memutuskan untuk masuk goa itu bertiga.
Ternyata aku melihat nine yang
terpisah dari teman-temannya dan aku menyuruh vilda untuk memanggil nine agar
bergabung sama kita, akhirnya dia pun bergabung dengan kita. Kamu tau
perasaanku saat itu ? ya pasti begitu lah. Aku berjalan di dalam goa yang
gelap, karena terlalu gelap aku dan veno menyalakan lampu LED di ponsel untuk
menerangi jalan. Aku berusaha untuk mendekati nine dan waktu itu baru pertama
kalinya aku berani ngomong atau mengajak nine melihat air yang jatuh dari atap
Goa.
“sini loh, lihaten air dingin banget” dia pun datang menghampiriku dan mulai menyentuhkan tangannya di
air.
“iya dingin banget” jawabnya,
aku pun mengobrol tipis-tipis dengan dia karena tau sendiri aku masih canggung.
Akhirnya kita pun keluar dari
Goa, kita berjalan menuju depan bis untuk menunggu yang lain dan sesekali
berfoto bersama-sama. Sore itu aku merasa senang karena bisa dekat dengan dia,
bukan dekat tapi bisa berada disisinya ketika dia terpisah dengan
teman-temannya. Setelah teman-teman yang lain kumpul kita pun langsung masuk
bis masing-masing dan pulang menuju malang.
Sepanjang perjalanan, bisku di
guyur hujan yang sangat lebat dengan medan pegunungan yang extream aku dan
teman-teman yang lain sangat tegang. Teman sebangku ku tiba-tiba menyanyi,
katanya untuk mengusir ketegangan di dalam bis, tak lama berselang semua pun
terdiam tampak sudah tidur, aku juga melihat nine dari kursi belakang tampak
tak bergerak mungkin dia sudah tidur juga. Aku kasian ke nine, selama
percalanan dia mabuk darat mungkin karena mabuk itu dia jadi lemas. Sayang
sekali aku gak bisa bantu dia toh aku juga bukan siapa-siapanya dia, meskipun
aku bantu pasti dia juga gak akan mau.
Di tengah perjalanan aku mulai
merasakan pusing, keringatku mulai keluar. Aku tau ini tanda kalau aku lagi
kenak masuk angin yang nantinya akan berujung mabuk darat, tapi ingat aku sejak
kecil gak pernah mabuk-mabukan karena di larang sama ibu dan ayah. Aku berusaha
menutupi semua tubuhku dengan selimut agar hangat, aku gak mau muntah disini
nanti semua pada heboh. Akhirnya masuk anginku pun hilang dan badanku mulai
hangat, aku pun memutuskan untuk tidur agar tidak pusing dan mabuk.
Beberapa jam kemudian aku
terbangun karena bis sudah berhenti, ternyata bis sudah di malang atau sudah
berada di depan kampus. Aku bergegas turun dengan barang-barangku, suasana
masih gelap gulita tak ada sinar matahari waktu itu aku pun melihat ponselku
ternyata waktu menunjukan pukul 00.00, oh ternyata tengah malam. Aku, boby,
veno dan hewin pun berjalan ke gang 4 untuk mengambil motor.
Jalan menuju gang 4 memang
melewati pemakaman umum. Memng sih kita gak takut karena kita berempat, akan
tetapi ketika melewati pemakaman langka kaki kita semakin cepat seolah-olah
enggak mau ada yang di belakang. Dengan jalan menurun di tambah ada pohon besar
dan melewati sungai disana hanya ada satu lampu saja, kita pun mempercepat
langka kaki meskipun barang bawaan berat itu bukan halangan, mungkin karena
takut kalau tiba-tiba ada genderuwo albino mengenakan baju serba putih push up
di tengah jalan, kan horror nantinya.
Setelah sampai di rumah bibi, kami pun
mengambil motor dan pulang menuju rumahku, lagi-lagi jalan sangat sepi malam
itu jalan serasa milik kita berempat. Ketika hampir dekat rumahku ban motor
milik boby terkena paku sehingga bocor, karena malam itu tambal ban masih pada
tutup semua kita pun memutuskan untuk mendorong motornya hingga sampai di rumah
dan akan di tambalkan ke esokan harinya. Sesampai di rumah kami semua
bersih-bersih muka dan langsung tidur tanpa bercanda dahulu, mungkin karena
kelelahan.
Pagi harinya kita semua bangun
kesiangan, kita bangun pukul 7. Kita bergantian untuk mandi dan kemudian
sarapan. Ban motor boby pun segera di tambal karena dia juga keburu untuk
pulang kerumahnya.
Setelah menyelesaikan kegiatan
kerja lapang, perkuliahan pun berjalan seperti biasa masuk pagi pulang sore,
bertemu teman-teman dan ke kantin, bertemu nine dan gak berani memulai
pembicaraan mungkin hingga akhir hayat akan terus seperti ini. Ketika mata
kuliah Bahasa inggris dosen akan mementuk kelompok untuk presentasi, kelompok
di tentukan dosen secara acak sehingga kita semua tidak bisa memilih sesama
teman.
Satu persatu temanku sudah di
panggil dan mendapatkan kelomok, namaku masih belum di sebut yang artinya aku
masih belum dapat kelompok begitu juga nine dia juga belum dapat kelompok.
Secara tidak sengaja aku berharap kalau aku bisa sekelompok sama nine dan
beberapa detik kemudian namaku di sebut Rizky, viva, della, sella dan nine. Aku
sempat terkejut ketika ada nama nine di dalam kelompokku, aku gak percaya
disana aku laki-laki sendiri tapi di sisi lain aku berkata “loh baru aja aku berharap biar satu kelompok sama nine, Alhamdulillah
di kabulkan” ini bisa di katakan kesempatanku buat dekat sama nine.
Akhirnya kita semua diberi soal
yang berbeda-beda yang nantinya di presentasikan. Mulai dari sekarang bisa dan
tidak bisa aku akan berbicara sama nine meskipun itu harus bahas tugas maupun
basa-basi. Beberapa hari setelah terbentuknya kelompok aku iseng ke salah satu
temanku yang bernama viva untuk menanyakan kelompok kita siapa aja.
“nine terus sama siapa lagi ya lupa aku?” jawab dia melalui whatsapp.
“loh nine kelompok kita juga ta?” jawabku hanya buat basa-basi. Malam itu aku membuka grup whatsapp
spesiesku dan spesies sebelah, aku mencari nama nine dan akhirnya ketemu. Aku
perlahan membuka fotonya dulu untuk melihat-lihat yang kemudian nomornya aku
save dengan nama lengkapnya, aku melihat kapan terakhir dia online dan ternyata
hanya beberapa menit yang lalu.
“selamat malam, eh kamu kelompokku ya?” tanyaku kepada nine. Ternyata dia gak membalasnya, aku pun
ngerasa gerogi dan ingin menghapus pesanku tadi akan tetapi tekatku harus
bulat, entah dia cuek atau apalah aku akan terima toh nantinya bakal tau kalau
dia gak peduli sama aku jadi aku gak akan deketin dia. Beberapa menit ponselku
berbunyi, ternyata itu adalah balasan dari nine
“iya, gimana tugasnya?” jawab dia
langsung bertanya kepadaku.
“tugas? Ya belum lah kirain kamu yang ngerjakan” jawabku.
“sulit aku gak bisa
ngerjainnya” jawabnya sambil ada imot icon ketawa.
“udah nanti aku kerjain sebisaku tapi kalau aku kesulitan bantu
aku ya?” jawabku untuk memastikan dia mau
membantuku, membantu disini karena aku pengen chat dengan dia lebih lama.
Malam itu setelah chat dengan
bahasan tugas Bahasa inggris, aku pun langsung mencari topik lain dengan
bertanya dia itu siapa? rumahnya dimana? Makanannya apa? laki-laki atau
perempuan? bernafas dengan paru-paru atau insang?. Dia sempat memberi tahuku
rumahnya yaitu di kepulauan keramaian satu komplek dengan pulau Masalembo,
Masalembo terkenal dengan segitiga bermudanya Indonesia karena banyak kapal
atau pesawat yang hilang disana akan tetapi rumahnya nine aman-aman aja dari
segitiga Bermuda itu buktinya sampai sekarang masih ada. Karena penasaran
tingkat kabupaten aku memutuskan mencari pulaunya di google maps yang ada di
ponselku dan akhirnya muncul pulau yang sangat kecil berada di bawah pulau
lalimantan eh Kalimantan.
“Pulau kamu kok kecil banget? Pasti itu kalau tidur gerak sedikit
udah masuk laut itu” ucapku kepadanya. Nine pun
tertawa dan membalas chatku, malam itu aku tau semuanya tentang dia karena aku
berbagi informasi, ternyata dia sangat enak di ajak bercanda maupun mengobrol
meskipunlah balas chatnya agak cuek tapi ini mungkin gaya chatnya. Waktu
menunjukan sudah tengah malam dan aku masih bermain chat dengan dia, kali ini
tema yang di bahas adalah tentang horror atau hantu yang seram bukan hantu yang
albino lagi.
Hampir setiap chat balasannya
sangat cepat, aku tau malam itu mungkin dia hanya chat sama aku saja mana
mungkin dia chat sama teman-temannya di tengah malam. Aku memang suka horror
ternyata dia juga suka yang berbau horror, malam itu pun kita chat sambil
ketakutan hingga waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi dan aku menyuruhnya untuk
tidur. Karena senangnya amat berlebihan aku screenshort chatku dengan dia yang
membahas hantu kemudian aku buat story di whatsappku dengan caption.
Akhirnya malam itupun
penasaranku tentang dia sudah terbayar semua, bukan semua sih hanya sebagian
karena aku masih penasaran dengan dia dari berbagai sisi. Aku pun tertidur
dengan senyum meskipun nantinya aku harus bangun jam 5 tak masalah.
Selamat tidur nine…
Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim tuhan dalam wujud diri kamu
Sungguh tenang kurasa saat bersamamu
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sampai habis umurku, sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku
Kaulah satu di hati kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku
Diam diam aku memandangi wajahnya
Tuhanku sayang sekali wanita ini
Tuhanku sayang sekali wanita ini
-Anji-
Esok paginya aku berangkat ke
kampus seperti biasa tapi ada yang berbeda sedikit disini yaitu aku lebih
bahagia ketimbang kemaren. Aku sesekali bertemu dengan nine, pertemuan kita
hanya saling tatap muka tanpa mengucap sepata kata pun tapi setidaknya aku
sudah selangkah lebih dekat dengan dia.
Hari demi hari setelah selesai
kuliah aku mulai sering chat dengan nine, tapi chatku aku mulai ketika habis
magrib entah kenapa aku gak enak aja kalau pulang kuliah langsung chat dia.
Karena chatku takut garing, aku lebih sering membahas masalah tugas kampus “kamu tadi pelajarannya siapa? Dapat tugas
kah?” tanyaku pada nine. Dia memberi tahu ke aku kalau dia mendapat tugas
ini itu, karena kita sama sama geografi jadi aku paham betul tugas-tugas kita.
Nine mendapat tugas seperti membuat keliping untuk kemudian di prin dan aku
sedikit memberi penawaran kepada dia “perlu
di bantu kah? Mumpung aku lagi free” aku tau mungkin aku dan dia baru kenal
jadi dia jawab “nggak aku bisa kok”
masak iya baru pertama kenal udah care kan gak logis banget.
Aku gak habis akal, aku pun
memberi penawaran kepada dia untuk prin tugasnya, karena kebetulan aku
mempunyai printer. Disisi lain niatku juga bagus yaitu menghemat uang dia yang
akan di keluarkan untuk biaya prin. Awalnya dia gak mau katanya takut
ngerepotin aku, akhirnya perlahan-lahan dia pun mau aku bantu dan mengirimkan
file yang sudah dia kerjakan. Aku senang dia percaya sama aku, bukan maksutnya
dia mempercayaiku akan tugasnya dia kepadaku. Setelah itu aku dan nine chat
seperti biasa chat ringan tanpa obrolan yang panjang.
Esok harinya, aku masuk kuliah
pagi sekitar pukul 8. Setelah kuliahku ruang kelas yang aku tempati ini akan di
tempati oleh kelasnya nine, sebelum kelasku keluar kelas teman-teman spesiesku
dari kelasnya nine sudah banyak di depan ruangan untuk menunggu kelasku keluar
dari ruangan. Jam pun berakhir dan aku mulai keluar dari kelas, aku keluar
kelas sambil menengok kearah lorong untuk mencari nine. Tubuh dia mungil
sehingga tertutup badan dari teman-teman yang lain tapi akhirnya aku menemukan
dia dan memanggilnya dia dengan panggilan `heh`
dan dia melihatku kemudian berjalan ke arahku sambil menundukan kepalanya tanpa
melihat aku sama sekali.
Aku membuka tas ku dan
memberikan tugasnya kepadanya.
“loh kok sudah di potong klipingnya” Tanya dia
“iya biar kamu nanti langsung temple aja” jawabku.
Dia pun lalu bilang terima
kasih dan kembali ke teman-temannya. Teman-teman spesies kelasku yang melihat
aku berbicara pada nine terkejut kalau aku sama nine sudah kenal, padahal setau
mereka aku dan nine ini kayak orang lain yang belum kenal sama sekali. Aku pun
hanya tersenyum ketika mereka melihatku penasaran seperti itu.
Hari demi hari, minggu demi
minggu sudah terlewati. Aku semakin dekat dengan nine, aku juga sudah
memastikan kalau saat itu nine belum punya pacar soalnya aku pernah bertanya ke
dia
“kamu kalau pulang naik apa? kok setauku kamu kalau habis kuliah
langsung ngilang” tanyaku.
“aku kadang bawak motor
kadang juga naik angkot” jawabnya.
“loh gak pernah di jemput sama pacar kamu kah? tanyaku.
“aku gak punya pacar kok” jawabnya.
“Alhamdulillah kamu gak punya pacar, jadi kesempatanku lebih besar
buat jadi pacar kamu” jawabku dalam hati. Dari
pengakuan itulah aku makin giat buat deketin dia. Aku memiliki dua novel horror
yang aku suka yaitu yang berjudul `Rumah Bayangan` dan `Erebos` kedua novel itu
adalah novel pertamaku. Aku pun memberi tahu nine kalau aku memiliki novel
horror disisi lain aku tau kalau nine itu suka yang berbau horror.
