INGATLAH HARI INI - diary di awal tahun 2016



Opening

Terima kasih kepada Allah SWT atas semua perwujudan segalah hal, terima kasih atas Rahmad dan KaruniaMu dalam setiap waktu dan harinya. Terima kasih juga kepada keluarga tercinta ayah dan ibu. Keluarga kecil yang bahagiadan selalu menjadi tempat pulang ketika suka maupun duka. Teman-teman sekampus dari berbagai daerah yang telah membantu dalam berbagai hal dan ikut menyumbang cerita dalam buku ini.
Buku ini adalah buku pengalamanku pribadi jadi isinya disini bukanlah karanganku atau imajinasiku, pengalaman yang aku tulis setelah bertahun-tahun aku simpan sendiri. Hanya saja dalam buku ini aku fokuskan tentang ceritaku setelah masuk perguruan tinggi. Ingatlah hari ini adalah judul buku yang sedang aku tulis, aku memilih judul ini karena aku gak mau melupakan hari-hari yang telah aku lalui, apalagi di hari-hari itu banyak cerita unik yang ikut di dalamnya.
Buku ini sebenarnya aku tujukan untuk seseorang yang pernah hadir dalam hidupku tapi tidak menutup kemungkinan untuk umum. Buku ini aku tulis selama 6 bulan lebih lamanya karena disini aku harus meview ulang ingatanku agar menjadi cerita yang fakta tanpa ada bumbu kebohongan di dalamnya. Jadi jika ada kata yang salah atau kurang enak di dengar saya pribadi meminta maaf. Juga untuk nama karakter yang sudah aku samarkan didalam buku ini, karena pada dasarnya buku ini gak ada niatan untuk menjatuhkan atau menjelek-jelekan salah satu pihak akan tetapi ini hanya pengalamanku semata. Jika disini ada pembaca yang memiliki kesamaan dengan karakter di buku ini itu hanya factor ketidaksengajaan, sekali lagi saya meminta maaf.
Buku ini adalah buku pertamaku yang akan aku cetak. Aku sangat terinspirasi oleh penulis comedy Indonesia, alhasil aku juga ingin berkarya dengan karyaku sendiri. Semoga dengan niatan yang bagus untuk buku ini, aku dapat berkarya dan membukukan pengalam-pengalamanku sebelumnya.  
Ingatlah hari ini merupakan kata yang terucap dari seorang laki-laki sederhana untuk seorang perempuan istimewah, karena tidak semua orang benar-benar berani melepaskan meski sudah di bunuh paksa hatinya.


 


Tertanda,
Rizky Muharomsyah.

















Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku berdoa semoga saja
Ini terbaik untuknya

Dia bilang
Kau harus bias seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja… cintamu seperti cintaku


-SO7-







Hay Aku Rizky, Rizky Muharomsyah lebih tepatnya. meskipun ada yang kurang dengan namaku di bagian depannya. Aku seorang Mahasiswa laki-laki dari salah satu kampus di Kota Malang, Kota yang di mana memiliki suhu dingin dan udara yang sangat sejuk. Kota Malang sendiri memiliki julukan yang banyak salah tiganya adalah Kota Pendidikan, Kota Bunga, Paris for East Java. Tak heran jika semua orang se-Indonesia raya kenal akan kota ini.
Konon katanya orang Malang itu ngangenin atau sering bikin kangen tapi nyatanya emang iya. Kalau kalian gak percaya coba saja deketin orang Malang atau pacaran sama orang Malang. Disini dan di Kota inilah aku di lahirkan dari Rahim seorang perempuan yang sampai sekarang masih tetap menemaniku dan katanya itu adalah Ibuku.
Aku lahir tanggal 7 Mei 1997 sehingga aku memiliki zodiak Taurus padahal aku pengennya berzodiak landak mini karena lucu tapi sayangnya zodiak itu gak ada.. ah sudahlah. Sekarang aku tinggal di Desa kecil di perbatasan Kota. Hidup damai tanpa ada kebisingan kendaraan yang lalulalang dan juga bebas dari asap kendaraan yang mencemari udara, itulah usahaku untuk memperpanjang umurku.
Aku dan keluargaku bisa di katakan sebagai manusia nomaden atau mirip sama manusia purba zaman dahulu, tapi bedanya aku sekarang sudah tau cara berpakaian yang baik dan benar. Aku lahir di Jalan Gadang, Sukun kemudian aku bermigrasi ke Jalan Muharto, Kedungkandang karena tidak cocok dengan habitat disana akhirnya aku dan keluarga bermigrasi lagi ke luar Kota Malang yaitu ke Kabupaten Malang tepatnya di Desa Karangduren, Pakisaji. Hingga akhirnya aku menetap disini untuk waktu yang sangat lama.
Aku di besarkan di keluarga kecil ini, aku tidak mempunyai seorang kakak ataupun adik. Jadi akulah satu-satunya produk dari keluargaku, bagiku mempunyai kakak dan adik hanya akan menggangguku dan mengurangi jatah bulananku. Aku  sudah biasa menjalani aktivitas  sendiri setiap hari, makan sendiri, tidur sendiri bahkan ketika aku mandi pun tetap sendiri.
Malam ini, minggu 11 februari 2018, 19:03 Malang. Aku lagi di kamarku, seperti biasa aku lagi duduk sendirian di depan laptop sambil di temani secangkir kopi Goodday. Menurutku itu bukan kopi melainkan sejenis coklat yang berklamufase menjadi kopi persis sama perempuan yang sering berklamufase.
Alhamdulillah aku sudah menjalankan ibadah wajibku yaitu sholat isya yang memiliki jumlah raka’at 4, aku juga sudah tamatin film animeku yang berjudul Evil or Live yang bercerita tentang sekelompok pelajar di negeri Sakura yang kecanduan internet dan media social, kemudian ditindak lanjutkan dengan memasukan sekelompok pelajar tersebut ke sekolah militer untuk membentuk fisik mereka yang lembek. Kalau kalian suka anime recomendasi deh buat anime yang satu ini.
Ibuku lagi duduk di ruang tamu menunggu suaminya yang akan datang dari tempat kerjanya, katanya suaminya ibuku itu adalah ayahku dan aku juga meyakini itu karena aku gak mau durhaka dan di kutuk menjadi siput yang lupa cangkangnya.
Diluar rumah sedang di guyur hujan yang lumayan deras dan angin yang sangat dingin sehingga suasananya sangat sepi. Sheila on 7 dengan lagunya menemaniku di malam yang dingin ini, salah satu lagu yang aku suka dari band ini adalah anugerah terindah yang pernah ku miliki, karena lagu ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku istimewahkan. Ya benar dialah orangnya…





 









Beginning
Remember of Today











Mei 2016,  Malang. Tahun ini aku telah menyelesaikan jenjang pendidikan SMAku dan aku mulai masuk di Perguruan tinggi. Awalnya aku memilih Perguruan tinggi yang favorit di Malang, sebut saja Universitas Negeri Malang (UM). Dari SMA aku sudah mentargetkan untuk masuk di kampus ini dan akhirnya hari kelulusanku tiba.
Aku beruntung dapat nilai yang memuaskan dan di fonis untuk pergi dari SMAku itu. Semua senang dan merayakannya dengan corat coret seragam sekolah kecuali aku. Entah kenapa karena menurutku itu gak ada gunanya sama sekali. Setelah kelulusan aku mendaftarkan diri untuk ikut tes masuk Perguruan tinggi di UM.
Jujur karena awalnya belum pernah masuk keperguruan tinggi atau tepatnya masuk wilayah UM, aku hampir tersesat di dalamnya dikarenakan halaman yang luas dan banyaknya gedung-gedung tinggi. Pagi itu tes di lakukan pagi hari, karena jarak rumahku dengan UM itu kurang lebih 9 km aku berangkat dari rumah jam 06.00 dan sampai di sana jam 06.45. aku datang seorang diri tanpa ada teman dan sialnya lagi aku mendapat ruangan tes di lantai 7.
Semua yang ikut tes disana naik ke lantai atas mengunakan lift. Karena aku belum pernah naik lift dan tidak tau cara menggunakan lift, akhirnya aku dengan sekuat tenaga dan niat yang bulat berusaha mencoba naik ke lantai berikutnya mengunakan anak tangga yang telah di sediakan. Hitung-hitung sekalian buat olaraga dan pemanasan sebelum masuk ruangan tes.
Sesampainya aku di lantai 7. Banyak sekali pelajar dari berbagai warna kulit sudah menunggu di depan ruangnya masing-masing. Aku pun juga jalan mendekat ke depan pintu ruanganku dan berdiri disana dengan waktu yang agak lama. Aku melihat sekelilingku, melihat wajah, pakaian, gaya berbicara orang-orang disana dan aku menyimpulkan  “mati aku, sainganku kok ngene kabeh reek, arek pinter-pinter iki”. Semua pada membaca buku, berpakaian layaknya kutu buku dan cupunya anak-anak sekolah, sedangkan aku hanya datang membawah pensil, penghapus dan ponsel jadulku
Pengawas sudah memasuki ruangan dan satu persatu orang sudah mencari tempat duduknya masing-masing sesuai nomer yang telah disediakan. Mungkin karena beruntungnya aku, aku duduk di kursi paling depan. Waktu pun di mulai, aku mulai mengerjakan yang aku bisa dan sesekali aku melihat sekelilingku. Dari 100 soal aku hanya bisa menjawab sekitar 60 soal saja karena bagian yang sulit adalah matematika dan Bahasa inggris.
Aku ngerasa semuanya bisa ngerjakan dengan santai sebab ketika aku melihat sekelilingku, semua hanya duduk menunduk dan menghitung aku pun juga ikutan menunduk dan bingung mau ngapain.
“sial terus aku harus gimana?”
Tak terasa waktu mengerjakan sudah habis semua disuruh mengumpulkan hasil tesnya, kertas tesku pun aku isi semua meskipun aku gak tau jawabannya hanya saja aku melihat mana jawaban yang paling bersinar itulah menurutku jawaban yang paling benar.  Aku berjalan keluar ruangan dan duduk di sebelah tangga sendirian, salah satu mengusir kebosananku dengan cara main game di ponselku, game yang aku install waktu itu adalah tsunami zombie.
Ponselku berdering ternyata ada yang lagi menghubungiku lewat chat, ternyata dia adalah pacarku. Iya aku dulu sudah punyak pacar dan dia waktu itu mau menemaniku tes di UM akan tapi aku menolaknya karena aku ingin pergi sendiri. Dia menanyakan berbagai hal dan aku jawab sebisanya.
Suara bel berdering dan itu tandanya bahwa tes ke-2 akan segera di mulai, aku bergegas berjalan ke ruangan dan duduk dikursiku. Seperti biasa aku mengerjakan seorang diri tanpa di bantu siapa-siapa karena waktu itu tidak boleh contek mencontek. Tes ke-2 pun sama seperti tes ke-1 soal yang tidak bisa aku kerjakan aku isi dengan jawaban yang paling bersinar, hingga akhirnya tes pun berakhir dan aku turun dari lantai 7 menuju motorku yang setia menungguku, aku mulai beranjak dari di kampus itu menuju luar kota.
Di sepanjang jalan aku menikmati udara yang segar dengan cuaca yang mendung habis hujan. Aku melupakan tes-tes tadi entah nantinya aku di terima atau tidak yang penting aku pulang dan cepat-cepat makan di rumah. Sesampainya di rumah dan makan, aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa layaknya manusia normal pada umumnya sambil menunggu pengumuman aku di terima atau tidak di kampus itu.
Hari pengumuman tes pun akhirnya tiba dan aku bergegas melihat hasil tesku di internet karena serempak se-Indonesia raya pengumuman masuk perguruan tinggi via online. Aku mengambil ponselku dan aku mulai mengetik di google kemudian muncul nama-nama peserta yang di terima atau tidak. Alhamdulilah aku tidak di terima disana aku gagal dalam tes, perasaan kecewa pun mulai muncul karena tidak bisa masuk di Perguruan tinggi yang selama ini aku inginkan.
Akan tetapi ada satu jalan lagi yang bisa buat aku masuk disana yaitu dengan jalan mandiri. Langsung saja aku bilang ibuku untuk coba masuk disana melalui jalan mandiri, beberapa hari kemudian aku langsung bergegas ke kampus itu bersama dengan perempuan yang sudah aku anggap ibuku sendiri dan langsung menanyakan bagaimana prosedur masuk Perguruan tinggi ini melalui jalur mandiri.
Ternyata melalui jalur mandiri harus membutuhkan biaya yang sangat besar, aku terkejut mendengar biaya tersebut dan akhirnya ibuku mengajak aku pulang untuk di bicarakan di rumah bersma-sama. Aku pun langsung meninggalkan kampus itu dan pulang, di sepanjang perjalan aku masih memikirkan “sepertinya aku gak akan bisa masuk disana, kalau gak bisa masuk disana aku harus kuliah di mana lagi? Masak keluar kota (keluar kota disini bukan lagi kabupaten loh) kalau keluar kota aku pasti bakal jauh sama keluargaku, jauh sama pacar, dan jauh sama temen-temenku” sesampainya di rumah, hal ini pun di bicarakan bersama.
Kesepekatan bersama pun telah bulat, aku gagal kuliah disana karena biayanya yang sangat mahal dan keluargaku tidak punyak uang untuk membiayainya. Sepakat aku pun mencari Perguruan tinggi yang lain, yang sudah pasti Perguruan tinggi luar negeri yaitu swasta. Ibuku merekomendasikan ada salah satu Perguruan tinggi yang tak jauh dari rumah, tidak terlalu besar dan bangunannya berwarna oranye tapi bukan cabang dari resto Nelongso ataupun Kantor Pos.
Akhirnya aku daftar disana di damping sama ibuku, kaget sih emang iya soalnya disana banyak spesies baru yang aku jumpai. Aku langsung bergegas masuk ke depan ruangan daftar dan menunggu giliran di panggil untuk mengisi identitas yang telah disediakan, tiba giliranku aku pun mengisi identitas dan aku mengambil jurusan pendidikan geografi. Entah kenapa mungkin aku ingin mempelajari ciptaan tuhan lebih jauh karena geografi itu sendiri ilmu tentang bumi dan alam semesta.
Aku kira masuk perguruan tinggi itu di tes terlebih dahulu tapi ternyata aku tidak. Tiba-tiba pengurus pendaftaran disana bilang “mas ini langsung di terima tanpa menjalankan tes terlebih dahulu terima kasih” kok aneh pikirku, aku sambil senyum dan berjabat tangan. Akhirnya aku dapat kampus, ya.. mungkin disini aku harus sedikit beradaptasi dengan lingkungan kampus dan manusia-manusia di dalamnya.
Cerita di mulai disini…









 


          Remember of today #1



September 2016, Malang adalah bulan dimana aku memasuki hari pertama kuliah. Dengan pakaian kemeja rapi, celana jeans dan sepatu bersih aku berangkat dari rumah menuju kampus. Oh iya kampus baru ku ini namnya adalah Universitas Kanjuruhan Malang, namanya sangat tidak asing karena namanya yang di ambil dari kerajaan Kanjuruhan pada masa lalu dan sekarang pun namanya juga di gunakan sebagai nama stadion sepak bola kebanggaan orang Malang.
Aku berangkat dari rumah sedikit lebih pagi, tau sendirikan kalau murid baru pasti harus berangkat pagi-pagi entah kenapa, kayakya ini sudah turun-temurun sejak nenek moyang pertama kali masuk SD dulu. Sesampainya aku disana aku bergegas masuk ruanganku, tetapi aku gak tau ruanganku sebelah mana. Aku mondar-mandir, pura-pura telepon sambil nunggu temenku.
Tapi jam sudah menunjukan hampir pukul 07.00 jadi aku memberanikan diri untuk bertanya ke salah satu orang disana alhasil aku di beritau lokasinya dan aku langsung jalan menuju kesana hingga sampai di depan ruangan kemudian aku masuk kedalam. Di dalam ruangan kebanyak mahasiswa yang datang dari luar jawa, karena aku gak mengenalnya akhirnya aku mencari mahasiswa yang sama spesienya denganku. Beruntungnya aku, aku bertemu dengen spesies ku yang berjumlah 4 orang jantan di tambah lagi 2 orang betina.
Dosen sudah memasuki ruangan, aku ingat sekali dulu dosen yang pertama kali masuk ruanganku adalah dosen rofi’ul huda, dosen yang super kece dan super-super lainnya nanti akan aku bahas. Aku sengaja duduk di sebelah temen-temen baruku yang satu spesies dan mulai berkenalan, tanpa aku duga ternyata ada temenku yang berasal dari SMA yang sama denganku. Selama SMA aku juga jarang atau bahkan bisa dibilang tidak pernah berbicara kepada mereka, ehh gak taunya ternyata sekarang jadi temen.
Teman temanku ini juga berasal dari berbagai daerah di penjuru dunia. Ada Boby, Hewin dan veno mereka ini adalah spesies jantan yang baru aku kenal, dua bidadari betina yang baru aku kenal ada vilda dan bunga. Vilda adalah bidadari yang merantau jauh dari negerinya, negeri yang sangat putih seputih garam yang ada cap badaknya dan bunga adalah teman SMA ku dulu sama seperti veno, bunga ini orangnya pendiam banget, gak banyak omong juga gak banyak gerak. “Banyak gerak dan omong hanya akan membuang energy sia-sia” katanya. Ini salah satu tipe  idaman banget bagi spesies jantan.
Akhirnya kita berenam secara otomatis kayak membentuk komunitas, geng, crew, pasukan atau semacamya. Kita berenam selalu bersama-sama entah itu duduk di dalam kelas ataupun jalan bahkan ke kantin juga kita tetap berenam. Aku merasa inilah temanku yang sekarang, teman yang akan menemani sampai aku lulus nanti, ya… empat tahun dari sekarang.




Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends

Like my father’s come to pass
Seven years has gone so fast
Wake me up when September ends

Here comes the rain again
Falling from the stars
Drenched in my pain again
Becoming who we are

As my memory rests
But never forget what I lost
Wake me up when September ends


-Greenday-





Beberapa minggu setelah masuk kuliah semua masih biasa-biasa saja, tiba dimana aku memasuki mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Diamana disini semua yang beragama islam dari berbagai kelas angkatan 2016 akan menjadi satu dalam satu ruangan. Jadi aku akan bertemu temen-temen jawa yang lain, meskipun ada juga yang bukan dari jawa.
Ketika awal masuk dalam kelas kita masih membentuk dalam berbagai geng, mungkin karena masih canggung, kelasku duduk berkelompok dan kelas lain juga begitu. Karena Agama Islam sangat sedikit jumlah mahasiswanya jadi aku mudah mengingat wajah mereka yang berbeda kelas denganku. Kuliah Agama hari hanya perkenalan dan berbincang-bincang sedikit karena baru pertama kali masuk kuliah jadi ya hanya seperti perkenalan saja.
Minggu selanjutnya di mata kuliah yang sama tiba-tiba aku melihat orang asing yang ada di kelasku, aku enggak tau dia berasal dari kelas mana atau mungkin dia kakak tingkatku yang ikut dalam kuliah ini. Aku waktu itu hanya penasaran saja siapa perempuan ini kok dia gak duduk di sebelah perempuan yang lain kok malah duduk di sebelah gengku.
Minggu ini aku mendapat tugas di mata kuliah Agama yaitu soal yang harus di jawab di kertas folio bergaris dan itupun juga pekerjaan rumah jadi gak perlu kawatir gak bisa menjawab soalnya bisa browsing di ponsel. Aku dan kelompoku sepakat untuk membagi tugas untuk menjawab karena kita udah mempunyai grup whatsapp jadi gak perlu kebingungan dalam berkomunikasi. Akhirnya mata kuliah ini di sudahi dan aku pun langsung pulang.
Minggu berikutnya masih sama, aku duduk dengan kelompoku begitu juga dengan yang lain. Dosen agama sudah masuk tapi aku tidak melihat perempuan itu ada di dalam kelas, jadi dugaanku benar mungkin dia kakak tingkat yang lagi mengulang mata kuliah. Dosen menyuruh untuk mengumpulkan tugas minggu lalu yang di kerjakan di rumah, tiba-tiba ada suara orang lagi mengetuk pintu ruangan.
“Tok tok tok, permisi pak” pintu ruangan terbuka pelan.
Munculah sesosok kepala perempuan berkerudung kuning tanpa badan. Dia  mengintip ke arah dosen memastikan bahwa dosen tidak sedang menerangkan pelajaran.
Aku kaget ternyata perempuan ini masih hidup dan masuk ke dalam kelas, tanpa banyak bicara dia langsung duduk di sebelahku, bukan sebelahku banget sih tapi dua kursi dari aku. Dia hanya menunduk dan mengambil kertas tugasnya kemudian mengumpulkan ke dosen agama yang berada di depan. Dosen sudah menilai jawaban dari tugas yang di berikan dan jawaban yang kurang lengkap di kembalikan untuk di revisi ulang.
Aku beruntung tidak mendapat revisi dan teman-temanku juga. Ketika kertas milik perempuan itu di bagikan, aku tanpa sengaja melihat tulisannya yang bisa di bilang tidak rapi dan jawabannya sangat sedikit sekali. Pikirku “ini perempuan kok gak niat banget se” tanpa aku sadar aku mulai memperhatikan dia dari kaki hingga kepala. Aku sangat ingat sekali kalau dulu perempuan itu memakai baju panjang berwarna putih dan merah muda persis sama seperti pakaian tidur.
Entah gak ada hujan, angin, gempa ataupun tsunami aku ngerasa tertarik sama perempuan ini, tertarik disini hanya ingin mengetahui siapa perempuan itu. Perempuan itu hanya melihat kertasnya yang ada tulisan besar Revisi di pojok kanan atas sambil di lingkari kayak telur mata sapi yang biasanya ibu masakan buat ayah. Karena aku penasaran banget aku memberanikan diri untuk bertanya kepada perempuan itu.
“mbak boleh lihat kertasnya, dapet berapa?” tanyaku sambil menyodorkan tangan kananku.
Tanpa satu huruf pun terucap, dia langsung memberikan kertasnya dan juga tanpa melihat wajahku. Aku mulai melihat kertasnya dan di dalam hati aku berkata “sombong banget nih anak” terus aku coba bertanya lagi.
“ini kamu revisi ya?” aku ini gila, tolol, kan udah ada tulisan revisi gede banget di lingkari pula, kok malah tanyak gini ke dia.
“iya revisi” jawabnya singkat dengan kecepatan 0,0001 detik/cm, dan tidak menatapku sama sekali
Kemudian aku kembalikan kertas itu dan aku mulai membicarakannya kepada salah satu temanku. Aku ngerasa tertantang untuk mengenal dia, saat itu aku belum mengenal namanya, nama ayah dan ibunya, kakaknya bahkan tetanganya pun aku belum mengenalnya.
“Jadi bisa atau tidak bisa aku harus kenal dia” ucapku.
Minggu berikutnya di pelajaran yang sama mulai di bentuk kelompok-kelompok presentasi. Setiap kelompok beranggotakan dua orang dan aku berpasangan sama azmin anak yang jauh-jauh merantau ke malang, asalnya dari pulau buton di daerah Sulawesi. Katanya sih disana itu tempat produksi aspal jalan. Presentasi pun berlangsung dalam satu minggu presentasi di adakan satu kali.
Tiba giliranku presentasi, aku mendapatkan materi tentang alam semsesta beruntungnya aku karena aku paham akan alam semesta. Aku dan azmin mulai presentasi dan menjawab pertanyaan dari setiap penanya. Tanpa aku duga perempuan itu mengacungkan tangan kecilnya untuk bertanya kepada kelompoku. Dalam hati aku punya niatan untuk menjawab pertanyaanya dengan secepat mungkin karena ini aku anggap sebagai balasanku ketika waktu itu dia menjawab pertanyaanku dengan singkat.
“kapan dajjal muncul?” tanyanya sambil melihat ke arahku.
“maksutnya tanda-tandanya?” tanyakuku balik.
“bukan, maksutnya waktunya” jawab dia.
“mati aku!! Kapan dajjal muncul aku ya gak tau lah, malaikat aja gak tau kapan muncul!!” omongku di dalam hati.
Sial, ternyata aku kesulitan menjawab pertanyaannya yang sebenernya itu sepele. Akhirnya aku memutuskan azmin untuk menjawabnya. Azmin pun menjawab dengan sepengetahuannya dan sebisanya, sebenarnya azmin hanya menjawab tanda-tanda kemunculan dajjal bukan waktu munculnya dajjal.
Dengan jawaban azmin yang singkat dia mulai kebingungan, aku tau dia tidak faham, sangat kelihatan dari raut wajahnya yang lucu-lucu gimana gitu. Oops!! Bukan lucu tapi aneh aja dilihatnya. Akhirnya pertanyaan itu di jawab oleh dosen agama karena semua gak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan dari perempuan ini. Akhirnya presentasipun usai dan aku kembali duduk di kursiku yang tak jauh dari perempuan itu.
Beberapa minggu kemudian tiba dimana perempuan itu presentasi dengan materi yang aku kurang faham. Selama dia presentasi aku hanya melihat dia dari kursi yang aku duduki. Aku mulai berpikiran kalau aku tertarik sama dia “sial ngapain aku mikir itu” padahal aku berusaha mecari pertanyaan buat dia agar dia kesusahan dalam menjawab.
Tapi hasilnya aku tidak bertanya ke dia hingga dia selesai, dia dan kelompoknya lancar menjawab pertanyaan dari penanya. Sudahlah mungkin lain kali. Kuliah pun disudahi aku dan yang lain mulai berjalan keluar kelas. Sengaja aku berjalan di belakang perempuan itu hingga akhirnya berpisah karena dia akan pulang dan aku pun juga akan pulang.
Aku menuju ke tempat parkir dan menaiki motorku untuk pulang ke rumah, di perjalanan aku mulai seperti anak gila yang senyum-senyum sendiri keingat perempuan itu, aneh padahal kenal juga enggak kok malah mikirin dia, dia aja kayak acuh ke aku. Mungkin lain kali aku bisa kenal sama perempuan itu. Aku pun langsung menarik tuas gas motorku sedikit kencang agar aku bisa sampai di rumah lebih cepat untuk makan.
Hari demi hari telah berlalu, aku menjalani kuliah seperti biasanya datang pagi-pagi, bertemu temen-temen, mengikuti pelajaran dan sesekali bertemu dengan perempuan itu di mata kuliah agama. Setiap kali bertemu dengan perempuan itu aku selalu mengamatinya entah kenapa aku makin hari makin tertarik sama perempuan ini, kadang tanpa sebab aku mulai sering memikirkan dia “sial mungkin aku suka sama dia”
Mendekati akhir tahun, program studiku mengadakan acara yang bisa aku bilang unik. Acara itu katanya hanya untuk mengakrabkan angkatanku, bener juga sih sejauh ini angkatanku terdiri dari tiga kelas dan itu masih gitu-gitu aja belum akrab sama sekali padahal pernah sekelas bareng.
Acara ini harus di ikuti semua mahasiswa se-angkatanku tanpa terkecuali. Sebenarnya aku males banget mengikuti acara kayak ginian tapi mau gimana lagi namanya juga wajib maka harus di jalani. Hari keberangkatan itu pun telah tiba, aku sudah menyiapkan baju, celana dan perlengkapan yang di butuhkan sesuai yang di sarankan oleh panitia pelaksana.
Pukul 06.00 aku langsung berangkat ke kampus dengan motorku. Udara dingin di luar kota selalu menemaniku hingga sampai di Kota Malang, aku tidak langsung menuju ke kampus akan tetapi aku lewat jalan memutar yaitu jalan Gadang, lebih tepatnya di gang 4. Aku sudah punya janji dengan Boby dan Hewin yang akan menungguku di depan gang 4 sana. Karena acara ini harus menginap disana, jadi motorku sama motornya temenku ini harus aku titipkan di rumahnya bibiku. Beruntung aku memiliki bibi yang rumahnya gak jauh dari kampus jadi aku bisa menitipkan barang atau sering mampir kesana buat istirahat.
Jam 06.30 aku baru sampai di depan gang dan ternyata mereka sudah ada disana menungguku, “suwe ne aku mulai subuh maeng dek kene” ucap boby sambil menyalakan motorya. Akhirnya kita langsung menuju ke rumah bibiku yang tak jauh dari depan gang dan menitipkan motor kita kepadanya.
Aku dan temen-temen berjalan kaki menuju kampus, karena jalannya belok-belok jadi kurang lebih sejauh 1km yang harus kita tempuh. Di perjalanan pun kita bercanda, cerita-cerita dan gak terasa sudah tiba di samping kampus yang sudah di penuhi oleh temen-teman yang lain. Kita langsung duduk di dalam gerombolan yang lain sambil menunggu intruksi dari ketua pelaksana.
Tiba-tiba terdengan suara kenalpot kendaraan yang keras dari arah kejauhan, karena panasaran aku menengok ke belakangku melihat ke arah jalan dan ternyata sekumpulan angkutan umum berwana biru datang dan masuk ke dalam halaman kampus. Asap tebal dari kendaraan tersebut hampir menutupi atmosfer kampus dan mulai turunlah preman-preman yang bertato yang berbadan besar membawah senjata api lalu menembaki mahasiswa yang ada disana dengan brutalnya.
Dengan keadaan yang sangat mencekam tersebut semua mahasiswa lari ke berbagai arah, aku pun panik dan berusaha mencarai perempuan itu untuk memastikan dia tidak apa-apa. enggak ini hanya imajinasiku aja, sekumpulan angkutan umum itu hanya memasuki halaman kampus dan parkir di sana karena ternyata dengan kendaraan inilah nantinya aku dan temen-temen semua akan di antar menuju lokasinya.
Ketua panitia pelaksaan pun datang dan mulai memberi sambutan serta tahapan-tahapan kegiatan yang akan di laksanakan di lokasi. Semua sangat antusias mendengarkannya dan aku pun juga, sesekali aku melihat perempuan yang menarik perhatianku. Oh iya perempuan itu ternyata satu angkatan sama aku dan dia berada di kelas sebelah, ternyata dugaanku kalau dia kakak tingkat itu ternyata salah.
Sambutan dari ketua pelaksana pun selesai dan kami mulai memasuki angkutan umum yang telah di sewakan oleh pihak panitia. Jauh hari sebelum keberangkatan acara ini, kita semua telah di bagi kelompok yang berbeda dan setiap kelompok diwajibkan memiliki lagu atau gerakan yel-yel sendiri-sendiri.
 