Aku menfoto novelku dan aku
kirim ke whatsapp dia. Dia mulai tertarik dengan novelku dan akhirnya dia
meminta saran sebaiknya dia membaca novel yang mana. Karena rumah bayangan
adalah novel yang sudah aku tamatin aku pun sedikit spoiler ke dia dan alhasil
dia marah ke aku karena aku memberi tau dia jalan ceritanya. Aku pun berjanji
besok akan meminjamkan novelku ke pada dia.
Ketika di kampus aku langsung
bertemu dengan dia dan memberikan novelku ke padanya. Aku juga berkumpul dengan
kelompok Bahasa inggrisku untuk mendiskusikan tugas kita. Waktu itu aku membagi
tugas kepada kelompoku akan tetapi mereka mereka bisa di biang bingung akan
tugas itu jadi aku pun memutuskan akan mencari tugasnya. Tugasnya waktu itu
disuruh mencarari video cerita rakyat dalam Bahasa inggris kemudian di
translate ke Bahasa Indonesia, karena aku yang mencari videonya aku pun
menyuruh temanku yang lain untuk bagian translate lagi dan lagi mereka takut
salah dalam mentranslate soalnya gak boleh translate via google jadi kita harus
cari satu per satu.
Tanpa di sangka nine pun angkat
bicara, “yang translate aku aja deh”
ucapnya. Aku kaget mendengar ucapannya,
disisi lain berarti yang mengerjakan adalah aku dengan nine atau bisa di bilang
aku dan dia bakal chating dengan tema tugas. Aku pun mensetujuinya dan aku
bilang kepadanya kalau nanti sudah dapat video akan aku serakan ke dia. Kita
pun menyudahi diskusi tentang tugas itu.
Sesampainya di rumah aku
langsung mencari tugas Bahasa inggris tadi dan Alhamdulillah akhirnya aku
menemukan, aku langsung kirim video itu kepada nine.
“loh ini ceritanya aku yang ketik semua?” Tanya nine kepadaku.
“loh bukanya kamu yang bagian ketik kan?” tanyaku balik.
“kamu aja yang Bahasa inggrisnya nanti aku yang Bahasa
indonesianya” jawab dia.
“iya deh aku tulis dulu ya, stay di whatsapp loh” jawabku aku lalu berusaha mengerjakan dengan cepat.
Beberapa menit kemudian, aku
mengirim file kepada nine berisikan 8 lembar Bahasa inggris. Kemudian dia pun
mengerjakan dan sesekali aku chat dia untuk memberi bantuan mentranslate kan
akan tetapi jawaban dia selalu “nggak
usah, aku bisa kok ini kan tugasku” aku bisa menilai dari sini sepertinya
dia tipe perempuan yang tanggung jawab, aku pun menyuruhnya untuk mengerjakan
tugas terlebih dahulu.
“yaudah kamu kerjain dulu, benerloh kalau kesulitan Tanya aja ke
aku insyallah aku bisa bantu kamu” ucapku.
“iya terima kasih” jawabnya.
Malam itu chat kita di akhiri dengan mengerjakan tugas tanpa chat basa basi,
karena aku harus tau mana waktunya bercanda dan mana waktunya serius, aku gak
mau terlihat `gak niat` di depan nine.
Pagi harinya aku mendapat pesan
dari nine yang katanya tugas translatenya kurang sedikit dan file itu di kirim
ke aku, dia sempat panik karena belum bisa menyelesaikannya apalagi dia harus
berangkat pagi karena ada jam kuliah pagi.
“yaudah kamu berangkat aja, biar ini aku yang ngelanjutin nanti
bakal selesai kok” balasku ke dia sambil emot
senyum yang di pipinya ada warna merahnya.
“bener ya, terima kasih aku takut telat ini” jawabnya.
“iya santai aja, yaudah kamu berangkat hati-hati di jalan” balasku. Hari itu adalah hari pertamaku mengucapkan hati-hati ke
dia, kadang aku berfikir untuk mendapatkan perhatian dari seseorang kita harus
perhatian juga ke orang tersebut bahkan kalau bisa perhatian kita harus lebih
besar dari pada dia.
Sesampainya di kampus dan
pelajaran Bahasa inggris pun dimulai, aku pun langsung duduk dengan kelompokku
yang beranggota kan perempuan semua. Hari itu aku langsung duduk di sebelah
nine tanpa ragu, padahal kemaren-kemarennya aku sempat ragu duduk di sebelah
nine alhasil aku duduk agak jauh dengan nine. Mungkin teman-temanya tau kalau
aku sering chat dengan nine sehingga aku di berikan tempat duduk kosong tepat
di sebelah nine. “gimana? Sudah kah
tugasnya?” Tanya nine kepadaku yang sedang membawa kertas berisi tugas. “sudah kok ini” aku berikan ke nine dan
kelompoku yang lain.
Kita semua pun membacanya untuk
persiapan maju kedepan mempresentasikan hasil dari tugas kita. Entah disengaja
atau enggak waktu presentasi tiap kelompok membacanya berurutan dan setelah aku
membaca nine pun melanjutkannya, seketika teman-teman di kelas membuat wajahku
memerah “eheemm” beberapa teman
seolah-olah mengata-ngatain aku, mungkin juga teman-teman yang lain tau kalau
aku lagi deketin nine waktu itu sehingga respon mereka seperti itu ke aku.
Beberapa minggu kemudian aku
dan spesiesku berencana pergi ke pantai selatan Malang. Aku, boby, hewin, veno
berangkat dari rumah veno pagi-pagi, kita berempat menuju pantai clungup dan
gatra sebenarnya ini juga tugas dari salah satu dosen kita untuk observasi,
bukan observasi sih tapi lebih hanya untuk melihat-lihat bagaimana pertumbuhan
tumbuhan magrov di pesisir sana. Pagi itu aku berpamitan kepada nine kalau aku
akan pergi ke pantai.
Sesampainya di pantai kita
berjalan dan memfoto objek-objek yang ada disana untuk dibuat semple laporan ke
dosennya, kemudian kita melanjutkan jalan ke pantai gatra untuk sekaligus
bersantai di pantai yang bersih dan obaknya yang tenang itu. Tak lupa aku dan
yang lain mulai berfoto-foto untuk mengabadikan, aku juga membawa kertas yang
bertuliskan `pak..buk.. putrinya buat aku
ya nanti aku ganti dengan cucu yang lucu` aku berfoto dengan memegang
kertas ini yang nantinya akan aku kiriman ke nine. Suasana pantai sudah
menunjukan sore hari dan kami mulai bergegas berjalan meninggalkan pantai itu.
Perjalanan menuju malang
memakan waktu kurang lebih 2 jam, waktu sudah menunjukan pukul 5 dan kami pun
mencari musolah untuk beribadah sejenak sekaligus istirahat serta mengisi air
minum di musolah tersebut. Kita pun sholat berjamaah, setelah sholat berjamaah
aku duduk di depan musolah dan memainkan ponselku. Aku membuka fotoku tadi dan
mulai mengirimkan fotoku tadi ke nine, tanpa aku duga teman-temanku berada di
belakangku dan melihat aku sedang ngapain. “nine…?”
ucap veno dengan nada penasaran. Karena aku kaget aku langsung menengok
kebelakang dengan kecepatan 75km/jam.
“ehh lapo rekk loh” jawabku
kepada mereka bertiga.
“loh loh chatingan ambek nine lah kok, ketok e meneng tapi wes
wani” ucap boby. Kemudian semua seolah-olah
membullyku.
“enggak rekk wong aku loh mek koncoan makane aku kirim fotoku” jawabku cepat
“putrinya buat aku ya nanti aku ganti dengan cucu yang lucu ciee” jawab boby dan dua teman lainku ketawa. Aku mengirah boby gak
suka ketika aku chat sama nine tapi dia berusaha menutup-nutupinya dengan
sebaik mungkin.
Kita pun melanjutkan perjalanan
pulang, sialnya aku di bonceng sama boby. Boby mungkin cemburu atau semacamnya,
dia bonceng aku dengan kecepatan super tinggi samapai-sampai hewin dan veno
ketinggalan jauh di belakang, mungkin dia juga bertambah cemburu ketika aku
chat ke nine “nine aku ke magriban di jalan
ini” ucapku “yaudah jangan ngebut
hati-hati di jalan” balas nine. Soalnya sepengetahuanku boby menyukai nine
tapi gak berani memulai dan dia juga mengajak aku saingan untuk deketin nine,
awalnya sih aku kira ini bercanda akan tetapi ketika aku sudah selangkah lebih
dekat dengan nine, boby mulai menunjukan sifat cemburunya.
Rasanya jantung dan ginjalku
mau berganti posisi karena boby ngebut banget di jalan. Sangking ngebutnya
samapai-sampai kita kelewatan sama gangnya veno padahal kita berencana ke
rumahnya veno dulu untuk mengambil motorku, akhirnya pun kita kembali dan
menuju rumahnya veno. Sesampainya disana chatku dengan nine pun masih di bahas
terus oleh dia, tapi aku masih mengenggap kalau ini hanya bercanda jadi ya
sudahlah. Aku langsung pulang kerumah karena sudah malam dan aku sudah capek
seharian keliling.
Hal yang aku anggap sepele ini
ternyata akan merubah hariku kedepannya menjadi lebih buruk. Esoknya aku masuk
kuliah seperti biasa, disini ada yang sedikit berbeda lagi ketika aku berkumpul
dengan spesies sebelah mereka semua bercanda dengan candaan pacar yang di
tikung, aku yang awalnya gak peka merespon mereka biasa-biasa saja hanya diam
dan melihat mereka yang bercanda. Tiba-tiba boby mengucapkan kata-kata “awas seng duwe sepikan ati-ati saiki jamane
konco nikung” aku yang sedikit terganggu dengan ucapan itu mulai penasaran
apa maksutnya ini, mungkin dia menyindirku di depan teman-teman yang lain atau
apalah aku gak paham.
Teman yang lain mulai kepo
dengan ucapannya boby. Disisi lain disana juga ada aku dan nine, aku hanya diam
aja melihati mereka-mereka yang seolah-olah menyindirku. Hari itu akan menjadi
hari yang sangat panjang bagiku, dimana tiap harinya aku bakal di caci maki
kalau aku merebut pacar orang, menikung pacar orang atau sejenisnya terserah
mereka mau bilang apa. asal mereka-mereka tau bahwa nine waktu itu masih belum
ada yang punya dan aku gak mungkin merebut pacar orang hanya karena aku suka.
Hari-hari berikutnya aku mulai
merasa banyak kegajinlan, teman spesies di kelasku mulai menjauhiku bahkan yang
spesies betina juga. Biasanya aku menunggu pelajaran lain dengan ke kantin
bareng sama teman-teman akan tetapi sekarang sudah mulai enggak, seolah-olah
mereka meninggalkan aku dan memandang bahwa aku disini yang memiliki kesalahan
terburuk. Aku sudah terbiasa sendiri jadi aku gak terlalu khawatir di tinggal
teman-temanku seperti ini, kadang aku pergi ke perpus untuk membaca novel
kadang juga pulang karena gak tau harus kemana. Ketika aku bergabung dengan
kelas sebelah disitu menjadi titik terberatku mereka semua selalu menyindirku
dengan sindiran yang sangat pedas “katanya
teman akrab kok nikung dari belakang” ucapan yang sering aku dengar
meskipun itu tidak di tujukan langsung kepadaku. Lagi dan lagi, sial..
Untaian kata yang kuselipkan
Semoga mampu tuk meluluhkan
Hati pemilik senyum itu
Berbagai cara akan kucoba
Agar aku takkan kehilangan
Pandangan dari senyum itu
Dan disaat kukatakan
Jadi kekasihku akan membuat
Kau jauh lebih hebat
Percaya padaku
Percaya padaku
Jiwaku untukmu
Hidup terlalu singkat
Untuk kamu lewatkan
Tanpa mencoba cintaku
-S07-
Pagi harinya aku kuliah seperti
biasanya datang pagi-pagi dan menunggu teman-teman yang lain. Aku makin sering
bertemu dengan nine, dia selalu bersama dua teman perempuannya. Nine gak pernah
lepas dari mereka entah kenapa, mungkin mereka berdua adalah saudaranya nine.
Seperti sebelumnya dimana aku bertemu nine disitu aku juga bertemu dengan
spesies sebelah dan disitu juga aku mulai di pojokkan.
Ketika semua berkumpul selalu
dan selalu pembahasannya itu itu aja “teman
yang menikung pacar temannya” semua seolah-olah mengatai aku tapi tidak
langsung. Karena permasalahan ini aku mulai ada jarak dengan si boby,
sebenernya bukan aku yang ngejauh akan tetapi dia yang mulai menjauh mungkin
karena dia kecewa sama aku atau apalah. Temen-temenku yang lain mulai
mengataiku “kelas B saiki dualisme
gara-gara wedok’an”. Tak lupa boby yang ikut bersorak-sorak entah tujuannya
untuk menyindirku atau enggak, aku disana hanya bisa diam, pergi juga gak
mungkin entar malah makin di kata-katain diam disana hanya membuat aku menahan
kesabaranku lagi dan lagi.
Bisa di katakana aku sekarang
tak punya teman sama sekali, temanku hanya semu mereka-mereka hanya baik jika
mereka butuh aku, akan tetapi mereka berubah ketika sedang berkumpul begini.
Aku sedikit lega ketika aku bisa bicara dengan nine meskipun hanya sebentar.
Siang itu aku berada di depan kelas menunggu nine untuk menunjukan film horror
`jigsaw` film yang karakternya di cincang-cincang, katanya sih dia suka film
yang bernuansa darah jadi aku ingin memberi tahunya lewat ponselku. Aku duduk
di depan kelas jauh dengan teman-temanku yang seolah-olah mereka gak mau
menggangguku, beberapa menit kemudian nine keluar dari ruang kelas mengenakan
rok panjang berwana merah maroon dan baju berwarna pink juga kerudung merah
maroon. Dia berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku, dia memang gak banyak
bicara mungkin dia malu jadi aku yang harus memulai pembicaraan itu.
Sesekali dia berdiri kemudian
duduk kembali, mungkin ini pertemuan yang kurang pas karena dari kejauhan
teman-temanku melihatku dan yang paling aneh hewin, hewin mengarahkan kamera di
ponselnya untuk merekamku. Disini hewin lebih sering bermain sama aku ketimbang
boby dan veno, dia lebih peduli kepadaku akan tetapi dia akan biasa-biasa aja
ke aku ketika mereka semua berkumpul. Hewin juga gak pernah memojokkanku
malahan dia lebih mendukungku untuk bisa dekat dengan nine.
Setelah berbincang-bincang
berdua aku dan nine berpindah posisi ke arah teman-temanku, aku duduk dan mulai
mengobrol dan bercanda. Disana gak ada boby, tetapi boby dan teman spesies
jantan sebelah duduk agak jauh dari tempat duduku sekarang mungkin sekarang dia
ngelihatin aku dan mengata-ngatainku. Aku mulai berani mengajak nine untuk pulang
bersama akan tetapi dia kadang mau kadang juga enggak tapi aku gak pernah
memaksanya untuk hal itu. Aku dan nine sudah makin dekat, aku sering
membantunya kalau dia dapat tugas juga kadang berbagi informasi.
Malam harinya aku selalu chat
dengan nine, menanyakan hal-hal yang enggak penting. Disisi lain grup whatsapp
selalu ramai hampir di tiap harinya selalu aja ada yang di bahas akan tetapi
pembahasannya ya itu kamu pasti tau sendiri, aku sering disindir karena aku gak
pernah muncul di grup tapi hanya membacanya saja. Disana ada satu profokator
yang membuat teman-teman yang lain ikut mengata-ngatainku, setidaknya itulah
makan malamku dari teman-temanku, sindiran yang pedas seolah-olah yang membuat
pagi harinya aku gak akan semangat untuk berangkat kuliah, tapi disisi lain aku
juga semangat kuliah karena aku bisa bertemu dengan nine.
Nine malam itu agak lelet
membalas chatku padahal dia sedang online, aku mulai penasaran dia sedang chat
dengan siapa kok chat dari aku gak di buka sama sekali. Kadang aku berfikir
kalau nine chating dengan boby soalnya kamu tau sendiri boby juga suka dengan
nine, gak ada salahnya kan berfikir seperti ini soalnya kebanyakan orang ketika
suka akan menghalalkan segala cara, ternyata nine ikut muncul di grup membalas
pesan dari teman-teman yang lain. Disana nine membalas pesan boby yang sedang
menyindir aku, seketika juga aku cemburu. Aku gak pernah muncul di grup dan
sekarang nine gak balas chatku akan tetapi dia sibuk dengan di grup. Aku gak
pernah muncul di grup karena aku sering di sindir disana meskipun aku gak
muncul di grup endingnya masih sama yaitu sindiran jadi ya sama aja, obrolan
percuma. Aneh memang jika aku cemburu hanya karena hal sepele seperti ini, aku
pun lebih memilih meletakan ponselku di Kasur dan tidur.
Pagi harinya aku bangun dan
melihat isi pesan yang ada di ponselku , aku membuka whatsapp dari nine dan dia
terakhir online jam 1 malam, aku sempat penasaran dia chat dengan siapa sampai
semalam itu dan aku mulai buka grup whatsapp ternyata disana obrolan terakhir
jam 11 malam. Aku mulai berfikir yang tidak-tidak mungkin dia chat dengan teman
dekatnya, nggak maksutnya chat dengan orang yang dia suka. Hal itu membuat aku
kuliah di pagi hari sedikit kurang mood, kebiasaanku jika moodku lagi gak baik
yaitu pergi sendirian entah kemanapun setidaknya aku ingin sendiri. Siang hari
setelah kuliah aku nggak langsung pulang, aku pegi ke toko buku di Gramedia
untuk mencari novel. Disana aku bertemu dengan novel horror yang berjudul `Parakang` karena aku penasaran aku pun
membaca sinopsisnya. Ternyata `Parakang`
ini adalah hantu dari suku bugis, aku langsung menutup bukunya dan langsung
membawanya ke kasir untuk membayarnya. Aku ingat kalau bugis itu adalah suku
dimana nine berasal.
Sesampainya dirumah aku
langsung membaca novel itu. Parakang adalah hantu jadi-jadian yang berwujud
asap hitam akan tetapi juga bisa berwujud pohon pisang, dia suka memangsa bayi
atau janin tak sesekali juga memangsa manusia jika dia lapar. Aku ingin
memberitau nine tentang buku baruku ini tapi aku harus mentamatkan dulu buku
ini biar aku tau ceritanya. Karena aku gak bisa menahan tanganku untuk whatsapp
nine akhirnya aku pun menghubungi dia.
“nine aku mau tanyak, Parakang itu apa?” tanyaku ke nine. Beberapa menit kemudian dia membalas
“itu hantu di pulauku” jawab dia.
“serem gak hantunya?” tanyaku
lagi.
“ya seremlah namanya juga hantu”
jawabnya.
“seperti apa se parakang
itu” tanyaku. Dia pun mulai ngejelasin
parakang itu seperti apa. kemudian aku mengirimkan foto novel baruku ini ke
nine dan dia pun terkejut.
“kamu dapat dari mana” Tanya dia.
“aku tadi habis beli ini soalnya penasaran aja katanya ini hantu
orang bugis” jawabku.
“aku boleh pinjem gak?” Tanya dia.
Jujur dalam hati aku gak bisa bilang “nanti
aja aku masih ngebacanya ini” dan yang keluar ucapanku adalah..
“iya besok aku bawak in ya” jawabku ke
dia.
Aku memang gak bisa`an ke orang
yang aku suka, kadang aku juga memberikan semuanya kepada orang yang aku suka
misalnya seperti novel ini. Aku membelinya dengan harga 60 ribu dan aku hanya
membacanya hingga halaman ke 40 akan tetapi ketika orang yang aku suka ingin
meminjamnya aku pun langsung memberikanya. Aku gak mau dia nunggu aku yang
harus selesain baca bukunya, lebih baik aku aja yang nunggu dia selesaiin
bacanya. Tapi aku tipe orang yang gak mau baca bekas orang lain dan hingga
sekarang buku parakang itu gak pernah aku selesaikan, aku hanya membacanya
hingga halaman 40 aja.
beberapa hari kemudian, dosen
pelajaran jati diri kampus menugaskan untuk semua mahasiswa membuat pentas seni
yang dimana tugas kali ini adalah tugas kelompok. Aku dan hewin menjadi satu
kelompok karena aku dan boby juga masih ada konflik jadi spesies kelasku
terbelah, kelompoku beranggotakan enam orang yang semuanya berasal dari jawa
jadi enak untuk di buat diskusi. Kelompoku mendapat tugas dialog bergilir
bertema comedy. Aku melihat nine ternyata dia membentuk kelompok beranggotakan
5 orang yang dimana anggota kelompoknya hanya perempuan-perempuan semua. Aku
bertanya pada nine kalau dia memilih tema apa.
“katanya teman yang lain aku bakal menari” jawabnya.
“loh nari? Kamu bisa nari ta?”
tanyaku sambil seolah mengejek dia.
“bisalah kan aku dari dulu suka menari” jawabnya
“iya deh aku pengen lihat seberapa hebat dirimu” jawabku.
Tiap harinya aku dan kelompoku berlatih,
tak sesekali aku menunggu nine berlatih karena aku dan nine akan pulang
bersama. Ketika nine berlatih di kelas aku menunggunya sendiri jauh di area
hostpot kampus, kadang juga sampai magrib baru selesai. Memang benar juga
mencintai seseorang butuh perjuangan tapi aku tau ini masih awal lagian juga
aku masih belum menjadi pacar nine.
Hari H pun datang satu persatu
kelompok mulai maju kedepan, kelompoku sedikit eror karena belom hafal naskah
dengan matang “babah wes pokok usaha sak
isone, kelompok sebelah loh tambah durung opo-opo” kata alan teman
kelompoku. Aku dan kelompoku memutuskan maju nomor dua karena lebih cepat lebih
baik, kita pun berjajar lurus ke samping di depan kelas dan mulai
memperkenalkan diri. Karena tidak hafal kita semua pun membaca naskanya dengan
memegang kertas jadi sebelas dua belas sama pidatonya pak karno, juga bisa
dikatakan waktu itu tugas kita hanya sekedar kewajiban gugur untuk nilai
terserah dosennya.
Setelah kelompoku, kelompoknya
nine pun akhirnya maju dengan baju pink rok hitam nine di tengah-tengah
barisan. Music mulai berputar dan mereka mulai menari, aku yang gak mau
kehilangan momen ini menyuruh hewin untuk merekam menggunakan ponselku, dan
hewin pun merekamnya. Semua sempat kaget ketika nine maju dari barisan dan merubah
posisinya ke barisan paling depan. Dia sangat lucu dengan ala-ala tarian
Yordania, nine sempat membuat kelasahan dengan ketawa sendiri dan dia mulai
menengok ke belakang. Aku tau dia itu kurang pede akan tetapi dia pengen tampil
di depan umum dengan maksimal, semua pun pada ketawa ketika nine membuat
kesalahan.
Tarian nine akhirnya berakhir
dan dia bergegas lari ke tempat duduknya yang tak jauh dari aku.
“loh yok opo se kok iso gugup ngunu” tanyaku kepada nine yang sedang menutupi sebagian mukanya.
“mboh..mboh..mboh” jawabnya
dia dengan rasa malu dan wajahnya yang memerah.
“tapi bagus kok, kamu berani”
jawabku dengan niat menyemangati dia. Dia pun mulai duduk dan mengkipasi
wajahnya yang memerah dengan tangannya, aku mengambil selembar kertas kemudian
aku lipat jadi dua sisi dan aku berikan kepada nine untuk mengkipasi wajahnya
biar sedikit tenang.
Akhirnya kelompok terakhir pun
maju, yaitu kelompoknya boby dan kawan-kawannya. Mereka menampilkan drama yang
berbau politik, ketika drama sedang di mulai tiba-tiba nine yang awalnya duduk
agak jauh dari aku berpindah, dia langsung duduk tepat di sampingku. Aku sempat
kaget dengan adanya nine di sampingku, aku gak tau apa maksutnya ini. Mungkin
nine mau buat cemburu si boby atau selainnya, aku tau disini nine tau kalau si
boby menyukainya tapi sepertinya aku satu atau dua langka di depan boby jadi
aku lebih dekat dengan nine.
Nine yang duduk di sampingku
menikmati drama dari kelompok itu, aku sedikit enggak enak dengan keadaan yang
seperti ini bahkan aku hampir tak sempat mengajak nine untuk mengobrol.
Teman-teman yang lain melihatku ketika aku duduk bersebelahan dengan nine akan
tetapi di sisi lain aku sangat nyaman sekali bisa duduk bersebelahan dengan
dia, mungkin dia nyaman juga karena tiba-tiba duduk di sebelahku.
Drama pun berakhir dan
kelompoknya boby mulai kembali duduk, nine pun mulai berpindah tempat duduk
juga kembali ke kelompok perempuannya, teman-temanku sempat mengata-ngatain
buat apa dia kembali ke kelompoknya. Hari itu berakhir dengan rasa penasaranku
akan tindakan dari nine tadi tapi aku tidak membahasnya di chatku dengan nine,
soalnya sangat kurang pas kalau kita lagi chatingan tapi yang di bahas orang
lain atau orang yang menyukai nine jadi aku memilih untuk menyelidikinya
sendiri. Terkadang pikiranku ini terlalu jauh, aku berfikir aneh-aneh tentang
dia padahal kalau dipikir lagi dan lagi tentang kejadian tadi, nine tiba-tiba
duduk di sampingku kan terserah dia mungkin aja dia sudah nyaman sama aku jadi
tiba-tiba duduk di sampingku gitu?
Beberapa hari kemudia hewin
berencana ke rumahku untuk mengerjakan tugas dan dia mengajak veno dan boby,
tapi hasilnya nihil mereka berdua tidak mau karena dengan alasan sibuk dan
semacamnya. Akhirnya hewin pun ke rumahku sendirian, aku sempat mengajaknya untuk
menginap di rumah karena tugas yang banyak, kalau di kerjakan berdua pasti
lebih ringan dari pada sendiri.
Siang itu setelah selesai
kuliah aku dan hewin langsung meluncur ke luar kota, hewin sudah membawak
perlengkapan menginap seperti baju, celana dan baju buat kuliah esok harinya.
Kita berdua meluncur cepat di terik matahari dan aspal jalan yang sangat panas,
berhubung rumahku di desa jadi panasnya nggak terlalu ketimbang di kota.
Sesampainya di rumah aku dan hewin langsung ganti pakaian dan santai-santai
dulu, hingga matahari tenggelam dan kita pun langsung mandi untuk selanjutnya
mengerjakan tugas-tugas kampus.
Sebelum malam tiba aku dan
hewin mulai membuka laptop dan mengerjakan tugas, akan tetapi tugas yang sangat
sulit membuat kami hanya tidur-tiduran di depan laptop sambil memainkan ponsel.
“ky pie iki tugase angel, aku raiso” ucap hewin.
“lah makane iku aku pisan enggak paham” jawabku.
“sek..sek.. tak takon si
anu see sopo ngerti dek’e mari” jawab hewin
dengan mulai chat ke si anu.
Hewin memiliki kenalan yaitu si
anu anak kelas A, si anu ini terkenal pinter, rajin dan yang baik-baik semua
ada di si anu ini. Beberpa menit kemudian si anunya hewin mulai membalas.
“ky anu wes mari, nyonto iki a?”
Tanya hewin.
“kok takon aku, ojok… kesuen”
jawabku.
Hewin langsung meminta tugas ke
si anunya dan si anunya pun mulai mengirimkan tugas yang sulit itu. Aku
langsung menyalin tugas-tugas itu, meskipun disini tugasnya masih ada yang
berbeda jadi aku harus memikir sendiri. Malam itu juga aku chat dengan nine,
chat seperti biasanya dengan obrolan yang ringan. Di grup kelas juga rame
dengan topik yang sama yaitu bisa di bilang menyudutkan aku, hewin yang tau
dengan posisiku saat ini dia pun membantu aku.
Aku mulai curhat ke hewin
tentang masalah ini, tentang aku yang selalu di sindir, di sudutkan, disalahkan
sepertinya semua tindakan yang gak baik ada di aku.
“boby gak dewasa, mosok ngunu ae nesu” ucap hewin.
“makane iku, modele aku dek kene seng salah” jawabku.
“awakmu gak salah, mosok awakmu nyedek i arek e salah, lagiankan
arek e sek single kan” ucap hewin.
“iyo se, tapi aku gak enak
loh cobak awakmu dek posisiku. Lek aku ancen salah okelah aku mundur, aku wegah
musuhan sak koncoan hanya karena masalah arek wedok” ucapku.
“ojok nyerah awakmu iku wes cedek ambek nine, nine koyok e yowes nyaman ambek awakmu” jawab hewin.