Malam sebelum keberangkatan aku dan teman kelompoku berlatih akan gerakan yel-yel itu hingga larut malam “ngapain juga harus pakai ginian kayak anak kecil aja, kita kan udah mahasiswa, iya kalau masih SMP atau SMA gitu gak papa” pikirku sambil ikut menari, ah sudahlah ikuti aja.
Aku berada di dalam angkutan umum bersmaa kelompoku dan aku masih belum mengenal anggota kelompoku semua, alhasil aku banyak diemnya selama perjalanan ke lokasi. Angkutan umum pun berjalan meninggalkan kampus, di sepanjang jalan aku hanya melihat jendela sebelahku yang transparan. Dengan jalan yang menanjak aku sudah punyak gambaran kalau kita bakal ke lereng gunung atau bukit dan aku yakin lokasinya pasti disana.
Kurang lebih 45 menit kami menempuh perjalanan dan akhirnya sampai. Aku turun dan melihat sekelilingku, hanya ada tumbuhan tebu dan jalan menuju lokasi. Lokasinya seperti perumahan tapi gak ada rumahnya jadi hanya jalan dan ada beberapa bangunan saja. Aku dan yang lain pun langsung turun dan berjalan menuju lokasinya. Lagi-lagi aku mencari keberadaan perempuan itu dan ternyata dia berada agak jauh di depanku.
Sesampainya di lokasi ternyata hanya tempat semacam bumi perkemahan dengan beberapa bangunan seperti aula dan tempat penginapan. Kita semua langsung memasuki aula untuk mendengar sambutan dari panita. Aku gak menyangka ternyata dia si perempuan itu berada di dekatku, kelompok dia bersebelahan dengan kelompokku dan anehnya aku tiba-tiba merasa senang karena dia berada di dekatku.
Setelah sambutan dari pelaksana selesai kita semua di wajibkan menampilkan gerakan yel-yel yang telah di siapkan jauh-jauh hari. Aku memang waktu itu sangat gak suka berdiri di depan umum. Jadi ya gitu hasilnya kamu bisa menyimpulkan sendiri.
Acara di aula yang sangat panjang telah usai, aku dan yang lain mulai beranjak dari aula dan menuju tenda yang telah disediakan. Tendanya di bagi menjadi dua yaitu tenda perempuan dan tenda laki-laki tempatnya pun juga bersebrangan, aku memilih tenda yang paling ujung dan aku memilih tempat yang paling ujung pula yaitu di depan pintu tenda.
Setelah aku meletakan perlengkapanku dan menata barang-barangku aku gak sengaja melihat ke arah tenda perempuan dan dia si perempuan itu lagi duduk sendiri di belakang tenda yang arah tatapannya ke tenda laki-laki. Salah satu temanku perempuan mendekati sih dia dan memanggilku dari kejauhan, aku pun merespon panggilan temanku itu dan si perempuan itu melihat ke arahku sambil senyum. “loh-loh dia lihat aku kan, ya Allah grogi aku” ucapku dalam hati sambil senyum merespon temenku yang memanggil.
Akhirnya dia si perempuan itu beranjak dari tempat duduknya dan mulai masuk ke dalam tendanya. Aku pun juga masuk kedalam tenda, karena lokasiku sangat lurus dengan tenda dia, aku berharap dia bakal melihat tendaku bukan maksutnya melihat aku dari kejauhan. Hari itu sudah sore dan teman-teman yang lain pun sudah mulai pergi untuk mandi, aku pun menunggu giliran untuk mandi. Karena kamar mandinya sangat terbatas jadi ada yang mandi berduaan, kalau aku sih no males aja masak mau pedang-pedangan di dalam sana huh… . Selama sore itu aku tidak melihat perempuan itu lagi, entah dia kemana biarkan saja tapi aku sudah memutuskan kalau sore itu aku suka sama dia.
Senja semakin hilang dan berganti lagit malam yang di hiasi bintang-bintang. Setelah selesai mandi aku duduk-duduk bersama teman yang lain untuk menunggu intruksi dari panitia pelaksana tentang acara selanjutnya. Dari kejauhan terdengar suara sirine yang menandakan semua mahasiswa untuk kumpul di aula.
Malam itu di adakan sebuah acara pentas dengan tujuan hanya untuk meramaikan kegiatan. Aku mulai duduk di bawah yang beralaskan karpet tebal tanpa ada kursi, aku mulai memandangi sekelilingku berharap ada perempuan itu tapi hasilnya nihil aku tidak melihat dia sama sekali.
Tiba-tiba dari arah belakang melintas bayangan hitam kecil manis, ternyata dia baru datang dan langsung duduk di barisan kelompoknya. Aku sangat beruntung karena kelompokku sama dia bersebelahan, dia duduk di depanku agak ke barat. Konsentasiku akan acara malam itu sedikit terganggu karena aku lebih sering memandangi perempuan itu, meskipun memandanginya hanya dari belakang setidaknya aku bisa melihat punggungnya dari pada melihat jempol kakinya.
Semakin malam acara tersebut semakin meriah, semua pada ketawa ketika acara memasuki tema stand up comedi yang di bawakan oleh salah satu temanku dari timur. Aku ketawa karena perempuan itu juga ketawa, dia begitu terhibur dengan acara ini begitu pula dengan yang lain. Sedikit keinginan untuk bisa bicara sama dia tapi keberanianku masih belum cukup untuk hal itu.
Mendekati penghujung acara, dia malah berpindah ke posisi paling depan entah kenapa mungkin karena bau ketekku yang sudah menyengat, padahal malam itu aku sudah memakai diadoran yang cukup banyak dan aku pun mulai mencium ketekku ternyata baunya masih tetap sama, wangi bunga bangkai.
“dia kok menjauh” setidaknya itulah kalimat yang aku ucapkan pada waktu itu. Sedikit rasa kecewa pun muncul dan aku mulai menekukan kakiku ke depan dada kemudian aku pegang erat-erat serta dagu yang aku landaskan di lututku. Jauh dari belakang aku melihat dia yang sangat terhibur dengan acara ini.
Tiba-tiba di berdiri dan maju kedepan panggung yang telah disediakan. Aku kaget dan mulai menegakkan badanku “kok maju ada apa?” aku bertanya pada diriku sendiri dan diriku sendiri tidak bisa menjawabnya. Dia berjalan dengan di temani oleh teman perempuannya dan satu teman laki-lakinya yang membawa gitar akustik klasik. Aku mulai berargumen “mungkin dia mau nyanyi, eist bukan, tapi kenapa sama laki-laki itu juga?”  laki laki yang membawah gitar itu dari pagi sudah mendekati si perempuan itu begitu juga ketika duduk di aula, laki-laki itu memang satu kelompok sama dia dan anehnya ketika duduk, laki-laki itu selalu nempel sama si perempuan itu kayak parasit yang kenak lem raja wali.
Aku berfikir mungkin laki-laki itu pacar dari si perempuan itu, tapi aku 100% tidak percaya dengan pendapatku sendiri. “masa iya perempuan itukan islam, sedangkan yang laki-laki itu pasti Kristen, kayaknya gak mungkin deh kalau mereka pacaran? Tapi kok deket terus ya? Terus aku ngapain mikirin ini? Kok aku malah makin aneh ya?” aku bicara pada diriku sendiri sambil agak bengong. Kemudian perempuan itu berdiri dan dan music mulai dimainkan. Dengan tubuh kecil imut, muka polos kayak udah di ampelas di tambah baju kotak-kotak bewarna biru yang agak kegedean kemudian diika,t dia mulai menyanyikan lagu yang hits pada masa itu.
Wajahnya sangat jelas dan aku juga bisa melihat dengan sangat lama ketika dia menyanyi di depan. Teman perempuannya mulai menyanyikan lagu itu terlebih dahulu dengan pedenya, tampak di wajah dia si perempuan itu yang menahan malu karena sesekali dia menunduk dan melihat ke belakang, ke laki-laki yang bermain gitar. Dengan sangat antusias aku semangat melihat dia bernyanyi, aku mulai sedikit maju ke barisan paling depan hanya karena ingin melihat dia lebih dekat.
Tiba giliran dia menyanyi, suara kecil dan lirihnya mulai terdengar. Aku bisa menilainya kalau suaranya 7 dari 10 nilai yang aku berikan, aku menikmati sambil menatap wajahnya dan berharap dia bisa melihatku disini. Aku ngerasa lagu itu buat aku, sedikit mengkhayal emang, tapi bodoamatlah namanya juga suka mau gimana lagi, aku senyum-senyum sendiri kayak orang gak waras gitu. Malam itu tepatnya di aula itu aku merasa sangat hangat karena di temani dengan lagu dari orang yang aku suka meskipun aku masih bimbang kalau dia sudah memiliki pacar atau belum.
Acara di aula pun selesai dan sekarang tiba dimana acara api unggun sebagai acara penutup malam itu, kita semua hanya berjalan melingkari api unggun itu sambil menyanyikan lagu, entah aku lupa lagu apa waktu itu, asal bukan lagunya bon jovi.
Di api unggun yang mulai di bakar dan udara hangat yang muncul aku berusaha mendekati perempuan itu lagi, setidaknya aku ingin berjalan memutari api unggun di belakang dia meskipun tidak satu kata terucap. Begitulah aku, aku hanya berani berimajinasi dan berkeinginan tinggi akan tetapi tidak berani mewujudkannya. Jarak jalan ku dengan dia cukup jauh hampir 180o di sebrangku. Sangat mustahil juga aku berpindah posisi untuk mendekatinya sebab banyak panitia yang mengawasi akan jalannya acara api unggun itu.
Tepat jam 10.00 malam, panitia menyudahi acara itu, kami di beri kebebasan istirahat dan tidur, aku dan teman-temanku yang lain mulai menuju tenda masing-masing. Ketika kami di bubarkan aku sesekali mencari dia dan memastikan kalau dia juga berjalan ke tendanya akan tetapi dia menghilang gitu saja di tengah gelapnya malam.
Aku punya pikiran kalau perempuan itu memiliki sifat yang misterius juga pribadi yang tertutup dan pemalu, dia mungkin sulit bersosialisasi dengan teman yang lain karena selama aku melihat dia, dia sangat jarang mengobrol bahkan dengan teman yang berada di sebelahnya. Entah kenapa aku sangat tertarik dengan perempuan seperti ini dan berusaha mengenal dia lebih dalam.
Malam itu di dalam tendaku sangat berisik, semua pada belum tidur. Ada yang bercanda, bercerita, bahkan memutar music dengan genre dangdut agar suasana makin heboh di dalam tenda. Aku yang gak suka keramaian hanya bisa diam dan memandang ponselku dan mulai memutar laguku sendiri. Aku sangat beruntung berada di posisi paling pinggir setidaknya aku bisa sedikit damai ketimbang di posisi paling tengah.
Beberapa menit kemudian suara sedikit menghilang karena sebagian manusia sudah tidur dan juga masih ada beberapa manusia yang masih aktif, entah kenapa jam segini dia belum tidur mungkin dia salah satu spesies nocturnal, spesies yang tidurnya siang dan malamnya bangun. Aku mulai mematikan laguku dan mulai mengambil posisi tidur yang nyaman.
Akan tetapi aku sangat kesulitan tidur jadi aku hanya diam sambil menutup mata dan mendengar pembicaraan spesies nocturnal itu dan di tambah lagi bau kaos kaki yang menyengat dari sepatu-sepatu yang di bariskan seperti tentara mau perang tepat di sebelahku karena posisiku yang paling pinggir di dalam tenda.
Bau dari kaos kaki yang masih hangat itu seolah-olah menemaniku di tengah malam “udah jagan tidur, aku temani kok” aku pun membalas dengan sedikit memiringkan badan ke arah barisan sepatu.
“kamu punya siapa sih kok bau banget, majikan kamu gak pernah nyuci ya?”  tanyaku.
“aku baru dua hari gak mandi, tapi tenang aku gak bau-bau amat kok” jawabnya sambil mengeluarkan bau badanya dari lubang sepatu.
“gak bau dari mananya, ini baunya ngalahin bau komodo libanon mati ketabrak becak yang bawak orang-orang cina tau, punyak siapa sih lu?” jawabku sambil menutup hidung.
“mau punya siapa lagi, ya pasti punya kamu lah kan ini sepatunya dekat kamu” krik…krik…
Aku terdiam, suasana hening pun tercipta seolah-olah waktu pada saat itu bergerak sangat lambat. Aku mulai menikmati malam itu dan di temani oleh kaos kakiku yang sudah mulai diam tanpa mengajak bicara lagi, mungkin dia sudah tidur.
Angin malam di pegunungan itu sangat terasa hingga menusuk tulang-tulang ekorku, karena aku tidak membawah selimut jadi aku hanya bisa menggulungkan badanku seperti kaki seribu. Aku melihat semua teman-teman di tendaku sudah beralih alam, semua sudah berada di dunianya masing-masing dan tinggal aku yang masih di bumi waktu itu. Dari arah yang sangat jauh terdengar suara jaran kepang salah satu tarian atau pertunjukan seni orang jawa.
Aku mulai berusaha memejamkan mataku yang sulit untuk tidur, aku berusaha menggunakan jurus jitu untuk bisa tidur yaitu dengan menghitung jumlah mantan, nggak.., aku menghitung dari satu sampai seratus. Hasilnya pun sangat nyata aku tetap gak bisa tidur dan aku hanya seperti orang bodoh yang menghafal angka satu sampai seratus.
Ke’esokan paginya aku bangun lebih awal karena alarm di ponsel samsungku bunyi yang aku on kan pukul 04.30. aku sadar pagi itu aku bangun sendiri karena aku masih bisa mendengar suara-suara kodok dari lubang mulut teman-temanku, aku coba untuk duduk dan melihat sekelilingku dan benar semua masih berpose sendiri-sendiri. Ada yang berpose terlentang dan sedikit telanjang di bagian perut serta mulutnya kebuka buat jalan keluar masuknya udara, ada juga yang berpose seperti foto prewedding gitu, satunya diem terlentang sambil gaya cool dan yang satunya memeluk dari samping, romantis.
Karena suasana masih hening dan dingin, aku memutuskan untuk tidur-tiduran kembali dan dengerin suara-suara hewan kecil disana. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang menginjak rumput, pikirku “siapa pagi-pagi gini udah bangun, keliling juga, gak tau dingin ya” langkah itu datang mengarah menuju tendaku, aku terdiam dan pura-pura mati aku menahan napas kurang lebih 5 detik.
Pintu tenda terbuka, karena posisiku yang berada di sebelah pintu jadi aku yang kaget duluan. Karena kaget ada sosok bayangan besar yang masuk tenda secara otomatis tubuhku bergetar 1,3 skala richter, untung teman-temanku yang lain tidak merasakan getaran itu bisa gawat kalau mereka semua merasakannya, pasti ada yang teriak “gempa-gempa, cepat lari nanti kalian keruntuhan puing-puing tenda” kemudian ada yang lari sambil ngesot dan loncat-loncat.
Bayangan hitam besar itu kemudian berhenti di tengah tendah dan akhirnya muncul suara “bangun-bangun ayok semua bangun” semua pada kaget karena suara itu sangat keras menggunakan alat semacam buat demo. Bayangan hitam itu mulai memutari isi tenda sambil teriak-teriak tak lupa juga menyalakan sirine yang biasa digunakan satpol pp untuk menangkap bencong-bencong di pinggir jalan.
Dengan nyawa yang masih belum masuk seutuhnya, teman-temanku yang lain masih linglung sambil duduk dan ada juga yang masih tertidur pulas. Aku langsung ambil posisi duduk dan ngelihat ekspresi lucu dari teman-teman. Ternyata bayangan hitam itu adalah petugas yang disuruh membangunkan semua mahasiswa. Untung aku sudah bangun kalau gak pasti kasian separuh nyawaku masih terjebak di alam mimpi sana.
Aku mulai keluar tenda dan menghirup udara segar di perbukitan, disana memang masih sangat alami sedikit bangunan dan banyak perpohonan yang cukup besar. Kabut di pagi hari masih sangat tebal sehingga dinginnya masih menyelimuti kulitku. Aku bergegas mengambil perlengkapan mandi dan mulai mandi lebih awal dari yang lain, aku gak mau mandi menunggu yang lain soalnya disana kamar mandinya sangat terbatas jadi lebih baik selesai duluan dari pada nanti harus antri atau mandi berdua. Aku berjalan menuju kamar mandi yang masih kosong dan aku mulai membuka baju celana dan yang lain, aku coba menyentuh air dengan tangan kananku yang hangat ternyata gak sesuai dugaanku sebelumnya, air di pegunngan ternyata beda dengan air di rumah, disini lebih mirip mandi sama air es.
Selesai mandi aku, aku mulai berjalan ke depan tenda dan mulai sedikit merias penampilan. Aku duduk di atas kayu yang sudah tumbang tepat di depan tenda, aku mulai memandangi tenda sih perempuan itu berharap dia juga duduk di depan tendanya. Dengan celana parasit olaraga panjang tubuhku sudah mulai hangat, teman-teman yang lain pun juga sudah selesai mandi dan mulai mencari sinar matahari yang masih malu-malu untuk menghangatkan badan mereka.
 


Pagi itu kami di ajak untuk sarapan pagi oleh panitia, aku dan yang lain mulai makan nasi bungkus yang sudah disediakan. Ketika makan pagi aku melihat perempuan itu makan di tempat duduk yang lain, jauh dari tempat dudukku. Setelah makan kami pun di ajak untuk senam pagi, katanya untuk menghangatkan tubuh, jadi aku dan yang lain pun mengikutinya. Aku dan teman-teman di suruh baris dan mengambil jarak dengan yang samping maupun yang depan.
Aku kaget ketika aku menengok ke arah kanan, ternyata di arah kananku ini adalah perempuan yang aku sukai itu. Karena kaget dan takut salah tingkah aku langsung memalingkan pandanganku ke sisi kiri dan mulai cari kesibukan sendiri tapi nyatanya aku gak nemuin kesibukan dan akhirnya aku nyerah kembali ke posisi semula.
Aku curi-curi pandang ke perempuan itu, aku melihat dia dari dasar hingga atas entah aku gak tau alasannya tiba-tiba aja langsung scan otomatis ke perempuan ini. Dengan memakai celana olaraga salah satu SMK di malang, dia hanya berdiri dengan tatapan ke depan tanpa memperhatikanku yang ada di samping kirinya, aku pengen mengajak ngobrol akan tetapi sisi lain diriku bilang malu jadi aku hanya bisa diam melihat perempuan itu. Setidaknya aku beruntung bisa bersebelahan dengan perempuan yang aku sukai meskipun saling diam-diaman.
Senam pun di mulai dan kami semua sangat antusias untuk mengikutinya, apalagi aku pasti antusias pake plus-plus-plus, bukan lebay sih tapi yang begitulah sikap aku waktu itu, kamu bisa menilainya sendiri atau mungkin kamu juga akan seperti itu jika berada di posisiku saat itu. Kurang lebih 20 menit kami melakukan senam dan kemudian istirahat sebelum melakukan jelajah pagi, tiba-tiba para panitia mengecek ulang telur yang harus di lindunginya selama acara.
Telur ini berupa telur puyu kecil, berisikan 3 buah telur yang di masukan kedalam plastic dan kemudian di ikat, telur ini gak boleh pecah selama kegiatan, jika ada yang pecah atau membuangnya maka akan kenak hukuman dari si panitia itu entah apa hukumanya katanya hukuman akan di berikan sesuka hati dari panitia itu sendiri.
Untung aja waktu pengecekan telurku masih bulat sempurna tanpa ada keretakan sedikitpun soalnya dari kemaren malem telur ini aku gantung di tenda jadi gak akan kenak injak atau tekanan yang berlebih. Perempuan itu tiba-tiba maju lagi, aku bingung ngapain dia maju apa dia mau nyanyi lagi, ternyata telur miliknya pecah atau tepatnya pecah kemudian di buang. “pantesan pecah belum pengalaman mungkin kalau bawak telur, buktinya aku yang udah pengalaman aman kan telurku” ucapku dalam hati. Perempuan itu pun dan tiga orang lainnya mendapat hukuman untuk jogged di depan mahasiswa semuanya dengan lagu dangdut kekinian. Aku ngerasa kasian waktu itu tapi aku gak berani nunjukin rasa kasianku, toh aku waktu itu masih bukan siapa-siapanya jadi aku memaksa untuk terlihat terhibur melihat dia jogged di depan.
Setelah itu kami berkumpul dengan anggota kelompok masing-masing untuk menyiapkan pasukan jelajah, aku dan teman kelompoku berdiskusi tentang rintangan yang akan di berikan karena kita semua takut akan hukuman yang di beri jika kita tidak bisa menyelesaikan rintangan itu. Tiba waktu dimana jelajah di mulai, satu persatu kelompok berjalan selang beberapa menit kemudian kelompok berikutnya. Aku beruntung mendapat urutan ke tiga jadi aku bisa nyelesaiin lebih awal.
Aku berjalan membentuk satu barisan yang lurus ke belakang sambil teriak yelyel, mungkin terdengar aneh di tempat yang sepi kita teriak-teriak gak jelas menyaingi suara hewan di sana, untung aja disana hewan-hewan gak membentuk paduan suara, pasti aku akan kalah sama suara mereka nantinya. Tiba di rintangan pertama yaitu rintangan yang harus melindungi lilin dari lemparan bola air, aku dan teman kelompok pun bisa melindungi lilin itu dengan selamat meskipun harus rela di hujani bola air yang membasai tubuhku mulai dari baju, celana hingga dalemanku.
Tiba di tantangan kedua, tantangan yang kita disuruh menyebutkan nama anggota kelompok kita. Jujur aku waktu itu tidak hafal dengan nama anggota kelompoku jadi jauh-jauh sebelum jelajah di mulai aku dan teman kelompoku berdiskusi tentang tantangan ke dua ini “kita kan tidak hafal nama anggota kelompok kita, nanti jika ada yang suruh nyebutin, sebutin aja nama yang kamu tau entah itu nama ibu kantin, mantan atau gebetan atau juga polisi yang pernah nilang kamu di jalan”  ujar salah satu temanku atau bisa di sebut ketuanya kelompoku. Kemudian ketua kelompoku melaporkan kepada pembimbing kelompok kami dan akhirnya beres, untung aja pembimbing kelompokku bisa di ajak kerja sama kalau gak, mati sudah.
Kelompokku disuruh untuk baris lurus ke belakang dan panitia mulai menunjuk salah satu anggota untuk menyebutkan nama anggotanya, dia pun maju dan mulai menyebutnya satu persatu dan panitia bertanya ke pembimbingnya “apa nama-nama itu benar?” dengan perasaan yang gak menentu kami pun berharap pembimbing menjabab iya benar, “iya benar” ucap pembimbingku sambil mengedipkan satu mata ke arah kelompokku, kita pun legah dan tersenyum.
Kami pun melanjutkan ke tantangan ke tiga, di mana tantangan ini mandi tepung karena kita harus estafet tepung dengan kepala nunduk alhasil kepalaku seperti adonan kue yang siap di makan. Akhirnya aku tiba di tantangan terakhir, dimana tantangan ini aku harus rela menyatu dengan alam yaitu masuk kubangan lumpur.
Dengan rasa jijik ketika menginjakan kaki di lumpur aku dan teman-teman kelompoku disuruh merangkang di dalam lumpu dan kepala kami pun harus menyelam di dalam lumpur yang berwarna coklat yang sesekali mengingatkanku kepada kopi goodday dirumah yang aku minum waktu dingin malam mulai menyelimutiku. Tanah kotor pun mulai memasuki baju dan jelanaku untung aja disini tidak di kasik cacing besar Alaska seperti di serial Spongebob Squarepants.
Rintangan yang terakhir ini menjadi rintangan yang menarik karena pada akhirnya semua menjadi kotor dan basah, semua pada terhibur di rintangan ini. Selama jelajah dimulai aku tak melihat hidung si perempuan itu, aku gak tau dia bakal masuk kubangan lumpur yang berwarna coklat dan bercampur air liur itu apa enggak, setidaknya harapanku jangan masuk sana.
Setelah rintangan terselesaikan aku bergegas mandi untuk membersikan lumpu di tubuhku ini, aku menuju tas dan mulai mengeluarkan pakaian gantiku. Tiba-tiba aku terkejut melihat isi dalam tasku dan mulai membuat aku mulai panik “loh dimana celana dalamku?” aku menggeledah seluruh isi tasku ternyata tetap tidak ada, aku diam sejenak dan mulai mereview ulang ketika aku menyaiapkan perlengkapanku di rumah. Alhasil aku ternyata lupa tidak membawanya “sial terus aku gak pakek celana dalam gitu? Atau celana dalamku yang ini aku cuci terus aku keringkan sedikit dan aku pakai? Nggak mungin lah, nanti tembus dicelanaku kelihatan basah, terus gimana ?” akhirnya aku berjalan ke kamar mandi dan mulai mandi, aku membersikan tubuhku dari rambut hingga kaki.
Setelah mandi aku merias penampilanku dengan mensisir rambutku dan memakai parfum, setidaknya aku terlihat keren dan bersih meskipun tidak memakai celana dalam. Aku kembali ke depan tenda dan masih melihat temen-temen dari kelompok lain mandi lumpur, sepertinya mereka mulai menikmatinya karena ada juga yang menggunakan gaya katak dan gaya suster ngesot, sekali lagi aku tidak melihat perempuan itu di lokasi tantangan terakhir ini.
Aku dan teman-teman yang lain pun mulai berfoto-foto setidaknya untuk mengabadikan kenangan di tempat ini, aku memasuki aula dan tidur-tiduran disana sambil bercanda, ternyata tujuan dari kegiatan ini memang benar mengakrabkan kita semua, aku dan kelas lain pun menjadi akrab, padahal yang awalnya masuk di mata kuliah agama kelasku dan kelas sebelah tidak sapa satu sama yang lain alias diem-diem kepompong.
Tiba di penghujung acara, panitia menyuruh semua untuk berkumpul di dalam aula dan mendenngarkan acara penutup. Aku duduk tetapi tidak dengan kelompok karena semua anggota kelompoku sudah berpencar. Aku melihat perempuan itu duduk di paling depan, sekali lagi jauh dari tempat dudukku. Setelah penutupan selesai aku dan yang lain berjalan naik yang lumayan jauh soalnya jalan rayanya berada jauh di atas.
Sesampainya di atas aku dan teman-teman menunggu angkot yang menjemput, karena tidak ada kursi atau tempat duduk, aku dan teman-teman memutuskan duduk di aspal yang lumayan hangat. Aku pun duduk, sial ternyata panas sekali aku ingat kalau aku tidak menggunakan celana dalam akan tetapi aku tetap bertahan, aku paksa untuk duduk karena semua juga pada duduk. Para kaum hawa masih belum terlihat naik, jadi di atas pun hanya ada kaum adam. Aku dan yang lain seperti mulai akrab bercerita satu sama lain hingga kaum hawa pun sampai di atas dan angkot juga sudah tiba, kami mulai menaiki angkot sesuai kelompok. Setelah semuanya sudah naik angkotnya masing-masing, angkot pun mulai berjalan meninggalkan tempat itu, aku yang duduk di belakang hanya bisa melihat dari jendela angkot tempat itu yang perlahan mulai menjauh.