“terus aku kudu yok opo cobak, gak enak loh dek kampus aku di
sindir terus, dek omah sek dek sindiri lewat grup” jawabku.
“arek iku mosok gak dewasa se, nesu terus menghindar sampek
arek-arek liyane eroh kabeh” ucap hewin.
“aku tak nyerah ae yo, aku tak ngomong nang boby ambek nang nine?” jawabku.
“ojok ky, awakmu gak sayang nang nine ta?” Tanya hewin.
“lek gak sayang lapo aku nyedek i dek e sejauh iki cobak” jawabku.
“ngene loh, lek awakmu seneng cepet-cepet tembak en nine iku cek
masalah iki ndang mari. Kan lek awakmu pacaran ambek nine arek-arek gak kiro
ngilokno kan” ucap hewin.
“nembak nine iku gak segampang ngentekno ayam nelongso sak porsi
di tambah cah kangkung, nine tau ngomong siapa cepat dia dapat, aku kan yo gak
ngerti iso ae nine saiki chatingan mesrah-mesraan ambek boby hayoo” jawabku.
“wes ojok nyocot pokok pikirno iku, aku tak wa nine” ucap hewin.
Hewin kemudian chat nine untuk
menanyakan hal-hal tentang aku dan boby, ketika hewin chat dengan nine aku pun
menyudahi chat dengan nine dengan alasan aku mau tidur. Aku baru pertama kali
ini mendengar suara nine melalui voice note, soalnya selama aku chat dengan di,
dia gak pernah kirim aku voice note padahal aku sangat sering mengirimnya.
Hewin juga menanyakan tentang
dia nyaman ke siapa dan si nine ini mengatakan lebih nayaman ke padaku, aku
kaget dia bilag seperti itu.
“wocoen iki” ucap hewin sambil
memperlihatkan chatnya.
“gendeng, mosok e aku gak yakin”
jawabku.
Malam itu hewin dan nine
chatingan hingga pukul 12 malam dan karena aku sudah mengantuk aku akhirnya
tidur duluan, semua masalah ini aku serakan ke hewin aku percaya kalau hewin
pasti bantu aku.
Aku bangun pagi-pagi, hewin
yang masih tertidur dengan pulasnya nggak aku bangunin mungkin dia kelelahan
soalnya habis begadang. Aku mulai mandi dan menyiapkan makanan, gak lama
kemudian hewin juga bangun dan mandi. Hari itu kita kuliah masuk jam 08.40.
setelah mandi dan makan aku langsung mengerjakan tugas semalam yang belum
selesai, hewin yang juga sudah selesai mandi dan makan bilang ke aku tentang
semalam.
“dalam waktu dekat iki tembak en nine” ucapnya singkat.
“perlu proses lek nembak iku, metalku kudu siap, iyo lek di terimo
lek gak di terimo mateng aku” jawabku.
“wes talah percoyo ambek
aku” ucap hewin.
“insyallah wes tak usahakno”
jawabku, aku gak tau semalam apa yang hewin sama nine bicarakan sepertinya ada
yang di sembunyikan tapi aku disini harus percaya kalau hewin bisa bantu aku.
Beberapa hari kemudian di
kampus lagi di guyur hujan deras dan aku terjebak di kantin dengan hewin,
untung waktu itu jam kuliahku sudah habis meskipun hari itu masih siang. Hujan
yang sangat deras dan kilatan petir membuat wifi di kantin mati, aku mengobrol
dengan hewin dengan di temani minuman dingin di depan meja.
“ayok nonton bioskop a?” ajakku
bercanda.
“ayok lek aku ngunu” jawabnya
serius.
“kate ambek sopo awakmu, aku ngene iki yo gak onok partner” jawabku.
“aku tak ambek si anu” jawabnya
yang bikin aku kaget, si anu ini adalah anak geografi kelas A dia perempuan
dengan kacamata di wajahnya.
“loh ambek si anu? Awakmu kenal cedek ta?” tanyaku penasaran.
“iyolah wes kenal rodok
suwe se” jawabnya sambil memikir kapan dia
baru kenal.
“serius awakmu ambek si anu”
tanyaku lagi untuk memastikan.
“iyo aku ambek si anu, aku wes suwe chatingan barang kok ambek si
anu” jawabnya dia yang membuat aku yakin
kalau dia emang sama si anu.
“loh loh meneng-meneng lah kok wes ambek si anu, perasaan awakmu
gak tau cedek ambek dek e deh? Salut aku rekk” ucapku sambil memegang pundaknya si hewin. Kita pun bercerita
bagaimana si hewin bisa dekat dengan si anu itu.
“lah terus awakmu ambek sopo ky?” Tanya dia.
“aku ngunu ambek sopo yo? lek arek e gelem insyallah ambek arek e
aku win” jawabku sambil bingung mikir.
“ambek nine a?” jawab hewin
sambil senyum-senyum mesrah ke aku.
“ya mungkin lek nine mau, aku ae baru kenal sama nine mungkin
angel lek ngajak nine keluar” jawabku
seolah-olah aku tak yakin kalau aku bisa mengajak nine keluar. Akhirnya kita
berdua mendiskusikan recana ini agar nantiya bisa di jalankan sesuai rencana
atau enggak.
Malam itu aku chat nine duluan
untuk menanyakan dia lagi ngapain, disisi lain grup gabungan spesiesku selalu
rame tiap waktu dan isinya juga gitu-gitu aja tentang sindiran yang mengarah
atau memojokanku. Aku mulai mengajak nine untuk nonton, awalnya dia gak mau
kalau perempuannya dia saja.
“perempuannya bukan kamu aja kok, ada si anu juga” jawabku.
“aku gak kenal sama si anu, aku maunya sama vilda dan dua temanku
yang ini” jawabnya. Memang sih mengajak keluar
orang yang baru kenal memang sulit mungkin saja dia takut kalau aku ini
nantinya bakal apa-apain dia.
Ternyata nine menyebarkan ini
di grup perempuannya, ketika aku di kampus dan ada gengnya nine, mereka
menyindirku dengan mengajak temannya `hei
ayok nonton` sambil senyum-senyum. Aku yang merasa tersindir gak bisa
berbuat apa-apa. beberapa hari kemudian aku menanyakan hal yang sama lagi pada
nine apakah dia mau nonton sama aku. Mungkin karena aku terlalu memaksa dia
jadi dia pun mau menenmaniku dan aku disuruh menjemputnya. Awal pertama
menjemput nine aku menunggu di depan gang yang jauh dari rumahnya, aku kayak
orang hilang dilihatin orang lewat di depanku tapi gak apalah ini hari pertama
aku keluar sama nine. Padahal ketika aku pulang sama dia selalu aku turunin di
depan rumah tapi anehnya ketika aku menjemput untuk pertama kalinya aku gak
boleh jemput di depan rumahnya, Setidaknya apapun aku lakukan agar har
bersamanya ini terkesan buat dia.
Nine akhirnya muncul di
belakangku dan mulai mendekati. Sebelum berangkat aku sempat menanyakan hal
yang wajib di tanyakan.
“udah siap?” tanyaku
“sudah” jawabnya.
Aku pun langsung berangkat
menuju lokasi dimana nantinya kita akan menonton bioskop. Aku melaju pelan di
jalan yang sedikit longgar melewati lapangan rampal kemudian melalui balaikota
Malang tak lupa juga alun-alun Malang hingga sampai di Malang Plaza, disinilah
aku dan nine akan menonton. Di depan malang plaza aku bertemu dengan hewin yang
sedang membonceng si anu dan kita pun bergegas memarkir motor kemudian menuju
bioskop untuk membeli tiket.
Aku dan hewin antri membeli
tiket, hewin bilang kepadaku kalau saat itu dia yang bayarin si anu untuk
nonton “aku pisan heh” jawabku juga
ke hewin. Aku menyiapkan uang 60 ribu untuk dua orang akan tetapi aku lupa
bahwa hari itu adalah hari nasional hari dimana di peringati hari buruh
nasional, jadi tiket untuk menonton adalah 80 ribu untuk dua orang. Hewin
meminjam uangku karena kata dia, dia gak bawak uang kecil, aku dan hewin
memilih film Stip & Pensil, aku
yang jadi pensil untuk menulis cerita kita dan kamu yang jadi stip untuk
menghapus cerita kita. Film bergenre comedy itu aku pilih untuk menghibur nine
karena aku pengen lihat nine bahagia dan tertawa lepas.
Sambil menunggu teater di buka
aku, nine dan dua sejoli yang lain berniat jalan-jalan agar tidak jenuh. Kita
pergi ke teamzone yang berada di Ramayana, sesampainya di sana aku dan hewin
membeli koin akan tetapi ternyata koinnya dalam bentuk card dengan voucer yang
harus di beri 50 ribu dan kelipatannya. Lagi-lagi hewin bilang “ki gawe duwekmu disek yo pokok engkok
totalan” sambil berbisik ke aku. Oke deh, karena aku gak bisa’an kepada
teman sendiri jadi akhirnya aku membeli voucer yang 50 ribu dan di pakai
berempat.
Aku menawari nine untuk bermain
apa, dia mah terserah aku katanya. Aku pun mengajak dia untuk bermain yang
mengambil boneka itu.
“kamu pengen boneka yang mana se?”tanyaku kepada nine
“bonekanya kok kecil semua” jawab nine,
“kalau mau boneka yang besar ya beli di istana boneka nine, lagian
juga gak muat dong tempatnya kalau di isi boneka besar” jawabku tapi dalam hati.
“iya se ya? Enggak tapi kamu pilih yang mana biar aku ambilin,
kalau bisa” jawabku kali ini gak di dalam hati.
Nine pun akhirnya menunjuk
boneka yang berwana kuning wujudnya seperti marmut tapi telinganya panjang, aku
pun berusaha mengambilnya dengan mesin mainan itu. Tapi sayang satu kali dua
kali percobaanku gagal semua. “game apaan
ini, curang jangan main ini lagi masak bonekanya saling menggapit kan susah
nariknya” aku ngomong-ngomong sendiri.
Kemudian aku mengajak nine
untuk bermain bola basket, disana aku sempat kaget kalau dia melempar bola
dengan tangan kiri aku sempat berhenti dan melihat nine melempar bolanya
“loh kok ngelihatin aku” Tanya nine.
“kamu melemparnya kok pakai
tangan kiri” tanyaku.
“iya kenapa emangnya?” jawab nine.
“kamu kidal?” tanyaku balik .
“kidal itu apa” Tanya nine
balik.
“kidal itu orang yang sering menggunakan tangan kiri” jawabku memberi penjelasan.
“oh iya ta, aku sulit kalau ngelempar pakai tangan kanan” jawabnya sambil memegang bola di tangan kanannya.
“kamu kalau nulis atau makan juga pakai tangan kiri?” tanyaku penasaran.
“enggak lah tapi aku pakai tangan kiri kalau ngerjain pekerjaan
rumah” jawabnya sambil melempar bola. Keren
baru kali ini aku melihat perempuan yang kidal, katanya orang kidal itu
memiliki kreativitas dan kepintaran yang lebih.“hahaha salut aku” jawabku ke nine yang kemudian nine bingung apa
maksutnya.
Setelah bermain kita semua
langsung menuju ke bioskop dan mencari tempat duduk sesuai nomor, di tempat
duduk aku bertanya kepada nine.
“kamu pernah nonton apa aja?”
tanyaku.
“enggak” jawabnya singkat.
“enggak maskutnya?” tanyaku
lagi.
“nggak pernah nonton” jawabnya.
“jadi aku yang pertama kali
ngajak kamu?” tanyaku lagi dan lagi.
“iyalah” jawabnya dia. Sekali lagi aku
senang karena akulah yang pertama kali mengajak dia ke bioskop untuk nonton
setidaknya ini akan berkesan ke dia kalau yang pertama kali ngajak dia nonton
adalah Rizky ya Rizky Muharomysah
“yess!!!” ucapku sendiri.
“kenapa?” Tanya dia.
“enggak papa kok seneng aja”
jawabku sambil senyum.
Film pun mulai di putar dan
kita semua mulai menonton tak sesekali ketawanya nine membuat aku makin suka,
bukan suka lagi, disinilah rasa sayang itu mulai muncul seutuhnya. Film yang
berdurasi 90 menit itu terasa sangat cepat sebenarnya bukan filmnya yang cepat
tapi suasannya yang seolah-olah membuat film itu sangat cepat, waktu menunjukan
pukul 6 sore dan kita semua keluar dari bioskop. Aku dan hewin mulai berpisah
hewin harus mengantar si anu pulang begitu juga aku yang harus mengantar nine
pulang ke rumah tantenya yang berada di polehan. Aku takut nine di marahi
tantenya karena pulang malam jadi aku sedikit ngebut agar cepat sampai di
rumahnya.
Sesampainya di rumah, nine
turun dan bilang terima kasih lalu bergegas masuk kedalam rumah. Aku pun
langsung tancap gas dan pulang ke rumah, di tengah perjalanan ada hal yang
membuat aku sedikit gelisah sepertinya ada sesuatu yang hilang. Di tengah perjalanan
tanganku mulai memegangi saku celanaku untuk memastikan bahwa dompet dan
ponselku ada di kantong, “dompet ada
ponsel kok gak ada” ucapku. Aku mulai memelankan motorku dan coba
mengingat-ingat ponselku aku letakan dimana soalnya kalau hilang bisa di marahin
habis-habisan sama ibu dan ayah di rumah.
Ternyata aku ingat ketika di
dalam bioskop aku menitipkan ponselku kepada nine kemudian sama nine di masukan
ke dalam tas kecilnya. Aku langsung memutar motorku dan kembali ke rumah nine,
sesampainya di depan rumahnya aku bingung mau manggilnya gimana soalnya aku
baru pertama kali ini berdiri di pintu rumah nine apalagi ini sudah malam nanti
dikiranya aku apaan ke rumah perempuan malem-malem. “udah ambil aja entar di marahin sama ibu loh, lagian kalau ketinggalan
kamu nanti gak bisa chat sama nine” kata-kata ini tiba-tiba muncul di
kepalaku seolah menyuruhku untuk berani mengetok pintu rumah itu, aku yang
awalnya maju mundur di depan pintu akhirnya memberanikan diri untuk selangkah
lebih dekat dengan pintu.