Bila cinta menggugah rasa
Begitu indah mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku
Hapuskan semua gelisah

Duhai cintaku duhai pujaanku
Datang padaku tetap di sampingku
Kuingin hidupku
Selalu dalam peluknya

Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia
karena dia
begitu indah


-padi-





Beberapa hari setelah acara itu, aku menjalani kuliah seperti biasa bersama teman-teman satu spesies di kelasku, aku hanya bertemu sekali dengan perempuan itu tetap di mata kuliah agama, aku juga lebih sering bertemu dengan spesies kelas sebelah tepatnya spesies laki-laki. 
Aku dan gengku berdiskusi tentang bergabung dengan spesies dari kelas lain, jadi kelasku khususnya gengku akan bergabung di kelas sebelah sehingga spesies kita gak akan pisah-pisah. Kesepakatan ini pun sangat bulat dan kita semua setuju untuk bergabung ke kelas sebelah di semester depan. Kemudian kami membicarakan ini dengan spisies sebelah juga dan akhirnya setuju. Karena disisi lain aku juga senang bisa satu kelas sama perempuan itu jadi akan ada banyak kesempatan untuk aku bisa mendekatinya.
Semester satu pun mulai mendekati akhir, tinggal beberapa hari lagi aku menjalani UAS dan aku akan naik satu level yaitu semester dua, semester yang bakal aku tunggu  dan juga yang bakal menentukan aku bisa kenal dia atau malah sebaliknya, aku gak bakal mengenal dia sama sekali.
Hari dimana UAS tiba, aku datang ke kampus seperti biasanya tetapi ada yang berbeda sedikit disini yaitu pakaian. Sebelumnya aku paling suka menggunakan pakaian kemeja atau kaos polo dan celana jean akan tetapi berbeda dengan saat ini, saat ini aku menggunakan pakaian yang bisa di biang rapi, ya kamu tau sendiri mahasiswa harus mengenakan pakaian rapi ketika akan mengikuti ujian akhir. Warna putih hitam sudah melekat di tubuhku di tambah almamater dari kampusku yang berwarna orange kecoklatan dan tak lupa sepatu pantofel hitam juga dasi hitam panjang.
Ujian akhir semester di kampus sangat berbeda dengan di sekolah menengah atas (SMA), bisa di bilang ujian disini lebih santai dan tak perlu tegang. Aku jadi teringat ujian waktu SMA, dengan jarak yang agak jauh antara meja satu dengan meja yang lain di tambah lagi suasana kelas yang sangat hening kayak di planet mars juga tak lupa guru yang selalu patrol membawah spidol hitam mengelilingi ruangan kelas.
Jadi bisa di bilang ujian waktu itu memang melatih pikiran dan pengetahuan secara murni, ketika kita mau mencontek teman kita, kita harus pura-pura batuk, jatuhin bulpen, kertas soal, bahkan sampai jatuhin harga diri ‘nggak.
Ada cerita menarik waktu aku mengikuti ujian nasional di SMA, sekolahku waktu itu mendapat bocoran jawaban dari atasan, katanya sih gitu dan info ini sangat menyebar luas di kalangan telinga temen-temenku ada yang bilang “tuhan emang baik, sampai-sampai ada bocoran” tetapi ada juga yang bilang “jangan ketipu, biasanya ini akal-akalan atasan aja” karena berita ini masih simpang siur jadi banyak siswa yang masih gak terlalu peduli akan bocoran jawaban UN itu.
Beberapa hari menjelang UN, ternyata jawaban akan bocoran itu ternyata makin nyata, ketua kelasku memiliki strategi untuk menyebarkan jawaban UN. Dulu aku masih menggunakan lima kode yang berbeda jadi dalam satu kelas masih ada soal yang sama. Aku di dalam kelas di pandang sebagai siswa yang pinter IT, karena hampir semua meyakini itu aku akhirnya mendapat tugas yang sangat berat. Tugasku adalah men`scan barcode yang tertera di lembar soal. Karena tugasku berat, aku dan teman-teman yang lain memutuskan untuk berlatih terlebih dahulu, kira-kira ada waktu satu minggu untuk berlatih sebelum hari UN tiba.
Hari dimana UN pun tiba, aku duduk nomer tiga dari depan jadi posisiku sangat aman dari para pengawas, sehingga aku bisa leluasa untuk men`scan code dari masing-masing lembar soal temanku. Beberapa hari aku lancar melakukan hal ini sampai tiba dimana hal memalukan terjadi, aku meletakan ponselku di dalam baju seragam putih karena jika aku masukan kantong celana akan sangat kelihatan dan pastinya akan di sita oleh pengawasnya, jadi aku memutuskan untuk meletakan di balik bajuku tepat di depan perutku.
Waktu itu lembar soal sudah di jawab semua dan waktu juga mulai habis, aku dan yang lain di suruh meninggalkan kelas secepatnya oleh pengawas. Ketika aku berjalan kedepan atau tepat didepan pengawas, salah satu temanku berteriak pelan sambil sedikit menunundukan wajahnya “ky ponselmu nyala” karena aku nggak dengar aku pun tetap berjalan hingga salah satu temanku menepuk punggungku  “ky itu kamu di panggil” aku menengok kan kepalaku ke arah yang di tuju. Ternyata temanku ngasik tau kalau ponselku menyala, aku pun bergegas menundukan kepalaku dan melihat ke arah perutku.
Ketika tatapan mataku ke arah perut, aku melihat cahaya berbentuk persegi panjang terang di area perutku. Karena reflek aku langsung memutar badanku dan memencet tombol off di ponselku, aku panik akan tetapi teman-temanku tertawa kecil sambil pura-pura tidak tau. Aku pun kembali memutarkan badanku dan berjalan melewati pengawas, aku melihat ke arah pengawas yang senyum dan berbicara tipis dengan pengawas sebelahnya. Seakan para pengawas tau kalau aku menyembunyikan ponsel di balik seragamku.
Sesampainya di depan kelas, udara segar pun menerpaku seketika keringat panas dingin pun hilang. Teman-temanku menertawaiku dan memarahiku karena takut akan di laporkan kalau salah satu peserta ujian membawa ponsel. Setidaknya itu yang aku rasa waktu SMA dan itu sangat berbeda dengan ujian-ujian di Perguruan Tinggi
Jujur, aku sempat agak bingung sekaligus senang ketika baru pertama kali merasakan ujian di kampus. Semua duduk di kursi kayu kecilnya masing-masing dengan pakaian rapi yang sudah di tentukan, dosen pun juga sudah datang dan membagikan kertas folio bergaris yang kosong masih belum ada jawabannya. Semua tampak tegang karena masih kebawak suasa waktu di SMA, dosen pun memberikan soal yang telah disediakan dan ketika semua soal sudah di berikan dosen pun bilang “itu semua di kerjakan, dua hari lagi di kumpulkan” semua hening, jam analog ku seketika berhenti dan waktu sesaat berhenti beberapa detik, semua kebingungan
“iya itu di kerjakan di rumah, dua hari lagi di kumpulkan ke saya, dan kuliah hari ini saya akhiri” tiba-tiba semua teriak horeeeee!!!. Ini UAS macam apa kok seperti ini, dan ternyata aku baru tau kalau UAS di kampus lebih mudah ketimbang di SMA. Setidaknya jangan “open book atau nyontek waktu UAS take home”. Itu sangat mustahil…
Liburan semester satu ini terbilang sangat singkat, karena dulu waktu aku lulus SMA dan mau masuk Perguruan Tinggi aku libur kurang lebih lima bulan, tapi libur kali ini hanya dua minggu, libur yang singkat ini aku habiskan dengan bermain game atau pergi ke Telkom untuk download anime.
Di semester dua nantinya aku akan sehabitat dengan spesiesku, jadi untuk menyusun jadwal kuliahnya, spesiesku dan spesies tetangga memutuskan untuk menyusun bersama-sama. Waktu dan lokasi sudah di sepakati, kami mengerjakan di wifi Telkom yang berada di jalan gadang, tempat yang sering aku datangi untuk update animeku. Aku datang lebih awal karena aku harus piket dan nyiapin kopi buat penjaganya`nggak, aku datang lebih awal hanya karena ingin mendownload terlebih dahulu.
Satu per satu temanku sudah datang dan mulai membeli voucer wifi untuk login. Aku mulai membuka siakad kampus begitu juga dengan yang lain, karena waktu itu sangat rame sekali jadi speednya lelet, bahkan jika di bandingkan dengan kecepatan siput, masih cepatan semut. Dengan sabar aku dan yang lain menunggu, lagi-lagi kita gagal login bahkan salah satu temanku sempat membukanya lewat ponselnya padahal koutanya sudah mendekati ajalnya. Tiba-tiba salah satu temanku berhasil login, dari delapan laptop hanya satu yang bisa login. Mungkin karena amal ibadah dan isi laptopnya yang bersih dari film-film jahat.
Akhirnya temanku yang bisa login menyusun jadwal kuliah terlebih dahulu dan yang lain menunggu, selang beberapa menit satu persatu mulai bisa login dan terakhir tinggal punyaku yang gak bisa login. Ketika semua menyusun jadwal aku berniat meminjam laptopnya siapa tau di laptop temanku aku bisa login. Akhirnya aku coba membuka di laptop temanku dan ternyata bisa yess!!! Aku mulai memilih jadwal sesuai dengan teman-temanku yang lain kemudian aku save.
Sialnya, save ku selalu gagal. Aku Tanya ke temen-temen gimana cara save nya karena mungkin aku tadi salah untuk save nya, salah satu temanku mulai menyusunkan jadwal kuliahku dan aku berharap bisa karena tinggal aku aja yang belum selesai sedangkan kuota kelas tinggal tujuh orang, aku takut gak kebagian dan memupuskan harapanku sekelas sama perempuan itu.
Aku berada disana kurang lebih sekitar tiga jam karena semua kebingungan dengan punyaku yang gak bisa save. Teman-temanku yang lain mulai memanas-manasin aku yang katanya aku kurang sholat, kurang beramalan dan kurang belaian. Keringatku mulai mengair dari kepala dan wajahku pun tegang aku berusaha sebisa mungkin karena takut gak bisa kebagian kelas. “udah banyak-banyak istighfar” ucap temanku untuk menenangkanku.
Karena hanya tinggal punyaku dan waktu sudah mulai sore, aku memutuskan untuk menyudahi, karena disana aku juga melihat wajah teman-temanku yang sudah mulai lelah menungguku yang selalu gagal terus.
“terus kamu menyusunnya gimana?” Tanya temanku.
 “nanti aja aku coba di rumah, kalau tetep gak bisa aku hubungi dosen aja” jawabku dengan rasa putus asa.
Kita pun mulai memasukan laptop ke dalam tas dan mengenakan jaket. Sore itu sangat cerah dan sedikit panas, aku berpisah dengan teman-teman di depan Telkom. Aku mengambil motor yang kemudian aku kendarai menuju jalan pulang.
Di jalan aku masih kepikiran kalau aku gak bisa sekelas sama mereka. “kenapa kok punyaku coba yang eror kok gak yang lain aja” sepanjang perjalanan aku berbicara sendiri, pengen marah tapi ke siapa. Aku mulai menaikan kecepatan agar sampai di rumah.
 


Sesampainya di rumah aku langsung buka ponselku dan coba mengakses lewat ponselku, tapi alhasil tetap saja aku gak bisa menyusun jadwalku. Aku mulai panik di tambah lagi kuota makin menipis hanya tinggal lima kursi saja. Karena gak ada jalan lain, akhirnya aku menghubungi salah satu dosenku dan langsung bertanya masalah siakadku.
“Assalamualaikum, saya Rizky mau Tanya kenapa siakad saya gak bisa save jadwal kuliah ya pak, padahal yang lain bisa. Itu untuk membetulkan saya harus gimana pak? Terima kasih” tanyaku melalui whatsapp.
Dosenku tidak merespon pesan dariku, padahal waktu itu baru online beberapa menit yang lalu. Entah kenapa dosen selalu seperti ini, setiap kali mahasiswanya butuh dan mencoba meng- hubunginya selalu saja cuek dan slow respon. Aku menunggu balasan dengan berbaring di kamarku sesekali ponselku bunyi yang aku kira balasan dari dosen tapi ternyata pesan dari kekasihku yang selalu perhatian “selamat nomor kamu mendapat hadia 90 juta buruan ambil…” ya kamu bisa tau sendiri, betapa baiknya kekasihku waktu itu. Hari itu pun aku jadi malas melakukan kegiatan yang lain, pikiranku masih kacau gara-gara jadwal kuliah, jadi aku hanya berbaring di kamar sambil memeluk guling dan tiba-tiba seketika pandanganku gelap gulita, aku gak bisa melihat sekelilingku tubuhku juga gak bisa aku gerakin, ternyata aku sudah mulai tidur.
Tiba-tiba suara ibuku mulai terdengar samar-samar, mungkin ini mimpi tapi ternyata ibu beneran memanggilku untuk bangun karena sudah hampir menjelang magrib. Aku pun terbangun dengan sebagian nyawaku belum terkumpul entah mungkin masih tersesat di alam mimpi, aku linglung dan sejenak aku duduk kembali di atas Kasur sambil memejamkan mata.
Sambil ngumpulin nyawa yang masih terjebak di alam mimpi, seketika aku ingat pesan yang aku kirim ke dosenku dan aku pun mulai mencari ponselku. Ponselku entah hilang kemana dan aku juga lupa menaruhnya, aku cari di setiap sudut tempat tidurku ternyata tetep gak ketemu. Aku mencari seisi bantal juga guling, alhasil ketemu dan bergegas melihat whatsapp berharap dosen membalas pesanku, sialnya ternyata dosen masih belum membalasnya.
Aku kecewa seketika moodku masih belum kembali membaik, aku pun langsung menuju kamar mandi. Ibu dan ayah sedang berada di ruang tamu, seperti biasa mereka bisa di bilang adalah pasangan yang sangat romantis menurutku. Mereka bercanda sampai ketawa terbahak-bahak, suara itu pun sangat terdengar jelas dari dalam kamar mandi tempat aku berdiri dan aku pun mulai mengguyur kepalaku dengan air dingin agar aku kembali fresh dan gak linglung lagi. Setelah selesai mandi aku langsung menuju dapur yang tak jauh dari kamar mandi, aku mulai mengambil makanan dan langsung memakannya. Beruntung sekali hari ini ibu membelikanku makanan favoritku yaitu lalapan ayam di tempat biasanya keluargaku makan.
Ibu dan ayah masih bercanda dengan candaan klasik mereka, mereka bercerita tentang masa mudanya dulu, aku tau ibu sangat sayang ke ayah begitu juga sebaliknya. Aku hanya melihat sambil menelan makananku karena aku gak mau mengganggu mereka berdua. Dalam hati aku mempunyai keinginan yang besar “aku pengen dapet pasangan seperti ibuku, ibuku yang selalu menyayangi ayahku”
Ketika aku selesai makan dan berjalan menuju ke dapur, tiba-tiba ponselku berbunyi tampak bahwa ada pesan masuk. Aku bergegas lari menuju ponselku dan membukanya berharap itu adalah pesan dari dosenku.
“kamu langsung saja ke kampus dan ke ruang Badan atministrasi akademik” jawabnya melalui pesan
Aku senang sekali membaca pesan dari dosen itu, aku langsung berfikir bahwa aku masih ada harapan bisa sekelas sama teman-temanku yang lain juga sekelas sama perempuan itu.
“siap pak terima kasih” balasku cepat
Esok paginya aku langsung bangun pagi-pagi buta, aku hari ini bersemangat sekali untuk cepat-cepat pergi ke kampus dan menyelesaikan masalahku secepatnya agar bisa menyusun jadwal dan berharap masih ke bagian kuota kursi. Seperti pada umumnya manusia di bumi, aku bangun dan kemudian mandi air dingin. Suhu di pagi hari waktu itu hampir sama dengan suhu di negara Swiss, negara yang di daulatkan sebagai negara terbersih di dunia.
Selesai mandi aku langsung bergegas memakai pakaianku juga menyiapkan perlengkapanku. Aku adalah orang dengan tipe gak mau sarapan pagi, entah kenapa soalnya aku pernah sarapan pagi dan waktu berangkat perutku sakit dan akhirnya sesampai di sekolah aku langsung menuju kamar mandi, bukan kelas. Semua sudah siap aku pun mulai berangkat menuju kampus.
Sesampainya di kampus, aku langsung berjalan menuju ruangan yang telah di beritahukan oleh dosen kemarin. Ternyata disana sudah banyak mahasiswa yang mengantri, entah itu mau antri apa mungkin kampus lagi bagi-bagi sembako jadi banyak yang antri.
“mas ini ada apa yak ok banyak yang antri?” tanyaku kepada salah satu pengantri sembako.
 “ini antri bagi mahasiswa yang siakadnya mengalami gangguan” jawabnya cepat sambil melirik ke arahku karena takut barisannya aku serobot.
Alhamdulillah, ternyata bukan aku saja yang dapat masalah kayak gini. Akhirnya aku masuk ke barisan dan ikut-ikutan antri sembako yang kataku tadi, aku pun sedikit memaksa masuk lebih cepat dengan cara menserobot barisan orang, bukanya aku gak disiplin dan gak mau antri tapi aku takut gak kebagian kuota kelas.
Aku berdiri dan antri cukup lama, hingga tiba giliranku dan aku mulai memasuki ruangan lalu menemui stafnya. Aku menceritakan semua problemku dengan dia, dia siakad maksutnya. Kemudian aku di suruh mengisih formulir yang di sediakan, setelah aku isi semua syaratnya, aku pun di suruh meninggalkan ruangan untuk mengecek siakadku sudah bisa atau nggak.
Setelah aku keluar, aku masih melihat banyaknya mahasiswa yang mengantri disana “kasian” ucapku sambil jalan. Aku langsung bergegas membuka ponselku dan membuka siakad melalui ponsel kemudian aku duduk sejenak di depan ruangan itu. Entah kenapa aku masih belum bisa membuka siakadku, aku curiga kalau kuota internetanku habis. Aku pun langsung cek kuota internetku ternyata emang benar sudah habis “mesti onok ae” ucapku.
Aku langsung berjalan cepat ke arah depan kampus, disana ada konter kecil yang menjual pulsa. Sesampainya di konter aku langsung membeli pulsa dan kemudian aku paketkan ke paket internet, sambil jalan kembali ke parkiran kampus aku membuka siakadku. Ternyata siakadku sudah bisa dan aku melihat kuota kelas tinggal tiga ekor. Aku langsung berhenti dan mencari tempat duduk, aku buru-buru ceklis dan memilih kelas sesuai teman-temanku ambil kemaren. Setelah aku ceklis semuanya aku langsung save dan loading pun berputar searah jarum jam. Disini perasaan gak enak mulai muncul, biasanya loading gini akan berujung gagal sama seperti waktu di Telkom dulu. Tiba-tiba sukses dan jadwalku sudah terbentuk, alhamdulilah aku langsung tersenyum sendiri untung aja waktu itu gak ada orang yang ngelihatku atau mungkin ada yang ngelihat dan akunya aja yang tidak tau.
Aku pun langsung berjalan ke arah motorku lalu memakai helm dan mulai mengendarai motorku meninggalkan kampus. Sepanjang perjalanan aku senyum dan memikirkan hal-hal nantinya yang bakal terjadi kalau spesiesku jadi satu kelas akan tetapi di sisi lain aku juga grogi karena bakal sekelas sama perempuan yang aku suka, hmm rumit…










 