Tanganku mulai mengetok pintu “tok..tok..tok.. permisi..” ucapku dua
kali dengan suara yang agak lirih. Aku gak mendengar suara kehidupan di dalam
rumah yang menjawab suaraku, aku langsung bergeser ke candela untuk mengintip
suasanan di dalam rumah. “Kosong gak ada
orang” ucapku, tiba-tiba muncul bayangan hitam dari pintu kamar aku sempat
kaget dan tanganku otomatis mengetuk pintu lagi. Bayangan itu berhenti
melihatku dari dalam rumah dan kemudian berjalan mendekati pintu.
“iya siapa yah?” ucap bayangan itu yang ternyata dia adalah tantenya nine. Tanpa
aku menjawab pertanyaan tante itu aku langsung bertanya juga.
“te ninenya ada?” ucapku
dengan sedikit takut.
“oh ada” jawabnya singkat dan kembali
masuk kedalam untuk memanggil nine, aku menunggu di depan pintu dengan berdiri.
Aku sempat takut ketika tantenya nine teriak dengan keras “nine itu kamu dicari siapa malam-malam gini” suara itu seolah-olah
dia lagi memarahi nine karena malam-malam gini ada laki-laki yang datang ke
rumah. Nine kemudian keluar menemuiku dengan baju yang masih sama ketika kita
keluar tadi.
“ada apa?” Tanya dia,
“ponselku ketinggalan di tas kamu” jawabku cepat
“oh iya kah? tunggu bentar” jawabnya
singkat. Kemudian dia masuk untuk mengambilkan ponselku dan memberikanya padaku
“kenak aku, tante marah” dia
memberikan ponsel sambil bilang begitu.
“loh iya kah, maaf ya nine” ucapku
seolah khawatir.
“iya gak papa udah kamu pulang ya” jawabnya dia dengan buru-buru masuk.
“iya aku pulang” jawabku.
Malam itu aku pulang dengan
sangat gembira, karena sudah bisa mengajak nine keluar atau bisa dikatakan ini
adalah kencan pertamaku dengan dia. Aku gak peduli nantinya dirumah aku
dimarahi atau enggak sama ibu karena pulang sedikit lebih malam tapi setidaknya
aku harus jujur kalau aku tadi habis nonton sama teman-temanku. Udara malang
malam itu sangat hangat seolah-olah sengaja menemaniku di sepanjang jalan aku
pulang, langit juga sangat cerah tanpa awan sehingga bulan dan bintang sangat
jelas terlihat di tambah lagi ada seorang sepasang kekasih lagi duduk berdua
menikmati kopi di pinggir jalan, mereka terlihat sangat bahagia tertawa satu
sama lain. Hahaha…tapi aku gak mau kalah dengan mereka, hari ini aku jauh lebih
bahagia dari mereka. Percayalah…
Terkadang hidup menggariskan misteri
Yang takakan pernah bisa aku pahami
Seperti aku yang tak pernah berhenti
Mencari celah menaklukan hati
Mereka bilang “cobalah kau sadari
Misteri ini harusnya disudahi”
Aku mencoba sederhanakan ini
Agar semua orang memahami
Sama seperti di film favoritmu
Semua cara akan kucoba
Walau peran yang aku mainkan
Bukan pemeran utama
-SO7-
End
Remember Of Today
Hari demi hari aku memikirkan perkataaan hewin untuk menembak nine
secepat mungkin, jujur aku gak ada keberanian untuk nyatain cinta ke seseorang
secara langsung, iya kalau masih smp gitu PDKTnya lewat sms kalau ketemu diem
aja terus kalau nembaknya lewat sms juga soalnya takut di tolak secara
mentah-mentah di depan mata. Masak iya sekarang sudah gede gini udah mahasiswa
masih aja nembaknya lewat ponsel, kebanyakan perempuan pasti akan bilang “nembak kok lewat ponsel dasar gak gentel
lu”. Tapi endingnya di terima, hadeh..
Setiap kali aku chat dengan nine, aku berusaha untuk memancing dia
agar aku tau dia itu suka beneran atau nggak sama aku soalnya di pernah ngomong
siapa cepat dia dapat lah disitu logikanya dia juga membuka hati ke boby juga
kan, entah kenapa aku selalu kepikiran dengan “siapa cepat dia dapat” takutnya kalau aku sudah dapatkan nine tapi
dia masih tetap membuka hati ke boby, gak salah dong aku bilang gini soalnya
kan dia bisa di bilang mau sama dua orang yang berbeda.
Hal ini selalu aku renungkan, aku juga membicarakannya ke hewin
tentang hal ini. Kadang ada perasaan mundur aja ky soalnya ini bisa di artikan
dua orang teman yang bertengkar hanya karena merebutkan satu hati. Disisi lain
juga ada optimis kalau aku bisa dapetin nine dan yang aku takutkan juga ketika
aku sudah terjebak disituasi seperti ini dan semua teman-temanku sudah tau
ketika aku sudah pacaran sama nine dan akhirnya gak bertahan lama, apa kata
mereka semua? Pasti akan ngata-ngatain aku. Aku juga baru beberapa bulan kenal
dengan nine pasti di antara kita belum saling mengenal lebih jauh, aku juga
belum tau sifat nine itu seperti apa, dia baik untuku atau malah sebaliknya.
Malam itu nine akhirnya mulai mengcode-code aku di whatsapp untuk
nembak dia, entah dia tau dari mana kalau aku punya rencana menembak dia.
“kamu sayang gak sama dia” ucap nine, dia disini itu adalah nine, entah kenapa nine
mengganti kata “aku” dengan “dia” mungkin hanya karena dia malu
kalau bilang “kamu sayang gak sama aku”.
“sayanglah tapi aku malu mau
ngomong” jawabku.
“kalau kamu sayang, ngomong aja
ke dia nanti keburu di ambil orang loh” ucap dia
yang soalah menyindir aku.
“kalau ngomong aja mudah,
masalahnya gak ada momen yang tepat” ucapku.
“kamu berani gak ngomong di
depan teman-temannya dia?” Tanya nine.
“di depan teman-temannya? Hah
serius kamu, maksudnya di kampus?”ucapku yang
sedikit terkejut.
“ya terserah kamu” jawabnya cuek.
“haduh gimana ya? Itu perlu
mental tinggi loh” ucapku.
“kalau gak berani ya berarti
kamu gak gantel, siapa tau dengan kamu ngomong langsung ke dia, dia nerima
kamu” jawabnya, lah dari kata-kata ini
menurutku aku sudah mendapatan greenlight, kesempatan nine nerima aku jika aku
tembak sekitar 80%.
“iya deh aku usahakan, tapi aku
perlu waktu dulu. Soalnya nembak itu butuh nyali yang gede dan iman yang kuat,
iya kalau di terima enak kalau di tolak kan malulah” ucapku.
“hahaha yaudah terserah kamu” ucap dia.
Malam itu aku langsung whatsapp hewin kalau aku akan nembak nine
secepat mungkin dan hewin pun setuju. Aku mulai berfikir dimana aku mau nembak
dia dan benda apa yang pas buat dia, setidaknya benda ini harus membantuku agar
aku di terima sama nine.
Esok harinya aku sedang di kantin sama vilda dan bunga, vilda ini
teman se-gengnya sama nine, aku cerita tentang nine ke dia dan aku punya niatan
untuk nembak nine. “kamu kasik sesuatu
yang berkesan” kata vilda. Aku gak tau sesuatu yang berkesan itu apa
soalnya aku juga gak tau kesukaan nine itu apa, nanti aku kasik coklat dia gak
suka, aku kasik bunga nanti katanya kayak orang mati. Aku mendiskusikan ini
dengan vilda, juga tempat untuk nembak dia aku masih belum tau dimana. Ada satu
rencana aku mau nembak dia di tempat yang bagus gitu tapi bagus juga gak gratis
kan “gimana kalau di nelongso?”
tanyaku ke vilda. Vilda mulai berfikir soalnya nelongso itu tempat makan jadi
sangat kurang pas kalau di pikir-pikir lagi.
“terserah kamu” jawab vilda
“tapi kamu sama geng kamu ikut
loh ya, aku traktir wes” ucapku.
“males, isin aku kate lapo dek kunu” jawab vilda.
“nine iku ngomong lek aku suruh
nembak di depan teman-temannya, lek gak onok kalian-kalian dia gak mau loh” ucapku sambil memohon.
“emange kapan?” jawab vilda.
“yak opo lek pas ulang tahunku,
kan ulang tahunku tinggal beberapa hari lagi toh” ucapku.
“engkok ae tak takon arek-arek” jawab vilda.
Ternyata disini vilda dan gengnya sudah mengetahui kalau aku akan
nembak nine, lebih parahnya kemarin malem yang ketika aku chat sama nine yang
membalas itu bukan nine murni akan tetapi kata-kata dari gengnya yang kemudian
di kirim ke aku, pantesan aku ngerasa obrolanku dengan nine sedikit berbeda
tapi sialnya aku gak menyadarinya malam itu. Hal ini aku ketahui setelah
beberapa bulan kemudian.
Aku sudah memutuskan kalau aku akan nembak nine pada hari
kelahiranku, entah apa alasannya mungkin hanya aku pengen di hari ulang tahunku
ada yang berkesan gitu atau setidaknya kalau memang di terima oleh nine, ini
akan menjadi kado teristimewaku. Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku
muncul konflik yang bisa di bilang ini sangat-sangat tidak terduga. Mantanku
yang bisa dikatakan sudah lama putus tiba-tiba menghubungi aku dengan nada yang
bisa di bilang marah
Sebut saja si itu, si itu ini ternyata tau kalau aku sudah deket
dengan nine entah si itu tau dari mana, katanya si itu aku tega banget
ninggalin dia demi orang lain. Aku pun mulai membalasnya, memang yang namanya
sudah putus mau gimana lagi, terserah aku aku bebas gini gitu gak ada yang
ngelarang kan akan tetapi katanya si itu ini masih sayang sama aku meskipun
kita sudah putus.
“Nine…” ucap si itu melalui whatsapp.
“maksudnya?” jawabku yang kaget si itu ini tau nama nine dari mana.
“itu kan cewek kamu sekarang?” Tanya si itu.
“nggak, aku belom pacaran” jawabku.
“alah kamu bohong” ucapnya.
“aku aja baru mau nembak dia
pas hari ulang tahunku” jawabku.
“kamu ninggalin aku hanya
karena dia?” Tanya si itu.
“kan kita putus udah lama,
sebelum aku kenal sama ini kan” jawabku.
“tapikan kita masih dekat” ucapnya.
“iya kita deket sebagai teman
kan, akukan udah bilang dulu kalau putus jangan musuhan tapi harus jadi teman” jawabku.
“kan kamu yang anggap teman,
aku nggak” ucap si itu.
“tapi kan kita sudah lama
putus, jadi aku anggap kamu teman, aku gak mau setelah kita putus kita jadi
musuhan makanya aku pengen kita ini temenan aja” jawabku.
Mungkin dari percakapanku ini aku terdengar egois banget karena
hanya mementingkan perasaanku sendiri tanpa peduli sama orang lain. Aku memang
pernah pacaran sama si itu ini kurang lebih satu tahunan, mungkin juga lebih
aku lupa, si itu ini dua tahun lebih mudah dari aku jadi aku awal pacaran sama
si itu waktu aku duduk di bangku SMA kelas 2. Aku waktu SMA bisa di bilang
sedikit badboy meskipun di kelas aku pendiam, aku kenal dengan si itu ini lewat
aplikasi BBM yang sempat buming pada masanya, kita kenalan, sering chat dan
akhirnya pacaran.
Waktu demi waktu terlewati hingga akhirnya tiba dimana ketika si
itu ini bilang kepadaku tentang sesuatu hal yang sangat membuat aku gak menyangka
sebelumnya, aku kecewa ketika dia bilang hal itu ke aku di tambah lagi
kehidupannya yang bisa di bilang mewah dan aku yang tak sanggup untuk
mengimbanginya. Aku akhirnya mulai bosen dengan sikap si itu ini yang makin
hari makin menekanku, orang tuaku mungkin sudah tau kalau aku pacaran sama si
itu sampai-sampai orang tuaku bilang “kamu
jangan sering-sering keluar sama cewek, apalagi orang @!~%_*& nanti kamu di
tanyakan (di suruh cepat menikahi) kapok loh, wes mending jangan” dari sini
aku bisa melihat kalau orangtuaku gak suka sama si itu ini di tambah lagi aku
yang sudah mulai gak nyaman sama si itu ini jadi gak bisa di teruskan.
Akhirnya aku putus, pasti dari kata putus muncul air mata dari
salah satu pihak. si itu marah kenapa aku mutusin dia bahkan si itu sampai mau
ke rumahku buat nanyain kenapa putus. Jujur dari dulu gak ada perempuan yang
berani kerumahku, mungkin karena ibuku yang galak atau aku yang selalu
melarangnya. Dari situ aku menganggapnya dia sebagai teman dan kita pun masih
chat meskipun gak sesering yang biasanya, hingga tiba di suatu hari dimana si
itu ini mengajak aku keluar, awalnya aku menolak tapi dia bilang “katanya kita temen kok gak mau di ajak
keluar” ucapnya, akhirnya pun aku mau. Kita jalan-jalan ke mall yang ada di
malang dan tiba-tiba si itu ini memberiku bungkus kado yang agak besar dan aku
di suruh membukanya.
“loh apa ini?” tanyaku.
“itu buat kamu” jawab dia.
“aku gak minta loh, kok di
kasik” ucapku.
Aku di beri dia jaket, entah apa tujuannya akan tetapi aku gak
berani nolak. Mungkin ini sifatku setiap orang yang memberi aku entah itu
berguna atau tidaknya, bagus atau tidaknya buat aku tetap aku terima. Aku
sempat bingung ketika si itu memberi aku jaket, bingungnya disini maksudnya
nanti gimana aku ngomong ibu tiba-tiba pulang membawa jaket lagian jaket ini
bukan jaket tipeku jadi bisa di bilang aku enggak suka.
Akhirnya aku mencari akal, aku whatsapp ibu kalau aku mau beli
jaket di hewin soalnya hewin membutuhkan uang dan aku mengirimkan foto jaket
itu, untungnya ibu bilang yaudah kalau niatnya membantu gak papa. Akhirnya
jaket itu aku terima dari dia dan aku bawak pulang, aku ngerasa kalau jaket ini
di belinya dengan uang tabungannya sendiri jadi aku sedikit gak enak kalau
menolaknya, kasian di dianya juga yang udah berusaha sebisa mungkin dan
endingnya aku tolak pemberiannya, aku sempat menemukan surat di dalam jaket itu
yang di tulis tangan dua lembar kertas ukuran A5 full, karena penasaran aku pun
membacanya. Isinya tak jauh dari ungkapan perasaan seorang perempuan. Dan
semenjak itulah jaket pemberian dari si itu ini gak pernah aku pakai hingga
sekarang, entah sama ibu di letakan dimana aku gak tau.