Middle
Remember of Today









Bulan januari adalah bulan dimana aku memasuki kuliah tepatnya kuliah semester dua, kali ini ada yang sedikit berbeda di perkuliahanku. Ya benar, aku bergabung dengan kelas sebelah akan tetapi aku bergabung hanya dengan dua mata kuliah saja. Jauh-jauh hari aku dan spesies kelasku sudah memikirkan hal ini, jika aku bergabung dengan kelas sebelah di seluruh mata kuliah maka aku dan spesiesku bakal kesulitan mendapatkan nilai yang sempurna jadi kita memutuskan hanya bergabung di dua mata kuliah.
Bahasa inggris dan jati diri kampus itulah yang membuat aku bergabung dengan kelas sebelah. Entah kenapa aku dan yang lain memilih dua mata kuliah itu untuk gabung dengan kelas lain, mungkin karena minimnya pengetahuan tentang Bahasa inggris, aku dan yang lain emang tidak tau betul ucapan Bahasa inggris.
Awal masuk kuliah aku dan spesiesku tetap seperti biasa, masuk duduk di depan dan dengerin dosen lalu pulang. Tibalah dihari dimana aku harus masuk kelas sebelah, aku bergabung di kelas sebelah pada hari selasa dan kamis. Awal masuk kelas sebelah aku sangat canggung karena melihat orang-orang baru dan aku langsung duduk di bangku paling belakang bersama teman-temanku. Hari itu pelajaran Bahasa inggris, aku berharap dengan masuknya aku di kelas ini aku bisa atau sedikit paham akan pelajaran Bahasa inggris, semua tampak diam memperhatikan dosen. Dosen waktu itu masih muda dan berkelamin laki-laki dan tidak suka makan udang, karena aku duduk di bagian belakang, aku pun memuncukan niatku selain ikut pelajaran Bahasa inggris yaitu melihat perempuan yang aku suka tempo hari. Dia duduk di barisan nomor tiga dari depan bersebrangan dengan tempat dudukku, dia focus ke depan bersama dua teman ceweknya yang bisa di bilang itu mungkin gengnya karena aku sering kali melihat mereka jalan bertiga.
Selama pelajaran aku hanya sesekali melihat dia, anehnya kenapa dia bisa ngerusak konsentrasiku dalam kelas padahal kenal juga enggak dan aku tau kalau dia gak peduli sama aku yang selalu curi-curi pandang ke dia dan hari itu juga aku mengetahui nama lengkapnya dari salah satu temanku. Pelajaran pun selesai dan dosen meninggalkan kelas, temen-temen yang lain masih di dalam kelas bercanda ngomongin hal-hal yang gak penting, karena aku di situasi seperti ini aku pun ikut bercanda dengan yang lain meskipun aku hanya sebagai pendengar.
Aku punya keinginan di sela-sela seperti ini mengajak ngomong perempuan itu meskipun hanya omongan basa-basi. Tapi dia selalu bersama teman-temannya dan hal itu lah yang ngebuat aku mengurungkan niatku untuk bicara dengan dia. Setelah itu kami pun keluar meninggalkan kelas, aku dan kelas sebelah berpisah, aku menuju kantin dan kelas sebelah masuk lagi katanya ada pelajaran berikutnya. Seperti biasa aku di kantin ngobrol bareng gengku dan pesan makanan serta minuman tak sesekali kadang aku pergi ke tempat rental plastation untuk main game sambil menunggu jam masuk kuliah lagi.
Hari pertama aku sekelas dengan dia emang bikin grogi sekaligus senang, kadang hanya melihat saja seolah-olah aku sudah terhibur. Aku gak tau kenapa aku tertarik kepada perempuan ini kenapa aku bisa yakin kalau aku suka sama perempuan ini.
Sehari kemudian datanglah dimana aku sekelas lagi sama dia akan tetapi dimata pelajaran yang berbeda, aku pun tetap menjalankan aksiku hanya sebagai pengamat jarak jauh tanpa berani mendekatinya. Keberanianku mungkin kurang, kadang aku juga berfikir aku ini siapa kok berani suka sama dia mungkin aja dia sudah punyak pacar, aku sempat minder tentang hal yang aku lakuin ini.
Salah satu temanku berniat membuat grup whatsapp yang beranggotakan spesiesku dan spesies sebelah, kita pun setuju-setuju aja. Awalnya sangat sulit untuk mengumpulkan nomer dari masing-masing individu dan setelah sekian hari anggota grupnya pun lengkap. Waktu itu aku sangat enggan buka grup whatsapp karena yang di bahas masih formal jadi aku hanya melihat notifikasinya kemudian aku hapus.
Ketika aku dan salah dua temanku pulang dari kampus, kita berjalan menuju parkiran dan temanku yang satu ini melihat anggota di grup dan penasaran dengan satu foto yang tampak asing di mata temanku. Aku cuek aja dan tetap berjalan.
“heh rekk iki sopo loh?” Tanya hewin.
“opo se?” boby berhenti, menunggu hewin yang datang menghampirinya.
“iki sopo se, emange onok dek kelas e awak dewe?” Tanya hewin.
“iyo yo sopo yo?” jawab boby yang juga bingung.
Karena aku penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh mereka berdua, aku pun berniat untuk kembali nyamperin mereka berdua yang masih berdiri sambil melihat ponsel milik hewin.“endi se rekk delok aku?” jawabku sambil berjalan, hewin pun menunjukan foto profil whatsapp itu kepadaku. Aku pun baru kali ini melihat wajah perempuan di foto itu, perempuan yang berfoto tidak memakai kerudung. Tanpa sengaja aku melihat nama di bagian bawah foto itu, Nine tertulislah nama itu.
Aku bingung dan bertanya ke kedua temanku ini tentang nama nine itu siapa, kemudian hewin menjawab kalau nine itu adalah nama perempuan yang aku suka akan tetapi nine itu adalah nama panggilannya. Karena aku kaget dan gak percaya aku langsung mengambil ponsel milik hewin dan melihatnya lagi, aku baca namanya yang tertulis NINE kemudian aku lihat fotonya yang sangat berbeda dengan wujud aslinya di dunia nyata, aku sempat gak mengira kalau dia punya wajah seperti ini karena selama bertemu aku gak berani melihat secara detail wajahnya. Ucapan pertama kali dari mulutku waktu itu dan sampai sekarang yang aku masih ingat adalah dia cantik banget seketika ke dua temenku kaget dan bilang loh!!!.
Akhirnya aku dan kedua temanku memutuskan untuk pulang. Kami pun berpisah di depan gerbang kampus, selama perjalanan aku kepikiran tentang nine yang sempat aku lihat di whatsapp tadi dan serius aku bilang dia cantik, aku senyum-senyum sendiri di perjalanan hingga sampai di rumah.
Hari demi hari aku lewati seperti biasa, bertemu teman-temanku untuk menghabisin waktu bersama dan sesekali bertemu dengan nine. Beberapa minggu yang akan datang, angkatanku akan menjalankan kegiatan kerja lapang dimana kerja lapang ini aku harus keluar kota dan mengobservasi kenampakan alam di suatu tempat. Sialnya satu bulan sebelum keberangkatan aku menderita sakit cacar air.
Selama aku sakit, aku off dari perkuliahan bisa di bilang aku off selama satu bulan lamanya karena sakit yang aku derita. Aku hanya bisa berbaring di rumah tanpa memegang ponsel, bisa di katakan aku dalam satu hari jam tidurku mencapai 20 jam bahkan kucing aja kalah karena kucing hanya memiliki waktu tidur 18 jam. Aku gak enak makan, pesan yang masuk ke ponsel pun aku abaikan sampai-sampai ponselku kehabisan baterai.
Awal mula aku sakit ini setelah aku jalan-jalan sama mantanku, dan setelah itu beberapa hari kemudian muncullah bentol-bentol berisi air yang bisa di sebut itu adalah cacar air. Selama aku tidak masuk kuliah aku menitipkan pesan keteman-temanku, bukan pesan mau mati tapi pesan kalau ada tugas atau pengumuman tolong aku di kabarkan. Akhrinya temanku pun si hewin dan boby datang kerumah dengan niatan menjenguk, beberapa hari sebelumnya hewin datang sendiri tapi sekarang dia datang berdua dengan boby.
Mereka masuk kamarku dan menemuiku, akhirnya aku pun berbincang-bincang dengan mereka berdua. Aku gak tau mereka emang betah atau di betah-betahin, waktu itu aku nggak mandi selama 1 mingguan karena cacar air tidak boleh kenak air akhirnya mau bagaimana lagi aku pun nggak mandi, tapi tenang bauku tetap sama kok, sama seperti komodo albino.
Aku ingin menanyakan masalah nine ke mereka berdua, tapi sayang aku malu karena aku gak mau di katain kalau aku itu suka sama dia disisi lain salah satu temanku ini tau kalau aku masih ada hubungan dengan mantanku, padahal aku sudah lama putus. Jadi aku mengurungkan niatku untuk bertanya kepadanya. Selama aku sakit aku memang jarang buka ponselku bahkan sampai kehabisan baterai, akan tetapi aku pernah membuka foto profil nine diem-diem, aku gak tau kenapa aku membuka fotonya mungkin aku rindu karena aku sudah lama gak masuk kuliah. Aneh emang rindu dengan orang yang orang itu gak tau aku ini siapa.
Beberapa hari kemudian aku dapat info dari hewin kalau kerja lapang sudah di bagi menjadi beberapa kelompok, dan aku satu kelompok sama hewin, veno, bunga dan vilda. Boby mendapat kelompok yang terpisah, sekali lagi aku ingin bertanya ke pada hewin kalau nine satu kelompok sama siapa akan tetapi keberanianku masih belum cukup.
Perasaan anehku pun muncul, aku tiba-tiba takut kalau nine suka sama orang lain. Dia suka dengan teman satu kelompoknya, dan anehnya lagi padahal aku belum tau apa-apa soal nine. Aku gak tau nine itu seperti apa dan dia sudah punya pacar apa belum.
Sakitku makin parah, cacar air ini menyerang seluruh tubuhku bahkan ke bagian muka ku. Ketika aku mengaca aku kaget melihat mukaku, mukaku persis sama seperti karakter di fantastic four yang tubuhnya di penuhi dengan batu berwarna orange. Kemudian aku tidur kembali, aku pasrah aku bisa sembuh apa enggak, enggak bukan itu, kalau aku seperti ini aku pasti gak bisa deketi nine. Benar nine pasti gak akan suka sama aku yang seperti ini.
Akhirnya aku berusaha buat sembuh dari cacar air ini, aku mencoba obat tradisioal setelah beberapa hari aku tetap gak bisa sembuh. Kemudian ibuku membawaku ke dokter umum yang berada di desaku, disana aku dapat 9 obat yang harus di minum tiap harinya agar bisa sembuh, aku pun semangat untuk meminumnya. Beberapa hari kemudian aku kembali ke dokter yang sama untuk membeli obat yang sama juga akan tetapi setelah itu sakitku belum sembuh juga. Aku mulai frustasi dengan sakit ini, aku enggak sabar buat sembuh aku gak tau harus gimana di tambah lagi beberapa minggu kedepan aku harus mengikuti kegiatan kerja lapang.
Akhirnya aku memberi kabar kepada neneku yang ada di negara HongKong. Aku mengirimkan fotoku sambil di beri caption lagi sakit pengen di sayang, nggak. Aku bilang kalau aku lagi sakit cacar air tapi udah berminggu-minggu enggak sembuh dan nenekku pun meresponku cepat dengan mentelvon ibuku untuk menanyakan keadaanku dengan pasti.
Akhirnya neneku pun memberi uang untuk berobat dan menyuruhku untuk berobat di salah satu rumah sakit di Malang kemudian aku di suruh periksa ke spesialis kulit. Mungkin nenekku sangat khawatir sehingga aku di suruh menemui dokter spesialis kulit, ibuku pun langsung pergi ke kantor pos untuk mengambil uang yang dikirim oleh nenek, karena dulu masih belum punya kartu ATM jadi untuk mengambil uang kiriman, keluargaku selalu pergi ke kantor pos terdekat.
Sehari kemudian aku dan ibu berangkat menuju rumah sakit dan langsung mengantri untuk menemui dokter spesialis kulit. Selama masuk rumah sakit aku memakai celana panjang, memakai jaket dan masker, karena aku malu dengan wajahku yang banyak di tumbuhi cacar air dan aku berjalan sambil menunduk agar orang di sekelilingku tidak melihatku.
Ketika aku duduk di depan ruang dokter disana tertera tulisan spesialis kulit dan kelamin aku sedikit berfikir aneh kenapa kulit dan kelamin hanya satu dokter, aku melihat kanan kiriku ternyata kosong hanya aku yang duduk di depan ruangan spesialis ini. Ada beberapa orang yang juga antri akan tetapi di ruang spesialis lain. Aku mulai berfikir pasti orang-orang lain melihatku kalau aku ini lagi sakit kelamin atau jangan-jangan aku mau sunat disini. Ibuku pun menegurku “jangan ngelamun”
Beberapa menit kemudian muncul sesosok perempuan berbaju putih dari dalam ruangan spesiais Saudara Rizky Muharomsyah ucapnya sambil memegang gagang kaca mata yang di kenakan. Aku pun berdiri dan berjalan menuju kedalam ruangan, di tengah sela-sela jalanku aku punya gambaran kalau dokternya pasti tua, ya ungkin kalau gak tua pasti perempuan yang umurnya sudah 40 tahunan.
Ketika aku sudah memasuki ruangan ternyata dokternya masih muda dan dia laki-laki. Aku mulai duduk di kursi yang telah di sediakan dan mulai berbincang-bincang tentang sakit yang aku alami. Aku pun kemudian di periksa dan di beri obat. Aku sempat kaget karena melihat biaya pengobatanku mencapai 1 jutaan, padahal adik keponakanku pernah sakit cacar air dan itu menggunakan obat alami secamam madu dan biayanya sangat murah sekali, entah kenapa kok aku mahal banget, 1 juta kalau di belikan bakso, kuahnya pasti bisa buat renang bareng-bareng sekampung. Setelah selesai berobat aku dan ibuku langsung meluncur pulang.
Sesampainya di rumah aku cepat-cepat makan dan meminum obat kemudian tidur untuk mengistirahatkan tubuhku. Beberapa hari berikutnya aku tetap di atas kasurku akan tetapi ada sedikit perubahan pada cacar air ku yaitu mulai mengering dan hilang, aku senang karena sudah mulai ada titik sembuh. Kemudian aku mendapat informasi dari vilda kalau mahasiswa yang mengikuti kerja lapang harus hadir untuk mengambil perlengkapan jika tidak bisa hadir maka tidak boleh mengikuti kegiatan.
Kedengaran aneh memang, aku sudah bayar masak gak boleh mengikuti kegiatan. Karena aku takut info itu beneran, aku pun meminta ijin ke ibu untuk pergi ke kampus. “kamu iku sek sakit, wajahmu sek belum sembuh entar malah nakut-nakuti orang di sana” ucap ibu. Aku pun menuruti kata ibu dan tidak pergi kesana, disisi lain vilda menakut-nakuti aku karena aku tau kondisiku yang seperti ini aku sudah pasrah meskipun memang tidak di perbolehkan ikut kegiatan kerja lapang.
Aku kemudian tidur kembali dan melihat grup di whatsappku, disana aku melihat keseruan temen-temenku yang lagi makan di kantin dan berbincang-bincang. Aku iri karena aku gak bisa ikut bergabung disana, pasti disana nine juga bahagia dan dia gak akan tau kalau aku tidak masuk.
Beberapa hari kemudian sakit cacar airku mulai agak mendingan, benjolannya sudah mulai hilang hanya tinggal bekasnya saja dan kulitku masih memerah. Aku pun bilang kepada ibu untuk segera masuk kuliah soalnya gak masuk lama-lama juga gak enak bosen di rumah hanya tidur terus sepanjang hari. Karena ibu mengijinkan aku pun esok pagi akan kuliah.
 


Esoknya aku berangkat pagi-pagi buta, jujur waktu itu aku tidak percaya dengan penampilanku karena cacar air yang menyerang tubuhku sangat banyak terutama di bagia wajah. Aku juga gak mungkin pakai masker tiap waktu, ketika aku sudah sampai di kampus, aku menunggu teman-temanku di tempat parkir. Satu bulan nggak masuk kuliah itu sangat aneh serasa aku ini mahasiswa baru disana, beberapa menit kemudian temanku datang dan kaget karena ada aku disana. “loh awakmu wes waras ta? Kok enyang?” Tanya temenku kepadaku, aku pun menjawab dengan senyuman. Tampak temanku melihat wajahku yang sangat aneh tetapi dia hanya diam saja, mungkin takut menyinggung aku.
Aku dan temanku berjalan menuju kelas, tampak di depan kelas teman-temanku dari spesies lain lagi duduk di depan kelas karena menunggu dosen. Mereka semua melihatku aneh tapi sudahlah mau gimana lagi toh emang ini kenyataanya, ketika yang lain melihatku dengan seperti itu aku gak berkecil hati dan pergi melainkan aku malah bercanda dan ikut mengejek diriku sendiri. Teman spesiesku dari kelas sebelah juga bertemu aku dan menanyakan kabar akan tetapi aku belum melihat nine sama sekali waktu itu.
Beberapa hari kemudian keberangkatan untuk kerja lapang pun tiba. Malam sebelum keberangkatan Boby, Hewin dan Veno menginap di rumahku seperti biasa mereka menginap dengan tujuan untuk berangkat bersama dan menitipkan motor di rumah bibiku yang berada di Gadang gang 4. Malam itu kamarku sangat penuh orang karena sebelumnya kamarku hanya aku tinggali sendiri, akan tetapi sekarang ada empat orang, kami pun mengusir kejenuhan dengan bermain plastation 2 hingga pukul 24.00.
Aku mengajak semua untuk tidur karena besok pagi aku harus berangat jam 4 subuh, memang sih kalau lagi kumpul itu untuk tidur sangat sulit. Lampu sudah di matikan, tv juga sudah di matikan akan tetapi ada aja yang masih ketawa sendiri. Salah satu temanku tiba-tiba mencurahkan hatinya, dia bilang kalau dia menyukai salah satu dosen yang ada di kampus, memang sih dosen itu setauku masih single dan belum menikah jadi logikanya mungkin temanku ini masih ada harapan lah untuk deket sama dosen itu meski pun kesempatannya hanya 0,1/2% untuk berhasil.
Malam makin larut dan kami pun mulai tertidur. Beberapa jam kemudian alarmku bunyi dan aku langsung bangun, dari sekian teman-temanku memang aku yang paling peka terhadap bunyi karena saat itu alarm ponsel boby, hewin dan veno juga berbunyi akan tetapi pemiliknya tidak dengar dan aku yang mematikannya. Aku perlahan mulai membangunkan satu persatu manusia disana, setelah bangun semuanya kita pun mandi bergantian. Setelah mandi kita menyiapkan perlengkapan yang harus di bawak, ibuku juga sangat perhatian karena ibu bangun lebih awal dari kita semua dan menyiapkan mie goreng untuk sarapan subuh. Aku dan temanku langsung menyantap makanan yang masih hangat itu kemudian bersia untuk berangkat ke kampus.
Langit masih sangat gelap dan bintang-bintang masih menghiasi langit waktu itu padahal jam sudah menunjukan pukul 4 pagi. Aku dan temanku menembus dinginnya udara Kota Malang, jalan masih sepi hanya motor kita berdua yang ada di jalan. Aku langsung menuju ke gang 4 untuk menitipkan motor dan kemudian berjalan menuju kampus. Sesampainya di kampus aku langsung duduk di tepi jalan raya untuk menunggu spesies dari kelas sebelah, akhirnya tak lama kemudian mereka pun muncul dengan gengnya.
Kita berbincang-bincang sampai jam 6 pagi, tampak semua sudah siap untuk naik bus. Oh iya waktu itu spesiesku dan spesies sebelah satu bis, sangat beruntung memang kita semua bisa satu bis aku juga senang bisa satu bis dengan nine ya meskipun dudukku sangat jauh dari dia. Dosen memanggil mahasiswa semua dan menyuruh untuk berbaris sesuai dengan bis masing-masing yang kemudian duduk sesuai nama yang telah di bagi.
Aku duduk sangat jauh dari nine, kurang lebih berjalak 4 kursi di depanku. Setidaknya aku beruntung duduk jauh di belakang dia sehingga aku bisa melihat dia, dari pada aku duduk di depan dia yang nantinya aku harus menengok kebelakang untuk melihat dia. Sepanjang perjalanan aku hanya menikmati pemandangan dari balik kaca dan mendengarkan lagu hingga sampai di lokasi awal kerja lapang yaitu di Pacitan. Ketika sampai di lokasi awal aku memasuki ruangan yang hampir mirip seperti sebuah museum batu-batuan entah kenapa dan apa motifnya sehingga batu harus di museumkan. Lagi dan lagi aku mencuri kesempatan dalam kesempitan ketika semua sudah masuk kedalam museum aku melihat nine sedang mengamati fosil, aku pun berusaha mendekati dia dan ketika aku berada di dekatnya aku hanya diam dan kemudian aku pergi, sial entah kenapa dengan aku waktu itu.
Setelah aku melihat-lihat isi dalam museum spesiesku mengajak untuk berfoto bersama dan aku pun ikut berpatisipasi, aku mengambil posisi di bagian tengah dan di bagian depanku adalah spesies betina, aku gak menyangkah tiba-tiba nine berada di depanku padahal awalnya dia berada jauh di sebelah kanan. Karena dia berada di depanku aku merasa senang dan aku berusaha tersenyum kepada kamera sebagus mungkin karena di depanku ada perempuan yang aku suka. Akhirnya kita meninggalkan lokasi pertama untuk menuju di lokasi kedua.
Setelah tiba di lokasi kedua aku langsung berjalan dengan para spesiesku, jalannya sangat jauh aku melihat nine berjalan di depanku dan aku berusaha berjalan cepat agar bisa berjalan tepat di belakangnya. Lokasi kedua ku adalah Goa Gong, di depan Goa Gong kita berhenti dan antri untuk memasukinya. Aku melihat nine yang lagi asik bercanda dengan teman-temannya, tiba-tiba terdengar suara (@#*~!!) atau kata-kata yang sangat sulit untuk di mengerti telingaku. Suara itu berasal dari mulut nine, kalau pengen tau kata-kata apa yang di ucapkan nine waktu itu kalian bisa Tanya sendiri ke dia.
Suara yang sangat keras membuat semua terdiam hening dan tatapannya pun kerah nine semua. Aku tau dia malu sehingga dia membuang muka dan mulai menunduk. “kok dia ngucapin kata-kata gitu ya?” ucapku yang sedikit kecewa, karena selama ini aku menganggap dia itu perempuan yang lemah lembut, aku berharap dia gak ngucapin kata-kata itu lagi.
Akhirnya kita pun memasuki Goa itu, di dalam Goa kita semua terpisah. Aku berjalan dengan teman perempuanku karena spesies jantan lagi asik foto semua, gak lama berselang aku melihat nine yang melihat-lihat isi Goa itu sendiri dan kali ini aku berusaha mendekatinya. Alhasil aku pun berjalan dengan dia, bukan dia aja sih tapi juga temanku yang lain “ayok jalan, disini panas” itu lah ucapanku ke dia waktu itu, dengan wajah yang sangat capek aku tersenyum mungkin ini kesempatanku. Aku berjalan sama nine hingga di mulut Goa dan kita pun akhirnya berpisah karena nine berjalan mendekati teman-temannya, aku berfikir itu tadi adalah awalanku untuk mendekati dia, ya aku tau ini masih awalan, sabar aja.
Lokasi ke dua sudah selesai dan kita menuju lokasi ke tiga yaitu pantai Teleng Ria, disana aku melakukan observasi spesiesku pun juga terpecah waktu itu. Aku lebih focus untuk observasi dari pada deketi nine entah kenapa mungkin karena dari awal turun dari mobil sudah terpisah. Aku berjalan ke warung yang ada di pinggiran pantai dan mulai observasi dan wawancara kepada penjual, tak lama berselang teman-temanku yang lain gabung dan kita bercanda disana. Kemudian kita bersama-sama jalan-jalan di sepanjang pantai sambil berfoto-foto, nine berada di depanku berjalan bersama teman perempuannya, dengan pakaian warna pink yang bisa di bilang kecil dia sangat lucu sekali waktu itu hampir mirip sama anak SMP kelas 2 .
Kita pun kemudian meninggalkan pantai itu dan menuju penginapan yang tak jauh dari pantai. Pacitan menurutku sangat panas sekali entah itu pagi siang sore ataupun malam. Ketika sampai di penginapan aku dan spesiesku memutuskan untuk satu kamar akan tetapi di bagi menjadi dua kelompok alhasil aku satu kamar juga dengan spesies sebelah. Aku mendapat kamar dengan nomor 502, ya memang nomor yang tidak asing. Aku bertanya pada veno “502? Gak asing yo nomore dek endi ngunu loh?”. Veno juga bingung. Aku gerasa nomor ini ada ceritanya tersendiri, ketika aku tiba di depan kamar salah satu temanku kemudian membuka pintu kamar yang misterius itu.
Suasana disana sangat gelap bahkan benda yang ada di dalam tidak kelihatan sama sekali, veno berusaha menyalakan lampu akan tetapi tidak bisa. Kita semua mulai kebingungan akhirnya aku ke kamar sebelah dan melihat keadaan disana, disana sangat berbeda sekali, suasaanya enak dan lampunya bisa menyala semua. Akhirnya salah satu temanku pergi ke staf penginapan dan menanyakan masalah ini, kamarku pun di tinggal dengan keadaan gelap gulita serta pintu yang terbuka, semuanya pindah ke kamar sebelah. Tak lama berselang aku mengajak yang lain untuk mengcek kamarku dan terkejutnya aku ketika melihat kamarku sudah tertutup dan lampu menyala di dalamnya. Aku dan yang lain terdiam, saling pandang dan saling bertanya “loh kok morop? Pintune nutup pisan, mosok wes di benakno?” veno pun langsung lari ke arah pintu dan membukanya, kemudian kita semua pun masuk.
Di dalam tercium bau bunga yang aku gak tau namanya, sangat aneh emang ketika awal masuk tadi gelap gulita dan baunya tidak ada kemudian sekarang muncul bau bunga serta kamar yang tertutup dengan lampu yang menyala semuanya. Aku pun menghilangkan pikiran-pikiran negative, kemudia temanku yang memanggil staf penginapan pun datang dan dia terkejut karena lampunya sudah menyala.
“loh wes murup ta? Tiwas aku nyeluk staf e rekk” ucapnya dengan sedikit kecewa.
“murup-murup dewe iki maeng, lawang e yo nutup padahal genok arek dek kene maeng, delok en saiki malah ambune kembang” ujarnya sambil muka penasaran.
Mungkin karena sfatnya mendengar pembicaraan kita, kita pun kemudian disuruh keluar kamar dulu yang katanya mau benerin kabel biar gak eror dan kemudian padam lagi. Staf pun berjalan menuju kamar mandi yang ada di belakang, karena penasaran beberapa temanku ikutan masuk dan gak sengaja melihat staf itu lagi berdiri tanpa melakukan apa-apa melihat ke arah tembok yang membelakangi pintu. Karena sedikit takut teman-temanku ini langsung keluar dan lari ke kamar sebelah. Disana aku dan teman-temanku yang lain di beri cerita masalah ini, semuanya mulai ketakutan.
 “pokok engkok sampek onok seng aneh-aneh deal turu dek teras yo? Ojok sampek turu dek jeruh soale onok seng nggak beres” ucap salah satu temanku untuk meyakinkan semuanya dan semuanya pun men-iya kan. Kemudian aku dan teman-teman yang lain menuju kamarku yang sudah mulai normal, aku mulai berganti pakaian, temanku yang menuju kamar mandi kaget karena pintu kamar mandi yang sudah rusak atau jebol sehingga gak bisa di tutup. Akhirnya semua spesiesku main kartu di depan kamar sebelah karena dengan alasan gak bisa tidur, aku yang gak suka keramaian langsung menuju kamarku menyalakan tv dan ac, aku menutup kamar mandi sebisaku kemudian aku berbaring di Kasur sambil memegang ponsel.
Aku masih penasaran dengan nomor kamarku, aku langsung mengetik di Google `kamar 502` alhasil yang muncul adalah misteri kamar 502, hantu kamar 502 dan di Indonesia di percaya betapa seramnya kamar 502. Aku penasaran dan mulai membacaya, lama kelamaan aku mulai sedikit takut masak iya kamarku ini berhantu mungkin aja ini semua kebetulan. Tiba-tiba pintu depan terbuka pelan dan angin mulai masuk, munculah jari-jari tangan aku kaget karena tiba-tiba muncul jari yang ternyata itu adalah temanku yang mau masuk kamar. Akhirnya di kamar aku tidak sendiri melainkan berdua dengan temanku.
Karena ada temanku suasana menjadi tidak mencekam lagi dan aku pun mulai ketiduran. Aku membuka mataku suasana sangat gelap gak ada satu lampu pun yang menyala saat itu, aku berusaha duduk dan melihat sekelilingku ternyata semua sudah tidur, aku bangun pukul 4 pagi di karenakan dingin yang di sebebkan oleh ac, aku pun kembali tidur hingga matahari terbit.
Esok paginya setelah sarapan, kita menuju ke pantai seruling di Pacitan, untuk kesana aku dan teman-teman harus menaiki mobil kecil atau mirip seperti angkutan umum. Pantainya menurutku biasa dengan ombak yang sangat besar, dari kejauhan terdapat batu karang yang mirip dengan Spinx yang berada di Mesir.
Semua sudah turun dari mobil, kita diberi waktu satu jam untuk observasi di pantai. Karena pantai ini terkenal dengan seruling samudera, teman-teman yang lain pun banyak berburu foto disana dan mengabaikan observasi. Aku dan sebagian spesiesku memilih untuk observasi dahulu ke warung yang berada di pinggir pantai, saat itu aku tak melihat nine di sekitarku mungkin dia lagi foto di seruling samudera bersama temannya.
Tiba-tiba dari arah kejauhan sosok nine pun muncul dan berjalan ke arah warung yang dimana aku ada di sana. Dia sampai di warung dan kemudian duduk di kursi kayu panjang yang ada disana bersama salah satu tema laki-lakiku, karena melihat dia yang berada di luar warung aku pun reflek langsung berdiri dan berjalan menuju depan warung tempat nine berada.
Aku berdiri di depan nine dan mulai mendengarkan pembicaraan teman-temanku yang lain. Tiba-tiba tempat duduk kayu yang di duduki nine hampir terbalik karena teman laki-lakiku yang duduk sama nine beranjak berdiri. Karena hampir terbalik nine pun hampir jatuh dan disitulah tubuhku secara alamiah bergerak sendiri ke arah nine, nine pun jatuh ke arahku tapi beruntung nggak sampai jatuh ke bawah karena aku menahannya. Kalau kalian jadi aku, ya pasti taulah gimana rasanya. Mungkin kalau lebaynya itu bisa di bilang aku ini penyelamatnya nine yang hampir terjatuh tersungkur ke pasir.
Karena banyak yang lihat, aku pun langsung menegakkan nine. “heh ngawot iki, untung ae gak tibo” ucapku kepada temanku yang tiba-tiba beranjang berdiri tadi. Aku melihat nine nggak papa dan dia kemudian senyum kearahku dan akhirnya pergi. Hari itu sangat melelahan akan tetapi disisi lain hari itu aku juga sangat senang karena aku bisa sedikit dekat dengan nine meskipun hanya tatapannya seolah-olah dia sudah bisa bahagiain aku.
Karena hari sudah siang, dosen pun memutuskan untuk kembali ke mobil untuk menuju bis yang kemudian akan menuju ke objek selanjutnya. Setelah sampai di bis kita pun langsung berangkat ke lokasi Goa Tabuhan yang memakan waktu agak lama. Hingga sore pun tiba dan kita juga tiba di lokasi terakhir ini, di lokasi ini aku turun dan berjalan dengan temanku karena semuanya terpisah hanya tinggal aku, vilda dan veno yang ada. Kita pun akhirnya memutuskan untuk masuk goa itu bertiga.
Ternyata aku melihat nine yang terpisah dari teman-temannya dan aku menyuruh vilda untuk memanggil nine agar bergabung sama kita, akhirnya dia pun bergabung dengan kita. Kamu tau perasaanku saat itu ? ya pasti begitu lah. Aku berjalan di dalam goa yang gelap, karena terlalu gelap aku dan veno menyalakan lampu LED di ponsel untuk menerangi jalan. Aku berusaha untuk mendekati nine dan waktu itu baru pertama kalinya aku berani ngomong atau mengajak nine melihat air yang jatuh dari atap Goa.
“sini loh, lihaten air dingin banget” dia pun datang menghampiriku dan mulai menyentuhkan tangannya di air.
“iya dingin banget” jawabnya, aku pun mengobrol tipis-tipis dengan dia karena tau sendiri aku masih canggung.
Akhirnya kita pun keluar dari Goa, kita berjalan menuju depan bis untuk menunggu yang lain dan sesekali berfoto bersama-sama. Sore itu aku merasa senang karena bisa dekat dengan dia, bukan dekat tapi bisa berada disisinya ketika dia terpisah dengan teman-temannya. Setelah teman-teman yang lain kumpul kita pun langsung masuk bis masing-masing dan pulang menuju malang.
Sepanjang perjalanan, bisku di guyur hujan yang sangat lebat dengan medan pegunungan yang extream aku dan teman-teman yang lain sangat tegang. Teman sebangku ku tiba-tiba menyanyi, katanya untuk mengusir ketegangan di dalam bis, tak lama berselang semua pun terdiam tampak sudah tidur, aku juga melihat nine dari kursi belakang tampak tak bergerak mungkin dia sudah tidur juga. Aku kasian ke nine, selama percalanan dia mabuk darat mungkin karena mabuk itu dia jadi lemas. Sayang sekali aku gak bisa bantu dia toh aku juga bukan siapa-siapanya dia, meskipun aku bantu pasti dia juga gak akan mau.
Di tengah perjalanan aku mulai merasakan pusing, keringatku mulai keluar. Aku tau ini tanda kalau aku lagi kenak masuk angin yang nantinya akan berujung mabuk darat, tapi ingat aku sejak kecil gak pernah mabuk-mabukan karena di larang sama ibu dan ayah. Aku berusaha menutupi semua tubuhku dengan selimut agar hangat, aku gak mau muntah disini nanti semua pada heboh. Akhirnya masuk anginku pun hilang dan badanku mulai hangat, aku pun memutuskan untuk tidur agar tidak pusing dan mabuk.
Beberapa jam kemudian aku terbangun karena bis sudah berhenti, ternyata bis sudah di malang atau sudah berada di depan kampus. Aku bergegas turun dengan barang-barangku, suasana masih gelap gulita tak ada sinar matahari waktu itu aku pun melihat ponselku ternyata waktu menunjukan pukul 00.00, oh ternyata tengah malam. Aku, boby, veno dan hewin pun berjalan ke gang 4 untuk mengambil motor.
Jalan menuju gang 4 memang melewati pemakaman umum. Memng sih kita gak takut karena kita berempat, akan tetapi ketika melewati pemakaman langka kaki kita semakin cepat seolah-olah enggak mau ada yang di belakang. Dengan jalan menurun di tambah ada pohon besar dan melewati sungai disana hanya ada satu lampu saja, kita pun mempercepat langka kaki meskipun barang bawaan berat itu bukan halangan, mungkin karena takut kalau tiba-tiba ada genderuwo albino mengenakan baju serba putih push up di tengah jalan, kan horror nantinya.
 Setelah sampai di rumah bibi, kami pun mengambil motor dan pulang menuju rumahku, lagi-lagi jalan sangat sepi malam itu jalan serasa milik kita berempat. Ketika hampir dekat rumahku ban motor milik boby terkena paku sehingga bocor, karena malam itu tambal ban masih pada tutup semua kita pun memutuskan untuk mendorong motornya hingga sampai di rumah dan akan di tambalkan ke esokan harinya. Sesampai di rumah kami semua bersih-bersih muka dan langsung tidur tanpa bercanda dahulu, mungkin karena kelelahan.
Pagi harinya kita semua bangun kesiangan, kita bangun pukul 7. Kita bergantian untuk mandi dan kemudian sarapan. Ban motor boby pun segera di tambal karena dia juga keburu untuk pulang kerumahnya.
Setelah menyelesaikan kegiatan kerja lapang, perkuliahan pun berjalan seperti biasa masuk pagi pulang sore, bertemu teman-teman dan ke kantin, bertemu nine dan gak berani memulai pembicaraan mungkin hingga akhir hayat akan terus seperti ini. Ketika mata kuliah Bahasa inggris dosen akan mementuk kelompok untuk presentasi, kelompok di tentukan dosen secara acak sehingga kita semua tidak bisa memilih sesama teman.
Satu persatu temanku sudah di panggil dan mendapatkan kelomok, namaku masih belum di sebut yang artinya aku masih belum dapat kelompok begitu juga nine dia juga belum dapat kelompok. Secara tidak sengaja aku berharap kalau aku bisa sekelompok sama nine dan beberapa detik kemudian namaku di sebut Rizky, viva, della, sella dan nine. Aku sempat terkejut ketika ada nama nine di dalam kelompokku, aku gak percaya disana aku laki-laki sendiri tapi di sisi lain aku berkata “loh baru aja aku berharap biar satu kelompok sama nine, Alhamdulillah di kabulkan” ini bisa di katakan kesempatanku buat dekat sama nine.
Akhirnya kita semua diberi soal yang berbeda-beda yang nantinya di presentasikan. Mulai dari sekarang bisa dan tidak bisa aku akan berbicara sama nine meskipun itu harus bahas tugas maupun basa-basi. Beberapa hari setelah terbentuknya kelompok aku iseng ke salah satu temanku yang bernama viva untuk menanyakan kelompok kita siapa aja.
“nine terus sama siapa lagi ya lupa aku?” jawab dia melalui whatsapp.
“loh nine kelompok kita juga ta?” jawabku hanya buat basa-basi. Malam itu aku membuka grup whatsapp spesiesku dan spesies sebelah, aku mencari nama nine dan akhirnya ketemu. Aku perlahan membuka fotonya dulu untuk melihat-lihat yang kemudian nomornya aku save dengan nama lengkapnya, aku melihat kapan terakhir dia online dan ternyata hanya beberapa menit yang lalu.
“selamat malam, eh kamu kelompokku ya?” tanyaku kepada nine. Ternyata dia gak membalasnya, aku pun ngerasa gerogi dan ingin menghapus pesanku tadi akan tetapi tekatku harus bulat, entah dia cuek atau apalah aku akan terima toh nantinya bakal tau kalau dia gak peduli sama aku jadi aku gak akan deketin dia. Beberapa menit ponselku berbunyi, ternyata itu adalah balasan dari nine
“iya, gimana tugasnya?” jawab dia langsung bertanya kepadaku.
“tugas? Ya belum lah kirain kamu yang ngerjakan” jawabku.
 “sulit aku gak bisa ngerjainnya” jawabnya sambil ada imot icon ketawa.
“udah nanti aku kerjain sebisaku tapi kalau aku kesulitan bantu aku ya?” jawabku untuk memastikan dia mau membantuku, membantu disini karena aku pengen chat dengan dia lebih lama.
Malam itu setelah chat dengan bahasan tugas Bahasa inggris, aku pun langsung mencari topik lain dengan bertanya dia itu siapa? rumahnya dimana? Makanannya apa? laki-laki atau perempuan? bernafas dengan paru-paru atau insang?. Dia sempat memberi tahuku rumahnya yaitu di kepulauan keramaian satu komplek dengan pulau Masalembo, Masalembo terkenal dengan segitiga bermudanya Indonesia karena banyak kapal atau pesawat yang hilang disana akan tetapi rumahnya nine aman-aman aja dari segitiga Bermuda itu buktinya sampai sekarang masih ada. Karena penasaran tingkat kabupaten aku memutuskan mencari pulaunya di google maps yang ada di ponselku dan akhirnya muncul pulau yang sangat kecil berada di bawah pulau lalimantan eh Kalimantan.
“Pulau kamu kok kecil banget? Pasti itu kalau tidur gerak sedikit udah masuk laut itu” ucapku kepadanya. Nine pun tertawa dan membalas chatku, malam itu aku tau semuanya tentang dia karena aku berbagi informasi, ternyata dia sangat enak di ajak bercanda maupun mengobrol meskipunlah balas chatnya agak cuek tapi ini mungkin gaya chatnya. Waktu menunjukan sudah tengah malam dan aku masih bermain chat dengan dia, kali ini tema yang di bahas adalah tentang horror atau hantu yang seram bukan hantu yang albino lagi.
Hampir setiap chat balasannya sangat cepat, aku tau malam itu mungkin dia hanya chat sama aku saja mana mungkin dia chat sama teman-temannya di tengah malam. Aku memang suka horror ternyata dia juga suka yang berbau horror, malam itu pun kita chat sambil ketakutan hingga waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi dan aku menyuruhnya untuk tidur. Karena senangnya amat berlebihan aku screenshort chatku dengan dia yang membahas hantu kemudian aku buat story di whatsappku dengan caption.
Akhirnya malam itupun penasaranku tentang dia sudah terbayar semua, bukan semua sih hanya sebagian karena aku masih penasaran dengan dia dari berbagai sisi. Aku pun tertidur dengan senyum meskipun nantinya aku harus bangun jam 5 tak masalah.
Selamat tidur nine…









Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim tuhan dalam wujud diri kamu

Sungguh tenang kurasa saat bersamamu
Sederhana namun indah kau mencintaiku
Sederhana namun indah kau mencintaiku

Sampai habis umurku, sampai habis usia
Maukah dirimu jadi teman hidupku
Kaulah satu di hati kau yang teristimewa
Maukah dirimu hidup denganku

Diam diam aku memandangi wajahnya
Tuhanku sayang sekali wanita ini
Tuhanku sayang sekali wanita ini


-Anji-





Esok paginya aku berangkat ke kampus seperti biasa tapi ada yang berbeda sedikit disini yaitu aku lebih bahagia ketimbang kemaren. Aku sesekali bertemu dengan nine, pertemuan kita hanya saling tatap muka tanpa mengucap sepata kata pun tapi setidaknya aku sudah selangkah lebih dekat dengan dia.
Hari demi hari setelah selesai kuliah aku mulai sering chat dengan nine, tapi chatku aku mulai ketika habis magrib entah kenapa aku gak enak aja kalau pulang kuliah langsung chat dia. Karena chatku takut garing, aku lebih sering membahas masalah tugas kampus “kamu tadi pelajarannya siapa? Dapat tugas kah?” tanyaku pada nine. Dia memberi tahu ke aku kalau dia mendapat tugas ini itu, karena kita sama sama geografi jadi aku paham betul tugas-tugas kita. Nine mendapat tugas seperti membuat keliping untuk kemudian di prin dan aku sedikit memberi penawaran kepada dia “perlu di bantu kah? Mumpung aku lagi free” aku tau mungkin aku dan dia baru kenal jadi dia jawab “nggak aku bisa kok” masak iya baru pertama kenal udah care kan gak logis banget.
Aku gak habis akal, aku pun memberi penawaran kepada dia untuk prin tugasnya, karena kebetulan aku mempunyai printer. Disisi lain niatku juga bagus yaitu menghemat uang dia yang akan di keluarkan untuk biaya prin. Awalnya dia gak mau katanya takut ngerepotin aku, akhirnya perlahan-lahan dia pun mau aku bantu dan mengirimkan file yang sudah dia kerjakan. Aku senang dia percaya sama aku, bukan maksutnya dia mempercayaiku akan tugasnya dia kepadaku. Setelah itu aku dan nine chat seperti biasa chat ringan tanpa obrolan yang panjang.
Esok harinya, aku masuk kuliah pagi sekitar pukul 8. Setelah kuliahku ruang kelas yang aku tempati ini akan di tempati oleh kelasnya nine, sebelum kelasku keluar kelas teman-teman spesiesku dari kelasnya nine sudah banyak di depan ruangan untuk menunggu kelasku keluar dari ruangan. Jam pun berakhir dan aku mulai keluar dari kelas, aku keluar kelas sambil menengok kearah lorong untuk mencari nine. Tubuh dia mungil sehingga tertutup badan dari teman-teman yang lain tapi akhirnya aku menemukan dia dan memanggilnya dia dengan panggilan `heh` dan dia melihatku kemudian berjalan ke arahku sambil menundukan kepalanya tanpa melihat aku sama sekali.
Aku membuka tas ku dan memberikan tugasnya kepadanya.
“loh kok sudah di potong klipingnya” Tanya dia
“iya biar kamu nanti langsung temple aja” jawabku.
Dia pun lalu bilang terima kasih dan kembali ke teman-temannya. Teman-teman spesies kelasku yang melihat aku berbicara pada nine terkejut kalau aku sama nine sudah kenal, padahal setau mereka aku dan nine ini kayak orang lain yang belum kenal sama sekali. Aku pun hanya tersenyum ketika mereka melihatku penasaran seperti itu.
Hari demi hari, minggu demi minggu sudah terlewati. Aku semakin dekat dengan nine, aku juga sudah memastikan kalau saat itu nine belum punya pacar soalnya aku pernah bertanya ke dia
“kamu kalau pulang naik apa? kok setauku kamu kalau habis kuliah langsung ngilang” tanyaku.
 “aku kadang bawak motor kadang juga naik angkot” jawabnya.
“loh gak pernah di jemput sama pacar kamu kah? tanyaku.
“aku gak punya pacar kok” jawabnya.
“Alhamdulillah kamu gak punya pacar, jadi kesempatanku lebih besar buat jadi pacar kamu” jawabku dalam hati. Dari pengakuan itulah aku makin giat buat deketin dia. Aku memiliki dua novel horror yang aku suka yaitu yang berjudul `Rumah Bayangan` dan `Erebos` kedua novel itu adalah novel pertamaku. Aku pun memberi tahu nine kalau aku memiliki novel horror disisi lain aku tau kalau nine itu suka yang berbau horror.
Aku menfoto novelku dan aku kirim ke whatsapp dia. Dia mulai tertarik dengan novelku dan akhirnya dia meminta saran sebaiknya dia membaca novel yang mana. Karena rumah bayangan adalah novel yang sudah aku tamatin aku pun sedikit spoiler ke dia dan alhasil dia marah ke aku karena aku memberi tau dia jalan ceritanya. Aku pun berjanji besok akan meminjamkan novelku ke pada dia.
Ketika di kampus aku langsung bertemu dengan dia dan memberikan novelku ke padanya. Aku juga berkumpul dengan kelompok Bahasa inggrisku untuk mendiskusikan tugas kita. Waktu itu aku membagi tugas kepada kelompoku akan tetapi mereka mereka bisa di biang bingung akan tugas itu jadi aku pun memutuskan akan mencari tugasnya. Tugasnya waktu itu disuruh mencarari video cerita rakyat dalam Bahasa inggris kemudian di translate ke Bahasa Indonesia, karena aku yang mencari videonya aku pun menyuruh temanku yang lain untuk bagian translate lagi dan lagi mereka takut salah dalam mentranslate soalnya gak boleh translate via google jadi kita harus cari satu per satu.
Tanpa di sangka nine pun angkat bicara, “yang translate aku aja deh” ucapnya.  Aku kaget mendengar ucapannya, disisi lain berarti yang mengerjakan adalah aku dengan nine atau bisa di bilang aku dan dia bakal chating dengan tema tugas. Aku pun mensetujuinya dan aku bilang kepadanya kalau nanti sudah dapat video akan aku serakan ke dia. Kita pun menyudahi diskusi tentang tugas itu.
Sesampainya di rumah aku langsung mencari tugas Bahasa inggris tadi dan Alhamdulillah akhirnya aku menemukan, aku langsung kirim video itu kepada nine.
“loh ini ceritanya aku yang ketik semua?” Tanya nine kepadaku.
“loh bukanya kamu yang bagian ketik kan?” tanyaku balik.
“kamu aja yang Bahasa inggrisnya nanti aku yang Bahasa indonesianya” jawab dia.
“iya deh aku tulis dulu ya, stay di whatsapp loh” jawabku aku lalu berusaha mengerjakan dengan cepat.
Beberapa menit kemudian, aku mengirim file kepada nine berisikan 8 lembar Bahasa inggris. Kemudian dia pun mengerjakan dan sesekali aku chat dia untuk memberi bantuan mentranslate kan akan tetapi jawaban dia selalu “nggak usah, aku bisa kok ini kan tugasku” aku bisa menilai dari sini sepertinya dia tipe perempuan yang tanggung jawab, aku pun menyuruhnya untuk mengerjakan tugas terlebih dahulu.
“yaudah kamu kerjain dulu, benerloh kalau kesulitan Tanya aja ke aku insyallah aku bisa bantu kamu” ucapku.
“iya terima kasih” jawabnya. Malam itu chat kita di akhiri dengan mengerjakan tugas tanpa chat basa basi, karena aku harus tau mana waktunya bercanda dan mana waktunya serius, aku gak mau terlihat `gak niat` di depan nine.
Pagi harinya aku mendapat pesan dari nine yang katanya tugas translatenya kurang sedikit dan file itu di kirim ke aku, dia sempat panik karena belum bisa menyelesaikannya apalagi dia harus berangkat pagi karena ada jam kuliah pagi.
“yaudah kamu berangkat aja, biar ini aku yang ngelanjutin nanti bakal selesai kok” balasku ke dia sambil emot senyum yang di pipinya ada warna merahnya.
“bener ya, terima kasih aku takut telat ini” jawabnya.
“iya santai aja, yaudah kamu berangkat hati-hati di jalan” balasku. Hari itu adalah hari pertamaku mengucapkan hati-hati ke dia, kadang aku berfikir untuk mendapatkan perhatian dari seseorang kita harus perhatian juga ke orang tersebut bahkan kalau bisa perhatian kita harus lebih besar dari pada dia.
Sesampainya di kampus dan pelajaran Bahasa inggris pun dimulai, aku pun langsung duduk dengan kelompokku yang beranggota kan perempuan semua. Hari itu aku langsung duduk di sebelah nine tanpa ragu, padahal kemaren-kemarennya aku sempat ragu duduk di sebelah nine alhasil aku duduk agak jauh dengan nine. Mungkin teman-temanya tau kalau aku sering chat dengan nine sehingga aku di berikan tempat duduk kosong tepat di sebelah nine. “gimana? Sudah kah tugasnya?” Tanya nine kepadaku yang sedang membawa kertas berisi tugas. “sudah kok ini” aku berikan ke nine dan kelompoku yang lain.
Kita semua pun membacanya untuk persiapan maju kedepan mempresentasikan hasil dari tugas kita. Entah disengaja atau enggak waktu presentasi tiap kelompok membacanya berurutan dan setelah aku membaca nine pun melanjutkannya, seketika teman-teman di kelas membuat wajahku memerah “eheemm” beberapa teman seolah-olah mengata-ngatain aku, mungkin juga teman-teman yang lain tau kalau aku lagi deketin nine waktu itu sehingga respon mereka seperti itu ke aku.

Beberapa minggu kemudian aku dan spesiesku berencana pergi ke pantai selatan Malang. Aku, boby, hewin, veno berangkat dari rumah veno pagi-pagi, kita berempat menuju pantai clungup dan gatra sebenarnya ini juga tugas dari salah satu dosen kita untuk observasi, bukan observasi sih tapi lebih hanya untuk melihat-lihat bagaimana pertumbuhan tumbuhan magrov di pesisir sana. Pagi itu aku berpamitan kepada nine kalau aku akan pergi ke pantai.
Sesampainya di pantai kita berjalan dan memfoto objek-objek yang ada disana untuk dibuat semple laporan ke dosennya, kemudian kita melanjutkan jalan ke pantai gatra untuk sekaligus bersantai di pantai yang bersih dan obaknya yang tenang itu. Tak lupa aku dan yang lain mulai berfoto-foto untuk mengabadikan, aku juga membawa kertas yang bertuliskan `pak..buk.. putrinya buat aku ya nanti aku ganti dengan cucu yang lucu` aku berfoto dengan memegang kertas ini yang nantinya akan aku kiriman ke nine. Suasana pantai sudah menunjukan sore hari dan kami mulai bergegas berjalan meninggalkan pantai itu.
Perjalanan menuju malang memakan waktu kurang lebih 2 jam, waktu sudah menunjukan pukul 5 dan kami pun mencari musolah untuk beribadah sejenak sekaligus istirahat serta mengisi air minum di musolah tersebut. Kita pun sholat berjamaah, setelah sholat berjamaah aku duduk di depan musolah dan memainkan ponselku. Aku membuka fotoku tadi dan mulai mengirimkan fotoku tadi ke nine, tanpa aku duga teman-temanku berada di belakangku dan melihat aku sedang ngapain. “nine…?” ucap veno dengan nada penasaran. Karena aku kaget aku langsung menengok kebelakang dengan kecepatan 75km/jam.
“ehh lapo rekk loh” jawabku kepada mereka bertiga.
“loh loh chatingan ambek nine lah kok, ketok e meneng tapi wes wani” ucap boby. Kemudian semua seolah-olah membullyku.
“enggak rekk wong aku loh mek koncoan makane aku kirim fotoku” jawabku cepat
“putrinya buat aku ya nanti aku ganti dengan cucu yang lucu ciee” jawab boby dan dua teman lainku ketawa. Aku mengirah boby gak suka ketika aku chat sama nine tapi dia berusaha menutup-nutupinya dengan sebaik mungkin.
Kita pun melanjutkan perjalanan pulang, sialnya aku di bonceng sama boby. Boby mungkin cemburu atau semacamnya, dia bonceng aku dengan kecepatan super tinggi samapai-sampai hewin dan veno ketinggalan jauh di belakang, mungkin dia juga bertambah cemburu ketika aku chat ke nine “nine aku ke magriban di jalan ini” ucapku “yaudah jangan ngebut hati-hati di jalan” balas nine. Soalnya sepengetahuanku boby menyukai nine tapi gak berani memulai dan dia juga mengajak aku saingan untuk deketin nine, awalnya sih aku kira ini bercanda akan tetapi ketika aku sudah selangkah lebih dekat dengan nine, boby mulai menunjukan sifat cemburunya.
Rasanya jantung dan ginjalku mau berganti posisi karena boby ngebut banget di jalan. Sangking ngebutnya samapai-sampai kita kelewatan sama gangnya veno padahal kita berencana ke rumahnya veno dulu untuk mengambil motorku, akhirnya pun kita kembali dan menuju rumahnya veno. Sesampainya disana chatku dengan nine pun masih di bahas terus oleh dia, tapi aku masih mengenggap kalau ini hanya bercanda jadi ya sudahlah. Aku langsung pulang kerumah karena sudah malam dan aku sudah capek seharian keliling.
Hal yang aku anggap sepele ini ternyata akan merubah hariku kedepannya menjadi lebih buruk. Esoknya aku masuk kuliah seperti biasa, disini ada yang sedikit berbeda lagi ketika aku berkumpul dengan spesies sebelah mereka semua bercanda dengan candaan pacar yang di tikung, aku yang awalnya gak peka merespon mereka biasa-biasa saja hanya diam dan melihat mereka yang bercanda. Tiba-tiba boby mengucapkan kata-kata “awas seng duwe sepikan ati-ati saiki jamane konco nikung” aku yang sedikit terganggu dengan ucapan itu mulai penasaran apa maksutnya ini, mungkin dia menyindirku di depan teman-teman yang lain atau apalah aku gak paham.
Teman yang lain mulai kepo dengan ucapannya boby. Disisi lain disana juga ada aku dan nine, aku hanya diam aja melihati mereka-mereka yang seolah-olah menyindirku. Hari itu akan menjadi hari yang sangat panjang bagiku, dimana tiap harinya aku bakal di caci maki kalau aku merebut pacar orang, menikung pacar orang atau sejenisnya terserah mereka mau bilang apa. asal mereka-mereka tau bahwa nine waktu itu masih belum ada yang punya dan aku gak mungkin merebut pacar orang hanya karena aku suka.
Hari-hari berikutnya aku mulai merasa banyak kegajinlan, teman spesies di kelasku mulai menjauhiku bahkan yang spesies betina juga. Biasanya aku menunggu pelajaran lain dengan ke kantin bareng sama teman-teman akan tetapi sekarang sudah mulai enggak, seolah-olah mereka meninggalkan aku dan memandang bahwa aku disini yang memiliki kesalahan terburuk. Aku sudah terbiasa sendiri jadi aku gak terlalu khawatir di tinggal teman-temanku seperti ini, kadang aku pergi ke perpus untuk membaca novel kadang juga pulang karena gak tau harus kemana. Ketika aku bergabung dengan kelas sebelah disitu menjadi titik terberatku mereka semua selalu menyindirku dengan sindiran yang sangat pedas “katanya teman akrab kok nikung dari belakang” ucapan yang sering aku dengar meskipun itu tidak di tujukan langsung kepadaku. Lagi dan lagi, sial..