Setelah si itu marah-marah gak jelas ke aku, dia langsung
memblokir whatsappku. Aku gak tau apa yang sebab’in si itu ini marah ke aku
padahal aku sudah lama anggap dia tak lebih dari seorang teman. Ternyata
beberapa hari kemudian si itu chat dengan boby, aku gak tau si itu dapat BBMnya
boby dari mana dan itu gak penting. Si itu ini cerita semua ke boby yang
katanya aku ninggalin dia demi nine, aku juga nggak tau disana ada imbuhan kata
atau tidak tapi pada akhirnya boby pun bilang ke kepada nine tentang masalahku
dengan mantanku ini.
Sial, kenapa juga udah sedeket ini kok masih saja ada masalah yang
menghasut kayak gini, masak aku gak boleh jadian sama nine?. Boby bicara serius
malam itu ke nine melalui whatsapp sampai-sampai pesanku sama nine gak di
balas, malam itu aku ngerasa aku kacau, aku memang gak di restui buat deket
sama nine. Besoknya pun nine menanyakan hal itu ke padaku dan aku menjawab
sebisaku, juga sejujurku. Disini nine menunjukan berubahan seolah-olah tidak
percaya sama aku.
Akhirnya aku mulai meyakinkan nine kalau aku dengan si itu sudah
gak ada apa-apa lagi dan aku juga menceritakan masa lalu ku dengan si itu ini
ke dia, Alhamdulillah dia mulai percaya ke aku. hingga akhirnya aku focus
kembali untuk menembak nine dalam beberapa hari kedepan. Dua hari sebelum aku
nembak si nine aku dan hewin keluar untuk mencari sesuatu.
“ky awakmu sido ngekek i opo nang nine?” Tanya hewin.
“ngekek i bunga ambek boneka
paleng” jawabku.
“tuku dek endi emange?” Tanya hewin.
“lek bunga tuku dek splindit,
lek boneka tuku dek toko siswa atau matahari yak opo? Soale dek istana boneka
larang cuy” ucapku.
“aku tak nukokno si anu pisan
wes” jawab hewin.
“yo sip wes bareng-bareng ae
lek ngunu golek e” ucapku.
Hari itu setelah selesai kuliah aku dan hewin langsung pergi ke
tempat toko yang berjualan boneka, kita bergoncengan dengan motorku dan
langsung ke lokasi pertama yaitu di Malang Plaza, disana memang terkenal dengan
jual beli barang elektronik tapi di lantai dua ada boneka yang bagus dan
lucu-lucu. Aku langsung memilih boneka beruang yang ukurannya gak terlalu besar
akan tetapi aku tidak langsung membelinya dan juga hewin yang agak ribet
mencari boneka yang berbentuk kucing.
Kemudian aku dan hewin berpindah lokasi yaitu ke toko siswa,
disini juga terkenal dengan ATKnya akan tetapi juga ada boneka yang lucu-lucu.
Lagi-lagi aku memilih boneka beruang yang ukurannya juga gak terlalu besar. Aku
disini mulai bingung membandingkan boneka yang ada di malang plaza dan di toko
siswa, pastinya untuk seorang nine aku gak mau memberinya yang biasa-biasa
saja, jadi aku memilih yang ukuran gede, bahannya lembut dan enak di peluk plus
kalau bisa yang murah.
Akhirnya aku kembali ke malang plaza untuk melihat boneka yang
tadi aku pilih ternyata disini bonekanya agak kecil ketimbang di toko siswa
harganya juga selisih sedikit dan bahannya yang ini lebih keras dari pada yang
di toko siswa dan kita berdua kembali lagi ke toko siswa untuk melihat
pilihanku yang tadi, jarak malang plaza dan siswa kurang lebih 400 meter
jauhnya dan ternyata benar disini bonekanya lebih besar dan empuk jadi untuk
seukuran pelukan nine sangat nyaman, deal aku pun membelinya dan hewin juga
sudah menemukan pilihannya.
Aku dan hewin berjalan di antara orang banyak sambil membawak
boneka, mungkin terlihat aneh ketika dua orang laki-laki berjalan berdampingan
dan kedua-duanya membawa boneka sendiri-sendiri. Tapi beginilah perjuangan seorang
laki-laki demi perempuan yang di cintai, aku pun langsung kembali ke kampus
akan tetapi disini aku bingung mau di letakan dimana bonekaku ini, di bawak
pulang juga gak mungkin jadi aku langsung menghubungi vilda untuk menitipkan
bonekaku.
Berhubung hari itu hari jumat, aku dan hewin sempat mampir dulu ke
masjid yang ada di gang 4, lagi dan lagi kita berdua kelihatan aneh kita
membawa boneka ke masjid. Malu pasti ada tapi rasa malu itu kalah sama rasa
senang kita. Aku pun langsung sholat jumat berjamaah. Setelah sholat aku
langsung menuju ke kosnya vilda untuk menitipkan bonekaku dan menitipkan pesan
kepada vilda agar tidak memberi tau nine akan hal ini.
Minggu 7 mei 2017, aku sudah memutuskan hari ini untuk mengajak
nine keluar dan menembak dia. Awalnya nine gak mau di ajak keluar dengan alasan
yang banyak tapi tetap saja akhirnya dia mau. aku berangkat dari rumah pukul
dua siang karena aku harus mampir ke kosnya vilda dulu untuk mengambil boneka.
Di tengah perjalanan aku mendapat pesan dari nine kalau di rumahnya lagi hujan,
memang cuaca hari itu sedikit mendung tapi aku bilang kalau aku sudah di jalan,
ketika aku sampai di kosnya vilda ternyata vilda mau keluar sama teman-teman
kosnya dan dia juga sudah membawak bonekaku .
“nine gak sido metu ngunu” ucap vilda tiba-tiba.
“kata siapa, aku wes whatsapp
dia kok” jawabku.
Aku sedikit panik karena gak sesuai rencana, padahal hari itu aku
mau mengajak nine dan gengnya untuk makan bersama akan tetapi vilda sudah
keluar sama teman-temannya dulu di tambah lagi dua perempuan lain yang gak ada
kabar entah kemana. Aku mulai meninggalkan kosnya vilda dan berhenti di
indomart tepat di samping kampusku. Aku mencoba menghubungi nine dan katanya
disana hujan deras.
“kenapa juga harus ada hujan di
hari yang penting kayak gini, seolah-olah rintanganku banyak banget deh, apa
aku pulang aja terus boneka ini aku gimanain? Apa aku nekat ke rumah nine terus
aku kasikan bonekanya terus aku pulang gitu ya?” aku mulai duduk di teras indomart itu sambil memandang langit
yang mulai menjatuhkan air dari tuhannya. Aku berdoa setidaknya redahlah hujan
ini untuk beberapa jam saja biar aku bisa keluar sama nine.
Hujan pun mulai redah meskipun sedikit gerimis, nine pun akhirnya
menyuruhku untuk kerumahnya, tanpa pikir panjang aku langsung bergegas kesana.
Boneka yang aku masukan di tas rangselku memberontak seolah-olah ingin keluar
mungkin karena bonekanya yang ke gedean atau tasnya yang kekecilan. Sesampainya
di rumah nine aku langsung berangkat menuju tempat makan favoritku yaitu Nelongso
yang berada di sukun. Nine sempat bertanya ke aku.
“kamu bawak apa ki?” Tanya dia penasaran dengan tasku.
“oh ini laptopnya temanku mau
aku service ke dieng plaza, nanti anterin aku mau ya?” tanyaku balik untuk memotong rasa penasarannya.
“oh iya nanti aku anter” jawabnya singkat.
Di nelongso aku menunggu teman-teman nine atau lebih tepatnya
gengnya nine, aku mulai menghubungi vilda untuk datang ke nelongso akan tetapi
dia menolak karena habis dari sana tadi sama teman-temannya. Aku juga
menghubungi kedua teman nine tapi hasilnya nihil mereka gak bisa datang dengan
alasan hujan dan gak ada teman juga kendaraan.
Aku dan nine duduk berdua di nelongso sekitar dua jam hanya untuk
menunggu teman-temannya tanpa memesan apapun. Aku gak mau ini sia-sia, aku
mulai membuka topik.
“enaknya kemana ini?” tanyaku.
“terserah kamu” jawabnya.
“ke mie setan mau gak?” tanyaku lagi.
“terserah kamu, aku ngikut aja” jawabnya.
“yaudah kesana ya?” tanyaku untuk memastikan.
“iya” jawabnya singkat.
Kenapa aku memilih mengajak kesana, soalnya suasananya disana
lebih enak untuk berdua ketimbang di nelongso jadi untuk mengobrol lama-lama’an
itu lebih pas. Akhirnya kita pun meluncur kesana akan tetapi melalui jalan yang
memutar soalnya kamu tau sendiri kan gimana kalau sama orang kita suka. Aku
memilih lokasi mie setan yang ada di jalan Bromo atau di dekatnya Mall Olympic
Garden (MOG).
Karena aku baru pertama kalinya ke tempat ini jadi masih bingung
untuk memesannya. Aku dan nine memesan dua mie pedas yang di beri nama
hantu-hantu hits di Indonesia dan minumannya juga. Aku memilih tempat duduk
yang berada di pojok dengan meja kecil, suasananya sedikit ramai jadi hanya
tinggal ini yang tersisa untuk kita duduk. Memang tidak nyaman solanya
tempatnya yang sangat sempit banget.
Agak lama kemudian ada meja yang sedikit besar kurang lebih dua
meter kosong dan aku mengajak nine untuk pindah kesana dan dia pun mau.
“disini kan lebih enak toh dari
pada yang disana” ucapku.
“iyalah ini lebih gede” jawab nine.
Aku mulai mengajak nine untuk mengobrol serambi menunggu pesanan
kita yang tak kunjung datang, mungin baru 20 menit baru sampai dan kita pun
memakannya. Nine bilang kalau dia suka pedas jadi aku mengajaknya untuk makan
pedas, disela-sela makan aku mulai memancing topik untuk nembak nine.
“kamu tau gak..?” tanyaku berhenti.
“apanya?” jawabnya.
“di ruangan ini ada orang yang
aku suka loh” ucapku sedikit lirih.
“hem? Mana ?” Tanya nine sambil melihat sekeliling.
“jangan gerak nanti dia
ngelihat aku, aku malu lah” ucapku.
“mana se? pakai baju apa” Tanya dia.
“dari tempat duduku dia
kelihatan jelasloh” ucapku.
“mana se kamu mesti gitu” jawabnya dengan nada yang sedikit ngambek.
“dia ada disini loh” ucapku.
“………” dia menatap mataku dengan mulut yang masih mengunyah mie penas.
“iya dia disini, mungkin dia
tau aku tapi kayaknya dia pura-pura enggak tau” ucapku.
“aku kah?” Tanya dia sambil nunduk.
“menurutkamu?” tanyaku balik.
“enggak tau..” jawabnya.
“iya kamu nine, mau siapa lagi? Orang disini
aku gak kenal semua kecuali kamu” ucapku
dengan seluruh perasaan.
“kenapa aku?” Tanya dia dengan polosnya.
Aku pun mulai menjelaskan kenapa aku suka sama dia tapi dengan
konteks yang singkat dan umum, akhirnya niatku pun aku ucapkan.
“nine kamu mau gak….” Ucapku putus di tengah jalan karena ada orang lain datang.
“mas.. mbak.. ini tempat duduk
kosong?” Tanya dengan polos.
“oh iya kosong” jawabku reflek.
Sepasang kekasih tiba-tiba datang dia mereka berdua itu pun duduk
di sebelaku dan nine, memang sih tempat duduk kami luas jadi bisa di buat
berempat, tapi kenapa juga datang pas di momen-momen yang kayak gini, ini sama
dengan pengacau. Nine pun ketawa, karena melihat nine tertawa aku pun ikutan
tertawa sambil menghela nafas dalam-dalam.
“lagi-lagi gak sesuai rencana” ucapku.
“hahaha… udah nanti aja” jawab nine sambil ketawa melihatku.
Akhirnya kita pun melanjutkan makan mie pedas itu hingga waktu
sudah menujukan pukul 18.30 dan nine mendapat pesan dari tantenya kalau dia gak
boleh pulang malam-malam. Kita pun menyudai makan di tempat itu.
“mas permisi bisa lewat” ucapku kepada si pendatang membawa bencana itu, sedikit kesal
nadaku ke orang ini soalnya mengacaukan momenku.
“oh iya mas silakan” jawabnya dan aku lansung pergi melewatinya kemudian menuju tempat
dimana motorku di parkir. Aku masih membawa tasku yang berisi boneka entah
endingnya gimana boneka ini harus diberikan ke nine. Sepanjang perjalanan ke
rumah nine aku mengobrol dengan nine agar tidak garing.
Rumah nine tinggal beberapa kilometer lagi dan aku harus bergegas
menyatakan perasaanku ke nine atau boneka ini bakal sia-sia. Jalan rampal cukup
sepi malam itu entah kenapa disana selalu sepi. Aku mulai mengumpulkan niatku
untuk nembak nine aku juga harus siap mental tapi disini aku sudah yakin aku
pasti di terima nine jadi ke khawatiranku sedikit berkurang. Tak terasa gang
rumah nine sudah kelihatan aku pun memelankan motorku agar ada waktu untuk
mengungkapkan.
“nine aku boleh ngomong
sesuatu?” tanyaku.
“boleh” jawabnya.
“hmmm anu… aku itu suka sama
kamu” ucapku.
“terus ?” Tanya nine.
“kamu mau gak jadi pacarku?” Tanyaku
“……” hening, tik tok tik tok tubuhku tegang..
“tapi barusan aku ngomong gak
main-main, aku serius” ucapku lagi.
“ehmmm iya”
jawabnya.
“hah apa ?” tanyaku lagi untuk memastikan.
“iya” jawabnya.
“iya apa?” tanyaku.
“iya aku mau jadi pacar kamu” ucapnya.
“……” hening kedua kalinya tapi dengan tubuhku yang sudah mulai lemas.
“yess beneran?” tanyaku.
“iya” jawabnya sambil ketawa.