Untaian kata yang kuselipkan
Semoga mampu tuk meluluhkan
Hati pemilik senyum itu
Berbagai cara akan kucoba
Agar aku takkan kehilangan
Pandangan dari senyum itu

Dan disaat kukatakan
Jadi kekasihku akan membuat
Kau jauh lebih hebat
Percaya padaku
Percaya padaku
Jiwaku untukmu
Hidup terlalu singkat
Untuk kamu lewatkan
Tanpa mencoba cintaku


-S07-





Pagi harinya aku kuliah seperti biasanya datang pagi-pagi dan menunggu teman-teman yang lain. Aku makin sering bertemu dengan nine, dia selalu bersama dua teman perempuannya. Nine gak pernah lepas dari mereka entah kenapa, mungkin mereka berdua adalah saudaranya nine. Seperti sebelumnya dimana aku bertemu nine disitu aku juga bertemu dengan spesies sebelah dan disitu juga aku mulai di pojokkan.
Ketika semua berkumpul selalu dan selalu pembahasannya itu itu aja “teman yang menikung pacar temannya” semua seolah-olah mengatai aku tapi tidak langsung. Karena permasalahan ini aku mulai ada jarak dengan si boby, sebenernya bukan aku yang ngejauh akan tetapi dia yang mulai menjauh mungkin karena dia kecewa sama aku atau apalah. Temen-temenku yang lain mulai mengataiku “kelas B saiki dualisme gara-gara wedok’an”. Tak lupa boby yang ikut bersorak-sorak entah tujuannya untuk menyindirku atau enggak, aku disana hanya bisa diam, pergi juga gak mungkin entar malah makin di kata-katain diam disana hanya membuat aku menahan kesabaranku lagi dan lagi.
Bisa di katakana aku sekarang tak punya teman sama sekali, temanku hanya semu mereka-mereka hanya baik jika mereka butuh aku, akan tetapi mereka berubah ketika sedang berkumpul begini. Aku sedikit lega ketika aku bisa bicara dengan nine meskipun hanya sebentar. Siang itu aku berada di depan kelas menunggu nine untuk menunjukan film horror `jigsaw` film yang karakternya di cincang-cincang, katanya sih dia suka film yang bernuansa darah jadi aku ingin memberi tahunya lewat ponselku. Aku duduk di depan kelas jauh dengan teman-temanku yang seolah-olah mereka gak mau menggangguku, beberapa menit kemudian nine keluar dari ruang kelas mengenakan rok panjang berwana merah maroon dan baju berwarna pink juga kerudung merah maroon. Dia berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku, dia memang gak banyak bicara mungkin dia malu jadi aku yang harus memulai pembicaraan itu.
Sesekali dia berdiri kemudian duduk kembali, mungkin ini pertemuan yang kurang pas karena dari kejauhan teman-temanku melihatku dan yang paling aneh hewin, hewin mengarahkan kamera di ponselnya untuk merekamku. Disini hewin lebih sering bermain sama aku ketimbang boby dan veno, dia lebih peduli kepadaku akan tetapi dia akan biasa-biasa aja ke aku ketika mereka semua berkumpul. Hewin juga gak pernah memojokkanku malahan dia lebih mendukungku untuk bisa dekat dengan nine.
Setelah berbincang-bincang berdua aku dan nine berpindah posisi ke arah teman-temanku, aku duduk dan mulai mengobrol dan bercanda. Disana gak ada boby, tetapi boby dan teman spesies jantan sebelah duduk agak jauh dari tempat duduku sekarang mungkin sekarang dia ngelihatin aku dan mengata-ngatainku. Aku mulai berani mengajak nine untuk pulang bersama akan tetapi dia kadang mau kadang juga enggak tapi aku gak pernah memaksanya untuk hal itu. Aku dan nine sudah makin dekat, aku sering membantunya kalau dia dapat tugas juga kadang berbagi informasi.
Malam harinya aku selalu chat dengan nine, menanyakan hal-hal yang enggak penting. Disisi lain grup whatsapp selalu ramai hampir di tiap harinya selalu aja ada yang di bahas akan tetapi pembahasannya ya itu kamu pasti tau sendiri, aku sering disindir karena aku gak pernah muncul di grup tapi hanya membacanya saja. Disana ada satu profokator yang membuat teman-teman yang lain ikut mengata-ngatainku, setidaknya itulah makan malamku dari teman-temanku, sindiran yang pedas seolah-olah yang membuat pagi harinya aku gak akan semangat untuk berangkat kuliah, tapi disisi lain aku juga semangat kuliah karena aku bisa bertemu dengan nine.
Nine malam itu agak lelet membalas chatku padahal dia sedang online, aku mulai penasaran dia sedang chat dengan siapa kok chat dari aku gak di buka sama sekali. Kadang aku berfikir kalau nine chating dengan boby soalnya kamu tau sendiri boby juga suka dengan nine, gak ada salahnya kan berfikir seperti ini soalnya kebanyakan orang ketika suka akan menghalalkan segala cara, ternyata nine ikut muncul di grup membalas pesan dari teman-teman yang lain. Disana nine membalas pesan boby yang sedang menyindir aku, seketika juga aku cemburu. Aku gak pernah muncul di grup dan sekarang nine gak balas chatku akan tetapi dia sibuk dengan di grup. Aku gak pernah muncul di grup karena aku sering di sindir disana meskipun aku gak muncul di grup endingnya masih sama yaitu sindiran jadi ya sama aja, obrolan percuma. Aneh memang jika aku cemburu hanya karena hal sepele seperti ini, aku pun lebih memilih meletakan ponselku di Kasur dan tidur.
Pagi harinya aku bangun dan melihat isi pesan yang ada di ponselku , aku membuka whatsapp dari nine dan dia terakhir online jam 1 malam, aku sempat penasaran dia chat dengan siapa sampai semalam itu dan aku mulai buka grup whatsapp ternyata disana obrolan terakhir jam 11 malam. Aku mulai berfikir yang tidak-tidak mungkin dia chat dengan teman dekatnya, nggak maksutnya chat dengan orang yang dia suka. Hal itu membuat aku kuliah di pagi hari sedikit kurang mood, kebiasaanku jika moodku lagi gak baik yaitu pergi sendirian entah kemanapun setidaknya aku ingin sendiri. Siang hari setelah kuliah aku nggak langsung pulang, aku pegi ke toko buku di Gramedia untuk mencari novel. Disana aku bertemu dengan novel horror yang berjudul `Parakang` karena aku penasaran aku pun membaca sinopsisnya. Ternyata `Parakang` ini adalah hantu dari suku bugis, aku langsung menutup bukunya dan langsung membawanya ke kasir untuk membayarnya. Aku ingat kalau bugis itu adalah suku dimana nine berasal.
Sesampainya dirumah aku langsung membaca novel itu. Parakang adalah hantu jadi-jadian yang berwujud asap hitam akan tetapi juga bisa berwujud pohon pisang, dia suka memangsa bayi atau janin tak sesekali juga memangsa manusia jika dia lapar. Aku ingin memberitau nine tentang buku baruku ini tapi aku harus mentamatkan dulu buku ini biar aku tau ceritanya. Karena aku gak bisa menahan tanganku untuk whatsapp nine akhirnya aku pun menghubungi dia.
“nine aku mau tanyak, Parakang itu apa?” tanyaku ke nine. Beberapa menit kemudian dia membalas
“itu hantu di pulauku” jawab dia.
“serem gak hantunya?” tanyaku lagi.
“ya seremlah namanya juga hantu” jawabnya.
 “seperti apa se parakang itu” tanyaku. Dia pun mulai ngejelasin parakang itu seperti apa. kemudian aku mengirimkan foto novel baruku ini ke nine dan dia pun terkejut.
“kamu dapat dari mana” Tanya dia.
“aku tadi habis beli ini soalnya penasaran aja katanya ini hantu orang bugis” jawabku.
“aku boleh pinjem gak?” Tanya dia. Jujur dalam hati aku gak bisa bilang “nanti aja aku masih ngebacanya ini” dan yang keluar ucapanku adalah..
“iya besok aku bawak in ya” jawabku ke dia.
Aku memang gak bisa`an ke orang yang aku suka, kadang aku juga memberikan semuanya kepada orang yang aku suka misalnya seperti novel ini. Aku membelinya dengan harga 60 ribu dan aku hanya membacanya hingga halaman ke 40 akan tetapi ketika orang yang aku suka ingin meminjamnya aku pun langsung memberikanya. Aku gak mau dia nunggu aku yang harus selesain baca bukunya, lebih baik aku aja yang nunggu dia selesaiin bacanya. Tapi aku tipe orang yang gak mau baca bekas orang lain dan hingga sekarang buku parakang itu gak pernah aku selesaikan, aku hanya membacanya hingga halaman 40 aja.
beberapa hari kemudian, dosen pelajaran jati diri kampus menugaskan untuk semua mahasiswa membuat pentas seni yang dimana tugas kali ini adalah tugas kelompok. Aku dan hewin menjadi satu kelompok karena aku dan boby juga masih ada konflik jadi spesies kelasku terbelah, kelompoku beranggotakan enam orang yang semuanya berasal dari jawa jadi enak untuk di buat diskusi. Kelompoku mendapat tugas dialog bergilir bertema comedy. Aku melihat nine ternyata dia membentuk kelompok beranggotakan 5 orang yang dimana anggota kelompoknya hanya perempuan-perempuan semua. Aku bertanya pada nine kalau dia memilih tema apa.
“katanya teman yang lain aku bakal menari” jawabnya.
“loh nari? Kamu bisa nari ta?” tanyaku sambil seolah mengejek dia.
“bisalah kan aku dari dulu suka menari” jawabnya
“iya deh aku pengen lihat seberapa hebat dirimu” jawabku.
Tiap harinya aku dan kelompoku berlatih, tak sesekali aku menunggu nine berlatih karena aku dan nine akan pulang bersama. Ketika nine berlatih di kelas aku menunggunya sendiri jauh di area hostpot kampus, kadang juga sampai magrib baru selesai. Memang benar juga mencintai seseorang butuh perjuangan tapi aku tau ini masih awal lagian juga aku masih belum menjadi pacar nine.
Hari H pun datang satu persatu kelompok mulai maju kedepan, kelompoku sedikit eror karena belom hafal naskah dengan matang “babah wes pokok usaha sak isone, kelompok sebelah loh tambah durung opo-opo” kata alan teman kelompoku. Aku dan kelompoku memutuskan maju nomor dua karena lebih cepat lebih baik, kita pun berjajar lurus ke samping di depan kelas dan mulai memperkenalkan diri. Karena tidak hafal kita semua pun membaca naskanya dengan memegang kertas jadi sebelas dua belas sama pidatonya pak karno, juga bisa dikatakan waktu itu tugas kita hanya sekedar kewajiban gugur untuk nilai terserah dosennya.
Setelah kelompoku, kelompoknya nine pun akhirnya maju dengan baju pink rok hitam nine di tengah-tengah barisan. Music mulai berputar dan mereka mulai menari, aku yang gak mau kehilangan momen ini menyuruh hewin untuk merekam menggunakan ponselku, dan hewin pun merekamnya. Semua sempat kaget ketika nine maju dari barisan dan merubah posisinya ke barisan paling depan. Dia sangat lucu dengan ala-ala tarian Yordania, nine sempat membuat kelasahan dengan ketawa sendiri dan dia mulai menengok ke belakang. Aku tau dia itu kurang pede akan tetapi dia pengen tampil di depan umum dengan maksimal, semua pun pada ketawa ketika nine membuat kesalahan.
Tarian nine akhirnya berakhir dan dia bergegas lari ke tempat duduknya yang tak jauh dari aku.
“loh yok opo se kok iso gugup ngunu” tanyaku kepada nine yang sedang menutupi sebagian mukanya.
“mboh..mboh..mboh” jawabnya dia dengan rasa malu dan wajahnya yang memerah.
“tapi bagus kok, kamu berani” jawabku dengan niat menyemangati dia. Dia pun mulai duduk dan mengkipasi wajahnya yang memerah dengan tangannya, aku mengambil selembar kertas kemudian aku lipat jadi dua sisi dan aku berikan kepada nine untuk mengkipasi wajahnya biar sedikit tenang.
Akhirnya kelompok terakhir pun maju, yaitu kelompoknya boby dan kawan-kawannya. Mereka menampilkan drama yang berbau politik, ketika drama sedang di mulai tiba-tiba nine yang awalnya duduk agak jauh dari aku berpindah, dia langsung duduk tepat di sampingku. Aku sempat kaget dengan adanya nine di sampingku, aku gak tau apa maksutnya ini. Mungkin nine mau buat cemburu si boby atau selainnya, aku tau disini nine tau kalau si boby menyukainya tapi sepertinya aku satu atau dua langka di depan boby jadi aku lebih dekat dengan nine.
Nine yang duduk di sampingku menikmati drama dari kelompok itu, aku sedikit enggak enak dengan keadaan yang seperti ini bahkan aku hampir tak sempat mengajak nine untuk mengobrol. Teman-teman yang lain melihatku ketika aku duduk bersebelahan dengan nine akan tetapi di sisi lain aku sangat nyaman sekali bisa duduk bersebelahan dengan dia, mungkin dia nyaman juga karena tiba-tiba duduk di sebelahku.
Drama pun berakhir dan kelompoknya boby mulai kembali duduk, nine pun mulai berpindah tempat duduk juga kembali ke kelompok perempuannya, teman-temanku sempat mengata-ngatain buat apa dia kembali ke kelompoknya. Hari itu berakhir dengan rasa penasaranku akan tindakan dari nine tadi tapi aku tidak membahasnya di chatku dengan nine, soalnya sangat kurang pas kalau kita lagi chatingan tapi yang di bahas orang lain atau orang yang menyukai nine jadi aku memilih untuk menyelidikinya sendiri. Terkadang pikiranku ini terlalu jauh, aku berfikir aneh-aneh tentang dia padahal kalau dipikir lagi dan lagi tentang kejadian tadi, nine tiba-tiba duduk di sampingku kan terserah dia mungkin aja dia sudah nyaman sama aku jadi tiba-tiba duduk di sampingku gitu?
Beberapa hari kemudia hewin berencana ke rumahku untuk mengerjakan tugas dan dia mengajak veno dan boby, tapi hasilnya nihil mereka berdua tidak mau karena dengan alasan sibuk dan semacamnya. Akhirnya hewin pun ke rumahku sendirian, aku sempat mengajaknya untuk menginap di rumah karena tugas yang banyak, kalau di kerjakan berdua pasti lebih ringan dari pada sendiri.
Siang itu setelah selesai kuliah aku dan hewin langsung meluncur ke luar kota, hewin sudah membawak perlengkapan menginap seperti baju, celana dan baju buat kuliah esok harinya. Kita berdua meluncur cepat di terik matahari dan aspal jalan yang sangat panas, berhubung rumahku di desa jadi panasnya nggak terlalu ketimbang di kota. Sesampainya di rumah aku dan hewin langsung ganti pakaian dan santai-santai dulu, hingga matahari tenggelam dan kita pun langsung mandi untuk selanjutnya mengerjakan tugas-tugas kampus.
Sebelum malam tiba aku dan hewin mulai membuka laptop dan mengerjakan tugas, akan tetapi tugas yang sangat sulit membuat kami hanya tidur-tiduran di depan laptop sambil memainkan ponsel.
“ky pie iki tugase angel, aku raiso”  ucap hewin.
“lah makane iku aku pisan enggak paham” jawabku.
 “sek..sek.. tak takon si anu see sopo ngerti dek’e mari” jawab hewin dengan mulai chat ke si anu.
Hewin memiliki kenalan yaitu si anu anak kelas A, si anu ini terkenal pinter, rajin dan yang baik-baik semua ada di si anu ini. Beberpa menit kemudian si anunya hewin mulai membalas.
“ky anu wes mari, nyonto iki a?” Tanya hewin.
“kok takon aku, ojok… kesuen” jawabku.
Hewin langsung meminta tugas ke si anunya dan si anunya pun mulai mengirimkan tugas yang sulit itu. Aku langsung menyalin tugas-tugas itu, meskipun disini tugasnya masih ada yang berbeda jadi aku harus memikir sendiri. Malam itu juga aku chat dengan nine, chat seperti biasanya dengan obrolan yang ringan. Di grup kelas juga rame dengan topik yang sama yaitu bisa di bilang menyudutkan aku, hewin yang tau dengan posisiku saat ini dia pun membantu aku.
Aku mulai curhat ke hewin tentang masalah ini, tentang aku yang selalu di sindir, di sudutkan, disalahkan sepertinya semua tindakan yang gak baik ada di aku.
“boby gak dewasa, mosok ngunu ae nesu” ucap hewin.
“makane iku, modele aku dek kene seng salah” jawabku.
“awakmu gak salah, mosok awakmu nyedek i arek e salah, lagiankan arek e sek single kan” ucap hewin.
 “iyo se, tapi aku gak enak loh cobak awakmu dek posisiku. Lek aku ancen salah okelah aku mundur, aku wegah musuhan sak koncoan hanya karena masalah arek wedok” ucapku.
“ojok nyerah awakmu iku wes cedek ambek nine, nine koyok e  yowes nyaman ambek awakmu” jawab hewin.
“terus aku kudu yok opo cobak, gak enak loh dek kampus aku di sindir terus, dek omah sek dek sindiri lewat grup” jawabku.
“arek iku mosok gak dewasa se, nesu terus menghindar sampek arek-arek liyane eroh kabeh” ucap hewin.
“aku tak nyerah ae yo, aku tak ngomong nang boby ambek nang nine?” jawabku.
“ojok ky, awakmu gak sayang nang nine ta?” Tanya hewin.
“lek gak sayang lapo aku nyedek i dek e sejauh iki cobak” jawabku.
“ngene loh, lek awakmu seneng cepet-cepet tembak en nine iku cek masalah iki ndang mari. Kan lek awakmu pacaran ambek nine arek-arek gak kiro ngilokno kan” ucap hewin.
“nembak nine iku gak segampang ngentekno ayam nelongso sak porsi di tambah cah kangkung, nine tau ngomong siapa cepat dia dapat, aku kan yo gak ngerti iso ae nine saiki chatingan mesrah-mesraan ambek boby hayoo” jawabku.
“wes ojok nyocot pokok pikirno iku, aku tak wa nine” ucap hewin.
Hewin kemudian chat nine untuk menanyakan hal-hal tentang aku dan boby, ketika hewin chat dengan nine aku pun menyudahi chat dengan nine dengan alasan aku mau tidur. Aku baru pertama kali ini mendengar suara nine melalui voice note, soalnya selama aku chat dengan di, dia gak pernah kirim aku voice note padahal aku sangat sering mengirimnya.
Hewin juga menanyakan tentang dia nyaman ke siapa dan si nine ini mengatakan lebih nayaman ke padaku, aku kaget dia bilag seperti itu.
“wocoen iki” ucap hewin sambil memperlihatkan chatnya.
“gendeng, mosok e aku gak yakin” jawabku.
Malam itu hewin dan nine chatingan hingga pukul 12 malam dan karena aku sudah mengantuk aku akhirnya tidur duluan, semua masalah ini aku serakan ke hewin aku percaya kalau hewin pasti bantu aku.
Aku bangun pagi-pagi, hewin yang masih tertidur dengan pulasnya nggak aku bangunin mungkin dia kelelahan soalnya habis begadang. Aku mulai mandi dan menyiapkan makanan, gak lama kemudian hewin juga bangun dan mandi. Hari itu kita kuliah masuk jam 08.40. setelah mandi dan makan aku langsung mengerjakan tugas semalam yang belum selesai, hewin yang juga sudah selesai mandi dan makan bilang ke aku tentang semalam.
“dalam waktu dekat iki tembak en nine” ucapnya singkat.
“perlu proses lek nembak iku, metalku kudu siap, iyo lek di terimo lek gak di terimo mateng aku” jawabku.
 “wes talah percoyo ambek aku” ucap hewin.
“insyallah wes tak usahakno” jawabku, aku gak tau semalam apa yang hewin sama nine bicarakan sepertinya ada yang di sembunyikan tapi aku disini harus percaya kalau hewin bisa bantu aku.
Beberapa hari kemudian di kampus lagi di guyur hujan deras dan aku terjebak di kantin dengan hewin, untung waktu itu jam kuliahku sudah habis meskipun hari itu masih siang. Hujan yang sangat deras dan kilatan petir membuat wifi di kantin mati, aku mengobrol dengan hewin dengan di temani minuman dingin di depan meja.
“ayok nonton bioskop a?” ajakku bercanda.
“ayok lek aku ngunu” jawabnya serius.
“kate ambek sopo awakmu, aku ngene iki yo gak onok partner” jawabku.
“aku tak ambek si anu” jawabnya yang bikin aku kaget, si anu ini adalah anak geografi kelas A dia perempuan dengan kacamata di wajahnya.
“loh ambek si anu? Awakmu kenal cedek ta?” tanyaku penasaran.
 “iyolah wes kenal rodok suwe se” jawabnya sambil memikir kapan dia baru kenal.
“serius awakmu ambek si anu” tanyaku lagi untuk memastikan.
“iyo aku ambek si anu, aku wes suwe chatingan barang kok ambek si anu” jawabnya dia yang membuat aku yakin kalau dia emang sama si anu.
“loh loh meneng-meneng lah kok wes ambek si anu, perasaan awakmu gak tau cedek ambek dek e deh? Salut aku rekk” ucapku sambil memegang pundaknya si hewin. Kita pun bercerita bagaimana si hewin bisa dekat dengan si anu itu.
“lah terus awakmu ambek sopo ky?” Tanya dia.
“aku ngunu ambek sopo yo? lek arek e gelem insyallah ambek arek e aku win” jawabku sambil bingung mikir.
“ambek nine a?” jawab hewin sambil senyum-senyum mesrah ke aku.
“ya mungkin lek nine mau, aku ae baru kenal sama nine mungkin angel lek ngajak nine keluar” jawabku seolah-olah aku tak yakin kalau aku bisa mengajak nine keluar. Akhirnya kita berdua mendiskusikan recana ini agar nantiya bisa di jalankan sesuai rencana atau enggak.
Malam itu aku chat nine duluan untuk menanyakan dia lagi ngapain, disisi lain grup gabungan spesiesku selalu rame tiap waktu dan isinya juga gitu-gitu aja tentang sindiran yang mengarah atau memojokanku. Aku mulai mengajak nine untuk nonton, awalnya dia gak mau kalau perempuannya dia saja.
“perempuannya bukan kamu aja kok, ada si anu juga” jawabku.
“aku gak kenal sama si anu, aku maunya sama vilda dan dua temanku yang ini” jawabnya. Memang sih mengajak keluar orang yang baru kenal memang sulit mungkin saja dia takut kalau aku ini nantinya bakal apa-apain dia.
Ternyata nine menyebarkan ini di grup perempuannya, ketika aku di kampus dan ada gengnya nine, mereka menyindirku dengan mengajak temannya `hei ayok nonton` sambil senyum-senyum. Aku yang merasa tersindir gak bisa berbuat apa-apa. beberapa hari kemudian aku menanyakan hal yang sama lagi pada nine apakah dia mau nonton sama aku. Mungkin karena aku terlalu memaksa dia jadi dia pun mau menenmaniku dan aku disuruh menjemputnya. Awal pertama menjemput nine aku menunggu di depan gang yang jauh dari rumahnya, aku kayak orang hilang dilihatin orang lewat di depanku tapi gak apalah ini hari pertama aku keluar sama nine. Padahal ketika aku pulang sama dia selalu aku turunin di depan rumah tapi anehnya ketika aku menjemput untuk pertama kalinya aku gak boleh jemput di depan rumahnya, Setidaknya apapun aku lakukan agar har bersamanya ini terkesan buat dia.
Nine akhirnya muncul di belakangku dan mulai mendekati. Sebelum berangkat aku sempat menanyakan hal yang wajib di tanyakan.
 “udah siap?” tanyaku
“sudah” jawabnya.
Aku pun langsung berangkat menuju lokasi dimana nantinya kita akan menonton bioskop. Aku melaju pelan di jalan yang sedikit longgar melewati lapangan rampal kemudian melalui balaikota Malang tak lupa juga alun-alun Malang hingga sampai di Malang Plaza, disinilah aku dan nine akan menonton. Di depan malang plaza aku bertemu dengan hewin yang sedang membonceng si anu dan kita pun bergegas memarkir motor kemudian menuju bioskop untuk membeli tiket.
Aku dan hewin antri membeli tiket, hewin bilang kepadaku kalau saat itu dia yang bayarin si anu untuk nonton “aku pisan heh” jawabku juga ke hewin. Aku menyiapkan uang 60 ribu untuk dua orang akan tetapi aku lupa bahwa hari itu adalah hari nasional hari dimana di peringati hari buruh nasional, jadi tiket untuk menonton adalah 80 ribu untuk dua orang. Hewin meminjam uangku karena kata dia, dia gak bawak uang kecil, aku dan hewin memilih film Stip & Pensil, aku yang jadi pensil untuk menulis cerita kita dan kamu yang jadi stip untuk menghapus cerita kita. Film bergenre comedy itu aku pilih untuk menghibur nine karena aku pengen lihat nine bahagia dan tertawa lepas.
Sambil menunggu teater di buka aku, nine dan dua sejoli yang lain berniat jalan-jalan agar tidak jenuh. Kita pergi ke teamzone yang berada di Ramayana, sesampainya di sana aku dan hewin membeli koin akan tetapi ternyata koinnya dalam bentuk card dengan voucer yang harus di beri 50 ribu dan kelipatannya. Lagi-lagi hewin bilang “ki gawe duwekmu disek yo pokok engkok totalan” sambil berbisik ke aku. Oke deh, karena aku gak bisa’an kepada teman sendiri jadi akhirnya aku membeli voucer yang 50 ribu dan di pakai berempat.
Aku menawari nine untuk bermain apa, dia mah terserah aku katanya. Aku pun mengajak dia untuk bermain yang mengambil boneka itu.
“kamu pengen boneka yang mana se?”tanyaku kepada nine
“bonekanya kok kecil semua” jawab nine,
“kalau mau boneka yang besar ya beli di istana boneka nine, lagian juga gak muat dong tempatnya kalau di isi boneka besar” jawabku tapi dalam hati.
“iya se ya? Enggak tapi kamu pilih yang mana biar aku ambilin, kalau bisa” jawabku kali ini gak di dalam hati.
Nine pun akhirnya menunjuk boneka yang berwana kuning wujudnya seperti marmut tapi telinganya panjang, aku pun berusaha mengambilnya dengan mesin mainan itu. Tapi sayang satu kali dua kali percobaanku gagal semua. “game apaan ini, curang jangan main ini lagi masak bonekanya saling menggapit kan susah nariknya” aku ngomong-ngomong sendiri.
Kemudian aku mengajak nine untuk bermain bola basket, disana aku sempat kaget kalau dia melempar bola dengan tangan kiri aku sempat berhenti dan melihat nine melempar bolanya
“loh kok ngelihatin aku” Tanya nine.
 “kamu melemparnya kok pakai tangan kiri” tanyaku.
“iya kenapa emangnya?” jawab nine.
“kamu kidal?” tanyaku balik .
“kidal itu apa” Tanya nine balik.
“kidal itu orang yang sering menggunakan tangan kiri” jawabku memberi penjelasan.
“oh iya ta, aku sulit kalau ngelempar pakai tangan kanan” jawabnya sambil memegang bola di tangan kanannya.
“kamu kalau nulis atau makan juga pakai tangan kiri?” tanyaku penasaran.
“enggak lah tapi aku pakai tangan kiri kalau ngerjain pekerjaan rumah” jawabnya sambil melempar bola. Keren baru kali ini aku melihat perempuan yang kidal, katanya orang kidal itu memiliki kreativitas dan kepintaran yang lebih.“hahaha salut aku” jawabku ke nine yang kemudian nine bingung apa maksutnya.
Setelah bermain kita semua langsung menuju ke bioskop dan mencari tempat duduk sesuai nomor, di tempat duduk aku bertanya kepada nine.
“kamu pernah nonton apa aja?” tanyaku.
“enggak” jawabnya singkat.
“enggak maskutnya?” tanyaku lagi.
“nggak pernah nonton” jawabnya.
 “jadi aku yang pertama kali ngajak kamu?” tanyaku lagi dan lagi.
“iyalah” jawabnya dia. Sekali lagi aku senang karena akulah yang pertama kali mengajak dia ke bioskop untuk nonton setidaknya ini akan berkesan ke dia kalau yang pertama kali ngajak dia nonton adalah Rizky ya Rizky Muharomysah
“yess!!!” ucapku sendiri.
“kenapa?” Tanya dia.
“enggak papa kok seneng aja” jawabku sambil senyum.
Film pun mulai di putar dan kita semua mulai menonton tak sesekali ketawanya nine membuat aku makin suka, bukan suka lagi, disinilah rasa sayang itu mulai muncul seutuhnya. Film yang berdurasi 90 menit itu terasa sangat cepat sebenarnya bukan filmnya yang cepat tapi suasannya yang seolah-olah membuat film itu sangat cepat, waktu menunjukan pukul 6 sore dan kita semua keluar dari bioskop. Aku dan hewin mulai berpisah hewin harus mengantar si anu pulang begitu juga aku yang harus mengantar nine pulang ke rumah tantenya yang berada di polehan. Aku takut nine di marahi tantenya karena pulang malam jadi aku sedikit ngebut agar cepat sampai di rumahnya.
Sesampainya di rumah, nine turun dan bilang terima kasih lalu bergegas masuk kedalam rumah. Aku pun langsung tancap gas dan pulang ke rumah, di tengah perjalanan ada hal yang membuat aku sedikit gelisah sepertinya ada sesuatu yang hilang. Di tengah perjalanan tanganku mulai memegangi saku celanaku untuk memastikan bahwa dompet dan ponselku ada di kantong, “dompet ada ponsel kok gak ada” ucapku. Aku mulai memelankan motorku dan coba mengingat-ingat ponselku aku letakan dimana soalnya kalau hilang bisa di marahin habis-habisan sama ibu dan ayah di rumah.
Ternyata aku ingat ketika di dalam bioskop aku menitipkan ponselku kepada nine kemudian sama nine di masukan ke dalam tas kecilnya. Aku langsung memutar motorku dan kembali ke rumah nine, sesampainya di depan rumahnya aku bingung mau manggilnya gimana soalnya aku baru pertama kali ini berdiri di pintu rumah nine apalagi ini sudah malam nanti dikiranya aku apaan ke rumah perempuan malem-malem. “udah ambil aja entar di marahin sama ibu loh, lagian kalau ketinggalan kamu nanti gak bisa chat sama nine” kata-kata ini tiba-tiba muncul di kepalaku seolah menyuruhku untuk berani mengetok pintu rumah itu, aku yang awalnya maju mundur di depan pintu akhirnya memberanikan diri untuk selangkah lebih dekat dengan pintu.
Tanganku mulai mengetok pintu “tok..tok..tok.. permisi..” ucapku dua kali dengan suara yang agak lirih. Aku gak mendengar suara kehidupan di dalam rumah yang menjawab suaraku, aku langsung bergeser ke candela untuk mengintip suasanan di dalam rumah. “Kosong gak ada orang” ucapku, tiba-tiba muncul bayangan hitam dari pintu kamar aku sempat kaget dan tanganku otomatis mengetuk pintu lagi. Bayangan itu berhenti melihatku dari dalam rumah dan kemudian berjalan mendekati pintu.
 “iya siapa yah?” ucap bayangan itu yang ternyata dia adalah tantenya nine. Tanpa aku menjawab pertanyaan tante itu aku langsung bertanya juga.
“te ninenya ada?” ucapku dengan sedikit takut.
“oh ada” jawabnya singkat dan kembali masuk kedalam untuk memanggil nine, aku menunggu di depan pintu dengan berdiri. Aku sempat takut ketika tantenya nine teriak dengan keras “nine itu kamu dicari siapa malam-malam gini” suara itu seolah-olah dia lagi memarahi nine karena malam-malam gini ada laki-laki yang datang ke rumah. Nine kemudian keluar menemuiku dengan baju yang masih sama ketika kita keluar tadi.
“ada apa?” Tanya dia,
“ponselku ketinggalan di tas kamu” jawabku cepat
“oh iya kah? tunggu bentar” jawabnya singkat. Kemudian dia masuk untuk mengambilkan ponselku dan memberikanya padaku “kenak aku, tante marah” dia memberikan ponsel sambil bilang begitu.
“loh iya kah, maaf ya nine” ucapku seolah khawatir.
“iya gak papa udah kamu pulang ya” jawabnya dia dengan buru-buru masuk.
“iya aku pulang” jawabku.
Malam itu aku pulang dengan sangat gembira, karena sudah bisa mengajak nine keluar atau bisa dikatakan ini adalah kencan pertamaku dengan dia. Aku gak peduli nantinya dirumah aku dimarahi atau enggak sama ibu karena pulang sedikit lebih malam tapi setidaknya aku harus jujur kalau aku tadi habis nonton sama teman-temanku. Udara malang malam itu sangat hangat seolah-olah sengaja menemaniku di sepanjang jalan aku pulang, langit juga sangat cerah tanpa awan sehingga bulan dan bintang sangat jelas terlihat di tambah lagi ada seorang sepasang kekasih lagi duduk berdua menikmati kopi di pinggir jalan, mereka terlihat sangat bahagia tertawa satu sama lain. Hahaha…tapi aku gak mau kalah dengan mereka, hari ini aku jauh lebih bahagia dari mereka. Percayalah…










Terkadang hidup menggariskan misteri
Yang takakan pernah bisa aku pahami
Seperti aku yang tak pernah berhenti
Mencari celah menaklukan hati

Mereka bilang “cobalah kau sadari
Misteri ini harusnya disudahi”
Aku mencoba sederhanakan ini
Agar semua orang memahami

Sama seperti di film favoritmu
Semua cara akan kucoba
Walau peran yang aku mainkan
Bukan pemeran utama


-SO7-






 



End
Remember Of Today









Hari demi hari aku memikirkan perkataaan hewin untuk menembak nine secepat mungkin, jujur aku gak ada keberanian untuk nyatain cinta ke seseorang secara langsung, iya kalau masih smp gitu PDKTnya lewat sms kalau ketemu diem aja terus kalau nembaknya lewat sms juga soalnya takut di tolak secara mentah-mentah di depan mata. Masak iya sekarang sudah gede gini udah mahasiswa masih aja nembaknya lewat ponsel, kebanyakan perempuan pasti akan bilang “nembak kok lewat ponsel dasar gak gentel lu”. Tapi endingnya di terima, hadeh..
Setiap kali aku chat dengan nine, aku berusaha untuk memancing dia agar aku tau dia itu suka beneran atau nggak sama aku soalnya di pernah ngomong siapa cepat dia dapat lah disitu logikanya dia juga membuka hati ke boby juga kan, entah kenapa aku selalu kepikiran dengan “siapa cepat dia dapat” takutnya kalau aku sudah dapatkan nine tapi dia masih tetap membuka hati ke boby, gak salah dong aku bilang gini soalnya kan dia bisa di bilang mau sama dua orang yang berbeda.
Hal ini selalu aku renungkan, aku juga membicarakannya ke hewin tentang hal ini. Kadang ada perasaan mundur aja ky soalnya ini bisa di artikan dua orang teman yang bertengkar hanya karena merebutkan satu hati. Disisi lain juga ada optimis kalau aku bisa dapetin nine dan yang aku takutkan juga ketika aku sudah terjebak disituasi seperti ini dan semua teman-temanku sudah tau ketika aku sudah pacaran sama nine dan akhirnya gak bertahan lama, apa kata mereka semua? Pasti akan ngata-ngatain aku. Aku juga baru beberapa bulan kenal dengan nine pasti di antara kita belum saling mengenal lebih jauh, aku juga belum tau sifat nine itu seperti apa, dia baik untuku atau malah sebaliknya.
Malam itu nine akhirnya mulai mengcode-code aku di whatsapp untuk nembak dia, entah dia tau dari mana kalau aku punya rencana menembak dia.
“kamu sayang gak sama dia” ucap nine, dia disini itu adalah nine, entah kenapa nine mengganti kata “aku” dengan “dia” mungkin hanya karena dia malu kalau bilang “kamu sayang gak sama aku”.
“sayanglah tapi aku malu mau ngomong” jawabku.
“kalau kamu sayang, ngomong aja ke dia nanti keburu di ambil orang loh” ucap dia yang soalah menyindir aku.
“kalau ngomong aja mudah, masalahnya gak ada momen yang tepat” ucapku.
“kamu berani gak ngomong di depan teman-temannya dia?” Tanya nine.
“di depan teman-temannya? Hah serius kamu, maksudnya di kampus?”ucapku yang sedikit terkejut.
“ya terserah kamu” jawabnya cuek.
“haduh gimana ya? Itu perlu mental tinggi loh” ucapku.
“kalau gak berani ya berarti kamu gak gantel, siapa tau dengan kamu ngomong langsung ke dia, dia nerima kamu” jawabnya, lah dari kata-kata ini menurutku aku sudah mendapatan greenlight, kesempatan nine nerima aku jika aku tembak sekitar 80%.
“iya deh aku usahakan, tapi aku perlu waktu dulu. Soalnya nembak itu butuh nyali yang gede dan iman yang kuat, iya kalau di terima enak kalau di tolak kan malulah” ucapku.
“hahaha yaudah terserah kamu” ucap dia.
Malam itu aku langsung whatsapp hewin kalau aku akan nembak nine secepat mungkin dan hewin pun setuju. Aku mulai berfikir dimana aku mau nembak dia dan benda apa yang pas buat dia, setidaknya benda ini harus membantuku agar aku di terima sama nine.
Esok harinya aku sedang di kantin sama vilda dan bunga, vilda ini teman se-gengnya sama nine, aku cerita tentang nine ke dia dan aku punya niatan untuk nembak nine. “kamu kasik sesuatu yang berkesan” kata vilda. Aku gak tau sesuatu yang berkesan itu apa soalnya aku juga gak tau kesukaan nine itu apa, nanti aku kasik coklat dia gak suka, aku kasik bunga nanti katanya kayak orang mati. Aku mendiskusikan ini dengan vilda, juga tempat untuk nembak dia aku masih belum tau dimana. Ada satu rencana aku mau nembak dia di tempat yang bagus gitu tapi bagus juga gak gratis kan “gimana kalau di nelongso?” tanyaku ke vilda. Vilda mulai berfikir soalnya nelongso itu tempat makan jadi sangat kurang pas kalau di pikir-pikir lagi.
“terserah kamu” jawab vilda
“tapi kamu sama geng kamu ikut loh ya, aku traktir wes” ucapku.
 “males, isin aku kate lapo dek kunu” jawab vilda.
“nine iku ngomong lek aku suruh nembak di depan teman-temannya, lek gak onok kalian-kalian dia gak mau loh” ucapku sambil memohon.
“emange kapan?” jawab vilda.
“yak opo lek pas ulang tahunku, kan ulang tahunku tinggal beberapa hari lagi toh” ucapku.
“engkok ae tak takon arek-arek” jawab vilda.
Ternyata disini vilda dan gengnya sudah mengetahui kalau aku akan nembak nine, lebih parahnya kemarin malem yang ketika aku chat sama nine yang membalas itu bukan nine murni akan tetapi kata-kata dari gengnya yang kemudian di kirim ke aku, pantesan aku ngerasa obrolanku dengan nine sedikit berbeda tapi sialnya aku gak menyadarinya malam itu. Hal ini aku ketahui setelah beberapa bulan kemudian.
Aku sudah memutuskan kalau aku akan nembak nine pada hari kelahiranku, entah apa alasannya mungkin hanya aku pengen di hari ulang tahunku ada yang berkesan gitu atau setidaknya kalau memang di terima oleh nine, ini akan menjadi kado teristimewaku. Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku muncul konflik yang bisa di bilang ini sangat-sangat tidak terduga. Mantanku yang bisa dikatakan sudah lama putus tiba-tiba menghubungi aku dengan nada yang bisa di bilang marah
Sebut saja si itu, si itu ini ternyata tau kalau aku sudah deket dengan nine entah si itu tau dari mana, katanya si itu aku tega banget ninggalin dia demi orang lain. Aku pun mulai membalasnya, memang yang namanya sudah putus mau gimana lagi, terserah aku aku bebas gini gitu gak ada yang ngelarang kan akan tetapi katanya si itu ini masih sayang sama aku meskipun kita sudah putus.
“Nine…” ucap si itu melalui whatsapp.
“maksudnya?” jawabku yang kaget si itu ini tau nama nine dari mana.
“itu kan cewek kamu sekarang?” Tanya si itu.
“nggak, aku belom pacaran” jawabku.
“alah kamu bohong” ucapnya.
“aku aja baru mau nembak dia pas hari ulang tahunku” jawabku.
“kamu ninggalin aku hanya karena dia?” Tanya si itu.
“kan kita putus udah lama, sebelum aku kenal sama ini kan” jawabku.
“tapikan kita masih dekat” ucapnya.
“iya kita deket sebagai teman kan, akukan udah bilang dulu kalau putus jangan musuhan tapi harus jadi teman” jawabku.
“kan kamu yang anggap teman, aku nggak” ucap si itu.
“tapi kan kita sudah lama putus, jadi aku anggap kamu teman, aku gak mau setelah kita putus kita jadi musuhan makanya aku pengen kita ini temenan aja” jawabku.
Mungkin dari percakapanku ini aku terdengar egois banget karena hanya mementingkan perasaanku sendiri tanpa peduli sama orang lain. Aku memang pernah pacaran sama si itu ini kurang lebih satu tahunan, mungkin juga lebih aku lupa, si itu ini dua tahun lebih mudah dari aku jadi aku awal pacaran sama si itu waktu aku duduk di bangku SMA kelas 2. Aku waktu SMA bisa di bilang sedikit badboy meskipun di kelas aku pendiam, aku kenal dengan si itu ini lewat aplikasi BBM yang sempat buming pada masanya, kita kenalan, sering chat dan akhirnya pacaran.
Waktu demi waktu terlewati hingga akhirnya tiba dimana ketika si itu ini bilang kepadaku tentang sesuatu hal yang sangat membuat aku gak menyangka sebelumnya, aku kecewa ketika dia bilang hal itu ke aku di tambah lagi kehidupannya yang bisa di bilang mewah dan aku yang tak sanggup untuk mengimbanginya. Aku akhirnya mulai bosen dengan sikap si itu ini yang makin hari makin menekanku, orang tuaku mungkin sudah tau kalau aku pacaran sama si itu sampai-sampai orang tuaku bilang “kamu jangan sering-sering keluar sama cewek, apalagi orang @!~%_*& nanti kamu di tanyakan (di suruh cepat menikahi) kapok loh, wes mending jangan” dari sini aku bisa melihat kalau orangtuaku gak suka sama si itu ini di tambah lagi aku yang sudah mulai gak nyaman sama si itu ini jadi gak bisa di teruskan.
Akhirnya aku putus, pasti dari kata putus muncul air mata dari salah satu pihak. si itu marah kenapa aku mutusin dia bahkan si itu sampai mau ke rumahku buat nanyain kenapa putus. Jujur dari dulu gak ada perempuan yang berani kerumahku, mungkin karena ibuku yang galak atau aku yang selalu melarangnya. Dari situ aku menganggapnya dia sebagai teman dan kita pun masih chat meskipun gak sesering yang biasanya, hingga tiba di suatu hari dimana si itu ini mengajak aku keluar, awalnya aku menolak tapi dia bilang “katanya kita temen kok gak mau di ajak keluar” ucapnya, akhirnya pun aku mau. Kita jalan-jalan ke mall yang ada di malang dan tiba-tiba si itu ini memberiku bungkus kado yang agak besar dan aku di suruh membukanya.
“loh apa ini?” tanyaku.
“itu buat kamu” jawab dia.
“aku gak minta loh, kok di kasik” ucapku.
Aku di beri dia jaket, entah apa tujuannya akan tetapi aku gak berani nolak. Mungkin ini sifatku setiap orang yang memberi aku entah itu berguna atau tidaknya, bagus atau tidaknya buat aku tetap aku terima. Aku sempat bingung ketika si itu memberi aku jaket, bingungnya disini maksudnya nanti gimana aku ngomong ibu tiba-tiba pulang membawa jaket lagian jaket ini bukan jaket tipeku jadi bisa di bilang aku enggak suka.
Akhirnya aku mencari akal, aku whatsapp ibu kalau aku mau beli jaket di hewin soalnya hewin membutuhkan uang dan aku mengirimkan foto jaket itu, untungnya ibu bilang yaudah kalau niatnya membantu gak papa. Akhirnya jaket itu aku terima dari dia dan aku bawak pulang, aku ngerasa kalau jaket ini di belinya dengan uang tabungannya sendiri jadi aku sedikit gak enak kalau menolaknya, kasian di dianya juga yang udah berusaha sebisa mungkin dan endingnya aku tolak pemberiannya, aku sempat menemukan surat di dalam jaket itu yang di tulis tangan dua lembar kertas ukuran A5 full, karena penasaran aku pun membacanya. Isinya tak jauh dari ungkapan perasaan seorang perempuan. Dan semenjak itulah jaket pemberian dari si itu ini gak pernah aku pakai hingga sekarang, entah sama ibu di letakan dimana aku gak tau.
Setelah si itu marah-marah gak jelas ke aku, dia langsung memblokir whatsappku. Aku gak tau apa yang sebab’in si itu ini marah ke aku padahal aku sudah lama anggap dia tak lebih dari seorang teman. Ternyata beberapa hari kemudian si itu chat dengan boby, aku gak tau si itu dapat BBMnya boby dari mana dan itu gak penting. Si itu ini cerita semua ke boby yang katanya aku ninggalin dia demi nine, aku juga nggak tau disana ada imbuhan kata atau tidak tapi pada akhirnya boby pun bilang ke kepada nine tentang masalahku dengan mantanku ini.
Sial, kenapa juga udah sedeket ini kok masih saja ada masalah yang menghasut kayak gini, masak aku gak boleh jadian sama nine?. Boby bicara serius malam itu ke nine melalui whatsapp sampai-sampai pesanku sama nine gak di balas, malam itu aku ngerasa aku kacau, aku memang gak di restui buat deket sama nine. Besoknya pun nine menanyakan hal itu ke padaku dan aku menjawab sebisaku, juga sejujurku. Disini nine menunjukan berubahan seolah-olah tidak percaya sama aku.
Akhirnya aku mulai meyakinkan nine kalau aku dengan si itu sudah gak ada apa-apa lagi dan aku juga menceritakan masa lalu ku dengan si itu ini ke dia, Alhamdulillah dia mulai percaya ke aku. hingga akhirnya aku focus kembali untuk menembak nine dalam beberapa hari kedepan. Dua hari sebelum aku nembak si nine aku dan hewin keluar untuk mencari sesuatu.
 “ky awakmu sido ngekek i opo nang nine?” Tanya hewin.
“ngekek i bunga ambek boneka paleng” jawabku.
“tuku dek endi emange?” Tanya hewin.
“lek bunga tuku dek splindit, lek boneka tuku dek toko siswa atau matahari yak opo? Soale dek istana boneka larang cuy” ucapku.
“aku tak nukokno si anu pisan wes” jawab hewin.
“yo sip wes bareng-bareng ae lek ngunu golek e” ucapku.
Hari itu setelah selesai kuliah aku dan hewin langsung pergi ke tempat toko yang berjualan boneka, kita bergoncengan dengan motorku dan langsung ke lokasi pertama yaitu di Malang Plaza, disana memang terkenal dengan jual beli barang elektronik tapi di lantai dua ada boneka yang bagus dan lucu-lucu. Aku langsung memilih boneka beruang yang ukurannya gak terlalu besar akan tetapi aku tidak langsung membelinya dan juga hewin yang agak ribet mencari boneka yang berbentuk kucing.
Kemudian aku dan hewin berpindah lokasi yaitu ke toko siswa, disini juga terkenal dengan ATKnya akan tetapi juga ada boneka yang lucu-lucu. Lagi-lagi aku memilih boneka beruang yang ukurannya juga gak terlalu besar. Aku disini mulai bingung membandingkan boneka yang ada di malang plaza dan di toko siswa, pastinya untuk seorang nine aku gak mau memberinya yang biasa-biasa saja, jadi aku memilih yang ukuran gede, bahannya lembut dan enak di peluk plus kalau bisa yang murah.
Akhirnya aku kembali ke malang plaza untuk melihat boneka yang tadi aku pilih ternyata disini bonekanya agak kecil ketimbang di toko siswa harganya juga selisih sedikit dan bahannya yang ini lebih keras dari pada yang di toko siswa dan kita berdua kembali lagi ke toko siswa untuk melihat pilihanku yang tadi, jarak malang plaza dan siswa kurang lebih 400 meter jauhnya dan ternyata benar disini bonekanya lebih besar dan empuk jadi untuk seukuran pelukan nine sangat nyaman, deal aku pun membelinya dan hewin juga sudah menemukan pilihannya.
Aku dan hewin berjalan di antara orang banyak sambil membawak boneka, mungkin terlihat aneh ketika dua orang laki-laki berjalan berdampingan dan kedua-duanya membawa boneka sendiri-sendiri. Tapi beginilah perjuangan seorang laki-laki demi perempuan yang di cintai, aku pun langsung kembali ke kampus akan tetapi disini aku bingung mau di letakan dimana bonekaku ini, di bawak pulang juga gak mungkin jadi aku langsung menghubungi vilda untuk menitipkan bonekaku.
Berhubung hari itu hari jumat, aku dan hewin sempat mampir dulu ke masjid yang ada di gang 4, lagi dan lagi kita berdua kelihatan aneh kita membawa boneka ke masjid. Malu pasti ada tapi rasa malu itu kalah sama rasa senang kita. Aku pun langsung sholat jumat berjamaah. Setelah sholat aku langsung menuju ke kosnya vilda untuk menitipkan bonekaku dan menitipkan pesan kepada vilda agar tidak memberi tau nine akan hal ini.
Minggu 7 mei 2017, aku sudah memutuskan hari ini untuk mengajak nine keluar dan menembak dia. Awalnya nine gak mau di ajak keluar dengan alasan yang banyak tapi tetap saja akhirnya dia mau. aku berangkat dari rumah pukul dua siang karena aku harus mampir ke kosnya vilda dulu untuk mengambil boneka. Di tengah perjalanan aku mendapat pesan dari nine kalau di rumahnya lagi hujan, memang cuaca hari itu sedikit mendung tapi aku bilang kalau aku sudah di jalan, ketika aku sampai di kosnya vilda ternyata vilda mau keluar sama teman-teman kosnya dan dia juga sudah membawak bonekaku .
“nine gak sido metu ngunu” ucap vilda tiba-tiba.
“kata siapa, aku wes whatsapp dia kok” jawabku.
Aku sedikit panik karena gak sesuai rencana, padahal hari itu aku mau mengajak nine dan gengnya untuk makan bersama akan tetapi vilda sudah keluar sama teman-temannya dulu di tambah lagi dua perempuan lain yang gak ada kabar entah kemana. Aku mulai meninggalkan kosnya vilda dan berhenti di indomart tepat di samping kampusku. Aku mencoba menghubungi nine dan katanya disana hujan deras.
“kenapa juga harus ada hujan di hari yang penting kayak gini, seolah-olah rintanganku banyak banget deh, apa aku pulang aja terus boneka ini aku gimanain? Apa aku nekat ke rumah nine terus aku kasikan bonekanya terus aku pulang gitu ya?” aku mulai duduk di teras indomart itu sambil memandang langit yang mulai menjatuhkan air dari tuhannya. Aku berdoa setidaknya redahlah hujan ini untuk beberapa jam saja biar aku bisa keluar sama nine.
Hujan pun mulai redah meskipun sedikit gerimis, nine pun akhirnya menyuruhku untuk kerumahnya, tanpa pikir panjang aku langsung bergegas kesana. Boneka yang aku masukan di tas rangselku memberontak seolah-olah ingin keluar mungkin karena bonekanya yang ke gedean atau tasnya yang kekecilan. Sesampainya di rumah nine aku langsung berangkat menuju tempat makan favoritku yaitu Nelongso yang berada di sukun. Nine sempat bertanya ke aku.
“kamu bawak apa ki?” Tanya dia penasaran dengan tasku.
“oh ini laptopnya temanku mau aku service ke dieng plaza, nanti anterin aku mau ya?” tanyaku balik untuk memotong rasa penasarannya.
“oh iya nanti aku anter” jawabnya singkat.
Di nelongso aku menunggu teman-teman nine atau lebih tepatnya gengnya nine, aku mulai menghubungi vilda untuk datang ke nelongso akan tetapi dia menolak karena habis dari sana tadi sama teman-temannya. Aku juga menghubungi kedua teman nine tapi hasilnya nihil mereka gak bisa datang dengan alasan hujan dan gak ada teman juga kendaraan.
Aku dan nine duduk berdua di nelongso sekitar dua jam hanya untuk menunggu teman-temannya tanpa memesan apapun. Aku gak mau ini sia-sia, aku mulai membuka topik.
“enaknya kemana ini?” tanyaku.
“terserah kamu” jawabnya.
“ke mie setan mau gak?” tanyaku lagi.
 “terserah kamu, aku ngikut aja” jawabnya.
“yaudah kesana ya?” tanyaku untuk memastikan.
“iya” jawabnya singkat.
Kenapa aku memilih mengajak kesana, soalnya suasananya disana lebih enak untuk berdua ketimbang di nelongso jadi untuk mengobrol lama-lama’an itu lebih pas. Akhirnya kita pun meluncur kesana akan tetapi melalui jalan yang memutar soalnya kamu tau sendiri kan gimana kalau sama orang kita suka. Aku memilih lokasi mie setan yang ada di jalan Bromo atau di dekatnya Mall Olympic Garden (MOG).
Karena aku baru pertama kalinya ke tempat ini jadi masih bingung untuk memesannya. Aku dan nine memesan dua mie pedas yang di beri nama hantu-hantu hits di Indonesia dan minumannya juga. Aku memilih tempat duduk yang berada di pojok dengan meja kecil, suasananya sedikit ramai jadi hanya tinggal ini yang tersisa untuk kita duduk. Memang tidak nyaman solanya tempatnya yang sangat sempit banget.
Agak lama kemudian ada meja yang sedikit besar kurang lebih dua meter kosong dan aku mengajak nine untuk pindah kesana dan dia pun mau.
“disini kan lebih enak toh dari pada yang disana” ucapku.
“iyalah ini lebih gede” jawab nine.
Aku mulai mengajak nine untuk mengobrol serambi menunggu pesanan kita yang tak kunjung datang, mungin baru 20 menit baru sampai dan kita pun memakannya. Nine bilang kalau dia suka pedas jadi aku mengajaknya untuk makan pedas, disela-sela makan aku mulai memancing topik untuk nembak nine.
“kamu tau gak..?” tanyaku berhenti.
“apanya?” jawabnya.
“di ruangan ini ada orang yang aku suka loh” ucapku sedikit lirih.
“hem? Mana ?” Tanya nine sambil melihat sekeliling.
“jangan gerak nanti dia ngelihat aku, aku malu lah” ucapku.
“mana se? pakai baju apa” Tanya dia.
“dari tempat duduku dia kelihatan jelasloh” ucapku.
“mana se kamu mesti gitu” jawabnya dengan nada yang sedikit ngambek.
“dia ada disini loh” ucapku.
“………” dia menatap mataku dengan mulut yang masih mengunyah mie penas.
“iya dia disini, mungkin dia tau aku tapi kayaknya dia pura-pura enggak tau” ucapku.
“aku kah?” Tanya dia sambil nunduk.
“menurutkamu?” tanyaku balik.
“enggak tau..” jawabnya.
 “iya kamu nine, mau siapa lagi? Orang disini aku gak kenal semua kecuali kamu” ucapku dengan seluruh perasaan.
“kenapa aku?” Tanya dia dengan polosnya.
Aku pun mulai menjelaskan kenapa aku suka sama dia tapi dengan konteks yang singkat dan umum, akhirnya niatku pun aku ucapkan.
“nine kamu mau gak….” Ucapku putus di tengah jalan karena ada orang lain datang.
“mas.. mbak.. ini tempat duduk kosong?” Tanya dengan polos.
“oh iya kosong” jawabku reflek.
Sepasang kekasih tiba-tiba datang dia mereka berdua itu pun duduk di sebelaku dan nine, memang sih tempat duduk kami luas jadi bisa di buat berempat, tapi kenapa juga datang pas di momen-momen yang kayak gini, ini sama dengan pengacau. Nine pun ketawa, karena melihat nine tertawa aku pun ikutan tertawa sambil menghela nafas dalam-dalam.
“lagi-lagi gak sesuai rencana” ucapku.
“hahaha… udah nanti aja” jawab nine sambil ketawa melihatku.
Akhirnya kita pun melanjutkan makan mie pedas itu hingga waktu sudah menujukan pukul 18.30 dan nine mendapat pesan dari tantenya kalau dia gak boleh pulang malam-malam. Kita pun menyudai makan di tempat itu.
 “mas permisi bisa lewat” ucapku kepada si pendatang membawa bencana itu, sedikit kesal nadaku ke orang ini soalnya mengacaukan momenku.
“oh iya mas silakan” jawabnya dan aku lansung pergi melewatinya kemudian menuju tempat dimana motorku di parkir. Aku masih membawa tasku yang berisi boneka entah endingnya gimana boneka ini harus diberikan ke nine. Sepanjang perjalanan ke rumah nine aku mengobrol dengan nine agar tidak garing.
Rumah nine tinggal beberapa kilometer lagi dan aku harus bergegas menyatakan perasaanku ke nine atau boneka ini bakal sia-sia. Jalan rampal cukup sepi malam itu entah kenapa disana selalu sepi. Aku mulai mengumpulkan niatku untuk nembak nine aku juga harus siap mental tapi disini aku sudah yakin aku pasti di terima nine jadi ke khawatiranku sedikit berkurang. Tak terasa gang rumah nine sudah kelihatan aku pun memelankan motorku agar ada waktu untuk mengungkapkan.
“nine aku boleh ngomong sesuatu?” tanyaku.
“boleh” jawabnya.
“hmmm anu… aku itu suka sama kamu” ucapku.
“terus ?” Tanya nine.
“kamu mau gak jadi pacarku?” Tanyaku
“……” hening, tik tok tik tok tubuhku tegang..
“tapi barusan aku ngomong gak main-main, aku serius” ucapku lagi.
 “ehmmm iya” jawabnya.
“hah apa ?” tanyaku lagi untuk memastikan.
“iya” jawabnya.
“iya apa?” tanyaku.
“iya aku mau jadi pacar kamu” ucapnya.
“……” hening kedua kalinya tapi dengan tubuhku yang sudah mulai lemas.
“yess beneran?” tanyaku.
“iya” jawabnya sambil ketawa.
Malam itu tepat di gang masuk rumahnya aku nembak dia dengan langsung di atas motor maticku, meskipun gak saling tatap mata. Padahal rencana sebelumnya aku akan nembak nine di mie setan dan ngasik bonekanya disana juga tapi sayang gagal karena ada orang yan tiba-tiba datang dan duduk di mejaku. Sesampainya di rumah nine aku menatap dia sebentar.
“kenapa lihat aku?” Tanya nine.
“enggak papa kok, seneng aja” jawabku.
“hmmmm aneh” jawabnya.
“oh iya ini aku punyak sesuatu buat kamu nine” ucapku sambil membuka isi tasku dan mengeluarkan boneka.
“loh kok aku di kasik ini?” Tanya dia.
“udah kamu bawak masuk, itu buat kamu” jawabku.
 “katanya mau service laptop?” Tanya nine.
“hehe bohong sedikit gak papakan? Jawabku.
Nine pun bingung mau membawaknya masuk gimana, nine juga malu kalau nanti ketemu tante ketika dia membawa boneka, nine melihat jendela kamarnya yang gak terkunci dan akhirnya dia memasukan boneka itu lewat jendelanya.
“yaudah aku pulang ya” ucapku.
“iya kamu pulang” jawabnya.
Aku langsung meninggalkan nine dan rumah tantenya, aku gak tau perasaanku saat itu seperti apa yang pasti lebih senang. Nine telah menjadi kado istimewaku di umurku yang menginjak 20 tahun dan aku gak akan ngelupain kadoku di tahun ini. Sepanjang perjalanan aku hanya senyum sendiri gak tau mau gimana caranya mengekspresikan kegembiraanku saat ini. 07-05-2017 aku menyudahi masa singleku dan aku mempercayakan hatiku kepada perempuan yang sangat aku sayangi yaitu nine…