Malam itu tepat di gang masuk rumahnya aku nembak dia dengan
langsung di atas motor maticku, meskipun gak saling tatap mata. Padahal rencana
sebelumnya aku akan nembak nine di mie setan dan ngasik bonekanya disana juga
tapi sayang gagal karena ada orang yan tiba-tiba datang dan duduk di mejaku.
Sesampainya di rumah nine aku menatap dia sebentar.
“kenapa lihat aku?” Tanya nine.
“enggak papa kok, seneng aja” jawabku.
“hmmmm aneh” jawabnya.
“oh iya ini aku punyak sesuatu
buat kamu nine” ucapku sambil membuka isi
tasku dan mengeluarkan boneka.
“loh kok aku di kasik ini?” Tanya dia.
“udah kamu bawak masuk, itu
buat kamu” jawabku.
“katanya mau service laptop?” Tanya nine.
“hehe bohong sedikit gak
papakan? Jawabku.
Nine pun bingung mau membawaknya masuk gimana, nine juga malu
kalau nanti ketemu tante ketika dia membawa boneka, nine melihat jendela
kamarnya yang gak terkunci dan akhirnya dia memasukan boneka itu lewat
jendelanya.
“yaudah aku pulang ya” ucapku.
“iya kamu pulang” jawabnya.
Aku langsung meninggalkan nine dan rumah tantenya, aku gak tau
perasaanku saat itu seperti apa yang pasti lebih senang. Nine telah menjadi
kado istimewaku di umurku yang menginjak 20 tahun dan aku gak akan ngelupain
kadoku di tahun ini. Sepanjang perjalanan aku hanya senyum sendiri gak tau mau
gimana caranya mengekspresikan kegembiraanku saat ini. 07-05-2017 aku menyudahi
masa singleku dan aku mempercayakan hatiku kepada perempuan yang sangat aku
sayangi yaitu nine…
Rasanya ingin ku putar kembali
Hari itu disaat kita bertemu
Kau tersenyum tersipu, saling memandang dan malu
Akhirnya beranikan diriku untuk
Mendekatimu untuk mendapatkan hatimu
Dengan penuh percaya diri ku nyatakan cinta ini
Di tengah keramaian ku tunggu
Tanganku mulai berpeluk
Bibirmu mulai bergerak
Dan akhirnya kau pun mau
Ku berjanji kau kan bahagia
Merangkai indah kehidupan
Walaupun hanya sebentar kau
Memandangku tanpa alasan
Andai saja kau tlah mengerti
Kesungguhan yang kan kuberi
Kan kujaga kau seutuhnya
Dan ku cinta sampai hidupmu berakhir
-Remember Of Today-
Setelah aku jadian dengan nine,
aku lebih sering berdua dengan nine entah itu pulang atau main-main. Aku juga
gak melarang nine untuk pergi bersama gengnya. Salah satu temanku bilang
kepadaku kalau nine habis nangis tadi di kelas, karena aku penasaran aku pun
bergegas menemui nine.
“kamu kenapa?” tanyaku.
“nggak papa” jawabnya.
“bilang ke aku kenapa, ada apa?” tanyaku.
“……” dia diam.
“kamu habis nangis ya?” tanyaku
lagi.
Aku mendapat info dari temanku
tadi kalau ada orang yang bilang ke nine “jangan dekat-dekat Rizky, dia sudah
punya pacar kalau kamu gak percaya lihat di facebooknya”. Mungkin nine kaget
mendengar berita ini dan nine pun di beritau foto-fotoku di facebook ketika
dengan mantanku yang kemudian membuat dia nangis. Memang di facebookku itu
banyak foto dengan mantanku dulu akan tetapi itu dulu, lagian aku sekarang
sudah gak pakai facebook, email dan paswordnya juga lupa.
Aku kesal sama orang itu, orang
yang bilang kata-kata yang nggak penting itu. Maksutnya apa cobak, apa dia gak
suka kalau aku pacaran sama nine. Akan tetapi aku gak mau membuat masalah lagi
toh dia juga spesies sebelah nanti aku dikira apaan marah-marah ke dia. Sore
itu aku menjelaskan semuanya ke nine tentang foto-fotoku di facebook, nine yang
memakai baju abu-abu dan kerudung maroon hanya diam dan menunduk seolah kecewa
sama aku. Aku gak mungkin menghianati orang yang aku sayang apalagi nine sudah
aku perjuangin meskipun aku harus di caci maki sama teman-temanku.
Akhirnya nine pun memilih untuk
menyudahi masalah ini dan dia percaya sama aku kalau aku gak bakal aneh-aneh.
Seminggu berlalu setelah hari ulang tahunku, aku belum mendapatkan ucapan ulang
tahun dari nine, mungkin dia lupa atau semacamnya tapi aku gak peduli karena
nine sudah memberikanku hadiah special. Hari ini hari minggu, hari buat aku
untuk bermalas-malasan di atas Kasur, aku mulai chat nine “selamat pagi sayang” dan seperti biasa ketika hari minggu datang,
nine selalu sibuk dengan pekerjaan rumah. Seperti mencuci piring, memasak dan
menyapu rumahnya.
Kadang dia baru selesai pukul
11 pagi dan dilanjutkan mandi hingga pukul 1 siang. Aku mulai mengetahui
kegiatan nine jadi aku gak perlu memikirkan hal-hal aneh ketika dia gak balas
chatku. Siang itu dia mau membuat kue di rumah gengnya yang ada di pakisaji.
Rumah temennya ini tak jauh dari rumahku kurang lebih 1km, aku ngerasa nine
hari itu bakal sibuk banget dan gak bakal bisa chatingan. Soalnya nine hanya
bisa chat ketika dia ada wifi, jadi kalau dia keluar rumah otomatis ponselnya
akan mati alias gak bisa di hubungi via whatsapp.
Aku sedikit kecewa tapi ya mau
gimana lagi, toh aku gak boleh mengekang dia. Dia pun akhirnya keluar, karena
dia keluar aku pun langsung meletakan ponselku dan tidur-tiduran sambil
mendengarkan lagu. Beberapa jam kemudian ada pesan masuk dari whatsapp, aku
melihatnya ternyata ini pesan dari temannya nine yang rumahnya di pakisaji.
“rumah kamu di mana? nine..”
tanyanya.
“di pakisaji kenapa?” tanyaku
balik.
“iya maksudku pakisaji mana?”
tanyanya.
“di jalan Golek, Desa Karangduren” jawabku.
“diamana itu?” tanyanya.
Aku penasaran kenapa nine
menanyakan rumahku, apa dia mau kesini atau hanya pengen sekedar tau. Aku
menjelaskan lokasi rumahku, aku juga membuka google maps untuk memudahkan nine
tau rumahku.
“aku mau ke rumahmu” ucap nine.
“loh sekarang, ngapain?” tanyaku.
“pengen tau aja, gak boleh ya, yaudah aku tak pulang” ucap nine.
Disini aku sempat kaget ketika
nine bilang seperti itu ke aku. Jujur dari dulu belum ada perempuan yang datang
kerumahku jadi aku bingung harus bilang apa ke ayah sama ibuku ketika nine dan
dua temannya tiba-tiba datang kesini tanpa ada rencana. Akhirnya aku mendatangi
ibu dan bilang kalau teman-teman perempuanku mau mampir ke rumah soalnya habis
dari rumah temenku yang satunya di pakisaji. Alhamdulillah ibu pun gak
menanyakan hal-hal aneh dan ibu bilang suruh aja kesini.
Aku langsung duduk di ruang
tamu dan melihat jalan raya tepat di depan rumahku untuk memastikan mereka
benar-benar datang. Tiba-tiba nine mengirimkan foto kalau dia sedang berada di
musolah.
“ini aku sudah di musolah, rumahmu mana?” Tanya dia.
“bukan musolah itu, kamu salah”
jawabku.
Memang benar rumahku di depan
musolah akan tetapi mereka berhenti di musolah yang salah dan akhirnya aku
menunjukan jalan untuk terus ke arah utara. Beberapa menit kemudian nine
mengirimkan foto lagi, sekarang foto di pos sebelah rumahku. Aku langsung
menuju pagar rumah dan melihat kearah pos, ternyata disana ada tiga perempuan
dengan dua motor yang tak lain adalah nine dan gengnya.
Mereka tau aku keluar dari
rumah, aku juga langsung menghampiri mereka, aku menanyakan beberapa hal kenapa
nine kok bisa sampai sini. Teman-temannya pun menjelaskan kalau nine pengen
main ke rumahnya jadi nine datang ke pakisaji. Aku pun menyuruh mereka semua
untuk ke rumahku. Nine dan teman-temannya malu-malu kucing ketika masuk kerumah
tapi tetap saja endingnya mereka masuk dan duduk. Karena aku yang belum mandi,
aku pun meninggalkan mereka di ruang tamu.
Setelah aku selesai mandi, nine
langsung manyanyakan hal yang gak terduga ke aku, aku pun sempat bingung dengan
hal ini.
“aku tadi telvon kamu kok yang angkat cewek?” Tanya nine.
“cewek? Kapan kamu telvon?” tanyaku.
“tadi sebelum kesini” jawabnya.
“nggak ada telvon dari kamu loh, serius” ucapku.
“Tanya temen-temen tadi yang jawab lak cewek kan ya” ucap nine ke teman-temannya dan mereka semua mengangguk. Karena
aku penasaran, aku pun mencoba telvon nomerku sendiri dan benar disini yang
jawab ternyata cewek. Aku pun ingat ternyata nomorku yang itu sudah lama hangus
jadi aku sudah tak memakainya, akhirnya aku memberikan nomor baru pada nine.
Nine kemudian duduk di
sampingku dan mengambil kotak besar yang di tutupi dengan jaket, aku penasaran
apa yang nine ambil dari sampingku tadi soalnya aku sama sekali tidak tau kalau
dari tadi ada kotak besar di sampingku. Mungkin aku gak focus karena ada nine,
ya memang mungkin aku fokusnya ke nine aja, nggak ke yang lain. Nine memberiku
kotak itu dan aku disuruh untuk membukanya.
“waw kue coklat” ucapku.
Nine memberiku kue coklat yang
berbentuk bulat-bulat, katanya ini kadonya nine buat aku dan dia meminta maaf
karena kadonya telat. Memang sih dia memberiku kue pada tanggal 12 jadi kelewat
lima hari, dia menyuruhku untuk memakannya, aku gak tau ini kue buatan sendiri
atau beli tapi nine bilang kalau ini buatan sendiri.
“kamu cobak dulu” ucap nine.
“nanti aja” jawabku.
“sekarang lah” ucap nine sama teman-temannya.
“oke aku cobak, ayok kalian coba juga” jawabku.
“aku udah tadi sama temen-temen”
jawab nine.
Aku pun mulai mengambil satu
bulatan kue yang berwana hitam dan di ujungnya ada warna putihnya. Aku
mencicipi sedikit “ehmm rasanya kok gini
ya?” ucapku dalam hati sambil mengunyah kue itu.
“gimana enak nggak?” Tanya nine
sambil ketawa.
“enak kok” jawabku.
“rasanya gimana?” Tanya nine
lagi sambil ketawa penasaran.
“rasanya coklat kan kayak brownis, tapi agak aneh sih” jawabku.
Aku curiga nine ketawa saat
menanyakan rasa kue itu dan kenapa kedua temannya juga ketawa ketika aku bilang
enak, ah sial mungkin ada yang enggak beres ini. Menurutku rasanya emang aneh,
kalau aku boleh jujur tapi maaf sebelumnya rasanya itu kayak asam, kecut dan
pahit yang bermetamorfosis menjadi rasa yang baru jadi ketiga rasa itu menjadi
suatu kesatuan yang utuh, ya begitulah rasaya super double aneh, aku hanya
menghabiskan satu kue saja itu aja enggak habis. Rasa memang gak bisa di
bohongi meskipun itu buatan pacar sendiri kadang ada pepatah juga yang ngomong “tai bisa jadi coklat” ketika pacaran.
Tapi aku menghargai pemberian
nine ini, meskipun aku tak sanggup untuk menghabiskannya. Tapi om ku yang tau
kalau aku di beri kue sama nine pun iku mencicipinya dan hal gak terduga pun
terjadi, om ku menghabiskan kuenya nine dan dia bilang “habis ta kuenya, enak loh padahal kapan-kapan kamu minta lagi ky”.
Aku ngerasa ini mulutku yang salah atau mulut om ku yang salah, setidaknya aku
menunggu nine untuk membuatkanku kue-kue yang lain.
Hari itu pun ibuku tau kalau
aku dekat dengan nine, aku sering cerita ke ibu tentang nine aku juga sering
menunjukan fotonya nine yang sedang menggunakan kerudung kuning ke ibuku, entah
kenapa nine sangat identing dengan kerudung kuning. Bahkan ketika nine datang
ke rumah ibuku sempat bilang “oh itu ta
yang namanya nine, cantik…” ucapan ibuku ini membuat aku salah tingkah.
Nine adalah satu-satunya perempuan yang berani ke rumahku, apalagi ini dia
datang dengan tiba-tiba, padahal sebelumnya gak ada perempuan yang berani
datang ke rumah atau bisa di bilang aku selalu gak berani mengajak perempuan ke
rumahku. Semenjak itu aku dan nine semakin dekat, sayangku ke dia juga makin
besar. Aku sering nonton dengan nine juga pergi berdua dengan nine.
Teman-temanku yang lain atau
bisa dikatakan spesiesku yang lain juga sudah mulai bisa menerima keadaan ini,
mereka sudah sedikit jarang menyindirku atau menyinggungku ketika berkumpul.
Aku juga selalu mengantarkan nine pulang ketika selesai dari kampus, kadang
juga nine minta untuk jalan-jalan ketika selesai dari kampus. Rute
jalan-jalnnya sedikit gila, mungkin kalau dipikir-pikir lagi aku dan nine kayak
orang yang gak ada kerjaan, rute jalan-jalanku dari kampus menuju ke
arjosari-sawojajar-kedungkandang-bumiayu-bululawang-gondanglegi-kepanjen-jalibar-pakisaji-sukun
dan di akhiri di sawojajar untuk nine pulang ke rumahnya.
Memang kadang kita juga
membutuhkan waktu untuk berdua dengan pasangan kita, bukan hanya sekedar
menikmati tapi lebih tepatnya untuk saling memahami satu sama lain karena
dengan berdua kita akan banyak mengobrol atau bebincang-bincang tentang hal-hal
yang sebelum tak kita ketahui. Ketika aku berdua dengan nine, aku sangat ingin
mendengar cerita masa lalunya nine karena dengan mendengar cerita masa lalunya
aku akan lebih bisa memahami nine, akan tetapi itu perlu proses yang lama
karena setiap individu itu berbeda ada yang cepat juga ada yang lambat dan
disitulah kita harus menikmatinya.
Puasa Ramadhan sebentar lagi
akan datang, dimana kita harus menyambut dengan bahagia. Nine menyambutnya
dengan sangat bahagia tapi tidak dengan aku, karena di bulan puasa ini kampus
akan libur panjang dan nine akan pulang ke tempatnya di lahirkan. Nine bilang
ke aku kalau nine pulang dia gak akan bisa menghubungi aku disini karena sinyal
yang gak ada, meskipun ada itu hanya sinyalnya telkomsel. Aku sempat sedih,
karena seumur hidup aku belum pernah menjalai LDR, “ki LDR itu sulit, kamu gak akan bisa” ucap nine. Disini gak ada
yang sulit, itu tergantung dari kitanya.
Sehari sebelum puasa aku
mengajak nine untuk pegi ke coban rondo yang ada di kota wisata batu, aku
memilih tempat itu karena nine menyukai tempat yang banyak tumbuhan hijau.
Disana aku dan nine menikmati air terjun yang deras dan air sungai yang dingin
di tambah lagi dengan banyaknya monyet-monyet liar yang berkeliaran. Memang
disana monyet ini liar akan tetapi sudah sangat akrab dengan para pengunjung
tak sesekali monyet itu mencuri makanan dari para pengunjung. Nine pun ingin
berinteraksi dengan salah satu monyet remaja disana, nine memberikan permen
kepada monyet itu entah apa yang dipikirkan nine, nine sangat senang ketika
bisa memberi monyet itu makanan.
Tak mau kalah dari nine aku pun
bergegas mendekati monyet yang agak dewasa, mungkin jabatan monyet ini di sana
sebagai kepala desa, dengan tubuh yang kekar dan sixpack juga agak gede
ketimbang yang lain, aku mendekat dan mengeluarkan permen dari dalam sakuku.
Belum juga aku buka permen itu kepala desa ini langsung berusaha mengambil
permenku, niatku padahal bagus aku hanya ingin membukanya kemudian aku berikan
ke monyet itu. Tak disangka aku pun mendapat tendangan dari monyet itu tepat di
paha kiriku, “oh gila” ucapku, ini
aku yang gila atau monyetnya yang gila, kenapa juga aku ngatain monyet. Mungkin
monyet itu marah dan dia nunjukin taringnya yang tajam sambil bilang “@#_**%$” Bahasa yang gak aku mengerti.
Akhirnya permennya pun aku berikan tanpa aku buka bungkusnya dan aku gak
menduga ternyata monyet itu bisa membuka bungkus permennya sendiri. Keren aku
baru pertama lihat kayak ginian dan nine pun tertawa terbahak-bahak karena
melihat aku di tendang sama seekor monyet yang sixpack.
“hahaha dimana harga dirimu” ucap
nine yang seolah-olah ngatain aku yang habis di tendang sama monyet yang
menjabat sebagai kepala desa itu.
Suasana pun mulai sore dan aku
menyudahi main-mainku di coban rondo, coban yang memiliki cerita mistis di
telinga orang malang. Konon katanya sepasang kekasih kalau kesini pasti akan
putus dan gak akan pernah balikan lagi, akan tetapi jika setelah putus mereka
bisa balikan lagi maka hubungannya akan langgeng hingga ke jenjang pernikahan
bahkan seterusnya. Banyak teman-temanku yang percaya sama hal ini akan tetapi
aku menganggapnya netral alias percaya gak percaya, tapi anehnya ketika aku dan
nine pergi ke tempat ini aku lupa tentang cerita mistis yang ada di coban rondo
ini. Katanya sih memang begitu orang akan lupa dengan cerita ini ketika datang
kesini dengan pasangannya. Hmm aneh..
Hari puasa pun mulai datang,
artinya tinggal satu minggu lagi untuk nine pulang dan aku menjalani LDR. Sama
seperti biasanya aku dan nine gak ada yang berubah, pulang dari kampus aku
mengantar dia terlebih dahulu dan malamnya aku chat atau telvonan dengan dia.
Beberapa hari kemudian aku mengajak nine untuk buka bersama di tempat makan
fovoritku, akan tetapi ternyata nine lagi pms jadi dia gak puasa. Sore itu
setelah dari kampus aku langsung menuju tempat makan karena takut kalau terlalu
sore atau menjelang buka puasa tempat akan sangat rame dan aku gak kebagian
temapat.
Aku sampai disana jam 4 sore,
ya setidaknya aku menahan lapar 2 jam lagi dengan aroma ayam goreng yang lalu
lalang di lubang hidungku. Seperti biasa aku berbincang-bincang dengan nine,
bercanda dan menfoto nine untuk mengabadikannya. Tak lupa aku juga menghubungi
ibu kalau aku akan makan disini. Ketika waktu berbuka tiba aku dan nine
langsung menyerbu makanan yang sudah aku pesan. Aneh emang, perempuan itu kalau
makan di depan umum atau kalau enggak sama pacar barunya kenapa harus malu-malu
cobak?, apa dia selalu menjaga penampilannya agar tetap kelihatan anggun,
cantic dan sejenisnya.
Aku sempat penasaran, nine kok
makannya dikit banget kenapa, apa dia gak suka tempatnya atau emang makannya
dikit atau juga dia gengsi ke aku. Tapi jawabannya menurutku adalah gengsi
soalnya setelah berbulan-bulan kemudian aku melihat dia makannya blak-blakan,
satu porsi habis bersih hahaha.. tapi ini aku baru tau beberapa bulan kemudian.
Setelah makan kita langsung
pulang, aku mengantar nine ke rumah tantenya dan aku perpamit untuk pulang
kerumahku sendiri. Hal serupa juga aku lakukan sehari sebelum nine pulang ke
kampong halamannya. Hari itu aku mengajak nine untuk jalan-jalan karena ini
bisa dikatakan jalan-jalan yang terakhir sebelum nine pulang. Aku membelikannya
bunga mawar berwarna merah dan merah muda karena warna ini adalah warna yang
dia suka.
Sebelum aku berbuka puasa, nine
meminta untuk jalan-jalan dulu sekalian mencari takjil gratisan di pinggir
jalan. Aku dan nine berjalan-jalan ke rah
kedungkandang-bumiayu-bululawang-kendalpayak-kepanjen-jalibar-pakisaji-sukun-alun
alun malang -sawojajar-jalan ijen dan berhenti di soekarnohatta untuk mencari
makanan karena waktu sudah menunjukan untuk berbuka puasa.
Aku mencari tempat makan
favoritku yang ada di soekarnohatta dan alhasil disana antri panjang, aku dan
nine ikut antri yang akhirnya mendapatkan kursi kosong untuk makan. Kita pun
memakan makanan itu dengan lahap tak lupa kita juga membahas tentang kepulangan
nine.
“oh iya aku lupa…?” ucapku.
“lupa apa?” Tanya nine.
“aku punyak sesuatu buat kamu”
ucapku.
“apa emang?” Tanya nine.
“aku tadi belikan kamu bunga”
ucapku.
“terus kenapa?” Tanya nine.
“tadi itu aku mau ngasikan ke kamu, tapi aku lupa” ucapku.
“terus sekarang dimana bunganya?” Tanya nine.
“di jok motor…” ucapku
sambil berfikir.
“sial bunganya mati entar kenak panas, kita kan habis muter-muter
dan itu jauh loh” ucapku panik.
“oh iya ya yaudah habis ini kita ambil” jawab nine.
“iya” ucapku.
Aku memang lupa, padahal
niatnya tadi aku berikan dia di tempat yang bisa di bilang pemandangannya keren
juga dapat melihat senja, akan tetapi karena aku dan nine mengobrol terus
sepanjang perjalanan aku jadinya lupa tentang bunga mawar ini. Setelah selesai
makan aku dan nine langsung ke arah motor untuk melihat apakah bunganya masih
hidup.
“ini bunganya masih bagus, gak mati” ucap nine.
“ya kalau mati kamu kasik nafas buatan lah” jawabku.
“hahaha…” nine pun ketawa.
Bunga ini buat kamu, kamu suka
kan sama bunga ini, ini aku memilih warna ini karena kamu suka warna ini kan.
Sebelumnya aku gak pernah belii’n bunga di setiap kali aku jalan sama
perempuan, dan hanya kamu perempuan yang sering aku kasik bunga. Kamu juga gak
akan tau gimana jadi aku yang baru pertama kali pergi ke toko bunga untuk
membeli bunga buat kamu, aku mencarikan bunga mawar tapi penjualnya malah
ngasik aku bunga mawar yang sudah ada potnya. Masak iya aku ngasik kamu bunga
mawar yang udah ada potnya, lagian gimana cara bawaknya coba.
Malam itu aku pulang dengan
nine, malam ini akan menjadi lama perpisahanku dengan nine. Aku bahagia juga
sedih entah perasaanku campur aduk, karena LDR ini dengan waktu yang bisa di
bilang panjang. Nine memeluku untuk pertama kalinya dan aku sangat nyaman
sekali waktu itu, jalan ke arah rumah nine mulai sepi karena sudah menunjukan
pukul 20.30. sesampainya di rumah nine, nine pun masuk ke dalam rumah dan aku
langsung pergi untuk pulang
Ya malam ini malam terakhirku
melihat nine, malam terakhirku bertemu nine. Aku gak mau kehilangan dia, karena
dia yang sudah merubahku seperti ini seperti yang aku inginkan sebelumnya. Nine
memang pernah bilang LDR itu sulit, nine berani bilang seperti itu karena nine
pernah juga menjalin hubungan LDR dan dia gagal, bukan hanya sekai akan tetapi
berkali-kali. Aku gak mau hubungan nine dengan ku saat ini gagal hanya karena
jarak, aku berusaha mematahkan prinsip nine itu kalau LDR gak sesulit yang dia
bayangkan. Aku akan banyak cara untuk selalu menjaga hubunganku dengan nine
atau aku akan berusaha memberi kabar kepada nine meskipun saat ini aku gak tau
gimana caranya.
Berawal dari tatapan kemudian
menjadi suka dan banyak konflik yang aku hadapi bahkan hingga rasa untuk
menyerah itu ada akan tetapi pepatah mengatakan “jika kau melihat jurang terlalu lama, maka jurang itu akan melihatmu
juga” aku gak mau menyerah untuk dapetin nine, karena jika aku menyerah aku
gak akan punya cerita sepanjang ini. Memang mendapatkan hati nine itu gak
semudah mendapatkan hati perempuan lain atau bahkan gak semudah menghabiskan
satu porsi ayam nelongso di tambah cah kangkung. Perlu ada cacian yang harus
aku dengar dari teman-temanku, perlu pengasingan diri ketika semua orang
menjauhiku, ingin marah tapi percuma, sabar menahan omongan pedas dari
teman-teman sendiri itu sangat menyakitkan. Tapi aku gak menyerah dengan
semudah itu karena usaha tidak akan pernah menghianati hasil.
Ini adalah diaryku atau
ceritaku tentang mendapatkan hati seorang perempuan. perempuan yang sempat buat
aku penasaran, perempuan yang awalnya bukan siapa-siapa, yang awalnya hanya
bisa melihat dari kejauhan hingga akhirnya memberikan kado special di ulang
tahunku yang gak akan aku lupakan selamanya dan perempuan yang bisa membantu
aku menuliskan cerita ini, namanya nine, bertubuh mungil dan juga cantik..
|
Terima Kasih Nine
|
Suatu ketika Plato terlibat pembicaraan dengan gurunya, Plato
mempertanyakan soal makna cinta kepada gurunya dan guru nya pun menjawab “masuklah kamu delam hutan, pilih dan
ambilah satu batang ranting yang menurutmu paling baik, tapi engkau haruslah
berjalan ke depan dan jangan kembali ke belakang dan pada saat kau sudah memutuskan
pilihanmu, keluarlah dari hutan dengan ranting pilihanmu tersebut”.
Maka masuklah Plato ke dalam hutan yang sangat lebat selang
beberapa menit keluarlah Plato dari hutan tersebut tanpa membawa sebatang
ranting pun. Gurunya pun bertanya kenapa Plato tak mem- bawa sebatang ranting
dari hutan itu dan Plato pun menjawab. “saya
sebenarnya sudah menemukan ranting yang bagus, akan tetapi saya berfikir barang
kali di depan saya ada ranting yang lebih baik, tetapi setelah saya berjalan ke
depan ternyata ranting yang sudah saya tinggalkan tadilah adalah ranting yang
terbaik di hutan ini, maka saya keluar dari hutan tanpa membawa apa-apa”.
Guru itu pun berkata “itulah
cinta” lalu Plato pun bertanya kepada
gurunya apa makna sebuah perkawinan. Guru pun menjawab “sama seperti ranting tadi, namun kali ini
engkau haruslah membawah satu pohon yang kau fikir paling baik di dalam hutan
dan bawalah keluar dari dalam hutan”
Maka masuklah kembali Plato ke dalam hutan dan keluar lah
Plato dengan membawa pohon yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu indah,
guru pun pertanya alasannya Plato membawa pohon itu, maka Plato pun menjawab “saya dapati pohon yang indah daunnya,
besar batangnya… tetapi saya tidak dapat memo- tongnya dan pastilah saya tidak
mampu membawanya keluar dari dalam hutan…dan akhirnya saya tinggalkan pohon
itu. Kemudian saya menemukan pohon yang tidak terlalu buruk, tidak terlalu
tinggi dan saya fikir mampu membawanya karena mungkin saya tidak akan menemukan
pohon seperti ini di depan sana. Akhirnya saya pilih pohon ini karena saya
yakin boleh merawatnya dan menjadikannya indah”.
Lalu sang guru itu berkata “itulah
makna dari sebuah perkawinan”. Begitu banyak pilihan di depan kita seperti pohon-pohon
beserta rantingnya di dalam hutan, tapi kita mesti menentukan satu pilihan dan
bila terlalu memilih…maka tidak satupun akan kita dapati, karena kesempatan itu
hanya sekali dan kita harus terus maju seperti waktu yang kedepan yang tidak
pernah tersimpan pada hari semalam dan bersemayam pada masa lalu kita.
-Plato-
“nine kamu serius sama ucapanmu itu? Itu bukan alasan yang
logis loh sampai-sampai kamu kayak gini!! Kamu ada apa?” ucapku.
“kamu gak marah kan ky?”
jawab nine.
“………”

Comments
Post a Comment