Rasanya ingin ku putar kembali
Hari itu disaat kita bertemu
Kau tersenyum tersipu, saling memandang dan malu
Akhirnya beranikan diriku untuk
Mendekatimu untuk mendapatkan hatimu
Dengan penuh percaya diri ku nyatakan cinta ini

Di tengah keramaian ku tunggu
Tanganku mulai berpeluk
Bibirmu mulai bergerak
Dan akhirnya kau pun mau

Ku berjanji kau kan bahagia
Merangkai indah kehidupan
Walaupun hanya sebentar kau
Memandangku tanpa alasan
Andai saja kau tlah mengerti
Kesungguhan yang kan kuberi
Kan kujaga kau seutuhnya
Dan ku cinta sampai hidupmu berakhir


-Remember Of Today-


Setelah aku jadian dengan nine, aku lebih sering berdua dengan nine entah itu pulang atau main-main. Aku juga gak melarang nine untuk pergi bersama gengnya. Salah satu temanku bilang kepadaku kalau nine habis nangis tadi di kelas, karena aku penasaran aku pun bergegas menemui nine.
“kamu kenapa?” tanyaku.
“nggak papa” jawabnya.
“bilang ke aku kenapa, ada apa?” tanyaku.
“……” dia diam.
“kamu habis nangis ya?” tanyaku lagi.
Aku mendapat info dari temanku tadi kalau ada orang yang bilang ke nine “jangan dekat-dekat Rizky, dia sudah punya pacar kalau kamu gak percaya lihat di facebooknya”. Mungkin nine kaget mendengar berita ini dan nine pun di beritau foto-fotoku di facebook ketika dengan mantanku yang kemudian membuat dia nangis. Memang di facebookku itu banyak foto dengan mantanku dulu akan tetapi itu dulu, lagian aku sekarang sudah gak pakai facebook, email dan paswordnya juga lupa.
Aku kesal sama orang itu, orang yang bilang kata-kata yang nggak penting itu. Maksutnya apa cobak, apa dia gak suka kalau aku pacaran sama nine. Akan tetapi aku gak mau membuat masalah lagi toh dia juga spesies sebelah nanti aku dikira apaan marah-marah ke dia. Sore itu aku menjelaskan semuanya ke nine tentang foto-fotoku di facebook, nine yang memakai baju abu-abu dan kerudung maroon hanya diam dan menunduk seolah kecewa sama aku. Aku gak mungkin menghianati orang yang aku sayang apalagi nine sudah aku perjuangin meskipun aku harus di caci maki sama teman-temanku.
Akhirnya nine pun memilih untuk menyudahi masalah ini dan dia percaya sama aku kalau aku gak bakal aneh-aneh. Seminggu berlalu setelah hari ulang tahunku, aku belum mendapatkan ucapan ulang tahun dari nine, mungkin dia lupa atau semacamnya tapi aku gak peduli karena nine sudah memberikanku hadiah special. Hari ini hari minggu, hari buat aku untuk bermalas-malasan di atas Kasur, aku mulai chat nine “selamat pagi sayang” dan seperti biasa ketika hari minggu datang, nine selalu sibuk dengan pekerjaan rumah. Seperti mencuci piring, memasak dan menyapu rumahnya.
Kadang dia baru selesai pukul 11 pagi dan dilanjutkan mandi hingga pukul 1 siang. Aku mulai mengetahui kegiatan nine jadi aku gak perlu memikirkan hal-hal aneh ketika dia gak balas chatku. Siang itu dia mau membuat kue di rumah gengnya yang ada di pakisaji. Rumah temennya ini tak jauh dari rumahku kurang lebih 1km, aku ngerasa nine hari itu bakal sibuk banget dan gak bakal bisa chatingan. Soalnya nine hanya bisa chat ketika dia ada wifi, jadi kalau dia keluar rumah otomatis ponselnya akan mati alias gak bisa di hubungi via whatsapp.
Aku sedikit kecewa tapi ya mau gimana lagi, toh aku gak boleh mengekang dia. Dia pun akhirnya keluar, karena dia keluar aku pun langsung meletakan ponselku dan tidur-tiduran sambil mendengarkan lagu. Beberapa jam kemudian ada pesan masuk dari whatsapp, aku melihatnya ternyata ini pesan dari temannya nine yang rumahnya di pakisaji.
“rumah kamu di mana? nine..” tanyanya.
“di pakisaji kenapa?” tanyaku balik.
“iya maksudku pakisaji mana?” tanyanya.
“di jalan Golek, Desa Karangduren” jawabku.
“diamana itu?” tanyanya.
Aku penasaran kenapa nine menanyakan rumahku, apa dia mau kesini atau hanya pengen sekedar tau. Aku menjelaskan lokasi rumahku, aku juga membuka google maps untuk memudahkan nine tau rumahku.
“aku mau ke rumahmu” ucap nine.
“loh sekarang, ngapain?” tanyaku.
“pengen tau aja, gak boleh ya, yaudah aku tak pulang” ucap nine.
Disini aku sempat kaget ketika nine bilang seperti itu ke aku. Jujur dari dulu belum ada perempuan yang datang kerumahku jadi aku bingung harus bilang apa ke ayah sama ibuku ketika nine dan dua temannya tiba-tiba datang kesini tanpa ada rencana. Akhirnya aku mendatangi ibu dan bilang kalau teman-teman perempuanku mau mampir ke rumah soalnya habis dari rumah temenku yang satunya di pakisaji. Alhamdulillah ibu pun gak menanyakan hal-hal aneh dan ibu bilang suruh aja kesini.
Aku langsung duduk di ruang tamu dan melihat jalan raya tepat di depan rumahku untuk memastikan mereka benar-benar datang. Tiba-tiba nine mengirimkan foto kalau dia sedang berada di musolah.
“ini aku sudah di musolah, rumahmu mana?” Tanya dia.
“bukan musolah itu, kamu salah” jawabku.
Memang benar rumahku di depan musolah akan tetapi mereka berhenti di musolah yang salah dan akhirnya aku menunjukan jalan untuk terus ke arah utara. Beberapa menit kemudian nine mengirimkan foto lagi, sekarang foto di pos sebelah rumahku. Aku langsung menuju pagar rumah dan melihat kearah pos, ternyata disana ada tiga perempuan dengan dua motor yang tak lain adalah nine dan gengnya.
Mereka tau aku keluar dari rumah, aku juga langsung menghampiri mereka, aku menanyakan beberapa hal kenapa nine kok bisa sampai sini. Teman-temannya pun menjelaskan kalau nine pengen main ke rumahnya jadi nine datang ke pakisaji. Aku pun menyuruh mereka semua untuk ke rumahku. Nine dan teman-temannya malu-malu kucing ketika masuk kerumah tapi tetap saja endingnya mereka masuk dan duduk. Karena aku yang belum mandi, aku pun meninggalkan mereka di ruang tamu.
Setelah aku selesai mandi, nine langsung manyanyakan hal yang gak terduga ke aku, aku pun sempat bingung dengan hal ini.
“aku tadi telvon kamu kok yang angkat cewek?” Tanya nine.
 “cewek? Kapan kamu telvon?” tanyaku.
“tadi sebelum kesini” jawabnya.
“nggak ada telvon dari kamu loh, serius” ucapku.
“Tanya temen-temen tadi yang jawab lak cewek kan ya” ucap nine ke teman-temannya dan mereka semua mengangguk. Karena aku penasaran, aku pun mencoba telvon nomerku sendiri dan benar disini yang jawab ternyata cewek. Aku pun ingat ternyata nomorku yang itu sudah lama hangus jadi aku sudah tak memakainya, akhirnya aku memberikan nomor baru pada nine.
Nine kemudian duduk di sampingku dan mengambil kotak besar yang di tutupi dengan jaket, aku penasaran apa yang nine ambil dari sampingku tadi soalnya aku sama sekali tidak tau kalau dari tadi ada kotak besar di sampingku. Mungkin aku gak focus karena ada nine, ya memang mungkin aku fokusnya ke nine aja, nggak ke yang lain. Nine memberiku kotak itu dan aku disuruh untuk membukanya.
“waw kue coklat” ucapku.
Nine memberiku kue coklat yang berbentuk bulat-bulat, katanya ini kadonya nine buat aku dan dia meminta maaf karena kadonya telat. Memang sih dia memberiku kue pada tanggal 12 jadi kelewat lima hari, dia menyuruhku untuk memakannya, aku gak tau ini kue buatan sendiri atau beli tapi nine bilang kalau ini buatan sendiri.
“kamu cobak dulu” ucap nine.
 “nanti aja” jawabku.
“sekarang lah” ucap nine sama teman-temannya.
“oke aku cobak, ayok kalian coba juga” jawabku.
“aku udah tadi sama temen-temen” jawab nine.
Aku pun mulai mengambil satu bulatan kue yang berwana hitam dan di ujungnya ada warna putihnya. Aku mencicipi sedikit “ehmm rasanya kok gini ya?” ucapku dalam hati sambil mengunyah kue itu.
“gimana enak nggak?” Tanya nine sambil ketawa.
“enak kok” jawabku.
“rasanya gimana?” Tanya nine lagi sambil ketawa penasaran.
“rasanya coklat kan kayak brownis, tapi agak aneh sih” jawabku.
Aku curiga nine ketawa saat menanyakan rasa kue itu dan kenapa kedua temannya juga ketawa ketika aku bilang enak, ah sial mungkin ada yang enggak beres ini. Menurutku rasanya emang aneh, kalau aku boleh jujur tapi maaf sebelumnya rasanya itu kayak asam, kecut dan pahit yang bermetamorfosis menjadi rasa yang baru jadi ketiga rasa itu menjadi suatu kesatuan yang utuh, ya begitulah rasaya super double aneh, aku hanya menghabiskan satu kue saja itu aja enggak habis. Rasa memang gak bisa di bohongi meskipun itu buatan pacar sendiri kadang ada pepatah juga yang ngomong “tai bisa jadi coklat” ketika pacaran.
Tapi aku menghargai pemberian nine ini, meskipun aku tak sanggup untuk menghabiskannya. Tapi om ku yang tau kalau aku di beri kue sama nine pun iku mencicipinya dan hal gak terduga pun terjadi, om ku menghabiskan kuenya nine dan dia bilang “habis ta kuenya, enak loh padahal kapan-kapan kamu minta lagi ky”. Aku ngerasa ini mulutku yang salah atau mulut om ku yang salah, setidaknya aku menunggu nine untuk membuatkanku kue-kue yang lain.
Hari itu pun ibuku tau kalau aku dekat dengan nine, aku sering cerita ke ibu tentang nine aku juga sering menunjukan fotonya nine yang sedang menggunakan kerudung kuning ke ibuku, entah kenapa nine sangat identing dengan kerudung kuning. Bahkan ketika nine datang ke rumah ibuku sempat bilang “oh itu ta yang namanya nine, cantik…” ucapan ibuku ini membuat aku salah tingkah. Nine adalah satu-satunya perempuan yang berani ke rumahku, apalagi ini dia datang dengan tiba-tiba, padahal sebelumnya gak ada perempuan yang berani datang ke rumah atau bisa di bilang aku selalu gak berani mengajak perempuan ke rumahku. Semenjak itu aku dan nine semakin dekat, sayangku ke dia juga makin besar. Aku sering nonton dengan nine juga pergi berdua dengan nine.
Teman-temanku yang lain atau bisa dikatakan spesiesku yang lain juga sudah mulai bisa menerima keadaan ini, mereka sudah sedikit jarang menyindirku atau menyinggungku ketika berkumpul. Aku juga selalu mengantarkan nine pulang ketika selesai dari kampus, kadang juga nine minta untuk jalan-jalan ketika selesai dari kampus. Rute jalan-jalnnya sedikit gila, mungkin kalau dipikir-pikir lagi aku dan nine kayak orang yang gak ada kerjaan, rute jalan-jalanku dari kampus menuju ke arjosari-sawojajar-kedungkandang-bumiayu-bululawang-gondanglegi-kepanjen-jalibar-pakisaji-sukun dan di akhiri di sawojajar untuk nine pulang ke rumahnya.
Memang kadang kita juga membutuhkan waktu untuk berdua dengan pasangan kita, bukan hanya sekedar menikmati tapi lebih tepatnya untuk saling memahami satu sama lain karena dengan berdua kita akan banyak mengobrol atau bebincang-bincang tentang hal-hal yang sebelum tak kita ketahui. Ketika aku berdua dengan nine, aku sangat ingin mendengar cerita masa lalunya nine karena dengan mendengar cerita masa lalunya aku akan lebih bisa memahami nine, akan tetapi itu perlu proses yang lama karena setiap individu itu berbeda ada yang cepat juga ada yang lambat dan disitulah kita harus menikmatinya.
 


Puasa Ramadhan sebentar lagi akan datang, dimana kita harus menyambut dengan bahagia. Nine menyambutnya dengan sangat bahagia tapi tidak dengan aku, karena di bulan puasa ini kampus akan libur panjang dan nine akan pulang ke tempatnya di lahirkan. Nine bilang ke aku kalau nine pulang dia gak akan bisa menghubungi aku disini karena sinyal yang gak ada, meskipun ada itu hanya sinyalnya telkomsel. Aku sempat sedih, karena seumur hidup aku belum pernah menjalai LDR, “ki LDR itu sulit, kamu gak akan bisa” ucap nine. Disini gak ada yang sulit, itu tergantung dari kitanya.
Sehari sebelum puasa aku mengajak nine untuk pegi ke coban rondo yang ada di kota wisata batu, aku memilih tempat itu karena nine menyukai tempat yang banyak tumbuhan hijau. Disana aku dan nine menikmati air terjun yang deras dan air sungai yang dingin di tambah lagi dengan banyaknya monyet-monyet liar yang berkeliaran. Memang disana monyet ini liar akan tetapi sudah sangat akrab dengan para pengunjung tak sesekali monyet itu mencuri makanan dari para pengunjung. Nine pun ingin berinteraksi dengan salah satu monyet remaja disana, nine memberikan permen kepada monyet itu entah apa yang dipikirkan nine, nine sangat senang ketika bisa memberi monyet itu makanan.
Tak mau kalah dari nine aku pun bergegas mendekati monyet yang agak dewasa, mungkin jabatan monyet ini di sana sebagai kepala desa, dengan tubuh yang kekar dan sixpack juga agak gede ketimbang yang lain, aku mendekat dan mengeluarkan permen dari dalam sakuku. Belum juga aku buka permen itu kepala desa ini langsung berusaha mengambil permenku, niatku padahal bagus aku hanya ingin membukanya kemudian aku berikan ke monyet itu. Tak disangka aku pun mendapat tendangan dari monyet itu tepat di paha kiriku, “oh gila” ucapku, ini aku yang gila atau monyetnya yang gila, kenapa juga aku ngatain monyet. Mungkin monyet itu marah dan dia nunjukin taringnya yang tajam sambil bilang “@#_**%$” Bahasa yang gak aku mengerti. Akhirnya permennya pun aku berikan tanpa aku buka bungkusnya dan aku gak menduga ternyata monyet itu bisa membuka bungkus permennya sendiri. Keren aku baru pertama lihat kayak ginian dan nine pun tertawa terbahak-bahak karena melihat aku di tendang sama seekor monyet yang sixpack.
“hahaha dimana harga dirimu” ucap nine yang seolah-olah ngatain aku yang habis di tendang sama monyet yang menjabat sebagai kepala desa itu.
Suasana pun mulai sore dan aku menyudahi main-mainku di coban rondo, coban yang memiliki cerita mistis di telinga orang malang. Konon katanya sepasang kekasih kalau kesini pasti akan putus dan gak akan pernah balikan lagi, akan tetapi jika setelah putus mereka bisa balikan lagi maka hubungannya akan langgeng hingga ke jenjang pernikahan bahkan seterusnya. Banyak teman-temanku yang percaya sama hal ini akan tetapi aku menganggapnya netral alias percaya gak percaya, tapi anehnya ketika aku dan nine pergi ke tempat ini aku lupa tentang cerita mistis yang ada di coban rondo ini. Katanya sih memang begitu orang akan lupa dengan cerita ini ketika datang kesini dengan pasangannya. Hmm aneh..
Hari puasa pun mulai datang, artinya tinggal satu minggu lagi untuk nine pulang dan aku menjalani LDR. Sama seperti biasanya aku dan nine gak ada yang berubah, pulang dari kampus aku mengantar dia terlebih dahulu dan malamnya aku chat atau telvonan dengan dia. Beberapa hari kemudian aku mengajak nine untuk buka bersama di tempat makan fovoritku, akan tetapi ternyata nine lagi pms jadi dia gak puasa. Sore itu setelah dari kampus aku langsung menuju tempat makan karena takut kalau terlalu sore atau menjelang buka puasa tempat akan sangat rame dan aku gak kebagian temapat.
Aku sampai disana jam 4 sore, ya setidaknya aku menahan lapar 2 jam lagi dengan aroma ayam goreng yang lalu lalang di lubang hidungku. Seperti biasa aku berbincang-bincang dengan nine, bercanda dan menfoto nine untuk mengabadikannya. Tak lupa aku juga menghubungi ibu kalau aku akan makan disini. Ketika waktu berbuka tiba aku dan nine langsung menyerbu makanan yang sudah aku pesan. Aneh emang, perempuan itu kalau makan di depan umum atau kalau enggak sama pacar barunya kenapa harus malu-malu cobak?, apa dia selalu menjaga penampilannya agar tetap kelihatan anggun, cantic dan sejenisnya.
Aku sempat penasaran, nine kok makannya dikit banget kenapa, apa dia gak suka tempatnya atau emang makannya dikit atau juga dia gengsi ke aku. Tapi jawabannya menurutku adalah gengsi soalnya setelah berbulan-bulan kemudian aku melihat dia makannya blak-blakan, satu porsi habis bersih hahaha.. tapi ini aku baru tau beberapa bulan kemudian.
Setelah makan kita langsung pulang, aku mengantar nine ke rumah tantenya dan aku perpamit untuk pulang kerumahku sendiri. Hal serupa juga aku lakukan sehari sebelum nine pulang ke kampong halamannya. Hari itu aku mengajak nine untuk jalan-jalan karena ini bisa dikatakan jalan-jalan yang terakhir sebelum nine pulang. Aku membelikannya bunga mawar berwarna merah dan merah muda karena warna ini adalah warna yang dia suka.
Sebelum aku berbuka puasa, nine meminta untuk jalan-jalan dulu sekalian mencari takjil gratisan di pinggir jalan. Aku dan nine berjalan-jalan ke rah kedungkandang-bumiayu-bululawang-kendalpayak-kepanjen-jalibar-pakisaji-sukun-alun alun malang -sawojajar-jalan ijen dan berhenti di soekarnohatta untuk mencari makanan karena waktu sudah menunjukan untuk berbuka puasa.
Aku mencari tempat makan favoritku yang ada di soekarnohatta dan alhasil disana antri panjang, aku dan nine ikut antri yang akhirnya mendapatkan kursi kosong untuk makan. Kita pun memakan makanan itu dengan lahap tak lupa kita juga membahas tentang kepulangan nine.
“oh iya aku lupa…?” ucapku.
“lupa apa?” Tanya nine.
“aku punyak sesuatu buat kamu” ucapku.
“apa emang?” Tanya nine.
“aku tadi belikan kamu bunga” ucapku.
“terus kenapa?” Tanya nine.
“tadi itu aku mau ngasikan ke kamu, tapi aku lupa” ucapku.
“terus sekarang dimana bunganya?” Tanya nine.
“di jok motor…” ucapku sambil berfikir.
“sial bunganya mati entar kenak panas, kita kan habis muter-muter dan itu jauh loh” ucapku panik.
“oh iya ya yaudah habis ini kita ambil” jawab nine.
“iya” ucapku.
Aku memang lupa, padahal niatnya tadi aku berikan dia di tempat yang bisa di bilang pemandangannya keren juga dapat melihat senja, akan tetapi karena aku dan nine mengobrol terus sepanjang perjalanan aku jadinya lupa tentang bunga mawar ini. Setelah selesai makan aku dan nine langsung ke arah motor untuk melihat apakah bunganya masih hidup.
“ini bunganya masih bagus, gak mati” ucap nine.
“ya kalau mati kamu kasik nafas buatan lah” jawabku.
“hahaha…” nine pun ketawa.
Bunga ini buat kamu, kamu suka kan sama bunga ini, ini aku memilih warna ini karena kamu suka warna ini kan. Sebelumnya aku gak pernah belii’n bunga di setiap kali aku jalan sama perempuan, dan hanya kamu perempuan yang sering aku kasik bunga. Kamu juga gak akan tau gimana jadi aku yang baru pertama kali pergi ke toko bunga untuk membeli bunga buat kamu, aku mencarikan bunga mawar tapi penjualnya malah ngasik aku bunga mawar yang sudah ada potnya. Masak iya aku ngasik kamu bunga mawar yang udah ada potnya, lagian gimana cara bawaknya coba.
Malam itu aku pulang dengan nine, malam ini akan menjadi lama perpisahanku dengan nine. Aku bahagia juga sedih entah perasaanku campur aduk, karena LDR ini dengan waktu yang bisa di bilang panjang. Nine memeluku untuk pertama kalinya dan aku sangat nyaman sekali waktu itu, jalan ke arah rumah nine mulai sepi karena sudah menunjukan pukul 20.30. sesampainya di rumah nine, nine pun masuk ke dalam rumah dan aku langsung pergi untuk pulang
Ya malam ini malam terakhirku melihat nine, malam terakhirku bertemu nine. Aku gak mau kehilangan dia, karena dia yang sudah merubahku seperti ini seperti yang aku inginkan sebelumnya. Nine memang pernah bilang LDR itu sulit, nine berani bilang seperti itu karena nine pernah juga menjalin hubungan LDR dan dia gagal, bukan hanya sekai akan tetapi berkali-kali. Aku gak mau hubungan nine dengan ku saat ini gagal hanya karena jarak, aku berusaha mematahkan prinsip nine itu kalau LDR gak sesulit yang dia bayangkan. Aku akan banyak cara untuk selalu menjaga hubunganku dengan nine atau aku akan berusaha memberi kabar kepada nine meskipun saat ini aku gak tau gimana caranya.
Berawal dari tatapan kemudian menjadi suka dan banyak konflik yang aku hadapi bahkan hingga rasa untuk menyerah itu ada akan tetapi pepatah mengatakan “jika kau melihat jurang terlalu lama, maka jurang itu akan melihatmu juga” aku gak mau menyerah untuk dapetin nine, karena jika aku menyerah aku gak akan punya cerita sepanjang ini. Memang mendapatkan hati nine itu gak semudah mendapatkan hati perempuan lain atau bahkan gak semudah menghabiskan satu porsi ayam nelongso di tambah cah kangkung. Perlu ada cacian yang harus aku dengar dari teman-temanku, perlu pengasingan diri ketika semua orang menjauhiku, ingin marah tapi percuma, sabar menahan omongan pedas dari teman-teman sendiri itu sangat menyakitkan. Tapi aku gak menyerah dengan semudah itu karena usaha tidak akan pernah menghianati hasil.


Ini adalah diaryku atau ceritaku tentang mendapatkan hati seorang perempuan. perempuan yang sempat buat aku penasaran, perempuan yang awalnya bukan siapa-siapa, yang awalnya hanya bisa melihat dari kejauhan hingga akhirnya memberikan kado special di ulang tahunku yang gak akan aku lupakan selamanya dan perempuan yang bisa membantu aku menuliskan cerita ini, namanya nine, bertubuh mungil dan juga cantik..
 





Terima Kasih Nine




Suatu ketika Plato terlibat pembicaraan dengan gurunya, Plato mempertanyakan soal makna cinta kepada gurunya dan guru nya pun menjawab “masuklah kamu delam hutan, pilih dan ambilah satu batang ranting yang menurutmu paling baik, tapi engkau haruslah berjalan ke depan dan jangan kembali ke belakang dan pada saat kau sudah memutuskan pilihanmu, keluarlah dari hutan dengan ranting pilihanmu tersebut”.
Maka masuklah Plato ke dalam hutan yang sangat lebat selang beberapa menit keluarlah Plato dari hutan tersebut tanpa membawa sebatang ranting pun. Gurunya pun bertanya kenapa Plato tak mem- bawa sebatang ranting dari hutan itu dan Plato pun menjawab. “saya sebenarnya sudah menemukan ranting yang bagus, akan tetapi saya berfikir barang kali di depan saya ada ranting yang lebih baik, tetapi setelah saya berjalan ke depan ternyata ranting yang sudah saya tinggalkan tadilah adalah ranting yang terbaik di hutan ini, maka saya keluar dari hutan tanpa membawa apa-apa”.
Guru itu pun berkata “itulah cinta” lalu Plato pun bertanya kepada gurunya apa makna sebuah perkawinan. Guru pun menjawab “sama seperti ranting tadi, namun kali ini engkau haruslah membawah satu pohon yang kau fikir paling baik di dalam hutan dan bawalah keluar dari dalam hutan”
Maka masuklah kembali Plato ke dalam hutan dan keluar lah Plato dengan membawa pohon yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu indah, guru pun pertanya alasannya Plato membawa pohon itu, maka Plato pun menjawab “saya dapati pohon yang indah daunnya, besar batangnya… tetapi saya tidak dapat memo- tongnya dan pastilah saya tidak mampu membawanya keluar dari dalam hutan…dan akhirnya saya tinggalkan pohon itu. Kemudian saya menemukan pohon yang tidak terlalu buruk, tidak terlalu tinggi dan saya fikir mampu membawanya karena mungkin saya tidak akan menemukan pohon seperti ini di depan sana. Akhirnya saya pilih pohon ini karena saya yakin boleh merawatnya dan menjadikannya indah”.
Lalu sang guru itu berkata “itulah makna dari sebuah perkawinan”. Begitu banyak pilihan di depan kita seperti pohon-pohon beserta rantingnya di dalam hutan, tapi kita mesti menentukan satu pilihan dan bila terlalu memilih…maka tidak satupun akan kita dapati, karena kesempatan itu hanya sekali dan kita harus terus maju seperti waktu yang kedepan yang tidak pernah tersimpan pada hari semalam dan bersemayam pada masa lalu kita.



-Plato-

















“nine kamu serius sama ucapanmu itu? Itu bukan alasan yang logis loh sampai-sampai kamu kayak gini!! Kamu ada apa?” ucapku.
“kamu gak marah kan ky?” jawab nine.
“………”


Comments